Samar-sama suara musik merangsek di pendengaran. Aku membuka mata, langsung berhadapan dengan langit-langit. Saat bangkit duduk dan mengucek mata, aku memandang ke sekeliling dan baru sadar sudah ada di unit apartemenku. Aku mengerjap, mengingat-ingat kejadian sebelumnya. "Ah... gue ketiduran di kafe. Terus kok bisa di sini?" Aku menggaruk kepala. "Udah bangun lo?" Suara Ilalang terdengar ketika pintu apartemen dibuka. Ia meletakkan kantong belanja di pantri dapur. "Eh, bukannya semalem gue tidur di kafe?" Ia menoleh dan mendecak kesal. "Iya. Lo nggak bangun-bangun sampai jam sebelas. Akhirnya gue manggil taksi buat nganter lo." Wajahnya yang terlihat lelah menampakkan ekspresi jengkel. "Wah, terus?" Aku menggaruk leher belakang. Sama sekali tak merasakan apa pun. Biasanya, aku mudah

