Ruangan itu terasa semakin sempit meski luasnya hampir seratus meter persegi. Levon berdiri di hadapan Ellara dengan tatapan tajam. Rahangnya mengeras, napasnya memburu menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
"Jangan kau pikir aku main-main!" desisnya tajam.
Dalam satu gerakan cepat, ia meraih kunci dari saku jasnya dan membuka gembok rantai yang melingkar di leher Ellara. Bunyi klik logam bergema di ruangan itu. Rantai perak pun seera jatuh ke lantai dengan suara kerasnya.
"Ah ... akhirnya."
Ellara menggosok lehernya yang memerah, tapi tatapannya tidak berubah sedikit pun. Masih tetap menantang. Ia terlihat tenang. Seolah ia tidak baru saja dibebaskan dari belenggu oleh pria paling berbahaya di Jakarta.
"Kau bebas sekarang," ucap Levon dingin sambil melangkah mundur, tangannya terulur menunjuk pintu. "Silakan pergi. Pintu tidak terkunci."
Ellara tidak bergerak. Bahkan tidak untuk menoleh ke arah pintu.
"Kau mendengarku?" Levon meninggikan suaranya. "Aku bilang pergi!"
"Tidak," jawab Ellara tenang.
Levon tertawa sinis. "Tidak? Kau masih berpikir jika ini hanyalah permainan?"
"Aku tahu ini bukan permainan." Ella berdiri dari kursinya, pakaian putih yang robek masih menggantung di bahunya. "Kau membayar satu miliar untukku. Aku adalah milikmu sekarang. Bukankah itu yang baru saja kau katakan?"
"Itu sebelum aku tahu kalau kau sedang bermain-main denganku." Levon berjala ke sisi ruangan, menuangkan wiski lagi dengan gerakan kasar. "Aku tidak suka mainan yang bisa berpikir sendiri."
"Kalau begitu kenapa kau membeliku?" tanya Ella. "Kau bisa memilih gadis-gadis lain yang lebih penurut. Yang akan menangis ketakutan saat kau menatap mereka. Tapi ... nyatanya kau memilihku."
Levon memutar tubuhnya dengan cepat, gelas wiski masih berada di tangannya. "Karena aku ingin tahu apa maumu! Apa yang membuatmu begitu berani menatapku seperti itu di lelang tadi?"
"Mungkin aku hanya kagum," jawab Ella sambil melangkah lebih dekat. "Pada pria yang ditakuti oleh semua orang. The Butcher of Verona. Levon Vercelli yang legendaris."
"Berhenti!" Levon mengangkat tangannya, menghentikan langkah Ella. "Berhenti dengan semua omong kosong ini. Aku sudah mendengar pujian palsu dari ribuan mulut. Dan aku tidak butuh itu darimu!"
Ella berhenti, tapi senyumnya tidak hilang. "Baiklah. Kalau begitu aku akan jujur."
"Akhirnya." Levon meletakkan gelasnya dengan keras. "Mari kita dengar kebenaranmu."
"Aku memang sengaja menatapmu," kata Ella. "Aku sengaja tersenyum. Aku sengaja membuatmu tertarik untuk membeliku."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin berada di sini. Bersama orang paling berkuasa." Ella merentangkan tangannya. "Sekarang ... apakah kau tidak ingin menikmati mainanmu?"
Levon menyipitkan matanya. "Kau ingin kekuasaan."
"Siapa yang tidak?" Ella mengangkat bahunya. "Aku sudah hidup di dasar paling kotor dari dunia ini. Diperlakukan seperti sampah oleh orang-orang yang merasa lebih tinggi. Aku muak. Aku ingin naik. Dan satu-satunya cara naik adalah dengan berpegangan pada orang yang sudah berada di puncak."
Untuk pertama kalinya malam itu, Levon terdiam. Ia mempelajari wajah Ellara dengan seksama, mencari retakan dalam topeng yang dikenakan gadis itu. Tapi yang ia temukan hanya determinasi. Ambisi. Dan sedikit keputusasaan yang tersembunyi di balik matanya.
"Kau pikir aku akan memberimu kekuasaan?" tanya Levon akhirnya. "Bermimpilah!"
"Aku tidak mengharapkan apapun secara gratis," jawab Ellara. "Aku tahu bagaimana duniamu bekerja. Tidak ada yang diberikan tanpa harga. Aku bersedia membayar harga itu."
"Harga untuk berada di sisiku sangat mahal, Ellara." Levon melangkah mendekat, mata hitamnya mengunci tatapan Ellara. "Lebih mahal dari satu miliar rupiah. Lebih mahal dari tubuh kotormu. Harganya adalah loyalitas absolut. Tidak ada kebohongan. Tidak ada pengkhianatan. Satu kesalahan, dan kau akan menghilang selamanya."
"Aku mengerti."
"Tidak, kau belum mengerti." Levon meraih pergelangan tangan Ellara, mencengkramnya dengan kuat. "Biar aku tunjukkan seperti apa duniaku."
Ia menarik Ella ke dalam pelukannya, dan dengan cepat Levon menautkan bibir mereka. Ella sedikit tersentak saat bibir Levon menempel pada bibirnya. Ciuman itu sungguh tidak lembut, tidak romantis seperti yang ada dalam novel-novel.
Levon melepaskan pagutannya sejenak, "Apakah sentuhan ini yang kamu inginkan, p e l a c u r?"
Kembali Levon menggigit bibir Ella dengan kasar. Namun, Ella sama sekali tidak melawan. Ia membiarkan Levon terus menciuminya. Tangan Ella perlahan naik, menyentuh d**a bidang Levon. Di sana, ia dapat merasakan detak jantung yang menghentak kencang di balik kemeja mahal yang Lebih kenakan.
Levon melepaskan ciuman itu dengan tiba-tiba, mendorong Ella menjauh. Napasnya memburu dengan mata berkilat.
"Sial," desisnya sembari mengusap bibirnya kasar. Seolah ingin menghapus jejak bibir Ella.
Ella menyentuh bibirnya sendiri yabg sedikit bengkak. Ia merasakan aroma anyir dari sana, entah itu miliknya atau milik Levon. "Hanya inikah yang bisa kau lakukan, Tuan?"
Ella melangkah anggun untuk mendekati Levon, perlahan ia kembali menyentuh dadanya. Tanpa diduga, Ella merobek sendiri pakaian yang sejatinya memang sudah robek sejak tadi. Melihat keberanian Ella, Levon membelalakkan kedua matanya.
"Sial ...," desis Levon.
Bukan tanpa alasan, Levon sudah terlalu banyak menyentuh wanita selama hidupnya. Namun, tubuh Ellara ... begitu sempurna. Kulitnya yang putih bersih, dengan bentuk tubuh yang terbilang sempurna, membuat Levon sulit untuk mengedipkan kedua matanya.
"Aku tahu ... tidak ada satu orang pun yang bisa menolakku. Begitu pun Anda, Tuan Vercelli."
Ella tersenyum manis melihat mangsanya terlihat tak berdaya. Namun, bukan Levon namanya jika dia tidak bisa merubah semua posisi saat dirinya terhimpit. Tentu saja Levon tak ingin menjadi seseorang yang kalah.
Ella, melipat kedua kakinya, dan tanpa aba-aba dirinya segera berlutut di depan Levon. Tangan lnya bergerak lincah menarik dan melepaskan gesper dari pinggang Levon. Tak mengingkari nafsunya yang mulai naik ke ubun-ubun, Levon menarik kasar rambut Ella dan menghadapkan wajahnya tepat di hadapannya. "Dasar murahan!"
Levon dengan gerakan liar mulai menghujani Ella dengan cuma yang bertubi-tubi. Malam itu, semua berlangsung begitu cepat, begitu panas, dan ... begitu berbeda.
Levon melakukan semuanya dengan kasar, tetapi Ella justru memberikan segalanya.
"Ah ...." Ella sudah berusaha menahan, tapi rintihan itu akhirnya keluar juga dari mulutnya.
"Apa ini?" Levon menghentikan gerakan tubuhnya saat hentakan pertama. "Ini tidak mungkin!"
"Kenapa, Tuan?" tanya Ella yang merasakan jika tuannya berhenti.
"Bukankah kamu—?"
"P e l a c u r?" potong Ella cepat. "Aku hanya b***k, Tuan. Tapi aku bukan seorang p e l a c u r."
Mendengar hal itu, ada niat di celah hati Levon untuk mengakhiri permainan pada saat itu juga. Namun, tentu saja ia tidak bisa meninggalkan kenikmatan yang bahkan baru pertama kali ia rasakan.
Ellara masih perawan.