Berbeda ketika saat bersama istrinya, Adit selalu ceria, manja dan jahil. Tapi saat bertemu dengan orang lain dia selalu memasang wajah datar tanpa ekspresi, seakan tak peduli dengan keadaan disekitarnya.
"An, siapkan mobil kita ke markas." titah Adit kepada asisten nya yang bernama Anderson.
Anderson adalah asisten pribadi Adit, orangnya tampan juga bijaksana, dan yang terpenting semua tugas yang diberikan selalu tuntas. Dia adalah salah satu orang kepercayaan Adit yang sudah lama bekerja dalam naungan Adit.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Di lain tempat terlihatlah Aron, Hendra dan si pria dingin Edward. Adit dan Edward memang memiliki karakter yang hampir sama. Sedangkan Aron dan Hendra adalah tipe orang ceria, dan humoris. Namun dibalik sifat mereka itu tersimpan watak iblis tanpa belas kasihan.
"Hen, kita ganggu gak ya?" Tanya Aron menerawang ke langit-langit markas.
"Ganggu apa?" Hendra balik bertanya
"Itu tentang boss Adit. Tadi pas aku nelpon, dia malah marah-marah gak jelas katanya 'Kalau tidak ada yang penting aku penggal kepalamu itu'." Aron menirukan suara Adit saat sedang berbicara padanya.
"Ya jelas itu, kan Tuan pengantin baru. Lagi panas-dinginnya, apalagi pas pagi-pagi....rasanyaaa....ahhh mantapp."
"Sok tau kau hen, nikah aja belum. Kayak udah tau enaknya aja.
"Biarpun aku belum nikah, tapi berasa nikah tiap hari."
"Yah kau kan emang banyak stok istri KW, jadi bisa gonta ganti sepuasnya. Tapi waktu itu kan aku pernah nonton tv, disitu diceritain kalau seorang laki-laki yang ganti cewek tiap malam bakal kena azab."
"Emang azab nya apa?" Tanya Hendra penasaran.
"Juniornya akan membusuk, upilnya tambah gede dan parahnya lagi ingusnya bertebaran kemana-mana." Ucap Aron menakut-nakuti Hendra
"Sialan kau Ron, mau nyumpahin aku yah. Emang sinetron apa yang kau tonton?"
"Mau tahuu atau tempee?"
"Dua-duanya, kalau perlu di sambelin tuh tahu tempe biar sedap." Sahut Hendra
"Hehehe sorry nih. Sinetronnya berjudul 'Azab si tukang playboy cap kodok Hendra Janandi Sudarsono." Ujar Aron cekikikan meledek Hendra
"Enak aja, pala moyang kau Sudarsono. Namaku itu elite, main ganti aja. Ingat yah baik-baik HENDRA CHAIDEN ALDEBARON. Bukan sudarsona, kenapa gak sekalian aja mbahh gone alias Baygon." Mereka tertawa bersama-sama sedangkan Edward hanya menyengir pelan karena sedang memikirkan siapa dalang penggagalan misi mereka semalam.
Adit memasuki markas, berjalan dengan gaya cool nya yang membahana diikuti oleh Anderson sang asisten dibelakangnya.
"Ada masalah lagi?" Tanya Adit menduduki kursi kebesarannya. Melihat Adit yang sudah datang suasana di markas berubah seketika. Tidak ada canda tawa karena mereka dalam mode serius
"Pada saat pernikahan mu berlangsung, misi perampasan senjata kita dirusak oleh seseorang." Jelas Edward
"Jadi hanya itu?"
"Bukan hanya itu saja Tuan, salah satu kelompok mafia kita LIGHTNING ROSE di bantai habis oleh mereka." Ucap Hendra
Mereka memang mempunyai kelompok mafia yang diberi ketua masing-masing. Ada 3 kelompok utama yakni FIRELETRIC, COLDVILLAIN, dan SMOLDERING TIE. Sebenarnya mereka punya banyak kelompok dan salah satunya adalah LIGHTNING ROSE yang sedang mereka bicarakan saat ini. Semua kelompok itu satu rumpun dengan THIRD XIREC yang diketuai oleh Adit (Untuk lebih jelasnya bisa lihat Bab 13 : Satya)
"Siapa yang berani melakukan itu, mau cari mati rupanya." Ucap Adit dengan seringai jahatnya
"Kita tidak bisa meremehkan nya Tuan, sepertinya dia bukan orang sembarangan. Aku yakin misi yang gagal dan pembantaian itu juga berkaitan." Duga Hendra
"Hmm, aku rasa ada konspirasi disini, bagaimana bisa mereka membantai habis salah satu mafia terkuat kita. Apalagi ketua geng itu adalah Meiji, dia salah satu wanita kita yang kuat dan mempunyai kaki tangan yang handal." Jelas Edward
"Bagaimana dengan Meiji, apakah dia selamat? Kita bisa mendapat penjelasan darinya." Ucap Adit
"Meiji selamat tapi dia berada di RS kita, keadaannya cukup parah dan kritis." Ucap Edward
"Sepertinya mereka ingin menghabisi kita secara perlahan boss, aku rasa setelah ini mereka akan mencari tahu dan mengincar kelemahan kita." Ucap Aron menimpali pembicaraan, karena sedari Adit datang dia hanya diam saja.
"Biar sampai matipun, mereka tidak akan bisa melakukannya." Geram Adit
"Aku tahu boss, cuman sekarang berbeda. Kau sudah punya wanita yang kau cintai, aku taku mereka akan mengusik kakak ipar dalam masalah ini."
"Tak akan kubiarkan mereka menyentuh istriku walau seujung rambut pun." Jawab Adit dingin
"Perketat keamanan. Kita akan mengadakan pertemuan lusa dengan kelompok lainnya. Hendra, kau selidiki apa yang terjadi di malam pembantaian itu." Perintah Adit
"Baik Tuan." Jawab Hendra siap melaksanakan tugas yang diberikan
"Aron, pantau anggota mafia yang mencurigakan karna jika tidak ada campur tangan orang dalam maka rencana mereka tak akan berjalan dengan mulus. Dan kau Edward, siapkan pengawal di sepanjang mancion ku dan kawal istriku dari jauh, jangan sampai dia tahu kalian mengawasinya." titah Adit serius
"Baiklah." Ucap Aron sedangkan Edward hanya manggut-manggut mengerti.
"Pertemuan ini selesai." Ucap Adit berdiri dan langsung pergi.
" Enak yah boss Adit, ada yang nungguin waktu pulang. Lah aku, yang ada didoain gak pulang mengsedih." Ujar Aron
"Ihh apaan sih, lebay amat. Emang kau mau ngapain kalau ada yang nunggu pulang?" Tanya Hendra
"Aku mau ajak judi online, puas kau?"
"Eh hen, kayaknya kau ada yang nungguin deh di rumah." Sambung Aron
"Siapa?"
"Kolor ijoo, dia minta kau kembaliin kolor nya yang kau pake setiap malam."
"Sembarangan, yang ada dia yang pakai kolor ku." Balas Hendra
"Pasti sekarang si pak ijoo gak pakai kolor, kasian amat sih. Kan dia jadi kedinginan." Ucap Aron berpura-pura polos
"Kalau gitu pinjemin aja kolor mu yang warna pink itu biar imut. Ya Tuhan kok aku jijik yah bilangnya, apalagi diliat secara langsung..." Ucap Hendra menimpali candaan Aron
"Eh udahlah, aku mau nyelidikin orang kita yang bantu penyerangan itu." Ucap Aron mengingat tugas nya
"Oh iya aku juga, lihat tuh Tuan Edward udah sibuk sama handphone nya, pasti lagi ngurus tugas yang dikasih Tuan Adit." Ujar Hendra
"Gara-gara kau ini hen, kerjaan ku jadi tertunda." Tuduh aron
"Lah kok aku sih, jelas-jelas kamu duluan yang mulai pembicaraan." Ucap Hendra tak mau kalah
"Kenapa kamu jawab? Harusnya kamu diemin aja, lihat nih tugasku jadi numpuk semua." Ucap Aron kesal
"Masa orang ngomong aku diam aja sih, apalagi kan itu hak aku untuk berbicara, terserah aku lah mau jawab atau enggak." Keduanya masih berdebat dan tak ada yang mengalah
Sampai akhirnya, datanglah Edward yang menengahi mereka. "Jika kalian terus berdebat disini, tugas kalian tak akan kunjung selesai. Pergilah, kalian mengganggu pekerjaan ku saja." Ucap Edward dingin
"Mati kau hen, lihat tuh kak Edward jadi marah kan." Tunjuk aron
"Udah ahh, emang ngomong sama orang sinting susah banget." Timpal Hendra ingin pergi dari markas.
"Kalau kau tau aku gila, kenapa kau membalas setiap perkataan ku? berarti kau lebih gila dong, ngomong kok sama orang gila hahahahah..." Tawa Aron menggelegar di ruangan itu.
Mereka pun pergi melaksanakan tugas masing-masing.
Sementara itu Anderson melajukan kendaraannya membawa Adit yang sedari tadi mengoceh ingin cepat kembali ke mancion karena sudah tidak sabar menemui istrinya, mereka melewati jalan yang sedikit sepi dengan sedikit sisa gemercik air hujan membuat basah mobil mewah itu.