MENERIMA KEBAIKAN

1401 Kata
Jena termangu, sejak kapan ia tertidur di kamar dengan cat putih dan karpet lembut beralaskan lantai kayu yang menghiasi bawah ranjang tempatnya terduduk. Jena masih berusaha mengumpulkan kesadarannya dengan mengerjapkan mata secara berulang. “Tunggu dulu! Apa aku bermimpi?” ucap Jena yang kemudian menoleh ke arah Jendela dengan cahaya tertahan. Kakinya pun turun dari kasur empuk yang ia yakin harganya sangat mahal. Wanita itu menyibakkan gorden jendela dan menemukan pemandangan kota London yang cukup sibuk dengan matahari yang sudah cukup tinggi. "Sebenarnya dimana ini? Bagaimana bisa aku berakhir di sini?" ucap Jena yang kini sudah mengamati kembali kamar itu dengan seksama . Desain interiornya mencuri perhatian Jena. Kamar bernuansa minimalis itu tidak kehilangan kesan mewahnya. Lukisan estetik terpajang di beberapa sudut ruangan dan perabotan mewah lainnya, seperti kursi baca, meja rias, dan juga lemari besar bernuansa kayu. Ruangan itu semakin mewah dengan aroma tembakau dan cengkeh yang rasanya mampu menenangkan hati Jena. Aroma ini mengingatkan Jena pada pria yang berada dibalik jeruji besi. "Sebentar– Bagaimana bisa aku berakhir disini? Ini pasti mimpi? Ya kan? Atau aku sudah gila karena tidak tahan dengan kemiskinanku?” gumam Jena sambil kembali menelusuri setiap inci ruangan tempat dirinya berdiri. Jena mengingat dengan sekuat tenaga apa yang terjadi semalam. Ia memang merasa tubuhnya melayang semalam. Ia juga merasakan sentuhan hangat di wajahnya. Tapi Jena terlalu lelah sekedar untuk membuka matanya. Seharian berkeliling kota juga rasa kenyang yang memenuhi perutnya membuat Jena sangat enggan memastikan keadaan dirinya sendiri. Di saat Jena mencoba menerka-nerka, apakah ini halusinasinya atau bukan? Jena samar-samar menangkap suara alat masak yang beradu. Jena menajamkan matanya dan diam untuk sepersekian detik, sekedar untuk memastikan pendengarannya. Jena yang sangat penasaran pun melangkahkan kakinya dan membuka kamar itu dengan hati-hati. Langkahnya mengikuti pendengarannya. Hingga beberapa saat kemudian, Jena sampai di sebuah dapur mungil yang terhubung dengan semua ruangan di sana. Ada ruang makan, juga ruang bersantai. Jena mengendap mendekati ruangan itu dan mengintip. Matanya membulat tak percaya ketika mendapati seorang pria mengenakan kaos ketat hingga memperlihatkan lekukan ototnya sedang sibuk memasak. Pria itu menggerakkan tangannya dengan lihai saat memotong seledri tanpa melukai jari. Suara pisau dan tatakan kayu, mendadak terdengar merdu di telinga Jena. Tanpa Jena sadari, matanya telah menatap penuh kagum pada pria diseberang sana. Perawakan gagah itu bahkan mampu mengambil alih seluruh kesadaran Jena. “Aku yakin ini mimpi. Fix! Ini pasti mimpi!” ucap Jena dengan suara yang cukup mampu didengar pria yang memakai apron berwarna krem itu. “Kamu bangun cukup pagi, Jen. Apakah tidurmu nyenyak?” tanya pria itu yang kini sudah menghentikan kegiatan memotongnya dan menatap Jena dengan senyum tipis di wajahnya. Meski samar, Jena yakin bahwa pria yang dikenalnya sebagai Sagara itu sedang tersenyum menatapnya. Jena mengerjap terkejut. Wanita itu semakin yakin bahwa dirinya sedang bermimpi. Bagaimana pria dingin seperti Sagara bisa tersenyum padanya dan bersikap ramah. Apalagi tersenyum? Oh, tentu ini tidak nyata, pikir Jena. Jena menggelengkan kepalanya kuat secara tiba-tiba dan itu membuat Sagara cukup terkejut. Pria itu meyakini bahwa Jena pasti belum sepenuhnya sadar dari tidurnya. “Tidurlah jika kamu masih mengantuk, Jen,” ucap Sagara yang kemudian melanjutkan kegiatannya yang sebelumnya tengah memotong seledri dengan kecepatan mirip chef-chef handal di televisi. “Tidak, aku sudah segar,” jawab Jena yang memang meyakini kini ia sedang bermimpi. Ia bahkan berikrar dalam hati, bahwa ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia ingin mengenal pria yang juga bosnya itu. Pria yang sudah sejak beberapa waktu lalu mengganggu pikirannya karena sudah ikut campur dalam masalah Jena. “Duduklah kalau begitu,” ucap Sagara sambil mengangkat nampan yang berisi segelas s**u dan dua buah piring yang Jena sendiri tak tahu apa isinya. Jena pun mengangguk. Tanpa ragu ia mendekat dan mendapati pasta carbonara di masing-masing piring. Pasta itu sangat menggoda di mata Jena. "Aku tidak tahu kau akan suka atau tidak. Sebenarnya sarapanku lebih berat daripada ini, tapi karena kamu mungkin tidak makan masakan berat sepertiku, jadi aku hanya terpikirkan membuat pasta. Semoga kamu suka," ucap Sagara sambil menyodorkan sepring pasta juga alat makannya pada Jena. “Ini terlihat lezat,” ucap Jena yang tanpa ragu menggulung pasta dengan garpunya. ‘Ini kan mimpi. Makan saja sepuasnya, Jena!’ seru Jena dalam hati sambil mengembangkan senyum di wajahnya. Ia mencoba sesuap pasta, lalu beberapa detik kemudian matanya membelalak terkejut mendapati rasa yang begitu kaya di mulutnya. ‘Ini terlalu nyata untuk disebut mimpi,’ ucap jena lagi dalam hatinya sambil menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan tanda menyukai pasta yang lumer di mulut nya itu. “Bagaimana? apa itu cocok dengan seleramu?” tanya Sagara sambil memperhatikan ekspresi Jena yang menggemaskan. Wanita itu bahkan sepertinya melupakan siapa yang ada di hadapannya, karena sangat menikmati makanan yang masuk ke dalam mulutnya. ‘Aku pasti sangat kelaparan, sampai rasanya makanan di dalam mimpi ini terasa sangat nyata. Ah! Kalau aku mendapatkan uangku, aku harus membeli pasta seenak ini di dekat kantor,’ ikrar Jena dalam hati. “Sepertinya aku tidak butuh jawabanmu, Nona. Kamu sangat menikmatinya,” ucap Sagara sambil tersenyum lebar dan mulai memakan makanannya. Jena mengangguk antusias. “Ini sangat enak! Bumbunya pas. Aku suka bumbu yang cukup terasa seperti ini. Hampir semua makanan di London ini hambar. Meskipun bertahun-tahun aku tinggal, nyatanya aku tidak terbiasa dengan rasa hambar itu,” jelas Jena panjang lebar. "Syukurlah kalau begitu. Habiskan makananmu," pinta Sagara sambil tersenyum puas. Suasananya hening sesaat, tapi tiba-tiba Jena merasakan sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya. Wanita itu terdiam untuk sepersekian detik. Hening. Jena membulatkan matanya dan dengan gerakan cepat menampar pipinya, membuat pria bermata hazel itu membelalak tak percaya. Dengan cepat Sagara pun menangkup pipi Jena dan membuat Jena menatap ke arahnya. “Jena! Kau gila! Kenapa kamu menampar dirimu sendiri?!” ucap Sagara dengan nada tinggi dan jantung yang berlompatan. Sedangkan wanita yang menampar dirinya sendiri itu termangu tak percaya. “Aku tidak bermimpi,” gumam Jena lirih. “Kamu tidak bermimpi Jena! Jadi jangan sakiti dirimu,” ucap Sagara dengan mata yang masih membelalak tak percaya dengan Jena yang menampar keras dirinya. "Bagaimana aku bisa berada di apartemenmu, Tuan? Kau– kau yang membawaku kesini?!” ucap jena dengan tatapan tajam. Ia kemudian melihat tubuhnya. Jaketnya memang terlepas, tapi selebihnya masih sama. Kaos dan celana yang ia kenakan tak berubah. Itu artinya Sagara tidak menyentuhnya bukan? "Apa yang kamu pikirkan?! Apa aku terlihat b******k seperti itu?" tegas Sagara tak suka. Pria itu kemudian bersedekap sambil memutar matanya malas. Jena terkejut. ‘Bagaimana dia tahu isi pikiranku?’ “Harusnya kamu berterima kasih aku sudah menolongmu kan? Aku bukan pria b******k yang berani menyentuh wanita yang bukan miliknya. Jadi, jangan berpikir macam-macam." Sagara membela diri. "Lalu kenapa kamu membawaku ke apartemenmu? Bahkan membaringkanku di kamar pribadimu?" tanya Jena menuntut. "Jena! Hanya pria gila yang membiarkanmu tidur di jalanan! Kamu pikir hanya aku?! Jika yang menemukanmu Abram atau Felipe sekalipun, mereka akan membawamu pulang. Entah bagaimanapun caranya! Lagi pula kalau aku tahu rumahmu, kamu pikir aku akan membawamu kemari?” omel Sagara yang terdengar seperti sedang menyentil Jena sekarang. “Membawaku tanpa izin seperti ini adalah tindakan kriminal. Kau tahu! Ini namanya tindakan penculikan, Tuan!” ucap Jena tak mau kalah. Sagara ternganga, “penculikan? Jadi lebih baik aku meninggalkanmu di sana?” “Ya! Tentu saja! Siapa bilang kau–” Sagara mengangkat tangannya, tanda ingin Jena menghentikan omong kosongnya. Dia memijat kepalanya sambil menghela napas berat. "Aku malas berdebat denganmu, silahkan saja kalau kamu mau melaporkanku. Aku bahkan tidak takut,” ucap Sagara yang kemudian segera mengusap mulutnya dengan tisu makan sebelum akhirnya beranjak dari tempatnya berdiri. Pria itu melangkah ke satu pintu di dekat pintu kamar Jena, ia lalu masuk dengan membanting pintu tersebut. Suasananya tiba-tiba menjadi sunyi dan Jena merasa sedikit bersalah dengan kata-kata kasarnya. "Apa yang telah aku lakukan? Apa aku gila?" ucap jena sambil menjambak pelan rambutnya. “Bagaimana jika Sagara memecatku? Kenapa aku bisa sebodoh ini? Argh, sial!" ucap Jena dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Sadarlah Jena! Kamu tidak secantik itu, hingga atasanmu akan menyentuhmu?! Ingatlah bekas lukamu yang menjijikkan itu?! Bukannya kamu seharusnya berterima kasih?" ucap Jena yang masih saja bermonolog dengan dirinya sendiri sambil memandang pintu yang tertutup rapat dihadapannya. Jena kemudian melihat ke arah kaca yang memantulkan bayangan dirinya, ia menghela nafas besar sambil memperhatikan dirinya dengan lekat. Kebiasaannya yang selalu menerima ejekan, membuat Jena menjadi pribadi yang tertutup dan membuatnya bingung, bagaimana harus memperlakukan orang lain dengan baik. “Maaf–” ucap Jena dengan menunduk. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN