Saatnya Sarah Bicara

1117 Kata
Kedua gadis itu tiba di kantor setelah menerima wejangan panjang lebar dari Nyonya Miranda yang intinya meminta mereka jangan lagi pulang malam seperti kemarin. Berita terbaru yang dimuat media online maupun televise mengabarkan kalau ada kasus orang hilang lagi malam tadi. “Pokoknya mama gak mau terima alasan ya, mau kalian bilang ada perlu ini, itu, segala macam. Mama mau kalian sore pulang kantor itu langsung ke rumah. Kamu juga Sarah, pulang kesini aja. Gak usah sendirian ke apartemen. Nanti kalau kamu kenapa-kenapa bisa-bisa tante yang kesalahan sama orang tua kamu. Mereka sudah titip kamu di kota ini.” begitu ocehan panjang lebar Nyonya Miranda pagi tadi. Dia kemudian berlalu dengan sedan miliknya setelah yakin kalau dua gadis ini menyimpan kalimat panjang-lebarnya tadi dengan baik. “Ingat kan omongan mamaku tadi? Mama minta kamu menginap di rumahku lagi malam ini. lagian juga buat sekalian tes.” kata Syila. Sekarang mereka berjalan di lobi kantor. “Tes apaan sih?” tanya Sarah yang berjalan di samping Syila. “Tes kalau mimpi itu datang lagi gak? Atau cuma kebetulan aja?” “Sssstttt!” Sarah langsung reflek membekap mulut Syila. Sudah tak terhitung berapa kali dia pernah bilang kalau dia sangat merahasiakan mimpi itu dari orang lain. Dan tidak mau ada orang lain di kantor ini dengar. “Ih, tenang aja sih, orang-orang juga gak paham kita ngomong apaan.” “Tetap aja mulut kamu itukayak TOA.” “Udah ah, banyak banget yang mau aku kerjaian hari ini. Siang nanti beneran kamu gak mau ikut?” Sekali lagi Syila memastikan. Sebenarnya dalam hati dia berharap sekali kalau Sarah mau menemaninya nanti. Kalau melihat penampilan Nyonya Jasmine yang bertemu dengan mereka waktu itu, rasanya ada sedikit kekhawatiran juga. Bisa saja dugaan Sarah benar, kalau mungkin wanita itu menderita gangguan jiwa. “Eng … enggak. Aku di kantor aja.” “Ya udah deh,” Syila tidak bisa memaksa. Buru-buru dia tepis pikiran-pikiran aneh tentang si nyonya Jasmine. Mereka berdua berpisah ketika tiba di lantai atas. Masuk ke ruangan masing-masing dan memulai kesibukan di kantor seperti biasa. Suasana kantor masih cukup sepi. Sarah celingukan sebentar lalu emmbuka laci mejanya. Selembar foto Dave yag sudah sejak lama ada di sana kembali ia keluarkan. Beberapa detik ia pandangi wajah itu dengan getaran hati tak karuan. Ia pikir Dave sudah pergi selamanya dari kehidupannya dan tak akan pernah kembali lagi. “Morning Sarah,” suara Pak Pos membuat Sarah terkesiap dan reflek menyimpan foto itu dalam genggamannya. Ia sembunyikan tangan dibawah meja. “Pagi Pak,” “Meeting yang saya bilang kemarin jangan sampai berantakan. Siapkan dengan baik. Jangan menghilang tiba-tiba lagi.” “I-iya Pak,” “Dan satu lagi, nanti aka nada anggota baru di kantor ini. Kalau saya gak ada di tempat, tolong kamu yang temani dia dan jelaskan tentang aturan kantor ini.” “Baik Pak,” Sarah baru bisa menarik napas lega setelah Pak Bos keluar dari ruangannya. Berusaha mengumpulkan konsentrasi dan menepis sesaat semua tentang si mantan yang mengusik itu. Sarah baru sadar ada sesuatu di tangan kanannya. Ia buka, selembar foto itu sekarang lecek setelah reflek ia remas tadi. Sarah ingat nasihat mamanya. Kalau kita jangan mau capek memikirkan orang yang sama sekali tidak pernah memikirkan kita. Kira-kira begitu bunyinya. Kalimat yang selalu Sarah dengar ketika mamanya memergoki Sarah menangis gara-gara pacar yang dulu. Tapi khusus untuk Dave, Sarah menyimpan rapat semua sakit hati yang pernah ia terima. Jadi orang tuanya hanya tahu yang baik-baik saja. “Aduh, ngapain sih aku kayak gini?” Sarah menepuk-nepuk kening. “Aku bakal selesaikan urusan Dave sampai dia sembuh hanya untuk misi kemanusiaan. Aku gak mau bawa-bawa perasaan lagi. Gak, dan gak akan pernah!” *** Waktu makan siang tiba, terdengar langkah setengah berlari mendekat keruangan Sarah. Sarah sudah bisa menebak siapa yang akan muncul dari balik pintu. “Sar, aku berangkat dulu ya. Ssstt, jangan bilang siapa-siapa aku pergi kemana. Bilang aja ada urusan.” Syila hanya melongokan kepalanya tanpa melangkah masuk. “Siapa juga yang mau nanya dan nyariin kamu.” “Ih dasar, si Sarah nih kalau dibilangin. Ya udah, aku pergi dulu.” “Hmm,” Sarah berlagak tenang. Padahal diam-diam dia juga sudah bersiap menenteng tas dan ingin langsung pergi dari kantor. Setelah memastikan Syila pergi, Sarah baru bergegas memesan taxi untuk menuju rumah sakit. Kali ini dia sudah lebih menata dan menguatkan hati. Kalau dipikir-pikir memang sebenarnya tidak ada yang perlu Sarah khawatirkan. Menemui orang yang sedang koma, tidak akan ada interaksi dua arah. Meski konon katanya orang yang sedang koma itu bisa merasakan siapa saja yang hadir di dekatnya. “Suster, saya mau menjenguk Dave.” Ucap Sarah ketika kembali tiba di rumah Sakit. “Nona Sarah Jessica?” “Iya,” Entah kenapa sepertinya memang benar hanya Sarah yang mendapat ijin khusus untuk bebas menemui Dave. Untung saja kali ini Sarah berhasil pergi sendirian tanpa Syila. Sarah membuka pelan pintu ruangan ICU. Ia tarik napas dalam. Melangkah penuh keyakinan. “Hai Dave,” ucapnya lirih. Hatinya bergetar hebat ketika mengucapkan itu. seolah seperti sedang berhadapan dengan Dave yang biasa. Dave yang bisa menatap dan mendengarnya seperti dulu. Ada butiran bening menetes di pipi Sarah. Buru-buru ia hapus. Menarik napas sekali lagi dan mendekat. “Dave, aku di sini.” Sekarang Sarah berdiri tepat di sisi ranjang Dave. Terlihat jelas wajah itu. meski separuh masih dibalut perban. Beberapa detik sempat hening. Segenap memori berlarian dalam isi pikiran Sarah. “Jangan GR ya Dave! Jangan pikir aku kesini gara-gara mau ketemu kamu. Gak sama sekali. Lagian kamu ngapain iseng banget datang-datang ke mimpi aku sebulan kemarin? Kurang kerjaan? Atau emang kamu gak punya kerjaan?” Sarah mengambil jeda sesaat. Entah dorongan apa yang ada di dalam hatinya. rasanya ia ingin menumpahkan semua yang dulu tidak bisa ia katakana pada Dave. “Lalu kemana pacar kamu yang lain? Ngapain kamu cari aku? tahu dari mana kamu kalau aku ada di kota ini? Asal kamu tau ya, aku itu udah ngelupain kamu! Aku kesini cuma karena kasihan. Dan kalau nanti kamu sembuh, aku gak pernah mau ada obrolan apapaun lagi diantara kita. Pergi aja lagi sana, dan jangan pernah balik!” Sarah langsung membalikan badan membelakangai Dave. Ia menangis terisak sejadi-jadinya. Ada rindu yang ia pungkiri dan benci yang terasa terlalu mendominasi. Dering ponsel merusak momen ini. Sarah melirik layar ponselnya. Pak bos yang memanggil. “Iya Pak. Ini ,masih jam istirahat kantor kan?” “Apa-apaan kamu ini? Iya saya tahu ini jam istirahat kantor. Tapi saya minta kamu stand by. Ini calon pemimpin redaksi yang baru sudah tiba di kantor. Saya harus pergi sekarang. Kamu yang sambut dia ya, sekarang!” Sarah menoleh sedikit melihat wajah Dave. Kemudian berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN