Sagara menyetir dengan penuh amarah. Hingga tidak terasa laju kendaraan itu melebihi kecepatan rata-rata. Jena tidak berani berkata apa-apa. Ia sangat frustasi saat ini, ia bertemu dua laki-laki yang mungkin sangat bisa mencelakainya. Kepalanya terasa berat sekarang. Sementara itu, Sagara menghentikan mobilnya tepat di lobi apartemen miliknya yang Jena tempati. Sagara berniat menggendong Jena kembali sebelum perempuan itu menahannya. "Saya bisa berjalan sendiri, Tuan," ujarnya dengan menahan sakit di sudut bibirnya yang terluka. Sagara mengangguk membiarkan Jena berjalan turun seperti keinginannya. Mereka berjalan memasuki gedung apartemen tersebut tanpa ada yang berbicara sedikitpun. Kini Jena telah berada di apartemen Sagara dan duduk tenang di atas sofa. Sedangkan, Sagara sendiri p

