Setelah beberapa hari dirawat, Divya sudah diperbolehkan untuk pulang.
Hari pernikahan sudah mulai dekat, Divya sudah menghubungi kedua orangtuanya dan mereka mengatakan tidak bisa datang lantaran ada masalah keluarga.
Mereka juga sudah melihat wajah Adit melalui vidcall beberapa hari yang lalu dan betapa bahagianya Adit karena mertuanya merestui hubungan mereka. Adit berjanji akan selalu setia dan membahagiakan divya, hal itu membuat orang tua Divya merasa tenang dan ikut berbahagia.
Hari ini adalah hari fiting baju bagi Adit dan Divya. Mereka pergi bersama menggunakan mobil mewah milik Adit.
Di dalam mobil
"Kita mau ke butik mana sih?" Tanya Divya mulai bosan, pasalnya dari tadi mereka hanya diam tanpa percakapan.
"Tenang saja sayang, kita akan ke butik ternama di kota ini." Ujar adit
Tibalah mereka di sebuah butik yang besar dengan nuansa klasik nan menawan.
"Wahh, besar dan mewah sekali. Pasti pakaian disini mahal dan berkelas." Gumam Divya kagum sambil berjalan masuk
"Apa kau tidak akan bangkrut jika membeli baju disini?" Tanya Divya
"Heyy!" Adit menjitak kepala Divya dengan lembut
"Aku tak akan bangkrut kalau hanya membeli baju, kalau kau mau aku bisa membeli bangunan ini." Ucap Adit menyombongkan diri.
"Mulai lagi nih...bapak iblis kalau bicara, seantero jagat pun tak akan mampu menantangnya." Batin Divya melirik Adit dengan sinis
Adit yang melihat tatapan Divya hanya tersenyum tipis. Setibanya mereka didalam butik, seorang wanita paruh baya menghampiri.
"Selamat datang Tuan Adit dan Nona." Ucap wanita itu menunduk memberi hormat
Divya memberikan senyuman termanisnya sedangkan Adit hanya menunjukkan ekspresi datar dan dingin.
"Carikan calon istriku gaun pernikahan yang bagus!" Titah Adit dan langsung diangguki oleh wanita itu yang tidak lain adalah desainer ternama di kota Jakarta
"Baik Tuan. Mari nona." Ajak wanita itu dan Divya mengikuti sambil mensejajarkan langkah mereka.
"Silahkan pilih nona. Bagaimana gaun yang anda mau nona?" Tanya nya
"Hmm, bagaimana dengan ini nona?" Lanjutnya
"Apakah itu tidak terlalu mahal?" Tanya Divya ragu karena memang gaunnya sangat cantik dan elegan, apalagi ditaburi berlian juga kristal yang menyilaukan mata.
Mendengar ucapan Divya, sang desainer hanya menyunggingkan senyuman.
"Apakah nona ini tidak tahu kalau butik ini punya Tuan Adit? Keliatannya dia tidak matre dan sangat ramah. Baguslah Tuan tidak salah pilih, lagian orangnya juga cantik. Adem liatnya, gak kayak wanita-wanita lintah yang selalu disamping Tuan adit." Batin desainer
Divya yang merasa diperhatikan pun bertanya "Ada apa ya Bu?" Tanya Divya heran dengan tingkah orang yang berada disampingnya.
"Tidak apa-apa nona. Cobalah yang ini." Sang desainer memberikan sebuah gaun dan Divya mengangguk pergi menuju ruang ganti.
Desaigner itu membantu Divya memakaikan gaun dan meriasnya.
"Wahh nona kau sangat cantik, pasti Tuan Adit sangat senang dengan penampilan nona." Desainer kagum akan kecantikan Divya yang hanya menggunakan make up tipis tapi sangat anggun dengan paduan gaun yang berwarna putih yang agak terbuka di bagian d**a dan juga berlian yang melingkar di bawah perut.
"Apakah ini tidak terlalu terbuka Bu?" Tanya Divya risih dengan gaun yang menonjolkan bagian dadanya.
"Kita tanya saja sama Tuan Adit nona." Usul desainer
Berbeda dengan kondisi di ruangan Divya, di tempat Adit telah datang tiga serangkai yang menemui Adit dengan gagahnya. Jangan lupakan Aron dan Hendra yang selalu tebar pesona di setiap waktu dan tempat. Sedangkan Edward setia dengan wajah datarnya.
"Boss sendiri aja, kakak ipar mana?" Tanya Aron duduk di samping Adit yang berkutat dengan hp nya.
"Aku jadi gak sabar liat nona Divya." Ujar Hendra penasaran
Tak lama setelahnya pintu ruang ganti terbuka, menampakkan seorang wanita cantik dengan gaun yang melekat di tubuh langsing nya nan putih bersih, sungguh mempesona. Wanita itu tidak lain adalah Divya yang agak canggung menatap 4 serangkai dihadapannya.
Melihat penampilan Divya, Aron dan Hendra terutama Adit terperangah. Sementara Edward menatap sebentar memberi senyuman tipis yang hampir tak terlihat lalu memalingkan wajahnya.
Melihat teman-teman nya yang tak bisa di kondisikan, Adit dengan cepat mendekap tubuh Divya dengan tubuhnya yang tegap dan kekar.
"Sekali lagi kalian menatap wanitaku akan kucongkel mata kalian." Tegas Adit sedikit berteriak membuyarkan lamunan Aron dan Hendra
"I-iya." Ucap keduanya bersamaan dan memalingkan pandangan ke sembarang arah. Edward yang melihat tingkah temannya hanya menggeleng pelan
"Apakah baju ini cocok?" Tanya Divya menatap adit
Adit yang melihat Divya dari dari atas sampai bawah, hanya bisa menelan silvanya karena melihat benda si*tal yang setengah tertutup.
"Shut, dia membangunkan kebanggaan ku. Aku tidak tau sampai kapan akan tahan kalau dia terus menantang kepemilikan ku." Geram Adit membatin
"Apakah cocok?" Tanya Divya lagi
"I-iya. Eh, maksud ku tinggikan sedikit lagi bagian dadanya jangan setengah seperti ini." Ucap Adit yang ditujukan pada sang desainer
"Baik Tuan." Jawabnya dan mengajak Divya berganti pakaian
Setelah mengganti pakaian nya Divya duduk disamping Adit yang merangkul pinggangnya dengan posesif.
"Perkenalkan namaku Aron." Aron memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya
"Jauhkan tanganmu itu." Adit menepis tangan Aron
"Nona sudah mengenalku kan, aku Hendra dan ini Tuan Edward." Ucap Hendra tanpa mengulurkan tangan.
Divya membalas dengan senyuman manis. Melihat Divya tersenyum dengan cantiknya, Adit pun jadi cemburu.
"Sayang, jangan tersenyum pada pria lain selain aku!" Ucap Adit melotot pada Divya
"Memangnya kenapa aku tidak boleh tersenyum, jangan samakan aku dengan mu yang selalu memasang wajah datar! Mana sopannya coba." Ucap divya tak kalah seram menatap Adit
"Tapi sayang kau itu milikku, dan tidak boleh digugat! Divya yang mendengar itupun jadi tersipu malu. Sedangkan ketiga serangkai didepannya melongo tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Kalau yang berkata itu orang lain, aku yakin wanita itu akan habis di siksa boss adit." Batin Aron
"Sudahkah sayang ayo kita pulang, sebelum makin banyak pria bermata kerbau menatap mu!" Ajak Adit sambil berdiri merangkul pinggang Divya dan meninggalkan tiga pria tampan di belakang.
"Wanita yang sempurna, pantas saja boss Adit tergila-gila padanya."Ucap Aron menggeleng kepalanya
"Iya Ron, wanita yang menaklukkan Tuan Adit harus bisa melebihi Tuan kita. Ya kan Tuan Edward?" Tanya Hendra pada Edward yang melirik sebentar lalu bergegas pergi tanpa menjawab apapun.
"Tuh kan kak Edward memang...hmm, untuk tampan kalau gak udah aku tampol duluan." Ujar Aron kesal