Wejangan Nyonya Miranda

1075 Kata
Nyonya Miranda hanya geleng-geleng. Membuka kursi meja makan dan langsung menyuruh anaknya serta anak yang satu lagi datang tanpa di duga itu cepat duduk dan menikmati makan malam mereka. “Makan dulu, Mama tadi pesan lewat ojek online. Gak sempat beli. Di kantor banyak kerjaan.” Ia memulai lebih dulu menyendok nasi ke piring kemudian diikuti oleh Syila. Sementara Sarah masih terlihat malu-malu. Sarah bukan nama baru di keluarga ini. Nyona Miranda sudah mengenal Sarah sejak dulu sekali. Sebelum mereka sama-sama tinggal di kota ini. Saat putrinya dan Sarah bersahabat sangat dekat sewaktu mereka masih berseragam putih abu-abu. Nyonya Miranda ini selalu mengenal dekat siapa saja teman putrinya. Bukan hanya mengenal, dia juga hafal karena selalu jadi pendengar setia ketika putrinya curhat ini dan itu. Jadi semua yang pernah Sarah ceritakan kepada Syila, otomatis nyonya Miranda juga tau. Memang begitulah, Syila tidak pernah bisa menyimpan rahasia secuilpun dari mama nya. Jangankan untuk masalah besar, untuk masalah sepele saja dia selalu cerita. Namun, kedekatan Sarah dengan keluarga minimalis ini memang tidak sama seperti waktu SMA dulu. kalau dulu sering kali Sarah pulang sekolah mampir ke rumah Syila dan baru pulang di sore hari. Atau sengaja ingin jadi satu kelompok belajar dengan Syila yang ujung-ujungnya lebih banyak curhatnya dari pada menggarap tugas. Sarah yang sekarang sangat jarang main ke kediaman Syila. Obrolan mereka juga sudah beda tentunya. Obrolan gadis dewasa yang sudah tidak sama dengan anak SMA beberapa tahun silam. Maka wajar kalau Sarah sekarang merasa canggung. “Terima kasih Tante,” Sarah akhirnya membuka piringnya. Memaksakan diri untuk makan meski sebenarnya belum ingin. “Si Dave sakit apa? Buaknnya sudah lama pindah ke Amerika? Kapan balik? Atau sakitnya sakit kangen sama Sarah?” tanya Nyonya Miranda. Tidak Salah kalau ia bertanya begitu. Dia hafal kisah masa lalu Sarah dan Dave sama seperti anaknya. Sarah hanya menggeleng kecil. Sebenarnya da berjejalan rasa ingin cerita ini dan itu. tapi rasanya masih berat. “Bukan sakit kangen Ma, Dave kena musibah serius. Bahkan … keluarganya semua sekarang sudah gak ada.” Ucap Syila yang akhirnya mewakili menjawab. “Hah? Maksud kamu gak ada gimana?” Lima belas menit berlalu dengan cerita panjang dari Syila. Rekaman kronologi dari awal hingga akhir Syila ceritakan ulang dengan sempurna. Memorinya memang bagus dalam hal seperti ini. Bahkan dia ingat detail-detail hal kecil yang sepertinya bagi orang lain terasa tidak penting. Contohnya seperti, dia ingat apa warna kemeja yang dikenakan sopir taxi online yang mengantar mereka ke rumah sakit, ia juga ingat apa warna warna map yang dipegang suster yang menemui mereka dan memberi kabar soal Dave tadi. Konyol memang, tapi mungkin ingatan Syila yang kelewat tajam ini kadang-kadang berguna juga untuk menghadapi situasi yang berkaitan dengan penyelidikan. Nyonya Miranda menghela napas panjang setelah cerita putrinya selesai. lalu mengembuskannya dengan kasar kemudian geleng-geleng. Isi piring sepasang ibu dan anak ini juga ikut habis ketika cerita Syila usai. Mereka memang sudah bakat. Bisa mengoceh panjang lebar sambil mengunyah makanan tanpa tersedak sedikitpun. “Sarah, Sarah. Aduh, Tante jadi ikut binging mau ngomong apa. Sudah susah payah dilupakan, eh malah nongol lagi anak itu. Tanpa juga gak habis pikir, kok nama kamu yang disebut terakhir sama dia? Itu artinya, dia selama ini mungkin mencari-cari kamu.” Sarah meneguk air putih di gelasnya. Belum bisa ikut ambil kesimpulan apa-apa. “Mungkin, ini mungkin lho ya. Mungkin setelah dia sadar dan pikirannya lebih dewasa, dia baru yakin kalau yang terakhir ingin dia cari itu kamu.” Lanjut Nyonya Miranda. “Iya kali Sar, bisa jadi lho, laki-laki itu pengen berpetualang dulu sebelum nentuin pelabuhan terakhirnya.” Syila menimpali. “Terus kamu mau gimana? Ini bukan masalah main-main lho, dia benar-benar butuh kamu saat ini. Kalau tante suka dengar sih, orang yang koma itu bisa merasakan kehadiran orang disekitarnya. Ya walaupun tante bukan dokter dan gak tau itu benar atau gak, tapi feeling tante sih bilang kalau dia itu benar-benar butuh kamu saat ini.” “Jadi maksud Tante, aku harus nemenin Dave setiap hari? Tapi buat apa Tante?” Sarah akhirnya bereaksi setelah berdiskusi singkat dengan pikirannya sendiri. Kali ini sepertinya dia memang butuh saran dari orang lain. “Ya bukan buat apa Sar, ini lebih ke sisi kemanusiaan saja. Tante ngerti sih, pasti males banget nolongin mantan yang udah nyakitin kita. Tapi kamu gak usah liat ke masa lalu dulu. Anggap saja kamu sedang menjalankan misi social menolong orang. Barangkali saja, kalau ditunggui kamu beberapa hari kesehatan Dave membaik dan mungkin bisa saja sadar.” “Terus kalau sudah sadar, saya harus berurusan lagi sama dia?” “Tante gak bilang begitu, kalau sudah sadar ya tinggal kamu tinggalkan saja. Jangan mau nerima gombalan dari orang masa lalu yang umbar janji manis.” Untuk kali ini Saran Nyonya Miranda sepertinya sedikit bisa masuk ke hati Sarah. Kalau mau jujur Sarah juga tidak tega melihat kondisi Dave seperti saat ini. Namun ada dorongan naluri yang memagari hatinya. Berjaga-jaga saja. namanya juga pernah ada cinta, kalau betemu terus tidak menutup kemungkinan bisa bawa perasaan. Walau Sarah mati-matian bilang kalau dia sudah menghapus nama Dave. “Tante tahu semua cerita kamu sama Dave dulu. Kamu sampai di titik ini sudah hebat Sarah. Jangan mau masuk ke dalam lingkaran yang salah lagi. lakukan saja demi misi kemanusiaan. Jangan libatkan perasaan. Laki-laki itu sekali tidak bisa dipercaya ya selamanya tidak bisa dipercaya. Apalagi modelan kayak Dave. Kamu sudah dewasa, Tante percaya kamu bisa mengontrol hati kamu.” Nyonya Miranda memberi wejangan dengan begitu meyakinkan. Untuk urusan lelaki dia memang tegar dan tegasnya luar biasa. Dikhianati ketika Syila baru berusia sepuluh tahun, lalu memilih berpisah dan memutuskan untuk menutup hati. Membesarkan putrinya seorang diri dan menyibukkan diri tanpa kenal lelah. Nyonya Miranda paham betul apa yang dirasakan Sarah saat ini. Sarah mengangguk. Namun bukan berarti seratus persen setuju. Dia sendiri belum yakin kalau hati dan dirinya siap untuk sering-sering bertemu Dave lagi. “Wah, mama kalau urusan beginian memang paling bijak. Hehehe,” tawa dari Syila sedikit mencairkan suasana. “Tapi hati-hati lho Ma, jangan ajarin Sarah kayak mama. Nanti menutup hati selamanya kan repot. Mama juga gak boleh menilai semua cowok kayak gitu, nanti kalau kapan-kapan aku kenalin calon pacar langsung diusir lagi.” Nyonya Miranda terkekeh mendengar kalimat putrinya. Dia tentu sudah punya standard seleksi super ketat untuk siapapun itu yang akan menjadi calon pacar Syila nanti. “Ya tergantung, kalau orangnya baik-baik ya mama lihat dulu. Kalau kayak Dave, mama kan tahu sejarahnya. Jelas mama bilang begitu ke Sarah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN