Hari pernikahan

1036 Kata
Di sebuah ruangan mewah dengan hiasan yang memanjakan mata, terlihatlah seorang wanita cantik dengan gaun pengantinnya. "Apakah keputusanku ini benar?" Gumam Divya menatap dirinya di cermin. "Divya, apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?" Tanya Valen menyelonong masuk tanpa suara dan langsung memeluk sahabatnya dari belakang. Divya yang mendengar pertanyaan pertanyaan mendadak itu, hanya bisa menganggukkan kepala dengan air bening yang muncul dari pelupuk matanya. "Kalau kamu bahagia, kenapa menangis?" Valen melepas pelukannya dan menghapus air mata Divya "Ini air mata kebahagiaan bodoh." Divya menjitak kepala Valen pelan. Walaupun pernikahan ini tidak didasari dengan cinta tapi Divya akan tetap berusaha bahagia. "Aduh, sakit tau." Valen mengusap kepalanya dan keduanya pun tertawa bersama "Div, ayo kita ke aula. Calon suamimu itu dah nunggu tau." Ajak Satya yang datang tiba-tiba dan mendapat anggukan dari divya Mereka pun melangkah menuju aula pernikahan, disana terlihatlah Adit yang tampan dengan jas hitam elegan serta Edward, Aron dan Hendra yang berada disamping Adit. Semua mata tertuju pada mempelai wanita yang cantik dan anggun. Memang tidak banyak yang menghadiri cara tersebut karena Adit takut keselamatan Divya terancam, mengingat Adit adalah seorang mafia yang memiliki banyak musuh. Divya menggandeng tangan Adit yang diulurkan oleh adit sendiri dan keduanya pun berjalan menuju altar tempat mereka mengucapkan janji suci pernikahan " (MEMPELAI PRIA) dan (MEMPELAI WANITA), sungguhkah kiranya kalian dengan hati tulus dan ikhlas hendak meresmikan pernikahan ini?" Tanya pendeta "Ya, sungguh." Jawab Adit dan Divya bersamaan "Selama menjalani bahtera pernikahan nanti, bersediakah kalian untuk saling mengasihi dan menghormati?" Tanya pendeta "Ya, saya bersedia." Jawab Adit dan Divya "Bersediakah kalian dengan penuh kasih sayang menerima anak-anak yang dianugerahkan Allah kepada kalian, dan mendidik mereka sesuai dengan hukum Kristus?" "Ya, saya bersedia." Jawab mereka lagi "Untuk Menguduskan pernikahan ini, silahkan kalian saling berjabat tangan dan mengatakan kebenaran atas kesepakatan kalian dihadapan Allah Sang Penguasa langit-bumi dan seisinya." Ucap Sang pendeta Keduanya pun saling berhadapan, berjabat tangan, dan bergantian mengucapkan janji masing-masing, dimulai dari Adit (Mempelai pria) " •Dihadapan Tuhan, Imam, para orang Tua, para saksi, saya ADITYA PRANANTA WIJAYA Dengan niat suci dan hati yang ikhlas memilihmu  DIVYA ALESHIA  Menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam suka duka, sehat dan sakit, serta segala kekurangan dan kelebihan mu. Saya akan selalu mencintai dan mengasihimu seumur hidup saya. Saya bersedia melindungi dan memberikan kebahagiaan yang berlimpah padamu. " Adit mengucapkan janjinya dengan tegas, tenang dan berubawa meskipun sebenarnya dia sangat gugup. Divya tak kuasa menahan air matanya, ia merasa sangat tersentuh dengan janji suci yang diucapkan Adit. " •Dihadapan Tuhan, Imam, para orang Tua dan saksi, saya DIVYA ALESHIA Dengan niat suci dan hati yang tulus memilihmu  ADITYA PRANANTA WIJAYA Sebagai suami saya. Saya berjanji untuk setia dalam untung dan malang, suka duka, serta kelebihan juga kekurangan mu. Saya akan selalu menghargai dan menghormati mu sepanjang hidup saya. Saya bersedia untuk menjalankan kewajiban saya selayaknya seorang istri yang berusaha mencintai suaminya." Divya berhasil mengucapkan janji suci ya dan berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh. Sementara itu, Adit yang mendengar kalimat terakhir Divya menyeringai licik dan menatap perempuan yang sudah sah menjadi istrinya dengan penuh makna. Divya yang melihat itu bergedik ngeri. "Sayang, apakah kau yakin ingin melaksanakan kewajibanmu?" Tanya Adit mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Divya dan menghembuskan nafas menggodanya. "Ma-maksud Tu...." Belum sempat mengakhiri kalimatnya, Adit langsung menyantap bibir merah delima milik Divya. Dil*matnya dengan lembut dihadapan semua orang yang berada disana. "Uwwhh, romantis sekali." Seru orang-orang disekitar Mereka, sedangkan tiga serangkai, Valen dan Satya hanya tersenyum bahagia. Setelah memakaikan cincin di jemari pasangannya, acarapun berakhir dengan lancar. Orang-orang mulai meninggalkan gedung tempat pernikahan berlangsung setelah mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Kini tinggallah Divya, Adit, Valen, Satya dan tiga makhluk lainnya yang tidak lain adalah Edward, Aron dan Hendra "Div, nanti malam pakailah pakaian yang seksi, supaya suamimu itu puas dengan pelayanan yang kau berikan." Bisik satya ke telinga divya sembari memicingkan matanya. "Betul itu, ehhh iya....hmmm bukannya nakut-nakutin sih div tapi katanya malam pertama itu sakit lho." Sambung Valen tak kalah pelan Mendengar ucapan sahabat dan sepupunya yang mengerikan, Divya menjadi keringat dingin. "Apaan sih kalian, dari mana tahu yang kayak gituan coba. Jorok banget pikiran nya." Ucap Divya yang malu sampai wajahnya memerah. Di sisi lain Adit beserta teman-temannya sedang duduk di sofa melepas lelah. " Woii bos." Panggil Aron memulai percakapan "Apa?" Tanya Adit malas dengan wajah lelahnya "Nanti boss harus kuat hentakin asetnya yah, kalau gak nanti kakak ipar nyari yang lain lagi, gara-gara barang boss kurang nancep." Ucap Aron asal nyeplos dan mendapat jitakan dari Adit Mereka pun tertawa bersamamu dengan suasana yang mereka buat. Hari mulai sore, sebenar lagi Adit akan mengajak Divya ke mancion miliknya, tapi sebelum itu.... "Selamat yah Div." Ucap Edward tersenyum walaupun wajah sangar nya tidak bisa ditutupi. "Iya ward, sama-sama. Kamu juga cepat nyusul yah." Balas Divya tersenyum manis sambil melirik Valen yang ada disampingnya. "Apaan maksud nya nih anak, main-main ngelirik gw. Apa jangan-jangan dia pikir gw suka sama pria gak ada akhlak ini?" Batin Valen mengingat kejadian saat pertama kali diri nya dengan Edward bertemu di ATM. "Hahahaha, emang siapa yang mau sama aku?" Tanya Edward lagi "Ya pasti adalah, siapa juga yang gak mau sama kamu." Ucap Divya Tersenyum "Iya benar, banyak orang gila di luar sana yang mau sama kamu, hahahaha....." Ucap Valen membuat Aron, Hendra dan Satya tertawa. "Apaan sih lo, rese banget." Ucap Edward menatap Valen sinis. Tak mau ambil pusing  Valen hanya menjulurkan lidahnya seolah mengejek Edward, ya itu adalah jurus andalan seorang Valen patrecia. "Ya kali pria tampan kayak Edward mau sama orang sinting. Kalaupun iya, mungkin tuh orang udah jadi manusia paling bahagia saat itu juga. Ya gak Ward?" Ucap divya membela Edward "Yoi div, Lo emang the best udah baik, ramah, bijaksana, cantik lagi. Ga kayak temen kera Lo yang satu ini." Ucap Edward "Bodo amat." Ucap Valen cepat. Interaksi Antara Divya dan Edward membuat Adit cemburu berat apalagi keduanya sangat leluasa dan terbuka antara satu sama lain. "Sayang, ayo kita pulang! Aku sudah tidak sabar lagi." Ajak Adit meraih pinggang Divya dan mengajaknya keluar dari gedung itu. Sebelum keluar Adit menatap Edward tajam, mengisyaratkan 'Jangan pernah berbicara dengan istri ku lagi!' Kira-kira seperti itulah arti dari tatapan adit, suami yang sungguh posesif.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN