Aku terpaku selama beberapa saat. "Lo suka sama dia, ya?" Ilalang mengulang. Widih, jealous nih orang. Jealous kaga lo? Jealous dong. "HAHAHAHAHA!" Mendadak, tawanya meledak. Ilalang memukul meja berkali-kali, lantas telunjuknya mengarah ke wajahku. "Woi, kalau lo semenor ini yang ada dia kabur. Nggak cocok lo pake lipstik mencolok kayak gini. Sumpah." Bibirku mencebik kesal. Ia masih menertawaiku. Berderai-derai. Aku memandang wajahku dari pantulan pintu bufet dapur. Perasaan, dandananku biasa saja. Aku melepas sepatu dan memukulkannya berkali-kali ke badan Ilalang sampai ia mengaduh kesakitan. "Gue nggak minta pendapat lo. Nggak usah komentarin orang!" Kupukul ia sekali lagi. Sebelum berlalu pergi, aku memberikan jari tengah. Tawanya masih terdengar, bahkan saat aku menutup pintu ka

