SENYUM LICIK

1355 Kata
Sagara menatap ke ruangannya yang tertutup dengan perasaan campur aduk. Ia kemudian melihat ke arah telapak tangannya. Foundation. Ya, tangan Sagara penuh dengan foundation. ‘Apa kulit putih pucatnya dari foundation? Bahkan di tangannya? Seluruh tubuhnya?’ pikir Sagara bingung. Bahkan kini ia memiliki banyak pertanyaan soal foundation dan Jena. Saat di tengah lamunannya, pintu ruangan Sagara terbuka dan membuat pria yang sudah berpenampilan kusut itu beranjak dari kursi kantor Jena yang semenjak tadi ia duduki. Ketiga orang yang ikut menunggu hasil pemeriksaan Jena pun ikut berdiri dari kursinya dengan tatapan cemas pada dokter paruh baya yang kini sudah tersenyum melihat ke empat kolega Jena yang tampak khawatir. “Bagaimana dokter? Apa ada hal yang serius?” tanya Lily dengan wajah yang begitu cemas. “Tenang saja Tuan dan Nona. Nona Jena hanya butuh beristirahat. Kakinya terkilir karena jatuh dalam posisi yang tidak tepat. Apa di sini ada yang bertanggung jawab untuk kantor?” tanya dokter dengan tanda pengenal bernama Celine itu. “Saya,” ucap Sagara yang langsung maju begitu saja. “Saya butuh berbicara hanya dengan anda Tuan,” ucap Celine yang diangguki oleh Sagara. “Mari,” ucap Sagara sambil memberikan isyarat untuk mengikutinya dengan sopan pada Celine. Baru beberapa langkah, Celine segera berhenti dan menoleh ke arah Lily, Felipe, juga Abram. “Tolong jangan ganggu Nona Jena. Dia butuh istirahat karena saya memberikan obat pereda nyeri dan mungkin itu akan membuatnya mengantuk,” ucap Celine yang di balas dengan anggukan kepalanya ketiganya. Celine pun tersenyum dan kembali melangkah mengikuti langkah Sagara yang sudah kembali berjalan setelah ikut terhenti saat Celine berhenti. Pria itu kemudian mempersilahkan Wanita dengan snelli itu untuk duduk. “Mau minuman hangat atau dingin dokter?” tawar Sagara yang sudah berdiri di depan dispenser dengan sebuah mug di tangannya. “Air hangat saja,” ucap Celine dengan hangat. Senyum terpancar di wajahnya. Ia tak terpikir seorang pemuda yang terlihat arogan dengan dandanan perlente akan memperlakukannya dengan baik. Pria itu kemudian membawa dua cangkir air hangat, lalu duduk berhadapan dengan Celine. Seolah siap mendengarkan pesan Celine, pria itu duduk dengan tegap dan memasang telinganya dengan baik. “Jadi bagaimana dokter? Apakah ada sesuatu mengenai Jena?” tanya Sagara sambil menyodorkan air hangat yang dipesan Celine dan memberi isyarat untuk mempersilahkan Celine minum. Celine mengangguk, lalu menyesap air hangat itu hati-hati. “Soal Nona Jenaya, saya tahu ini bukan kapasitas saya atau kewenangan saya. Tapi sepertinya Nona Jenaya dalam keadaan buruk. Saya yakin dia memiliki kondisi medis tertentu karena banyak sekali bekas pukulan di tubuhnya,” ucap Celine yang diakhiri dengan helaan nafas panjang. “Memar?” “Ya, cukup parah. Dia meminta saya meresepkan beberapa obat untuk menghilangkan nyerinya dan dia akan membayar. Saya bilang bahwa semua fasilitas ini sudah gratis dan anda yang akan membayar tagihannya. Sebenarnya dia menolak dan memohon pada saya agar kondisi medisnya tidak diketahui. Tapi– saya rasa ini penting. Saya sudah menyuruhnya untuk menemui saya di luar kantor untuk memeriksakan kondisinya tanpa campur tangan anda. Saya–” “Beri dia perawatan yang baik hingga dia sembuh, dokter. Terima kasih untuk bantuan anda. Soal biayanya, akan saya tanggung sepenuhnya.” “Maaf, sebenarnya ini masalah pribadi Jenaya, tapi saya malah melibatkan anda. Saya hanya merasa anda perlu tahu, bahwa dengan keadaannya yang mungkin juga malnutrisi, jangan buat dia kelelahan hingga luka-lukanya membaik,” ucap Celine dengan tatapan hangatnya lagi. Sagara menghirup nafas dalam sambil menutup matanya. ‘Malnutrisi di zaman ini dan tinggal di kota London? Sangat tidak masuk akal. Apa gaji yang aku berikan tidak cukup?’ pikir Sagara yang kini sudah memijat keningnya *** Jena membuka mata dari tidurnya. Ia menghirup napas dalam-dalam saat sinar senja merayap masuk lewat jendela ruangan. Seolah-olah dari mimpi yang panjang, dia melihat sekelilingnya dengan mata yang masih kabur. Warna oranye keemasan senja memperlihatkan dirinya melalui tirai, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding. Jena membuka mata dengan perlahan, merasa kepalanya masih pusing setelah efek obat-obatan yang sebelumnya diberikan. Sinar matahari menyilaukan memasuki ruangan, membuatnya menggosok matanya pelan untuk menyesuaikan diri dengan cahaya terang. Perlahan, dia menyadari bahwa dia tidak berada di tempat yang dia kenal. Dia berada di sebuah ruangan yang luas dan elegan, di mana dindingnya dipenuhi dengan rak-rak buku tebal dan berkas-berkas berantakan yang ditempatkan dengan rapi di meja kayu besar. “Sudah lebih baik?” tanya Sagara yang tanpa aba-aba memegang kening Jena dengan punggung tangannya. Jena termangu. ‘Hangat,’ ucap Jena dalam hati. Bahu lebar Sagara berhasil menghalau sinar matahari yang menerpa wajah Jena. Pria dengan rambut hitam yang teratur dan pakaian kemeja putih yang rapi, tampak begitu elegan di bawah cahaya matahari yang memancar masuk dari jendela besar di belakangnya. Mata mereka saling bertaut untuk sesaat. Keduanya menatap dalam satu sama lain. Membuat keduanya tak menyadari bahwa telinga mereka sudah berwarna merah sekarang. Sagara terbatuk sebelum kembali menegapkan badannya. “Kamu masih demam. Istirahatlah sebentar lagi. Atau mau aku antar?” suara Sagara itu berhasil membuat Jena kembali pada kesadarannya. Jena menggelengkan kepalanya dan segera duduk dengan cepat, tapi tiba-tiba sakit kepala yang seperti dihantam palu godam yang mendera tepat setelah ia di posisi setengah duduk di sofa panjang berwarna abu-abu itu.. “Argh!” erang Jena yang membuat Sagara dengan cepat membantu Jena duduk. “Aku menyuruhmu beristirahat karena dokter bilang kalau kau perlu banyak beristirahat. Dokter Celine bilang jika kamu malnutrisi dan itu membuat tubuhmu lemah, juga tekanan darahmu sangat rendah.” Sagara beranjak dari tempatnya lalu mengambil sekantong obat di atas meja kerjanya. “Ini obat dari dokter. Minumlah sesuai dengan aturan. Kamu bisa libur beberapa hari. Ambil lah cuti–” “Tidak! Aku tidak akan cuti,” ucap Jena tegas. Ia berdiri dengan cepat dan membuatnya sedikit terhuyung. “Jena? Kau–” “Saya tidak akan cuti, Tuan. Terima kasih atas kemurahan hati anda. Saya hanya perlu beristirahat sekarang,” ucap Jena yang kemudian menunduk dengan hormat dan mengambil obatnya yang sudah berada di meja. Ia lalu pergi begitu saja. Saat Jena membuka pintunya, ia sedikit terkejut karena Abram berada tepat di depan pintu. Pria di hadapan Jena pun tak kalah terkejut dan ternganga melihat penampilan Jena. “Maaf, Tuan Abram. Saya pamit pulang,” ucap jena yang bergegas mengambil tas miliknya dan berjalan sedikit terhuyung dan hampir saja jatuh. Tapi, beruntungnya dia bisa segera berdiri tegak kembali. Saat Abram tersadar dari keterkejutannya akan penampilan Jena, pria itu ingin berteriak menawarkan tumpangan. Tapi tangan kekar Sagara terlebih dulu memegang pundak Abram. Membuat Abram menoleh pada Sagara. “Bro? Dia kenapa?” tanya Abram dengan tatapan tak percaya pada Sagara. Sagara mengangkat tangannya dan menunjukkan bekas foundation yang masih menempel di tangannya. Entah kenapa pria dengan cambang tipis itu belum ingin menghapus foundation milik Jena di tangannya. “Apa sih? Kenapa?” Sagara berdecak kesal. “ Dia pakai foundation buat nutup lukanya.” “Wow! Terus? Kok bisa foundation mukanya ilang? Mukanya sembab, bro! Habis Lo apain?” Sagara kembali berdecak kesal. “ Itu tadi kan dia nangis. Ya gara-gara itulah ilangnya. Emangnya gara-gara apa lagi? Kurang kerjaan banget Gue ngapusin make-up orang,” ucap Sagara kesal. “Ya Sabar, sih. Kan gue nanya. Tapi emang gue tadi di aduin anak-anak, katanya mukanya Jena aneh hari ini. Kenapa ya dia?” “Kepo, Lo?” “Banget!” jawab Abram dengan nada ibu-ibu bergosip. “Lo cari tahu soal Jena kalau gitu,” ucap Sagara sambil memberikan satu map pada Abram yang kini tampak bingung. Meski begitu sejurus kemudian, Abram tampak mengejek ke arah Sagara. “Serius? Seorang Sagara mencari tahu seorang wanita bule di jagat raya yang seluas ini? Wow, ini adalah informasi yang bernilai jutaan rupiah kalau gue sebarin ke Ibu–” Sagara segera menjitak kepala Abram dengan kekuatan penuh dan membuat Abram meringis kesakitan. “Berani Lo ngaduin Gue, liat aja, Bang!” ucap Sagara dengan tatapan bengis dan senyum mengejek yang membuat keadaan berbalik. Tangan Sagara yang mengepal kuat meski wajahnya tersenyum licik, membuat Abram menelan ludahnya. Tubuh Abram memang berotot, tapi jika berhadapan dengan Sagara, Ia jelas kalah. Pria satu itu, lebih mengerikan dari yang pernah orang lain bayangkan. Bahkan Abram sendiri enggan membayangkan nasibnya jika berurusan dengan Sagara. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN