Jena merasakan pegal yang teramat sangat saat mengangkat lengannya ke udara sedikit. Luka lebam itu masih membiru, sesekali Jena meringis sampai mengeluarkan desisan pelan. Ia menahan diri supaya tidak kembali menangis. Jena hanya mendesah berat sebelum kembali menatap ponselnya dengan mengharapkan hal yang sama.
"Dimana kamu, Matt?" gumamnya mengharapkan layar yang berulang kali dia nyalakan dan matikan memunculkan notifikasi pesan dari Matt jika laki-laki itu tidak sempat menelponnya.
"Matt, kapan pulang?" Untuk kesekian kalinya Jena berbisik mengirimkan pesan suara melalui handphone-nya.
Last seen di akun Matt belum juga berubah, lelaki itu belum menengok kotak pesannya sama sekali. Jena mendesah mengeluarkan nafas beratnya. Langit di luar sudah mulai terang, sinar kekuningan akan muncul tak lama lagi. Entah sampai kapan pandangannya akan beralih dari jendela dan layar handphone-nya.
Jena akhirnya memilih menelpon Matt terlebih dahulu, namun bukannya suara Matt yang masuk di indera pendengarannya melainkan suara operator yang mengatakan bahwa nomor telepon Matt sedang tidak bisa dihubungi.
"Sewa apartemen kita habis hari ini, Matt. Kita harus bayar." Jena sampai setengah berteriak ketika mengirimkan pesan itu ke akun Matt.
Lelaki itu sekarang entah berada di mana, apakah benar-benar sedang bekerja atau mungkin sedang keluyuran, Jena tidak tahu persis. Yang jelas, hari ini mereka bakal ditendang keluar dari tempat sewa mereka jika tidak melunasi biaya sewa. Sementara itu, semua uang mereka dipegang oleh Matt dari uang tunai sampai saldo mobile banking.
Ya, benar-benar dipegang oleh Matt, termasuk gaji bulanan hasil kerja Jena. Uang yang ada di saku mantel Jena hanyalah recehan, yang mungkin hanya cukup untuk membeli minuman.
"Seandainya saja–" gumam Jena ketika di layar handphone-nya muncul iklan yang menjual pernak-pernik aksesoris wanita.
Jena lupa bagaimana bisa mereka memiliki kesepakatan seperti itu sampai Ia tidak bisa menikmati uangnya sendiri. Kendali hubungan mereka dipegang sepenuhnya oleh Matt, terutama uang. Bahkan, Jena harus meminta izin terlebih dahulu jika ingin menggunakan uangnya sendiri untuk pergi ke salon atau membeli bedak.
Namun, di sisi lain Matt pula yang bersikap sewenang-wenang, seperti saat ini ketika mereka harus melunasi biaya sewa apartemen yang mereka tempati bersama. Matt tak juga muncul. Jena bukannya perhitungan dalam hal uang, tetapi detik ini dompetnya kosong melompong. Uangnya sudah diserahkan kepada Matt. Seluruh uang di rekeningnya juga ada di tangan Matt.
"Ini yang kadang membuatku sebal denganmu, Matt," decak Jena ketika merapikan pakaiannya dan siap berangkat.
Jena tertawa miris di dalam hati, sekejam apapun perlakuan Matt kepadanya, Ia tidak bisa lepas dari lelaki itu. Matt telah merenggut segala milik Jena tak terkecuali kebebasannya. Ia benci pada perasaan ini tetapi Jena tak memiliki siapapun lagi selain Matt di dunia ini. Ia bahkan sudah sepuluh tahun dengan lelaki itu yang tentu membuatnya tak mudah untuk berpisah darinya.
"Suatu hari, mungkin Kau akan kembali jadi Matt yang dulu. Kembali jadi Matt yang membuatku bahagia," bisik Jena meyakinkan dirinya. Ia tidak akan menyerah, mungkin Matt saat ini memang sedang kacau. Tetapi bukankah semua orang juga bisa berubah?
"Cukup, aku harus berangkat sekarang!" desah Jena menepiskan segala masalah di kepalanya.
"Hei, Jena. Mau ke mana?"
Jena refleks menghentikan langkahnya ketika mendengar namanya disebut. Wanita yang sudah tidak muda lagi itu berdiri di bawah tangga ketika Jena tengah turun.
"Kau pasti tahu bahwa tagihan sewa kalian harus dibayarkan hari kemarin. Bagaimana dengan uang sewanya, Jena?" tanyanya dengan nada yang masih cukup ramah walaupun Jena sendiri tahu, jika Nyonya rumah tersebut sedang menahan kekesalannya.
"Iya, Nyonya Cartie, tapi–"
"Kamu tahu Jena. Aku tidak bisa terus-terusan memaklumi apapun yang terjadi. Termasuk– keadaan kalian,” ucap wanita setengah baya itu sambil menunjuk keadaan Jena yang sedikit berantakan. Belum lagi luka-luka di tubuh Jena yang kini terlihat sangat jelas dan warnanya mulai kehitaman.
"Maaf, Nyonya. Aku tidak bermaksud untuk membohongimu dengan mengatakan akan membayar hari ini, aku ingin membayarnya jujur saja. Namun, kamu tahu? Ada kebutuhan mendadak yang membuat uangku habis. Aku meminta belas kasihanmu untuk memberiku waktu lebih. Aku berjanji akan segera membayarnya jika uangnya sudah ada," ujar Jena penuh harap.
"Maaf, Jena. Sayangnya aku sudah terlanjur membuat kabar buruk untukmu. Sebenarnya, beberapa hari lalu ada yang sudah membayarkan uang mukanya. Kamu tahu, seperti kataku. Aku hidup sendirian. Jadi aku mengambil uangnya. Jadi, aku harap kamu bisa pergi," ujar wanita itu tanpa peduli apapun pada perasaan Jena.
"Mereka juga akan datang beberapa jam lagi," lanjutnya yang sontak membuat Jena terkejut.
"Ap-apa?!" ucap Jena tergagap.
“Nyonya– kamu tidak bisa melakukan ini,” lanjut Jena dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa tidak bisa? Flat ini milikku. Kamu tahu Jena, aku sudah tidak sanggup mengurusnya. Terlalu banyak masalah dan aku terlalu tua untuk menerima komplain dari anak-anak muda sepertimu. Jadi kemasilah barangmu, mereka akan datang beberapa jam lagi." Wanita itu mengangguk yakin.
Jena mengerutkan dahi sementara bibirnya masih kelu untuk mengucapkan apapun. Ia benar-benar tak habis pikir jika terusir begitu saja. Seharusnya Jena tahu bahwa ini sudah menjadi konsekuensi jika Ia tidak membayarnya sampai jatuh tempo.
"Jangan melamun, Bergegaslah, kemasi barang kalian karena sebentar lagi mereka akan datang." Wanita itu menatap jena tanpa ekspresi, tapi sorot matanya masih memancarkan rasa kasihan. Tapi sepertinya itu tidak berart apapun untuk Jena saat ini.
"Nyonya, apakah masih ada unit lain yang kosong? Saya mau ambil jika unit ini memang sudah terjual," ujar Jena mencoba memohon.
"Hmm, tidak ada, Jena. Mungkin ada jika kalian sanggup membayar harganya dua kali lipat, seperti orang yang akan menempati unitmu," jawab wanita itu dengan mudahnya.
Jena menelan ludah, 'Jadi unit apartemen yang Ia tempati baru saja laku dengan harga dua kali lipat?'
"Ayo, bergegaslah. Biar kubantu mengemasi barangmu sekarang." Wanita tua itu pun melangkahkan kakinya menaiki anak-anak tangga.
Jena menggigit bibirnya tidak percaya dengan apa yang tengah Ia alami. Lonceng manual milik nyonya tua itu berdentang, tanda ada tamu di rumah utamanya.
"Lucy, urus dulu tamuku!" teriak wanita itu melalui celah kusen jendela di sisi tangga, sementara Ia terus melangkah ke lantai yang ditempati Jena dan Matt.
Jena pun mengikuti wanita itu, mau tidak mau Ia memang harus berkemas sekarang juga karena tempat ini bukan lagi menjadi rumahnya.
"Mana kopermu?" tanya wanita itu saat Jena membukakan pintu.
"Ini, Nyonya." Jena pun mengeluarkan tiga koper besar dari bawah kolong ranjangnya.
Dengan tangan yang masih bergetar, Jena mengais satu persatu isi lemarinya. Wanita itu membantunya meski dengan kasar dan sambil menggerutu. Semua perkakas di sini adalah milik wanita itu, kecuali peralatan makan.
Ingin sekali Jena menumpahkan air matanya yang sudah bermuara di pelupuk. Tetapi tangisan bukanlah jalan untuk mencari solusi. Jena harus memutar otaknya untuk mendapatkan jalan keluar. Detik ini, yang perlu Ia lakukan adalah membereskan barang-barangnya sebelum wanita itu membuangnya.
"Hah, akhirnya selesai juga," decak wanita itu saat mereka hampir selesai.
"Bereskan sisanya, Jena. Setelah ini Kau bisa keluar karena tamu itu pasti akan naik ke sini." Wanita itu menyeka peluhnya.
Jena sontak menumpahkan tangisnya begitu nyonya rumah menutup pintu dari luar. Ia membereskan baju-baju Matt yang masih berceceran di lantai, menjejalkannya bersama barang lain. Di saat seperti ini, lelaki itu bahkan tidak ada.
Tiga koper besar diseret Jena dengan langkah terseok menuruni anak tangga. Jena tak tahu harus pergi ke mana. Ia menyeret kopernya sampai jalan di komplek apartemen. Lengannya yang pegal mungkin sudah kebas karena Ia paksa menyeret beban yang berat.
Jena membuka handphone-nya, Ia mendesah frustasi karena Matt belum juga membuka pesannya. Seandainya saja ini tidak terlanjur terjadi, mungkin Ia masih sabar menunggu Matt. Jena tahu biasanya lelaki itu akan menelponnya beberapa hari ke depan.
"Aku membutuhkanmu saat ini, Matt! Kenapa kamu jahat sekali? Kenapa kamu pergi seperti ini?" lirihnya yang kemudian menumpahkan air matanya sekedar untuk menyalurkan rasa sesak dalam dadanya.
***