Satu malam berlalu. Sepertinya Sarah menjadi orang yang bangun paling pagi di rumah ini. Belum terdengar suara orang lain di pagi buta ini. Atau mungkin karena saking besarnya rumah ini, aktivitas penghuni lain jadi tak kedengaran?
Setelah obrolan panjang di meja makan malamtadi, sebenarnya baik Syila maupun Sarah ingin sekali tidur di kamar yang sama. Syila jelas tujuannya ingin mengobrol berjam-jam sepanjang malam. Tak peduli urusan kalau besok di kantor bakal mengantuk. Sudah seperti kebiasaannya, asal ada kesempatan bersama dengan Sarah mulutnya tidak ingin diam sedetikpun. Sementara Sarah, punya alasan tersendiri. Dia ingin tahu apakah kalau tidak tidur sendirian, mimpi itu akan kembali muncul? Meski Sarah sendiri paham kalau yang namanya mimpi itu tidak bisa diatur. Dan tidka ditentukan kita tidur sendirian atau bersama teman. Namun sayangnya Nyonya Miranda melarang keras permintaan mereka berdua.
“Mama sudah tahu, kalian ini kalau dibarengin gak bakalan diam. Ngobrol aja sepanjang malam. Dan kalian tahu ‘kan, mama gak suka ada yang begadang di rumah ini. Selain berisik, gak baik buat kesehatan juga. nanti besoknya pusing lah, di kantor ngantuk lah, pokoknya gak usah. Syila tidur di kamarnya, dan Sarah di kamar tamu. Besok bangun pagi harus on time. Gak ada yang boleh leha-leha apalagi kesiangan ke kantor di rumah ini. Kecuali hari Minggu. Mau santai-santai sesuka hati bebas. Itu peraturan mama. So, jangan membantah.” Begitu ucapan Nyonya Miranda malam tadi. Maka setelah itu kedua gadis ini melenggang masing-masing ke kamar yang sudah ditentukan. Meski dengan terpaksa.
Sarah menghirup napas perlahan. Memperhatikan ke sekitar. Belum ada cahaya matahari. Tapi jam di dinding sudah menunjukan pukul 04.00 waktu setempat. Cepat-cepat ia menyalakan lampu utama. Cahaya lampu tidur di meja yang remang-remang itu membuatnya sedikit merasa takut. Ya maklum saja, menginap di tempat baru dengan suasana baru memang kadang begitu. Ada saja perasaan takut yang tak beralasan.
Setelah cahaya lampu di kamar itu terang sempurna, Sarah sedikit membuka tirai jendela yang kebetulan ada tepat di samping tempat tidurnya. Terlihat jalanan komplek yang masih sunyi. Ia lalu menepuk-nepuk pipi. Memastikan kalau benar ini sudah ada di alam nyata. Sarah cepat memutar otak. Ia ingat-ingat apa yang ada di dalam tidurnya. Tapi tak ada ingatan apa-apa.
“Gak mungkin,” gumam Sarah lirih.
Mengerjapkan mata beberapa kali lalu bergegas mencari ponsel miliknya. Ia lihat tanggal dan hari sudah berganti. Sarah masih tidak percaya. Dia masih berpikir takut kalau sekarang ini masih ada di alam mimpi dan seperti yang selalu ia khawatirkan, takut tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Sambil melihat bayangan dirinya di ponsel dia menepuk pipi beberapa kali.
“Beneran, aku udah gak mimpiin Dave lagi!” pekiknya girang.
Sarah langsung reflek melompat-lompat di atas tempat tidur. Terror mimpi yang sudah genap satu bulan muncul itu akhirnya bisa berhenti.
“Aku harus kasih tahu Syila!” dia melompat turun dari tempat tidurnya. Berlari keluar kamar tapi rasanya masih begitu sunyi. Lampu kamar Syila juga masih belum menyala. Sarah akhirnya urung. Apalagi dia ingat kalau Nyonya Miranda tidak suka kegaduhan.
Kembali masuk ke kamar dan duduk di atas tempat tidurnya. Entah jam berapa biasanya aktivitas di rumah ini dimulai, yang pasti Sarah sudah tidak ingin tidur lagi. Menit-menit pertama Sarah tersenyum riang. Senang dan bersyukur bukan main. Rasanya ia kembali menjadi orang normal. Hidup waras dan bisa tidur nyenyak seperti orang pada umumnya. Tapi ia sendiri masih tidak yakin, entah apa yang membuat mimpi itu hilang. Apa mungkin yang dikatakan Syila adalah benar, kalau mimpi itu hanya datang ketika Sarah tidur di apartemennya?
“Ah, gak mungkin. Kayaknya bukan itu sebabnya.” Sarah menyangkal sendiri pikirannya.
Belum ada aktivitas yang bisa Sarah lakukan selain kembali membaringkan tubuh. Bukan untuk tidur, tapi hanya sekedar menunggu waktu sampai penghuni lain di rumah ini memulai aktivitasnya. Menit-menit berlalu, pikiran Sarah berjalan kemana-mana. Mendadak bayangan wajah Dave yang dulu dan yang selalu hadir dalam mimpi itu melintas. Perasaan senang yang tadi Sarah rasakan berubah. Sarah mendadak merasa kehilangan. Dasar Sarah ini memang aneh, sewaktu terus-terusan bermimpi dia takut. Tapi begitu mimpi itu hilang dia malah kehilangan.
“Good morning Sarah Jessica Hanggono, eh salah!” Suara Syila yang muncul tiba-tiba memecah keheningan di kamar Sarah.
“Manggil apa kamu barusan?!” Sarah melotot. Terdengar jelas kalau sahabatnya yang kadang absurd ini barusan menambahkan nama Hanggono di belakang nama Sarah. Yang jelas-jelas itu adalah nama keluarga Dave.
“Canda Sar, pagi-pagi udah emosi aja.”
“Gak lucu!”
“Yah dia ngambek,” Syila hanya terkikik. “Gimana? tidur disini masih mimpi yang sama gak?”
“Nah, itu dia Syil, aku mau ngomong serius soal itu.” Sarah mendadak mengguncang bahu Syila kuat-kuat.
“Ada apaan sih? Tidur di sini malah mimpinya serem?” tanya Syila.
“Aku justru udah gak mimpi apa-apa. Mimpi Dave itu hilang.”
“Serius?”
“Iya serius.”
“Yeeey! Artinya kamu udah bebas dari kutukan mimpi si playboy j*****m itu.” pekik Syila girang.
“Kejam banget kamu Syil,”
“Kok kejam, benar kan?” Sebutan tadi memang pantas disematkan untuk seorang Dave. Khusus bagi orang-orang yang tahu saja bagaimana Dave di masa lalu. “Mungkin rumah aku ini bawa keberuntungan buat kamu Sar, artinya kamu harus menginap disini terus. Coba aja kalau kamu balik lagi ke apartemen. Pasti mimpi lagi.” lanjut Syila
“Sok tau!”
“Kok sok tau sih?”
“Aku rasa penyebabnya bukan karena tempatnya, tapi mungkin aja karena aku udah ketemu sama Dave.”
Syila mengetuk-ngetukan telunjuk pada kening bagian kanan. Sok menampakkan ekspresi sedang berpikir keras.
“Bisa jadi sih, terus buat buktiinnya, kamu mau balik lagi tidur di apartemen sendiri nanti malam?”
“Belum tau juga.”
“Eh tunggu sebentar,” Syila mendengar ada pesan masuk di ponselnya. Beberapa detik dia terlihat serius. “Sarah. Aku beneran mau ketemuan sama Nyonya Jasmine siang ini. kamu mau ikut gak?” ucapnya setelah diam beberapa detik.
“Orang yang waktu itu?”
“Iya lah, yang mana lagi? kan aku udah bilang mau serius kejar berita dari dia. Dan sekarang dia beneran mau janjian ketemuan sama aku di rumahnya. Mau ikut gak?”
Sarah belum langsung menjawab. Kalau Syila bilang siang ini, artinya dia akan pergi saat jam makan siang nanti. Entah, detik ini Sarah merasakan hatinya terus mengingat Dave. Konyol dan tak beralasan memang. Sepertinya Sarah perlu waktu sendiri untuk bertemu dengan sang mantan tanpa campur tangan sahabatnya. Dan siang nanti bisa jadi kesempatan.
“Kayaknya aku di kantor aja.” Ucap Sarah.