Jena yang menolak tawaran makan malam atasannya itu, kini terlihat makan dengan nyaman. Ia bahkan sepertinya lupa siapa yang ada di hadapannya.
Pria dengan wajah yang masih terlihat rupawan di tengah kelelahan yang mendera itu, dengan lembut menyibak rambut Jena ke belakang telinganya, tanpa kata-kata, hanya ingin memastikan bahwa Jena merasa nyaman dan tidak terganggu saat menikmati pasta carbonara yang ia pesan.
Senyuman terkembang di wajah Sagara, pria yang rela berhenti sejenak menikmati makanannya hanya demi memandangi Jena yang lahap dan tampak menggemaskan saat mengunyah makanannya..
‘Sagara, kamu kesurupan setan apa? Kenapa kamu perhatian sampai sebegininya?’ monolog Sagara dalam hati, hingga membuat senyuman lagi-lagi tak sengaja terukir di wajahnya.
Sekian detik berlalu, Jena merasakan denyut jantungnya berpacu, ia tidak sengaja memandang ke arah pria di depannya. Mata hijau itu bertemu dengan mata hazel yang bersinar. Aksi saling tatap itu berlangsung hanya beberapa detik sebelum wajah Sagara tiba-tiba membeku, memancarkan dingin yang tajam.
Jena segera memperbaiki posisi duduknya dengan cepat, mencoba menahan gugupnya. Matanya berlarian kesana kemari karena menyadari tingkah rakusnya. Makanan yang sudah hampir tandas itu menjadi saksi bisu, bagaimana Jena bersikap sangat tidak anggun.
“Habiskan makananmu. Jangan menyisakannya,” ucap Sagara menatap Jena dalam saat wanita itu tidak lagi mau menyentuh makanannya yang tersisa sedikit.
“Saya–”
“Makanlah. Aku tidak suka dibantah, Jena,” ucap Sagara tampak dingin.
Jena pun memakan dengan lebih santai sisa makanannya.
“Jadi, kenapa kamu berkeliaran di jam sembilan malam? Ini tidak masalah seandainya kamu tidak membawa koper-kopermu itu,” ucap Sagara mengawali obrolan diantara mereka.
Jena menghentikan makannya. Ia mengambil tisu dan segera menyeka sudut-sudut bibirnya. Mata kehijauannya kembali berlarian seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Tuan, terima kasih untuk semuanya. Aku berhutang banyak pada anda. Anda bisa memasukkan tagihan makanan ini di pemotongan gajiku. Ah, Tuan– jika boleh, aku ingin meminta separuh gajiku bulan ini. Jadi aku hanya akan mendapatkan setengahnya akhir bulan ini,” ucap jena yang bukannya menjawab pertanyaan Sagara, ia malah meminta hal yang diluar dugaan Sagara.
"Aku akan memberikannya jika kamu bercerita, apa yang sebenarnya terjadi, Jena," ucap Sagara dengan suara yang tegas, namun penuh perhatian.
Jena menghela nafas panjang, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan segala sesuatu. Hatinya berdebar-debar, merasa terpapar oleh kehangatan tatapan Sagara yang memahami, tapi juga menuntut kejujuran.
“Tuan, kau sudah berjanji untuk tidak ikut campur urusanku,” jawab Jena, suaranya mencoba keras untuk tetap teguh meski terdengar ragu.
Sagara memperhatikan dengan seksama, matanya yang lembut mencoba meluluhkan pertahanan Jena. “Jena, kamu membawa tiga koper dan memakai celana jeans. Jangan lupakan baju turtle neck mu dan topi di musim panas yang luar biasa ini! Apa kau gila? Kamu bisa dehidrasi. Dokter bilang–”
“Tuan, maka dari itu. Apa aku bisa mendapatkan separuh gajiku?” mohon Jena dengan mata berbinar yang baru pertama kali dilihat Sagara.. Sangat menggemaskan, bagaimana Sagara tidak luluh. Jika bisa, dia akan mengalihkan seluruh asetnya dalam sehari semalam.
“Bisa, aku akan mengirimkannya ke rekening kamu sekarang–”
“Tidak, Tuan! Jangan! Bukan itu– aku– aku mau uangku tunai,” ucap Jena ragu-ragu.
“Tunai? Jena, kau tahu separuh gajimu berapa? Kau yakin mau membawanya tunai?”
Jena menunduk, ia memilin tangannya. Bibirnya terkatup dan matanya menatap kakinya yang bergerak gelisah.
“Katakan Jena, apa yang terjadi padamu. Apa kau ditipu? Apa uangmu dibawa kabur? Ada apa dengan rekeningmu?”
Jena menatap Sagara dengan mata yang penuh kecemasan, mencoba menyembunyikan rasa takut yang membelenggunya. Dia memejamkan mata sejenak, mencari keberanian di dalam dirinya sebelum akhirnya membuka mulutnya.
“Tuan, aku akan menjelaskannya besok.”
Jena menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya berdiri dari tempat duduknya.
“Jika Tuan berkenan memberikan aku separuh gajiku, aku akan mengambilnya besok di kantor. Terima kasih atas semuanya. Aku– permisi, Tuan,” ucap Jena yang kemudian berbalik.
Sagara hanya duduk diam sambil mengamati langkah Jena yang semakin menjauh tanpa berniat mengejarnya. Sagara membiarkan rasa lemon soda menyegarkan tenggorokannya. Hatinya tetap tenang meskipun kepalanya dipenuhi oleh berbagai pikiran. Dia tahu Jena, wanita yang telah mencuri perhatiannya itu pasti akan kembali.
Sagara merasa sangat yakin bahwa Jena tidak akan pergi begitu saja. Barang-barang Jena yang hampir seluruhnya berada di dalam mobil Sagara seolah menjadi jaminan bahwa Jena dia tidak akan lari darinya.
Sagara memberikan Jena waktu untuk menyendiri dan tak terburu menyusulnya. Pria itu malah dengan tenang mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya. Dengan gerakan cekatan, dia meletakkan telepon di telinganya dan mulai berbicara dengan suara rendah.
“Bagaimana? Sudah ada informasi?” tanya Sagara dengan mata yang tak lepas dari pintu restoran yang sudah di lewati Jena.
“Aku baru menyadari sesuatu. Namanya tidak asing bagiku. Ternyata dia adalah anak dari Abraham Cordie. Pantas saja aku sepertinya mengenal wanita itu. Dia sudah bertumbuh sangat banyak,” ucap pria di ujung sana, suaranya teredam oleh suara desisan rokok yang dihisapnya. Asapnya melayang di udara seperti kabut ringan.
“Abraham Cordie?” tanya Sagara, kebingungan mencuat dalam matanya.
“Ya, itu adalah kasus lama, Bos. Kasus pembunuhan besar sebelum kamu datang ke sini. Waktu itu, anak perempuan itu masih kecil, dan ayahnya terjerat dalam kasus yang cukup menggemparkan kota ini.”
Wajah Sagara mengerut, mencoba menghubungkan titik-titik informasi yang baru saja dia terima.
“Lalu?” tanya Sagara dengan ketertarikan yang terpancar dari matanya.
“Setelah kasus itu, Jenaya tinggal di panti sosial sampai usianya mencapai belasan tahun. Kemudian, dia memutuskan untuk hidup mandiri karena usianya yang sudah mencukupi,” ungkap pria itu, suaranya penuh dengan rasa simpati.
“Apakah hanya itu informasinya?”
“Tidak, Bos. Sekarang dia tinggal bersama kekasihnya, seorang pria bernama Matthew Lane, sampai beberapa waktu lalu. Tapi sepertinya Jenaya terlalu naif. Pria itu punya catatan buruk di kepolisian. Dari pelanggaran ringan sampai yang berat, cukup banyak. Tapi sepertinya, Jenaya tidak menyadarinya. Lalu aku rasa– Sepertinya Matthew penyuka tema dewasa yang sadis. Jadi ya– kau tahu Tuan, mencambuk dan–”
"Stop!" potong Sagara sambil memijat pelipisnya dengan keras. Kekesalannya meluap ketika bayang-bayang kulit Jena yang pucat dan dipenuhi luka membanjiri pikirannya.
Tentu saja, orang di seberang sana juga merasakan kekalutan dalam suara Sagara dan berhenti memberikan informasi.
"Tidak perlu menjelaskan padaku tentang hal-hal seperti itu," kata Sagara dengan suara tegas, mata penuh dengan tekad. "Gali lebih dalam tentang Matthew. Ke mana pria itu pergi dan mengapa dia meninggalkan Jena begitu saja? Dan segera kirimkan alamat penjara tempat Abraham Cordie mendekam. Segera!" ucapnya cepat, memerintahkan dengan tegas sebelum akhirnya dengan cepat menutup sambungan telepon itu dan menaruh ponselnya di saku.
Matanya sudah tidak menemukan Jena, ia pun bergerak cepat untuk menyusul wanita dengan rambut keemasan dengan netra berwarna hijau yang akhir-akhir ini selalu berhasil memikatnya.
langkah lebar Sagara ternyata sia-sia, pria itu mengumpat tertahan.
"Sial! Dia tidak butuh barang-barangnya?" geram Sagara dengan nada frustrasi yang memenuhi udara karena ia kehilangan jejak Jena.
Di tempat yang berbeda, mata Jena melirik ke kanan dan ke kiri, berharap pria tampan dengan warna hazel itu tidak menemukannya.
Jena mengira dia tidak akan bisa lepas dari pengawasan bosnya. Beruntungnya pria itu tadi lengah. Jadi Jena bisa sedikit berlari dari pria yang untuk pertama kali berhasil membuat Jena terpesona selain dengan Matthew.
“Persetan dengan barang-barangku. Aku akan mengambilnya besok dan meminta maaf. Aargh! Aku malu!” ucap Jena, sambil mengacak-acak rambutnya dengan gerakan tak beraturan, menciptakan tumpukan untaian rambut yang liar.
Dengan cekatan, wanita itu merapikan rambutnya dan menggulung rambutnya untuk menyembunyikannya di dalam topi. Dia menutupi kepala dengan hoodie dan menutup sebagian wajahnya dengan masker.
Meskipun penampilannya terlihat aneh dan menarik banyak perhatian, Jena tidak peduli. Dia hanya ingin melanjutkan langkahnya dan menemukan sudut yang aman untuk beristirahat di tengah gemerlapnya malam kota London. Langkahnya mantap, meski diiringi pandangan tajam dari mata-mata penasaran yang mengawasinya.
Jena, yang merasa dirinya mulai menjauh dari kejaran, melambatkan langkahnya tanpa menyadari bahwa di balik bayangannya, ada sosok dengan senyuman yang mencurigakan yang mengintainya.
“Mau ke mana kamu, gadis nakal?” ucap pelan orang yang mengawasi Jena, namun tentu saja suara itu tidak terdengar karena jarak mereka yang cukup jauh.
***