Aku mondar-mandir sambil menggigit kuku, memikirkan alasan yang agak logis dari kemungkinan-kemungkinan pertanyaan yang akan dilempar Om Bagus. Kupandang langit-langit, merengek. "Duh, gue kudu jelasin gimana nih, woi!" Si pelaku sampingan, Ilalang, malah asyik dengan VR. Aku melemparnya dengan sandal kamar, spontan membuat ia melepas VR glasses lantaran terkejut. "Apaan, sih?!" "Lo peka dikit kek jadi cowok!" "Emang gue kenapa??" "Bantuin gue mikir alasan lo ada di apartemen gue malem-malem!" Aku mengentak kaki kesal. "Ah, ngomong sama lo lama-lama bikin kesel tahu, nggak." Sampai Minggu pagi ini, aku masih memikirkan masalah yang akan datang. Om Bagus bukan tipe orang yang bisa diajak bicara baik-baik. Ia sangat galak. Ponselku berdering. Nama Tante Nana terpampang di layar. Aku

