Telepon yang terus menerus berdering itu membuat Jena akhirnya mengangkatnya. Sejujurnya ia juga rindu dengan pemilik suara yang namanya terus terpampang dilayar ponselnya, tapi entah mengapa otaknya terus menolak pemikiran itu. “Jena, akhirnya kau mengangkatnya. Sayang, apa kau baik-baik saja?” ucap seseorang di seberang sana terdengar antusias dari nada suaranya Jena menghela nafas panjang. “Ada apa Tuan? Ada yang kau butuhkan?” jawab Jena dingin. “Jena, A– apa kau sedang di rumah dengan teman-teman kerja?” tanya Sagara. “Tidak.” “Lalu kenapa kau menjawab pertanyaanku seperti itu? Aku merindukanmu Jena. Kau tidak–” “Tidak perlu mengatakan hal yang tidak perlu, Tuan. Ada apa?” tanya Jena tegas. “Kamu pasti sudah membaca berita yang beredar di internet. Betul kan?” Tak ada jawaban

