Bab 3 – Tatapan Maut dan Kopi Saring Cinta

1051 Kata
Pagi di Blok E belum sepenuhnya terang, tapi notifikasi grup w******p [WAG WARGA GRIYA ASRI BLOK E ] sudah seperti sirene kebakaran. Grup yang biasanya hanya diisi pengumuman iuran kebersihan dan ucapan selamat ulang tahun itu tiba-tiba membahas topik yang jauh lebih menarik: Pak Bambang. Dan... Suci. Bu Erna RT: Pagi, Buibu. Itu semalam Pak Bambang keliatan duduk lama di teras Bu Suci ya? Lagi diskusi musyawarah RT kah? Bu Reni (tukang jepret dari jendela): Nggak kelihatan bawa map kok. Tapi senyumnya manis banget pas keluar gerbang. Kayak abis nonton film romantis. Bu Diah: Lho, bukannya minggu lalu juga Pak Bambang nganterin martabak ke rumah Bu Suci? Tiap minggu martabak, loh. Itu bukan logistik, itu konsistensi cinta. Bu Lilis: Astagfirullah... Tapi ya ampun, gemes juga. Umur bukan halangan ya Buibu! Pak RT (masuk tiba-tiba): Silakan bergosip, tapi jangan lupa bayar iuran keamanan. Terima kasih. Sementara grup warga heboh membahas drama Pak Bambang dan Suci, di grup JANDA SEXY BLOK E , para wanita tangguh justru punya topik yang lebih penting: latihan tatapan maut dan strategi pendekatan ke Rian. Eva: Kita harus tampil maksimal sore ini. Aku udah pesan kopi saring di warung Bu Jum untuk disuguhin. Gua ambil duluan ya. Nurlita: Boleh rebutan, asal jangan rebutan sendok teh! Suci: FYI, tadi malam Pak Bambang memang mampir. Tapi hanya ngobrol biasa. Jangan mulai drama Korea di grup ini ya. Lestari: Ngobrol biasa tapi martabaknya isi 8. Hmmm. Tapi Suci, meskipun menepis semua spekulasi, tak bisa membohongi hatinya sendiri. Tatapan serius Pak Bambang malam itu masih berputar-putar di kepalanya. Di satu sisi, ada Rian si duda muda yang memantik semangat kompetisi dan rasa penasaran. Tapi di sisi lain, ada Pak Bambang yang dari dulu hadir... dalam bentuk perhatian kecil yang konsisten dan diam-diam menyentuh. Sore itu, Suci berdiri di depan cermin. Ia tak memakai lipstik semerah biasanya. Tak juga menyemprotkan parfum eksotis. Tapi ia tersenyum kecil sambil berkata pelan pada bayangan dirinya: “Kalau hari ini Rian lewat dan menyapa, aku senyum. Tapi kalau Pak Bambang datang bawa martabak isi kacang... mungkin aku siap buka pintu tanpa pura-pura sibuk.” Dan di ujung blok, Rian sedang memasukkan sesuatu ke dalam termos kopi. Siap berkeliling lingkungan, mengenal tetangga. Tapi yang tak ia tahu, hari ini bukan sekadar kopi saring cinta—ini hari ketika permainan hati mulai serius dimainkan. Sore itu di Blok E, suasana mulai memanas—secara harfiah dan emosional. Matahari condong ke barat, tapi semangat para janda masih mengarah ke satu titik: teras rumah Rian. Suci duduk manis dengan novel di tangan (yang tak kunjung dibaca), Eva menata rambut sambil pura-pura menyiram tanaman kaktus (lagi), dan Nurlita lewat beberapa kali dengan motor listrik hanya untuk memastikan kecepatan anginnya pas untuk melambai-lambaikan kerudungnya ke arah rumah Rian. Tapi satu orang yang biasanya paling aktif hari itu justru tidak tampak: Lestari. Grup WAG JANDA SEXY BLOK E mulai bertanya-tanya. Eva: Ini Lestari kemana sih? Biasanya dia yang paling duluan pasang kursi lipat di depan teras Rian. Nurlita: Jangan-jangan lagi bikin brownies level dewa buat taktik ‘kue cinta’? Suci: Atau lagi spa kilat 30 menit? Strategi glow-up dadakan? Namun beberapa saat kemudian, pesan masuk dari Lestari: 📱 Lestari: Gue izin absen hari ini, girls. Ada panggilan darurat dari... pihak sponsor. Suci membaca pesan itu sambil mengernyit. Pihak sponsor? Oh... tentu saja, maksudnya adalah sugar daddy Lestari yang legendaris itu—Om Jafar, pria setengah baya dengan dompet tebal, kulit eksotis hasil tanning klinik, dan koleksi jam tangan mewah lebih banyak dari jumlah hati yang pernah dia patahkan. --- [Flashback – 2 Jam Sebelumnya] Lestari sedang menyiapkan body mist dan baju santai ketika ponselnya berdering. Nama di layar: O. Jafar Dengan nada setengah manja, ia menjawab, “Iya, Om? Tumben nelpon jam segini.” Dari seberang, terdengar suara panik berlapis nada manja: “Sayang, Om ada masalah. Sopir Om kecelakaan kecil. Kamu bisa nyetirin Om ke acara makan malam relasi bisnis? Cuma dua jam aja kok... Nanti Om transfer bonus.” Lestari melirik dasternya, lalu ke arah kaca. Rencana tatap-tatapan maut dengan Rian sore ini pun bubar jalan. Tapi... angka yang dikirim setelah percakapan itu membuat niatnya goyah. Transfer masuk: Rp 3.000.000 Catatan: bensin + make up + senyum dikit-dikit aja ya sayang “Yaudah deh, demi kestabilan keuangan dan retinol-ku bulan ini,” gumam Lestari sambil melaju ke garasi. --- [Kembali ke Blok E] Sementara Lestari melaju ke Senayan bersama Om Jafar dan musik klasik dari mobil Mercy hitam itu mengalun pelan, di Blok E, kompetisi tetap berjalan. Justru absennya Lestari membuka peluang lebih besar bagi yang lain. Eva pun melihat celah. Ia berdiri, membawa dua gelas kopi saring dan berjalan ke rumah Rian. “Mas Rian, udah minum sore belum? Kopi ini spesial, diseduh dengan... niat yang dalam,” katanya sambil menyodorkan gelas. Rian tersenyum sopan, lalu mengangkat alis. “Wah, terima kasih, Mbak Eva. Kok bisa tahu saya suka kopi?” Eva menjawab cepat, “Feeling wanita. Dan mungkin... suara termos kemarin.” Sementara itu, Suci yang melihat dari kejauhan hanya bisa meneguk air putih dengan elegan, sambil berkata pelan dalam hati: “Lestari mungkin absen hari ini, tapi medan perang tetap tak bisa lengah. Eva udah mulai curi start. Nurlita pasti nyusul. Dan aku... harus cari senjata rahasia baru.” Dan di grup janda, satu pesan dari Lestari muncul lagi: Lestari: Tenang aja sayang-sayangku, walau aku nggak ikut hari ini... aku akan comeback dengan kejutan. Om Jafar bilang minggu depan kita staycation. Jadi siap-siap ya, baju renang baru udah aku pilih. Suci mendesah pelan. “Komplek Janda Sexy ini... kayaknya butuh season kedua.” Cahaya lampu kafe mewah di kawasan SCBD memantul lembut di meja marmer putih. Suasana tenang, hanya terdengar dentingan sendok dan suara jazz pelan dari speaker tersembunyi di langit-langit. Lestari duduk di pojok kafe, mengenakan dress satin coklat muda dan heels netral. Satu-satunya penanda "drama" dalam hidupnya adalah ekspresi bingung di wajahnya—tak biasa bagi seorang janda stylish sepertinya. Di mejanya, ponsel terus menyala dengan notifikasi dari grup janda: Eva kirim selfie bareng Rian (dengan alasan “eh, iseng moto pas dia lagi nyapu halaman”), Suci kirim quote semi dalam, dan Nurlita... ngelike semua. Sementara itu, Om Jafar sedang meeting di ruangan VIP lantai dua, membahas “strategi pertumbuhan aset digital.” Dalam bahasa Lestari: rapat yang tidak akan selesai dalam waktu makan normal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN