Suara keras terdengar dari perut Jena membuat suasana hening yang mengharu biru tercipta menjadi pecah begitu saja. Sagara tertawa geli sambil mengusap hidungnya, berharap bisa menyamarkan sudut bibirnya yang hampir melengkung sempurna. Tapi sepertinya itu semua sia-sia. Karena Jena sudah menutup wajahnya karena malu. Ia juga mengumpati dirinya sendiri juga perutnya yang tak bisa bekerjasama dengan baik. "Kamu lapar?" tanya Sagara. "Itu gas di perut saya, bukan karena lapar," elak Jena yang kini sudah menurunkan tangannya, namun tentu saja tak berani menatap Sagara. Sagara melihat jam dinding yang tertempel di dinding kamarnya. "Sudah hampir jam delapan, kamu pasti sudah lapar apalagi setelah kejadian tadi malam." Jena menghela nafas panjang. Ia kesal karena pria di depannya itu te

