Chapter 1
bab 1 : pertemuan
Di dalam hutan lebat di luar kota Zefeal, suara langkah kaki berdesir pelan, menyusuri jalan setapak yang dipenuhi dedaunan kering. Seorang lelaki tua dengan janggut putih, Kakek Elron, sedang mencari tanaman herbal untuk dijual di guild perdagangan. Ia adalah penyihir biasa yang telah menghabiskan hidupnya di perdesaan, jauh dari keramaian ibu kota.
Saat Kakek Elron membungkuk untuk memetik seikat ramuan, sesuatu yang aneh menarik perhatiannya. Di antara semak-semak, ada sebuah selimut kecil yang tampak kusam, bergerak perlahan. Kakek Elron mendekat, dan saat ia mengangkat selimut itu, ia terkejut melihat seorang bayi laki-laki yang masih merah dan tergeletak di atas dedaunan.
“Siapa kamu, nak kecil?” tanyanya dengan lembut, mengangkat bayi itu ke pelukannya.
Bayi itu menatapnya dengan mata besar dan penuh rasa ingin tahu. Tanpa ragu, Kakek Elron memutuskan untuk membawanya pulang. “Kamu akan menjadi cucuku mulai sekarang,” katanya, dan memberi nama Lennos.
Bab 2: Hidup di Perdesaan
Tahun demi tahun berlalu, dan Lennos tumbuh di bawah bimbingan Kakek Elron. Meskipun mereka hidup sederhana, kebahagiaan mengisi setiap sudut rumah kayu mereka. Setiap pagi, Kakek Elron mengajarkan Lennos tentang sihir dasar.
“Lennos, sihir bukan hanya tentang kekuatan. Ini tentang memahami alam dan mengalir bersama energi yang ada,” ujar Kakek Elron.
“Kenapa aku tidak bisa mengeluarkan sihir dengan baik, Kek?” tanya Lennos, frustasi setelah berusaha memanggil api kecil yang selalu gagal.
Kakek Elron tersenyum bijak. “Sabar, nak. Setiap penyihir memiliki potensi yang berbeda. Suatu saat, kamu akan menemukan kekuatanmu.”
Di desa, Lennos memiliki dua sahabat, Zuna dan Felza. Mereka sering berlatih sihir bersama di tepi sungai.
“Lennos, lihat ini!” Zuna berteriak sambil menciptakan gelombang air yang berkilau di bawah sinar matahari.
“Bagaimana kau bisa melakukannya?” tanya Lennos, tatapannya penuh kekaguman.
“Latihan, tentu saja! Suatu hari kita semua akan masuk ke ibu kota,” jawab Felza, penuh semangat. “Mereka tidak bisa melarang kita selamanya.”
“Tapi kita hanya penyihir biasa. Mereka yang di ibu kota tidak peduli pada kita,” Lennos mengingatkan, pikirannya teralihkan oleh kisah-kisah mengenai tiga penyihir level S yang berkuasa di sana.
“Jika kita berlatih cukup keras, kita bisa menjadi kuat!” Zuna bersikeras, mata bercahaya dengan ambisi.
Bab 3: Melawan Larangan Ibu Kota
Di siang hari, saat mereka kembali dari berlatih, Lennos mengamati sekelompok orang berpakaian megah menuju ke kota. Mereka adalah penyihir level S, yang memiliki kekuatan dan hak istimewa yang membuatnya bisa mengendalikan apapun.
“Melihat mereka membuatku ingin berlatih lebih keras,” Lennos berbisik.
Kakek Elron yang berdiri di dekat jendela mendengar, “Ingat, Lennos, penyihir level S adalah yang terkuat, tetapi tidak semua kekuatan datang dari sihir. Keteguhan hati dan persahabatan adalah kunci.”
“Jadi, kita tidak boleh menyerah, Kek?” tanya Lennos, semangatnya terbangun.
“Betul, nak. Teruslah berlatih dan suatu hari kamu akan mencapai apa yang kau impikan,” jawab Kakek Elron, memberi senyuman hangat.
Bab 4: Mimpi yang Tak Terputus
Hari-hari berlalu, dan Lennos, Zuna, dan Felza semakin dekat. Mereka sering berbagi impian mereka untuk masuk ke ibu kota.
“Suatu saat kita akan pergi bersama-sama, dan menunjukkan kepada mereka bahwa kita lebih dari sekadar penyihir biasa!” Zuna bertekad.
“Aku tidak peduli seberapa sulitnya,” Felza menambahkan. “Kita pasti bisa!”
“Jangan lupa, kita harus selalu mendukung satu sama lain. Tidak peduli apa pun yang terjadi,” kata Lennos, wajahnya penuh tekad.
Saat matahari terbenam, ketiganya berjanji untuk terus berlatih dan menjaga impian mereka hidup, meskipun tantangan besar menanti di depan.