Jena mematut dirinya di depan kaca ia memandang setiap inci wajahnya yang telah ia poles dengan foundation untuk menutupi banyak bekas memar di wajah dan lehernya. Jena sebenarnya ingin tidak masuk hari ini, tapi ia ingat bahwa pekerjaannya masih cukup banyak untuk diselesaikan.
Jena memaksakan dirinya untuk masuk karena ia berpikir, setidaknya ada hal yang bisa ia lakukan dengan benar di hidupnya. Salah satunya adalah bertanggung jawab atas pekerjaannya. Sebagai manusia yang selalu merasa gagal, Jena ingin sekali berhasil, setidaknya dalam satu aspek kehidupannya.
Setelah merasa bahwa makeupnya sudah cukup sempurna, Jena mencoba tersenyum. Sesekali, bibirnya terasa perih, dan dia merintih kesakitan. Namun, dia tidak menyerah. Dia menutup mata sejenak, bernafas dalam-dalam, mencoba meyakinkan dirinya bahwa hari ini akan berjalan dengan baik.
Setelah beberapa menit perjalanan, Jena sampai di butik kecil yang terlihat manis dengan etalase koleksi musim seminya. Wanita muda itu menatap koleksi pakaian yang dipajang dengan tatapan penuh arti, sebelum akhirnya ia masuk ke dalam butik.
Langkah kakinya yang pelan tetap membuat karyawan yang berjumlah empat orang di butik kecil itu menatap Jena. Mereka sudah akan menyambut kedatangan Jena sebagai karyawan terakhir yang masuk ke kantor. Tapi, mulut mereka terkatup ketika melihat kondisi Jena saat ini.
“Selamat pagi, Jena!” sapa Felipe dengan riang seolah memecah keheningan diantara mereka. “Kamu datang paling akhir hari ini dan wow kamu berdandan! Kamu terlihat cantik dan segar,” puji Felipe melihat Jena memakai lipstik dan riasan mata.
Jena tersenyum canggung. Dia sadar, tampaknya riasannya malah menarik perhatian teman kantornya.
“Iya, Jen. Lain kali kita harus berbelanja make-up bersama,” ucap Lily dengan senyum lebar di wajahnya.
Jena yang melihat senyum lebar beberapa orang di sana melupakan sudut bibirnya yang luka, sehingga ia meringis kesakitan saat akan membalas ucapan teman-temannya.
“Kau tidak apa-apa, Jen? Sesuatu terjadi?” tanya Felipe yang sudah akan mendekat, tapi Jena malah mundur selangkah sehingga membuat Felipe menghentikan gerakannya saat itu juga.
“Tidak! Ini– aku– sepertinya karena cuaca jadi aku terkena stomatitis aftosa. Kalian tahu– kekurangan vitamin c. Ya, ada luka di dinding mulutku dan itu sangat tidak nyaman. Jadi, ini sangat– mengganggu saat aku bicara. Aku– aku akan ke pantry untuk mengambil air hangat,” ucap Jena yang kemudian segera berlalu dari hadapan teman-temannya dan membuat empat orang tadi saling melemparkan pandangan.
“Itu kata terpanjang yang pernah diucapkan oleh Jena dan aku mendengarnya,” ucap Charlie, salah satu pramuniaga yang bekerja di butik itu.
“Kalian lihat kan? Mata Jena terasa aneh. Apa sesuatu terjadi?” tanya Olivia yang terlihat cemas dengan keadaan Jena.
“Jelas ada sesuatu, tapi seperti yang kalian tahu. Jena tidak akan bercerita pada kita. Sebaikya kita hargai perasaannya dan jangan membuat dia tidak nyaman. Pekerjaannya cukup bagus dan sangat membantu. Jangan sampai itu membuat dia muak dengan kita,” peringat Lily.
“Dia memang terlalu pendiam. Padahal aku sangat ingin berteman dengan dia. Jena terlihat sangat baik,” ucap Olivia dengan wajah sedih.
“Mungkin dia hanya belum nyaman dengan kita. Kita baru beberapa bulan bekerja bersama kan? Semoga kedepannya dia akan lebih terbuka,” ucap Lily dengan senyuman di wajahnya.
Percakapan keempatnya pun terhenti tepat saat jena memasuki ruangan itu dengan secangkir air hangat yang mengepul.
Tanpa mereka sadari, ada pria yang berdiri tak jauh dari mereka tengah mendengarkan percakapan keempatnya dengan seksama. Saat wajah Jena muncul, entah mengapa wajah pria pemilik butik itu mengetat.
Make-up Jena yang tebal itu masih memperlihatkan satu mata yang terlihat lebih tebal dari sebelahnya. Untuk sesaat pria itu terlihat sangat fokus memandang Jena dan menemukan luka di sudut bibir yang berwarna merah ranum.
“Ooo.. Gue kira selama ini Lo naksirnya yang berbatang. Ternyata selera Lo bule..” ucap Abram yang kini sudah berdiri di samping pria bernama Sagara Xavero Adnan dengan secangkir kopi di tangannya.
Sagara tentu saja terkejut dengan kedatangan Abram yang entah dari mana munculnya.
“Lo persis setan, Bang. Gak tau muncul dari mana. Tiba-tiba nongol aja,” gerutu Sagara yang kemudian segera berlalu menuju ruangannya.
Tentu saja diekori oleh Abram, sekretaris yang ditunjuk oleh keluarganya untuk mendampingi Sagara membuka butik pertama keluarga besar Adnan di London.
Sagara yang berdiri di depan mejanya mengambil satu dokumen yang berada di tumpukan paling atas. Ia tak terganggu dengan tatapan menggoda Abram yang sejak tadi setia mengejeknya hingga kini. Ia pun melanjutkan langkahnya dan hendak duduk di salah satu sudut ruangan yang memiliki kursi baca dekat jendela. Sagara ingin bekerja dengan tenang hari ini sambil melihat orang berlalu lalang dari jendela kantornya.
“Gue liat-liat Lo akhir-akhir ini merhatiin Jena. Apakah ini tanda-tanda perjaka tua akan segera melepas keperjakaannya?” celetuk Abram yang tentu saja membuat Sagara yang berjalan langsung berhenti di tempat dan berbalik menghadap Abram.
Abram yang sejak tadi memang mengekor tentu saja tidak siap dengan Sagara yang tiba-tiba saja berhenti. Ia pun berakhir menabrak Sagara dan menumpahkan kopi ke d**a bidang Sagara dan membuat Abram tercengang.
“Sorry, Bro! Gue–”
Abram memotong kalimatnya dan mengatupkan bibirnya saat melihat wajah Sagara yang seolah sap untuk menelannya bulat-bulat.
Abram hanya meringis di tatap dengan dingin oleh Sagara.
“Bakal gue cuci. Gue cariin pakaian dulu–”
“Gak perlu. Gue sendiri aja,” ucap Sagara yang kemudian menghela nafas panjang sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangannya.
Matanya menyapu seluruh ruangan dan hanya terlihat Lily dan Felipe yang fokus ke laptopnya. Sedangkan Olivia dan Charlie tampaknya sudah berada di butik untuk melayani pelanggan. Sagara pun tahu, kini ia hanya perlu mencari Jena di gudang untuk mendapatkan pakaian baru yang pas dengan ukurannya.
Sagara merasa geram. Bahkan sejak pembukaan soft launching butiknya beberapa bulan lalu, mereka baru menjual beberapa potong pakaian. Kini akibat kecerobohan Abram, Sagara malah harus membeli pakaian yang ia jual sendiri.
Sambil menggerutu, Sagara berjalan menuju gudang sambil menunduk dan membersihkan tumpahan kopi yang berwarna hitam pekat di kemejanya yang berwarna putih. Pria tak fokus dengan jalan yang dilaluinya.
BRAK!
Suara cukup keras itu berasal dari Jena yang menabrak tubuh berotot Sagara. Tentu saja wanita dengan badan kurus itu terpelanting dan membuatnya jatuh dan terhempas ke lantai cukup keras.
“Aw!” pekik Jena kecil sambil meringis.
“Kamu tidak apa-apa? Apa yang sakit?” ucap Sagara sedikit panik. Ia kemudian segera berjongkok dan hendak menolong Jena. Ia mengulurkan tangannya untuk menumpu badan Jena yang mencoba berdiri.
“Aw!” pekik Jena lagi saat ia berusaha untuk berdiri. Namun ternyata pergelangan kakinya cukup sakit.
Tanpa pikir panjang, Sagara segera mengangkat Jena dan membawa ke ruangannya. Sedangkan Jena yang memang sudah menahan kesakitan sejak semalam, kini tak lagi bisa menahan rasa sakitnya.
Ia bahkan tidak menyadari siapa yang sedang menggendongnya ala bridal style dengan sedikit berlari.
Entah mengapa, Jena yang tak biasanya menangis, kini malah tergugu dan membuat Sagara sangat panik. Apakah badannya sangat keras hingga wanita itu bisa terpental begitu keras. Bahkan bisa membuat Jena cedera.
“Ada apa?” tanya Abram panik.
Lily dan Felipe juga bergegas mendekat ke ruangan Sagara melihat Jena menangis hingga bahunya bergetar hebat.
“Panggil dokter segera! Siapa saja. Cepat!” pinta Sagara yang kemudian segera berlalu dan menurunkan Jena di atas sofa di ruangannya.
Mata Sagara kemudian segera menatap ke arah tiga orang yang termangu melihat ke arahnya juga Jena.
“Kalian bodoh atau tuli?! Cepat panggilkan dokter. Sekarang!” teriak Sagara dengan gusar.
***