Malam pertama

494 Kata
Divya sedang gugup menanti kedatangan Adit. "Aduh, kok aku jadi gugup gini yah. Tenang Divya kamu itu udah jadi bini orang, jadi buat apa kamu gugup toh diakan suami kami." Gumam divya yang duduk di tepi ranjang dengan meremas jari lentiknya. Tak lama kemudian pintu terbuka, menampakkan seorang pria gagah dengan pakaian pengantinnya mendekat ke arah Divya. "Sayang, kamu ngapain?" Tanya Adit duduk di samping Divya "A-aku gak ngapa-ngapain kok. Hmm, kamu gak mandi dulu?" Tanya Divya terbata-bata "Oh yaudah aku mandi dulu. Tunggu aku yah, kamu jangan tidur duluan ok." Goda Adit menatap nakal Divya dan mengecup kilas bibir istrinya sebelum berlalu pergi. Seketika wajah divya memanas, degupan jantungnya tak lagi terkontrol. "Oksigen, mana oksigen. Aku tak bisa bernafas." Divya bermonolog sambil berusaha menormalkan degup jantungnya. Sekitar 30 menit kemudian, pintu kamar terbuka menampilkan pemandangan yang indah di mata kaum wanita. Apalagi seorang Divya ternganga karena tubuh atletis, d**a bidang, dan jangan lupa pahatan-pahatan indah milik Adit yang memanjakan mata membuat air liur Divya ingin menetes. "Awas sayang, air liurmu hampir jatuh. Sabar dong, apa kita lakukan saja sekarang sepertinya kamu sudah tidak tahan lagi." Ucap Adit berjalan menghampiri Divya dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya. Divya yang melihat itu segera berdiri dan hendak lari ke kamar mandi, namun Adit mencekal tangannya sehingga jatuh dalam pelukan pria itu. "Mau kemana sayang, apa kamu butuh bantuan?" Tawar Adit dengan suara seksinya "Ti-tidak Tuan." Jawab Divya gugup tak berani menatap Adit  Cup... Cup... Adit memberikan ciuman singkat di bibir Divya. "Itu hukuman untukmu karena memanggil ku Tuan, aku bukan majikanmu aku itu suamimu. Jadi panggil aku dengan sebutan yang romantis, misalnya sayang bagaimana hmm?" Tanya Adit memandang jahil Divya "I-iya sayang, aku akan mandi." Setelah Divya selesai mandi, Adit langsung menyembur wajah Divya dengan kecupan. Ia tak sabar lagi untuk menikmati keindahan surga malam ini. Kissmark yang diberikan Adit begitu banyak membuat Divya mengigit bibir bawahnya karena menahan sesuatu yang tak pernah ia rasakan.   Desiran angin malam ini membuat siapapun yang berada di luar kedinginan, tapi tidak dengan pasutri yang  merasa kehangatan, akibat penyatuan yang terjadi beberapa menit lalu. "Aku berharap tidak bangun lagi, aku ingin disini bersama mu selamanya. Terimakasih karena telah menerima cintaku, kau yang terbaik." Batin Adit senang sambil tersenyum menatap wajah lelap Divya. Malam itupun berakhir dengan manis.  Pagi ini matahari bersinar terang bersamaan dengan kicauan burung dan hembusan angin yang menenangkan pikiran, terlihatlah orang-orang mulai melakukan aktivitas mereka. Namun berbeda dengan pasutri yang baru saja selesai memadu kasih, mereka masih terjaga dalam satu selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka dengan keadaan Divya berada dalam dekapan Adit. Divya mengerjapkan matanya karena cahaya yang masuk ke dalam kamar mereka, dilihatnya Sepasang tangan kokoh yang sedang memeluknya. Divya menatap wajah tampan Adit, mulai dari hidung mancung, alis tebal dan rahang yang kuat membuatnya masuk dalam list pria idaman. "Tampan, pasti banyak wanita yang memujanya tapi mengapa dia memilihku." Batin Divya bertanya dalam hati seraya menatap pria yang telah menjadi suaminya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN