chapter 2

718 Kata
Bab 5: Latihan Tanpa Henti Setiap pagi sebelum fajar menyingsing, Lennos sudah bangkit dari tidurnya. Kakek Elron selalu mengatakan bahwa konsistensi adalah kunci untuk menjadi penyihir yang hebat. Di luar rumah, udara segar dan dingin menyambutnya saat ia mulai melakukan latihan fisik. “Lennos, ayo! Kita harus berlatih lebih keras hari ini!” teriak Felza, tampak bersemangat di tepi sungai. “Aku sudah siap!” jawab Lennos, berlari menuju mereka. Zuna sudah berada di sana, melakukan peregangan. “Mulai dengan latihan sihir dasar. Mari kita lihat siapa yang bisa membuat api paling kecil,” Zuna mengusulkan. Lennos mengangguk, fokus penuh. Meskipun ia telah berusaha ratusan kali, memanggil api kecil itu selalu menjadi tantangan. Ia duduk bersila, menutup mata, dan mengumpulkan energi dalam dirinya. Dengan nafas dalam, ia mencoba merasakan aliran energi di sekitarnya. “Ayo, Lennos! Kamu bisa!” dorong Felza, memberi semangat. “Cobalah untuk tidak memaksakan diri. Rasakan dan biarkan energi mengalir,” Zuna menambahkan, mencoba membantu Lennos. Lennos membuka matanya, mengalirkan energi ke telapak tangan. Saat ini, ia merasakan kehangatan yang berbeda. Dengan penuh harapan, ia mengucapkan mantra sihir dasar yang diajarkan Kakek Elron. Secercah api kecil muncul, menyala dengan lembut di tangan Lennos. “Aku melakukannya! Aku bisa!” teriak Lennos, wajahnya bersinar dengan kegembiraan. “Bagus sekali, Lennos! Lanjutkan!” Zuna bertepuk tangan, senang melihat kemajuan sahabatnya. Namun, Lennos tahu bahwa ia harus berlatih lebih keras lagi. Ia tidak ingin hanya bisa sihir dasar. Ia ingin menunjukkan kepada Kakek Elron dan teman-temannya bahwa ia bisa melakukan lebih dari itu. Bab 6: Latihan Fisik Setelah sesi sihir, mereka beralih ke latihan fisik. Kakek Elron telah mengajarkan mereka pentingnya kekuatan fisik untuk mendukung sihir. “Ayo, kita lakukan lari mengelilingi danau!” seru Felza, bersemangat. Ketiganya berlari dengan cepat, berusaha tidak kalah satu sama lain. Selama berlari, Lennos merasa energinya mulai menurun, tetapi ia tidak akan menyerah. Ia berusaha tetap berlari hingga garis finish. “Lennos, jangan berhenti! Kamu hampir sampai!” Zuna berteriak dari belakang. Dengan semangat yang membara, Lennos melangkah lebih cepat, meraih garis finish dan terengah-engah. Mereka semua tertawa, meski kelelahan terlihat di wajah mereka. “Besok kita akan coba latihan pertarungan!” Felza mengusulkan, wajahnya dipenuhi antusiasme. “Pertarungan? Kita belum pernah melakukannya sebelumnya,” Lennos menjawab, sedikit ragu. “Justru itu yang membuatnya menarik! Kita perlu mempersiapkan diri jika kita ingin masuk ke ibu kota,” Felza meyakinkan. “Baiklah, kita lakukan!” Lennos setuju, semangatnya kembali menyala. Bab 7: Tantangan Baru Di hari berikutnya, mereka memutuskan untuk menguji kemampuan satu sama lain. Dengan menggunakan latihan sihir dasar yang telah mereka pelajari, mereka mulai berlatih pertarungan di lapangan luas di belakang rumah Kakek Elron. “Siap? Mulai!” teriak Zuna, memanggil sihir air untuk menciptakan perisai. Lennos mencoba memanggil api untuk menyerang, tetapi hanya bisa menghasilkan percikan kecil. “Kenapa ini tidak berhasil?!” pikirnya frustrasi. Felza meluncurkan serangan sihir angin, tetapi Zuna dengan sigap mengangkat perisainya, mencegah serangan tersebut. “Coba lagi, Lennos! Cobalah untuk lebih fokus!” Zuna memberi semangat. Dengan fokus, Lennos mencoba lagi. Dia mengambil napas dalam-dalam, merasakan aliran energi di tubuhnya. Dengan tekad, ia berteriak, “Api kecil!” dan berhasil menghasilkan api yang lebih besar. “Akhirnya!” teriak Lennos, gembira melihat kemajuannya. Felza dan Zuna memberi tepuk tangan, “Kamu melakukannya, Lennos! Sekarang kita bisa bertarung dengan lebih serius!” Mereka bergantian menyerang dan bertahan, saling menggunakan sihir yang telah mereka pelajari. Setiap sesi latihan membuat mereka semakin kuat, meski Lennos masih merasa ada potensi yang belum sepenuhnya muncul. Bab 8: Sebuah Harapan Setiap malam, Lennos merenungkan latihan mereka. “Kek, kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir lebih hebat?” tanya Lennos saat mereka duduk di teras, menikmati angin malam. “Setiap orang memiliki jalannya sendiri, nak. Kadang-kadang, potensi terbaik datang saat kita tidak menyadarinya. Teruslah berlatih, dan jangan kehilangan harapan,” jawab Kakek Elron, tatapan matanya menenangkan. “Aku ingin berlatih lebih keras agar bisa masuk ke ibu kota dan membuktikan bahwa kita bisa!” tekad Lennos. Kakek Elron tersenyum bangga. “Dengan semangat seperti itu, aku yakin kamu akan mencapainya. Jangan pernah lupakan sahabatmu, mereka adalah kekuatanmu.” Dengan dukungan dari Kakek Elron dan semangat dari Zuna dan Felza, Lennos merasa langkahnya menuju ibu kota semakin dekat. Ia bertekad untuk tidak hanya menjadi penyihir biasa, tetapi menjadi sesuatu yang lebih besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN