Saat Divya begitu khidmat memandangi wajah Adit, tiba-tiba....
"Apa sudah puas memandangi wajah ku sayang?" Tanya adit menatap lekat divya
"Aku memang tampan sayang." Ujar Adit menyombongkan diri.
Mendengar ucapan Adit, seketika wajah Divya bersemu merah. Ia bergegas untuk pergi, namun baru saja ingin melangkah Divya merasakan perih di bagian intinya.
"Awww, sakit." Teriak Divya karena merasakan perih akibat pergulatan panas mereka semalam.
"Apa masih sakit sayang?" Tanya Adit dengan wajah panik.
"Iya, ini sedikit perih." Jawab Divya membetulkan selimut tebal yang membungkus tubuh polosnya. Tanpa pikir panjang Adit langsung menggendong divya ke kamar mandi, dan refleks Divya mengalungkan tangannya ke leher kokoh milik Adit.
"Ma-mau apa kamu?" Tanya Divya
Seketika cup...ciuman singkat diberikan Adit
"Sayang, sudah kubilang panggilaku dengan sebutan aku memanggil mu 'Sayang' atau aku akan mengulang malam panas kita." Ancam Adit dengan seringai nakalnya. Divya yang mendengar perkataan adit membulatkan matanya dan menggerutu dalam hati.
"Enak saja mau mengulangi itu, ini saja masih perih. Masa mau diulang lagi, emang aku mesin apa." Batin Divya
"Bagaimana sayang, mau lagi." Ucap Adit sambil memasukkan Divya ke dalam bath up berisi air hangat dengan aroma lavender yang menyeruak masuk ke dalam hidung. Divya tersadar dari lamunannya, karena Adit melepaskan selimut yang membalut tubuh mungilnya.
"Ti-tidak sayang." Sahut Divya menggeleng.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, mereka turun bersama dengan adit menggandeng tangan Divya mesra. Mereka menuju meja makan yang telah terhidang makanan lezat dan para pelayan yang berjejer di sepanjang lorong dan bodyguard di setiap sudut rumah.
"Sayang, ini semua pelayan di mancion. Kalau ada perlu sesuatu minta tolong pada mereka."
Divya mengangguk mengerti dan tersenyum ramah pada semua pelayan disana. Mereka sempat kagum dengan senyuman memabukkan milik Divya.
"Wah, pantas saja Tuan Adit jatuh cinta pada nona muda, selain cantik dia juga ramah dan sopan. Ya Tuhan, semoga dengan adanya nona, Tuan akan bahagia "Batin sang kepala pelayan yang bernama Meli, ia berusia 52 Tahun.
Pasutri itu duduk di kursi meja makan yang panjang dan terlihat mewah itu. "Sayang, kenapa duduk disitu, sini dekat sama aku atau kau mau duduk disini." Tawar Adit seraya menepuk-nepuk pahanya. Melihat kelakuan Adit, Divya menjadi malu karena di sekitar mereka masih ada pelayan yang memperhatikan.
"Apa kau tak punya malu sayang, lihat mereka masih disini. Kau tak boleh seperti itu, mereka juga manusia." Jelas Divya mengingatkan
Par pelayan hingga bodyguard melongo melihat Tuannya yang terkenal kejam, dingin dan arogan hanya tertunduk seperti anak kucing yang mendengar nasihat dari ibu nya. Sungguh pemandangan langka yang tersaji di depan mata.
"Iya sayang, aku akan sopan padamu dan hanya bersamamu ok."
"Tidak...tidak....tidak...kau tak boleh sopan padaku saja, kau harus belajar sopan terhadap orang lain juga, terutama hormat pada orang yang lebih Tua dari kita. Kau mengerti?" Tanya Divya memastikan
"Ya baiklah aku mengerti, tapi aku tidak janji. Sekarang suapi aku sayang, aku sangat lapar karena semalam kau ganas sekalu sampai aku lemas tak berdaya."
Divya membelalakkan matanya kaget atas pernyataan sang suami yang memojokkan dirinya.
"Jelas-jelas dia yang menunggangi ku tanpa henti dan sekarang dia berlagak seolah aku sudah memperk*sa nya, benar-benar makhluk bermuka seribu." Gerutu Divya sambil menyuapi Adit yang sangat senang karena berhasil mengerjai istri tercintanya
Di tengah keromantisan mereka, suara handphone Adit bergetar. Drrrrrtttt..... drrrrrtttt....
"Siapa sih pagi-pagi menelpon ku,mengganggu saja." Kesal Adit karena acara sayang-sayangannya terganggu, namun ia tak memperdulikan itu dan melanjutkan makanannya.
Tapi handphonenya bergetar lagi dan Divya berhenti menyuapi makanan ke mulut Adit.
"Diangkat saja sayang, mungkin urusan kantor." Pinta Divya
"Gak mungkin sayang, urusan kantor udah di handel sama Anderson." Bantah Adit
"Tapi itu bunyi terus, mending diangkat deh."
"Ya sudah, tapi awas saja kalau gak penting aku bunuh ni orang." Ucap Adit mengangkat hp nya
"Makan dulu aja sayang, aku angkat telepon dulu." Ucap Adit mengecup kilas bibir Divya dan berlalu pergi.
Sedangkan Divya mematung di tempat akibat perlakuan manis Adit padanya.
"Ya Tuhan, apakah aku harus mencintainya, sepertinya dia Tulus cinta padaku. Mungkin saat ini aku harus belajar membuka hati." Gumam Divya sambil senyam-senyum sendiri
Sementara itu terdengar Adit sedang mengoceh. "Ada apa kau menelpon ku, mengganggu saja. Kalau ini tidak penting aku penggal kepalamu itu."
"Ohh santai big boss. Aku hanya ingin memberitahu bahwa semalam ada masalah pada misi perampasan senjata dari Italy." Jelas orang yang menelpon dan tidak lain adalah Aron
"Apa kalian tidak bisa menyelesaikan nya, sehingga aku harus turun tangan."
"Maaf boss, tapi ada masalah yang lebih besar lagi. Maka dari itu datanglah ke markas kita, kami sudah menunggu mu disini."
"Baiklah aku akan datang sebentar lagi. Dan yah bagaimana dengan si Dean si*lan itu."
"Tenang boss kami sudah melakukan apa yang diperintahkan. Aku sudah menyayat wajahnya layaknya dokter yang sedang melakukan pembedahan operasi plastik. Aku memang manusia paling baik sedunia, karena telah membentuk wajahnya itu seperti Mickey mouse sehingga akan lucu jika dipandang anak kecil. Dan Hendra telah memberikan dagingnya pada hewan buas di hutan. Aku yakin binatang-binatang itu mendoakan boss agar hubungan kalian selalu langgeng." Jelas Aron panjang lebar
"Kerja bagus, tapi sayang nya aku tidak butuh doa dari hewan liar itu karena sedari awal Divya hanya di ciptakan untukku." Ucap Adit mematikan telponnya secara sepihak dan pergi ke meja makan untuk menemui istrinya.
Namun Divya sudah tak ada disana, Adit mencari Divya dan menemukan nya sedang membantu bi meli membersihkan piring kotor, padahal banyak maid di mancion tapi Divya memilih untuk melakukannya sendiri.
Divya yang tengah asik bekerja, tiba-tiba merasakan ada sepasang tangan kokoh melingkar di pinggang nya. "Sayang aku lagi beres-beres, sana jangan ganggu."
Bukannya melepas Adit malah mengeratkan pelukannya dan meletakkan kepalanya ke ceruk leher istrinya yang terekspos jelas dengan kulit putih mulus.
Adit memang suka menciumi leher istrinya karena bau tubuh Divya yang seakan menjadi candu baginya. "Ihh geli tau, malu diliatin sama orang " tutur Divya karena Adit mengendus lehernya
"Sayang aku pergi dulu ya. Nanti aku lanjutin lagi yang semalam."
"Apaan sih, kamu tuh m***m banget. Udah sana pergi."
"Kamu gak rindu sama aku, nanti kangen lho."
"Gak akan, udah sana aku mau kerja ini."
"Iya-iya, tunggu aku sayang." Ucap Adit melepas pelukannya dan mencium bibir Divya sekilas
"Dahhh sayang, jangan capek kerja cukup capek main sama aku aja." Adit berlalu pergi seraya mengedipkan matanya sebelah. Melihat kelakuan suaminya, Divya hanya menggeleng-geleng kan kepalanya. Ia masih tak percaya kalau sekarang sudah menjadi seorang istri, ditambah lagi suaminya adalah orang yang berstatus tinggi dan jangan lupa m***m nya yang sudah kelewat batas itu selalu berhasil membuat Divya terkejut.