SENYUM SAGARA

1624 Kata
Sagara memandang wanita yang ada di depannya dengan tatapan lekat. Pria itu menatap Jena yang nampak nyaman bersandar di tembok tinggi dengan kaki panjangnya yang terulur lurus di atas trotoar yang mungkin tidak terlalu dingin malam ini. Jena tertidur dengan topi, kacamata hitam dan masker yang hampir menutupi seluruh bagian wajahnya. Pria itu kini menatap Jena dengan senyum tipis di wajahnya. “Memangnya kamu gak kesusahan nafas kalau tidur kayak gini, Jen?” monolog Sagara yang sudah sejak beberapa waktu lalu setia memandang Jena dengan posisi yang sama. Ajaibnya, Jena bahkan tidak bergerak sedikitpun. Ia tidak merasa sama sekali, bahwa ada sepasang mata yang mengamatinya semenjak tadi dan kini berada di jaraknya hanya beberapa senti darinya. Sagara bersyukur dapat berhasil menemukan Jena setelah menyusuri jalanan di sekitar restoran tempatnya makan dengan Jena. Sagara tahu tidak mungkin Jena jauh dari posisi awal mereka jika perempuan itu hanya mengandalkan kedua kakinya. Mengingat betapa kesalnya tadi ia kehilangan Jena, membuat ada perasaan berkecamuk dalam dadanya. “Kenapa kamu lari, Jen? Aku kan cuma mau bantu,” monolog Sagara lagi dengan memperhatikan Jena dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sagara sedikit terkesiap ketika Jena bergerak, ia kira Jena terbangun. Tapi ternyata wanita itu hanya menggeser tubuhnya sedikit saja. Mungkin Jena sedikit tidak nyaman dengan posisi tidurnya. Lagipula siapa yang akan nyaman tidur di jalanan dengan posisi seperti Jena? Setelah menelisik Jena lebih dalam, Sagara kini bersyukur dengan pilihan baju yang Jena pakai. Dengan pakaian yang bisa terbilang sangat tertutup itu, Jena sama sekali tidak terlihat seperti seorang wanita. Dia lebih terlihat seperti pria kurus dengan tubuh jangkung.Pakaian Jena pasti akan berhasil membuatnya terbebas dari pria-pria nakal yang berniat jahat dengan perempuan-perempuan lemah sepertinya. Dini hari seperti saat ini menjadi waktu rawan karena para pria yang baru pulang dari pesta dalam keadaan setengah sadar bisa berbuat seenaknya dengan perempuan yang ditemuinya. “Se-tertutup apapun pakaianmu, Jen. Aku gak yakin kalau kamu akan selamat dari pria-pria b******k di jalanan ini. Kamu beruntung karena ada aku,” ucap Sagara lagi sambil menghela nafas panjang. "Seberapa besar sebenernya nyali kamu, Jen. Sampe kamu berani tidur di jalanan kayak gini? Padahal kamu berani banget kayak gini, tapi gimana bisa coba, kamu tetep bertahan sama begundal macem Memet? Dimana akalmu itu, Jen?" gerutu Sagara lirih dengan menahan rasa kesalnya. Sagara menatap Jena dalam diam. Selain kasihan, Sagara juga cukup takjub dengan Jena. Perempuan itu bisa dikatakan kuat ketika memilih bertahan dengan pria bernama Matthew yang sudah memperlakukannya dengan buruk. "Sekarang aku jadi kepikiran, Jen. Kenapa sih, kamu gak lari aja. Gaji dari butik itu cukup gede buat sewa apartemen. Kok bisa, gaji gak pegang? Malu dong, Jen. Masa’ butik yang hits seantero Amerika gak bisa mensejahterakan karyawannya, sampai harus tidur di jalanan kayak gini. Ini bener-bener gak masuk di akalku, Jen!” Setelah mengeluarkan seluruh isi hatinya, Sagara tidak lagi berbicara, pria itu hanya menatap diam ke arah Jena yang sedang menutup matanya. Sudah hampir satu jam Sagara menemani Jena yang terlelap sambil mengoceh banyak hal. Padahal hari akan menjelang pagi dan Sagara harus segera pulang. Namun, dia tidak bisa meninggalkan Jena seorang diri tanpa penjagaannya walaupun dari jarak jauh yang terpenting bagi Sagara bisa melihat Jena baik-baik saja hingga perempuan itu kembali mendapatkan kesadarannya. Sagara bernafas dalam sebelum akhirnya matanya menatap mobilnya yang terparkir dan kemudian menatap Jena. “Kalau gue angkat, kebangun gak ya?” ucap Sagara sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. “Coba dulu kali, ya?” Sagara segera berlari menuju mobilnya dan membuka pintu depan mobilnya. Ia kemudian dengan hati-hati mendekat ke arah Jena lagi. Sagara menyimpan tangan kirinya di bawah punggung atas Jena sedangkan tangan kanannya di bawah lutut perempuan itu. Dalam hati, Sagara berharap semoga Jena tidak terganggu dan tetap dalam lelapnya. Enteng, pikir Sagara saat dirinya berhasil berdiri dan membawa Jena dalam gendongannya. Ia memang berpikir bahwa tubuh Jena tidak berat, namun ia tidak menyangka akan semudah ini menggendong Jena. mengingat tubuhnya yang juga cukup tinggi. "Ssstsss–," bisik Sagara ketika Jena bergerak gelisah di dalam gendongannya. Dia bahkan menggerakkan gendongannya seperti menggendong seorang bayi dan cara itu berhasil membuat Jena kembali tenang. Jena bahkan kini menyandarkan kepalanya dengan nyaman di d**a bidang Sagara yang terlapisi kemeja tipis berwarna biru muda.. Ajaibnya, wanita itu tidak terbangun bahkan setelah beberapa saat Sagara menggendongnya. Wanita itu malah menyusupkan wajahnya ke d**a bidang Sagara beberapa kali, seolah mencari kehangatan di sana. Tindakan itu jelas membuat Sagara hampir lupa caranya bernafas karena jantungnya yang berdegup kencang. “s**t!” pekik Sagara tanpa suara karena ia merasakan ada yang bangkit di bawah sana karena ia menunduk untuk menatap pipi pucat milik Jena. “Sagara, Lo pervert!” makinya dengan volume sangat kecil. Setelah memposisikan tubuh Jena senyaman mungkin dan membuka segala yang melekat di kepala Jena, Sagara membuka pintu di dekat kursi kemudi. Dia masuk dan sebelum mulai menjalankan mobilnya, Sagara mengatur suhu di dalam mobil agar tidak terlalu dingin atau panas. Dia tidak ingin suhu yang terlalu rendah atau tinggi itu mengganggu tidur Jena. Mobil pun mulai melaju memecah keheningan salah satu sudut kota London. Sagara mengemudi dengan kecepatan rata-rata, selain karena mengantuk, ia juga ingin menikmati wajah Jena. Sagara seolah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya untuk bisa memandangi wajah Jena yang kini sudah bisa ia lihat dengan jelas setelah topi, kacamata, dan masker itu Sagara lepaskan tadi. Bibir Sagara pun tersungging memperlihatkan senyuman yang indah dan membuat wajahnya semakin tampan. Saat ini hanya satu alasan yang membuat senyum Sagara tersungging, yakni melihat Jena yang tertidur dengan nyaman hingga bibirnya terbuka dan sedikit mendengkur. Wanita ini pasti sangat kelelahan, pikir Sagara. Detik dan menit berlalu dengan cepat, mobil Sagara kini telah sampai di sebuah apartemen mewah di salah satu sudut kota London.Dari dalam mobilnya, Sagara bisa melihat Abram yang terlihat menunggunya. Pria itu terlihat kelelahan dengan kelopak mata atasnya yang mulai turun. "Bos, akhirnya dateng juga. Ngantuk banget gue, " sambut Abram ketika Sagara keluar dari dalam mobilnya. Pria itu mendekat sambil menggosok matanya yang memang sudah sangat berat untuk terbuka. Abram yang awalnya mengira Sagara akan mendekat, sedikit kebingungan karena pria itu segera menuju ke arah kursi penumpang. Matanya menyipit memperhatikan ada apa di kursi penumpang itu. Mulutnya segera menganga saat menyadari siapa yang ada di gendongan Sagara saat ini. “Lo– mabok, Bro?” tanya Abram yang rasa kantuknya menguap entah kemana. “Apa– apa gue yang mabok? Gue mabok apa ngimpi, nih?” monolog Abram dengan wajah kebingungan. “Gak usah banyak omong, cepetan,” ucap Sagara yang kemudian berjalan melewati Abram begitu aja. Abram masih menganga tak percaya. Ia kemudian mencoba untuk menampar wajahnya cukup keras. “Aaargh, sakit! Gila, gue gak mimpi!” “Bang, cepet!” pekik Sagara yang membuat Abram segera berlari mendekat ke arah Sagara. Abram pun segera menempelkan kartu akses pada pintu lift, agar bisa mengantarkan mereka ke tempat tujuan mereka. Sepanjang perjalanan menuju unit yang dihuni Abram, ada dua pemandangan yang mencolok diantara keduanya. Sagara yang memandang Jena lekat dengan senyuman tipis yang sesekali menghiasi wajahnya, sedangkan Abram berulang kali mengedipkan matanya seolah mencoba menarik kembali kesadarannya. "Tolong buka pintu," titah Sagara yang sudah berdiri di depan kamar kosong yang biasanya Sagara tinggali saat tak ingin menikmati kesepian di rumahnya yang cukup mewah di kawasan elit kota London. Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Abram menurut. Ia membuka pintu itu, lalu berdiri mematung di ambang pintu. Sagara menurunkan Jena dengan perlahan di atas tempat tidur. Dalam keadaan tidak sadar, Jena seolah bergerak mencari posisi ternyamannya. Wanita itu terlihat menikmati tidurnya dengan baik. Melihat itu, Sagara lagi-lagi tersenyum. ‘ Pria itu menunduk mengusap rambut rambut keemasan milik Jena."Sleep tight, Jen," bisiknya sebelum kembali berdiri tegap dan melihat Abram yang kini ternganga lebar. “Lo– ngapain sih? Bentar, ini gimana ceritanya?” tanya Abram setengah berbisik, takut mengganggu tidur Jena. Bukannya menjawab, Sagara malah meletakkan telunjuk di bibirnya sebagai isyarat agar Abram diam. Tanpa kata, Sagara melambaikan tangannya tanda mengusir Abram dari hadapannya. Abram terlihat kesal dengan mulut komat-kamit melihat tingkah Sagara. Namun akhirnya, ia tetap beranjak dari ambang pintu menuju dapur. Ia sepertinya perlu minum untuk menenangkan dirinya melihat kejadian beberapa detik lalu. Sedangkan Sagara, ia mengeluarkan ponselnya dan memotret Jena secara diam-diam. Ia tersenyum riang seolah sudah menemukan harta karun, sebelum akhirnya ia juga keluar dari kamar itu dengan mengendap-endap. “Ini gimana sih ceritanya?” tanya Abram dengan wajah garang di depan Sagara yang baru saja menutup pintu kamar dimana Jena berada. “Ya, gitu. Eh, Bang. Mulai malam ini Jena yang akan pakai apartemennya,” ucap Sagara enteng. “Hah, gimana?” tanya Abram bingung. Tanpa kata Sagara mengeluarkan kunci rumahnya dari sakunya. Ia mengambil tangan Abram lalu menaruh kunci di tangan Abram dan membuat pria itu menggenggamnya. “Mulai malam ini, tinggal sama Gue di rumah Gue ya, Bang,” ucap Sagara yang kemudian segera berlalu dari depan Abram menuju dapur. “Kok gitu? Apartemen ini kan fasilitas Gue! Kenapa Gue mesti pindah? Kan Lo yang udah janji kasih Gue fasilitas?” “Tinggal sama Gue juga fasilitas yang Gue kasih, Bang,” ucap Sagara enteng yang kemudian segera meneguk air mineral di tangannya. “Gak bisa–” “Bisa! Lagipula ini kan properti pribadi Gue, suka-suka Gue lah,” ucap Sagara. “Ga, Gue gak mau gila ya! Hidup sama Lo dua puluh empat per tujuh. Di kantor Gue ketemu Elo. Pulang gue ketemu Elo. Dimana waktu privasi gue?! Bentar deh Ga, Ini sebenernya gimana sih? Lo cerita dulu sama gue,” ucap Abram masih tak terima. Sagara seolah tidak mau menjelaskan apapun, pria itu memilih masuk ke dalam kamar Abram, meninggalkan Abram yang menatapnya nanar karena tidak mendapatkan jawaban. “Kurang ajar tuh, bocah! Dosa apa gue punya bos kayak Sagara, ya Tuhan!” keluh Abram sambil mengacak-acak rambutnya kesal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN