"Saat seperti ini, Kamu bahkan tidak mau membuka pesanku, Matt! Jahat sekali kamu, Matt!" gerutu Jena sepanjang jalan sambil menarik kopernya dengan susah payah.
Jena berpikir mungkinkah Ia bisa meminta tolong kepada orang lain. Tapi tiba-tiba senyuman mengejek muncul dari bibirnya.
“Bisa-bisanya aku punya pikiran untuk meminta tolong. Teman saja aku tidak punya! Pakai akal sehatmu, Jena!” gumam Jena lirih sambil menggeram.
Baru beberapa langkah setelah Jena berhenti menggerutu, wanita itu ternganga menyadari sesuatu.
Jena teringat bahwa dia belum memberitahu atasannya bahwa dia tidak bisa hadir hari ini. Dengan cepat Jena meraih ponselnya di dalam saku. Ia terlihat kepayahan mencari nomor sekretaris Sagara, Abram.
"Halo, Jena," sapa lelaki di seberang sana, lima detik setelah Jena menekan fitur panggilan.
"Halo, Tuan Abram. Maaf– hari ini saya tidak bisa bekerja. Itu– Itu karena–" jena terbata tidak bisa menjelaskan secara detail. Ia begitu gugup.
"Oh, apa kamu masih sakit?" tanya Abram terdengar seperti sambil mengetik di keyboard.
"I-iya," ucap Jena berbohong demi memperkuat alasannya.
"Baiklah. Kami sudah menyarankan kamu untuk cuti dari beberapa hari lalu. Jena kamu bisa libur sampai kembali sembuh. Jangan khawatirkan soal cuti," ucap Abram yang sangat membuat Jena lega.
"Terima kasih, Tuan Abram. Saya berjanji akan segera masuk ke kantor" tanggap Jena sebelum menutup teleponnya.
Masalah kecil itu terlewati, Jena pun menghembuskan nafas lega.
Sekarang tinggal urusan yang jauh lebih besar, ke mana Ia akan pergi dan menetap? Ia tidak mungkin menyeret-nyeret koper ini selama berhari-hari. Ingin rasanya Jena berteriak di tepi Jalan ini menumpahkan semua isi kepalanya.
Uang koin di sakunya hanya cukup untuk membeli minum, sementara ia tidak memegang kartu dan yang lainnya. Apalagi tidak ada aplikasi perbankan sama sekali di ponselnya. Semuanya dipegang oleh kekasihnya, Matthew.
Disaat seperti inilah kadang Jena tersadar kenapa ia begitu bodoh. Ya, hanya saat dicampakkan oleh Matthew. Masalah klasik wanita yang mudah luluh oleh janji manis seorang pria.
***
Sagara menghela nafas panjang sebelum akhirnya menggeliat untuk merenggangkan ototnya yang kaku setelah seharian bekerja.
Mendapatkan kabar bahwa Jena tidak masuk hari ini, membuat Sagara fokus menyelesaikan pekerjaannya selama satu hari penuh. Pria itu kembali menjadi Sagara si pekerja keras dan mesin penghasil uang.
Setelah melihat semua progres pekerjaan hari ini selesai, pria itu bersiap untuk pulang. Sudah pukul delapan malam saat ia melihat jam tangan dengan harga fantastis di pergelangan tangannya..
Sagara melihat butik kecil yang ia kelola telah tutup dan semua pegawainya sudah pulang. Sagara menuju mobil kesayangan miliknya yang ia beli dengan keringatnya sendiri beberapa bulan lalu. Sagara pun mengendarai mobilnya seorang diri dengan kecepatan rata-rata di jalanan kota London.
Sagara mendesah frustasi ketika minuman di dasbor mobilnya semuanya bersoda. Ia tidak mau, ketika menemui klien besok, dirinya malah terus-terusan bersendawa. Melihat minimarket, Sagara segera menepi
Namun ketika dia menepi, mata Sagara menyipit melihat seseorang dengan rambut panjang dan wajah yang terlihat pucat tetap kentara meskipun topi menutupi sebagian wajahnya.
"Masa itu Jena?," batin Sagara saat pandangannya menangkap seorang wanita dengan tiga koper besar di sekitarnya.
Wanita itu mengenakan mantel tebal berlengan panjang yang lebih cocok dikenakan ketika musim panas tiba. Wajahnya polos tanpa riasan. Tidak seperti saat ke kantor yang selalu menggunakan riasan tebal.
"Jena?" Sagara menyebut nama itu ketika Ia tidak lagi ragu.
Pria itu bergegas turun dan membuat suara debuman pintu yang berhasil membuat sekelilingnya menatap ke arahnya, termasuk Jena.
Tanpa sengaja mata mereka bertemu dan Sagara dapat dengan jelas melihat luka di sudut bibir perempuan itu yang seharusnya tidak bisa Sagara lihat karena luka itu cukup kecil dan posisi mereka tidak sedekat itu. Selain itu, bekas lebam di sisi mata Jena sudah mulai membiru, terlihat sangat jelas di wajahnya tanpa tertutup make up tebal riasan favoritnya yang malah terlihat aneh di wajah Jena. Sebenarnya apa yang terjadi pada Jena?
Di sisi lain, menyadari keberadaan lelaki tak jauh darinya, Jena pun menunduk menyembunyikan wajahnya. Padahal barusan, selama beberapa detik Ia sempat terpesona. Lelaki itu tampil kasual dan menunjukkan wajah timur tengah yang khas. Belum lagi otot-otot lengannya yang terlihat nyaman dengan sekali ihat, membuat Jena terpaku untuk sesaat.
"Sialan, kenapa harus Tuan Saga?" umpatnya dalam hati.
Jena berpikir sejenak apa yang bisa Ia lakukan sekarang, Ia ingin lari dari kenyataan ini. Di saat semua kesulitan hidupnya menumpuk jadi satu, Ia malah bertemu dengan bosnya.
Jena segera menunduk dan berdiri. Dia ingin berlari, tapi itu jelas tidak mungkin. Akhirnya Jena pun hanya melangkahkan kakinya secepat yang Ia bisa.
"Jena?" Terdengar suara lelaki itu menyusulnya.
Meski tubuhnya cukup ringan dan kakinya jangkung hingga bisa melangkah dengan cepat, namun barang-barang itu cukup membuat Jena kewalahan. Sagara tetap bisa mengikuti langkahnya dengan mudah. Bahkan mungkin lelaki itu kini ada di belakangnya. Jena sama sekali tak menoleh.
"Oh, astaga! Ayolah!" serunya berusaha mempercepat langkahnya yang sangat sulit.
Jena sangat yakin jika langkahnya sudah sangat lebar mengetahui tubuhnya yang tinggi semampai, namun tingginya masih tetap kalah dengan Sagara. Buktinya pria itu kini bisa menyusul Jena dan menahan tangan Jena agar tidak semakin menjauh dari jangkauannya.
"Mau ke mana?" tanya Sagara yakin bahwa gadis itu mendengarnya. Tak ada jawaban dari wanita itu, bahkan Ia sama sekali tak menoleh.
"Ini sudah mulai malam," ujar Sagara mengingatkan.
Jena juga tahu ini sudah mulai malam karena seharian ini Ia berkeliling kota mencari tempat penginapan yang bisa membayar di akhir bulan. Tetapi tentu saja Ia hanya buang-buang waktu. Tak ada hal yang bisa dibayar dengan hutang di London, kecuali jika punya jaminan yang banyak.
"Kau bawa koper banyak sekali, mau pindah rumah atau cari penginapan?" ujar Sagara yang terus mengikuti Jena ke manapun wanita itu melangkah.
Jena sontak menghembuskan nafas beratnya, siapapun juga bisa menebak apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Namun, ucapan lelaki itu terlalu menohok di dadanya.
Benar, Ia memang sedang mencari penginapan. Lebih tepatnya penginapan gratis karena Ia tidak bisa membayar sewanya. Jena yang tangannya terkunci kuat berbalik dengan tajam hingga wajahnya nyaris bertabrakan dengan dagu lelaki itu. Wajah lelaki itu kini sangat menyebalkan di mata Jena.
"Tuan Saga, anda tidak perlu ikut campur karena ini masalah pribadi saya," ucap Jena tepat di depan wajah Sagara.
"Aku tahu, tapi–"
"Saya tahu Anda adalah seorang bos di tempat kita kerja. Tetapi sekarang kita sedang berada di luar jam kantor, jadi saya minta Anda tidak usah ikut campur!" lanjut Jena yang kemudian segera menghempaskan tangan Jena.
Sagara tidak memperdulikan ucapan Jena yang bernada kesal dan lebih memilih memperhatikan wajahnya yang terlihat malu. Sagara berpikir mungkin Jena malu lantaran dia yang kini dengan leluasa dapat melihat wajah Jena yang memiliki beberapa lebam dan bekas luka tanpa tertutup make up. Meskipun sebenarnya Sagara sudah pernah melihat luka yang kini sudah membiru.
"Mungkin kita bisa bicara, aku tidak akan mencampuri urusanmu," seru Sagara karena Jena terus melangkah, sementara Sagara sudah kewalahan.
"Oh ya? Apa yang ingin Anda bicarakan?" Jena bertanya balik dengan nada sarkas, menunjukkan bahwa sikap lelaki itu masih termasuk mencampuri urusannya.
"Kamu sudah makan?" tanya Sagara yang melenceng jauh dari kalimat Jena.
"Untuk apa Anda menanyakan hal itu, Tuan? Anda tidak perlu repot-repot memikirkan saya," jawab Jena dengan ketus.
"Sekalian kita makan bersama. Anggap saja aku mengundangmu makan malam." Sagara pun langsung memberikan alasannya. Tetapi Jena menggeleng tanda menolak mentah-mentah.
"Kau tidak lapar?" ucap Sagara setengah menekan.
"Tidak." Jena langsung menyahut sembari mengedikkan bahunya, tetapi bahasa perutnya mengatakan hal lain.
Wajah Jena langsung memerah karena suara perutnya sangat kencang bahkan di tengah riuhnya jalanan kota London.
Jena pun mengumpat dalam hati karena kali ini perutnya benar-benar berbunyi sangat jelas. Ia memang kelaparan karena seharian ini hanya mengkonsumsi air minum.
"Perutmu mengatakan iya, bagaimana jika kamu ikut denganku? Kebetulan aku juga sedang lapar dan ingin mencari makan," bujuk Sagara pada wanita itu. Jena ternyata memiliki rasa gengsi yang cukup tinggi, tetapi itu memang sudah menjadi watak orang Eropa. Sagara bukan hanya ingin mengajak, tetapi ingin menolong wanita itu yang kelaparan.
"Tidak, saya ada urusan yang lebih penting dari undangan makan malam Anda," ucap Jena cukup kasar di telinga Sagara. Lelaki itu sampai mengerutkan kening.
"Benarkah?" ucap Sagara setengah bergumam namun tajam.
"Aku tidak ingin ikut dengan Anda, Tuan Saga. Lebih baik Anda segera pergi atau saya akan melaporkan Anda kepada polisi atas dasar pemaksaan," ancam Jena yang bukannya membuat Sagara takut malah kini pria itu tertawa ringan seolah mengejek ancaman yang Jena berikan.
"Silahkan, jika itu maumu. Aku pun bisa memecatmu kapanpun aku mau." Sagara mengedikkan bahu. Wanita itu terdiam.
"Kau lupa berbicara dengan siapa, Nona Jena?" tanya Sagara lagi dengan yakin dan senyum miring yang mengerikan di mata Jena. Pria itu kemudian berbalik dan berlalu begitu saja.
Jena menghela nafasnya dalam-dalam sebelum mengeluarkan suaranya.
"Oke! Baiklah! Aku ikut denganmu, Tuan!" seru Jena dengan berjalan setengah tergopoh ke arah Sagara yang telah berjalan lebih dulu.
Sagara segera berhenti dan menampilkan senyum kemenangan, sebelum senyum itu kembali luntur saat berbalik dan menampilkan wajah dinginnya di depan Jena. Tanpa kata, pria itu merebut koper Jena dan membawanya seolah tak terjadi apapun.
"Argh! Menyusahkan! Bukannya seharusnya manusia itu tidak mau direpotkan! Ck! Menyebalkan!" gerutu Jena dengan hentakan kaki mengikuti Sagara yang kini kembali sudah jauh di depannya.
***