chapter 4

729 Kata
Bab 12: Pertemuan dengan Monster Suatu pagi, Kakek Elron mengirim Lennos ke hutan untuk mencari tanaman herbal yang langka. “Lennos, tanaman ini hanya tumbuh di tempat yang dalam, di antara pepohonan besar. Hati-hati, ya. Hutan ini bisa berbahaya,” pesan Kakek Elron dengan serius. “Baik, Kek! Aku akan berhati-hati,” jawab Lennos, bertekad untuk melakukan yang terbaik. Lennos melangkah ke dalam hutan, dikelilingi oleh suara alam yang menenangkan. Ia mengumpulkan berbagai jenis tanaman dan menikmati keindahan hutan. Namun, saat ia semakin dalam, suasana mulai berubah. Suara burung berhenti, dan rasa dingin menjalari kulitnya. Tiba-tiba, sebuah monster besar muncul dari balik semak-semak. Monster itu memiliki kulit yang hitam legam, mata merah menyala, dan taring tajam yang berkilauan. Lennos merasa terkejut dan ketakutan saat menyadari bahwa monster ini adalah level ancaman C. “Tidak, ini bukan tempat yang tepat untukku!” teriak Lennos, mundur perlahan. Namun, monster itu semakin mendekat, mengeluarkan geraman rendah yang membuat jantungnya berdegup kencang. Lennos tahu ia harus melawan, meskipun ia hanya menguasai sihir dasar. Ia mencoba mengeluarkan api, tetapi serangannya tidak mempan. Monster itu hanya tertawa, seolah-olah menganggapnya lemah. “Ini tidak bisa terjadi! Aku tidak boleh menyerah!” Lennos berteriak, berusaha keras mengumpulkan energi. Tetapi, monster itu semakin mendekat, siap menerkamnya. Dalam momen ketegangan itu, sesuatu yang luar biasa terjadi. Kekuatan yang selama ini terpendam dalam dirinya mulai meluap. Aura yang kuat dan menekan keluar dari tubuhnya, menciptakan getaran yang bisa dirasakan oleh monster itu. Monster tersebut terhenti sejenak, terlihat ketakutan. Ia berbalik dan melarikan diri, meninggalkan Lennos dalam kebingungan. “Kenapa monster itu kabur?” Lennos terkejut, masih merasakan dampak dari energi yang baru saja keluar dari dirinya. Ia tidak mengerti dari mana kekuatan itu berasal. Lennos memeriksa tubuhnya, merasakan aliran energi baru. Dalam momen refleksi, ia menyadari bahwa kekuatan yang meluap itu berasal dari tiga elemen yang berbeda: api, hitam, dan petir. Namun, ia tahu bahwa dua elemen, yaitu hitam dan petir, adalah sesuatu yang tidak bisa ia tunjukkan kepada siapapun, bahkan kepada Kakek Elron dan teman-temannya. “Ini adalah rahasiaku. Aku harus menyembunyikannya,” pikir Lennos, berusaha menenangkan diri. Ia mengambil napas dalam-dalam dan mencoba mengendalikan emosi serta energinya. Bab 13: Pulang dengan Rahasia Setelah beberapa saat berusaha mengatur napas, Lennos memutuskan untuk kembali ke rumah. Selama perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan. Apa artinya semua ini? Kenapa kekuatan ini muncul sekarang? Sesampainya di rumah, Kakek Elron menunggu dengan cemas. “Lennos! Apa yang terjadi? Kau terlihat pucat!” “Aku baik-baik saja, Kek. Hanya sedikit ketakutan di hutan,” jawab Lennos, berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Kakek Elron menatapnya, seolah merasakan ada sesuatu yang tidak beres. “Ingat, hutan bisa sangat berbahaya. Jangan pernah ragu untuk meminta bantuan jika kau merasa terancam.” “Iya, Kek. Aku akan ingat itu,” Lennos berjanji, meskipun dalam hatinya, ia menyimpan rahasia tentang kekuatan barunya. Setelah makan malam, Lennos pergi ke kamarnya. Ia duduk di tempat tidur, mencoba merenungkan kejadian di hutan. Dalam hati, ia bertekad untuk memahami kekuatan yang baru muncul ini. “Aku harus belajar mengendalikannya. Jika monster itu bisa merasakannya, maka ada kemungkinan orang lain juga bisa,” bisiknya pada diri sendiri. Dengan tekad baru, Lennos mulai melatih dirinya dengan lebih keras, mencoba untuk mengakses kekuatan petir dan hitam yang ada di dalam dirinya tanpa menarik perhatian teman-temannya. Bab 14: Pelatihan Rahasia Di hari-hari berikutnya, Lennos terus berlatih bersama Zuna dan Felza, tetapi ia juga menyisihkan waktu untuk berlatih sendiri. Ia menemukan tempat terpencil di hutan, jauh dari pengawasan teman-temannya. Di sana, ia mulai mencoba mengakses elemen petirnya. Saat mengucapkan mantra, ia merasakan ketegangan di udaranya. Menggunakan kekuatan petirnya, Lennos menciptakan percikan-percikan kecil, meskipun ia harus sangat hati-hati agar tidak menarik perhatian monster lain. “Jangan biarkan dirimu terpengaruh, Lennos. Kau bisa melakukannya!” katanya dalam hati, berusaha menguatkan tekadnya. Suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang, Lennos merasakan kekuatan hitam dalam dirinya. Ia mencoba mengendalikan energi tersebut, tetapi kegelapan yang dihasilkannya terasa menakutkan. “Apakah aku akan menjadi jahat jika menggunakan kekuatan ini?” ia berpikir, terjebak dalam keraguan. Namun, saat ia mengingat semua latihan dan impian untuk memasuki ibu kota, ia merasa bahwa kekuatan ini bisa menjadi alat, bukan kutukan. Dengan tekad baru, ia melanjutkan pelatihannya, berjanji untuk menggunakannya hanya untuk melindungi yang tercinta dan mencapai tujuannya. “Suatu hari nanti, aku akan menguasai semua kekuatan ini,” Lennos bertekad, berfokus pada cita-cita yang lebih besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN