Aku memeluk dan membenamkan dagu di atas ransel. Bibirku mengerucut ke bawah. Aku kesal. Bagaimana tidak? Bocah sialan itu memintaku naik melewati tangga agar bisa masuk ke dalam rumah karena ada beberapa penjaga kiriman ayahnya yang mondar-mandir di depan. "Eh, lo kalau nggak niat bantuin gue bilang aja, deh. Nggak usah bikin gue sengsara kayak tadi." "Sama-sama," katanya dengan nada menjengkelkan. "Lo pikir gue juga nggak kesel apa diawasin di rumah sendiri." Ia mendecak lidah. "Tahu gitu mending lo minjemin gue duit deh buat sewa hotel. Sakit semua nih lengan gue kena duri tanaman rambat lo!" Aku menunjukkan lengan bajuku yang sobek padanya. "Elah, cuma kena duri tanaman rambat aja mewek. Lo tuh sadar diri, udah ngerepotin gue." Bola mataku berputar. "Lo yang sadar diri. Nggak inge

