Memeluk Luka

1084 Kata
“Sus, ja-jadi maksudnya keluarganya Dave sudah gak ada? Semua? Se-semua?” tanya Syila sambil melotot. Suster sebenarnya enggan merespon orang lain selain Sarah. Tapi berhubung orang ini datang bersama Sarah, mau tidak mau tidak bisa ditolak. “Iya. Jadi, saya hanya bisa mengijinkan Nona Sarah yang boleh masuk menjenguk.” Jawab Suster. Sarah sendiri masih bergeming. Shock. Tentu dia shock. Memang Sarah sudah tidak peduli sama sekali dengan sosok si mantan yang sudah dia coret habis-habisan dari hatinya sejak beberapa tahun silam itu. Tapi, Sarah masih punya sisi kemanusiaan yang tak bisa ia tepis. Sekilas teringat bayangan wajah mama Dave yang ayu dan anggun khas ibu-ibu sosialita. Yang dulu hanya ia lihat sekilas ketika wanita itu mengantar putranya berangkat sekolah. Tak pernah turun dari mobil. Hanya menurunkan sedikit kaca jendela tanpa menoleh, kemudian putranya berlari turun. Lalu berganti terbayang wajah ayah Dave yang super tegas dan berwibawa. Ketat dan penuh aturan. Hanya pernah Sarah lihat lewat foto. Pertemuan yang dulu mereka rencanakan tak pernah sampai terlaksana. Lalu satu lagi, adik Dave. Bungsu yang katanya selalu jauh lebih disayang dibanding Dave sendiri. Kalau boleh dibilang, Dave memiliki keluarga yang sempurna. Seperti layaknya putra mahkota di sinetron-sinetron. Kaya iya, popular iya, tampan iya. Dan sekarang dia kehilangan semuanya dalam sekejap. “Nona Sarah, apa Nona Sarah mau masuk untuk menjenguk tuan Dave sekarang?” tanya Suster. Bayangan-bayangan wajah yang sedang berlarian dalam pikiran sarah langsung sirna. “Eng ….” Sarah tidak tahu harus menjawab apa. Namun dia reflek menggeleng. “Kalau memang Nona Sarah belum mau menjenguk sekarang, silahkan datang kembali besok pada jam besuk. Saya permisi.” Suara langkah kaki suster yang berjalan menjauh terdengar begitu nyaring di lorong itu. Maklum saja, suasana di sini begitu hening. Hening dan lama-lama seram juga kalau di tengah lorong rumah sakit malam-malam dalam keheningan begini. “Sar!” Syila menepuk bahu Sarah sekuat mungkin. Sejak tadi diam-diam dia takut melihat Sarah yang bengong tak bersuara sama sekali. “Jangan bengong, nanti bisa ketempelan setan!” Entah apa alasannya mendadak keluar kalimat seperti itu dari mulut Syila. Dia ini aslinya pemberani kalau soal cari berita, tapi kalau urusannya soal yang sudah agak horror sedikit, pikirannya gampang kemana-mana. “Ngomong apa sih ah?!” Sarah akhirnya bersuara juga. “Lagian dari tadi diam aja, bikin serem tau!” “Kamu gak dengar apa yang suster bilang tadi? Emang kamu gak shock dengar berita begitu?” “Ya Shock, tapi kita ngomonginnya jangan disini deh,” Syila yang tadi menggebu ingin melihat Dave sekarang justru rasanya ingin cepat meninggalkan tempat ini. “Kamar ICU ini gak dekat sama kamar jenazah kan?” tanyanya tiba-tiba. “Ih, makin ngawur kamu, ya jelas gak lah. udah, aku mau lihat Dave dulu.” Sarah berlari. Kemudian berhenti tepat di depan pintu. Ia hanya memandangi Dave dari jauh. Dari balik kaca kecil yang ada di pintu bagian atas. Hanya mampu bertahan beberapa detik, luka di hatinya langsung terasa. “Kamu mau lihat gak? Aku gak mau masuk. Aku mau pulang sekarang.” Syila langsung ikutan melongok lewat kaca setelah Sarah bergeser dari posisinya. “Sar, kayaknya malam ini mendingan kamu nginap di rumah aku deh, aku penasaran pengen ngomongin banyak soal Dave.” Syila pun tak bertahan lama di depan pintu itu. Tanpa banyak pikir Sarah mengangguk setuju. Lagi pula ia sekalian ingin membuktikan, apakah benar mimpinya itu datang hanya ketika ia tidur di apartemennya sendiri dan akan hilang ketika menginap di tempat lain? Entah. Jawabannya baru bisa Sarah dapatkan kalau dia sudah bertemu mentari besok pagi. “Ayo cepetan,” Syila menarik tangan Sarah untuk masuk ke taxi. Masih untung ada taxi yang mau menerima orderan untuk mengantar mereka. Jalanan sudah cukup sepi. Sepanjang jalan Syila celingukan sambil berdoa ingin cepat sampai di rumah. Dalam hatinya dia ikut melamunkan apa yang baru saja menimpa Dave. Semua serba ganjil. Ia melirik sedikit kea rah Sarah. Sahabatnya itu diam. Hatinya pasti sedang nelangsa. Syila saja yang hanya sekedar teman sebatas kenal dan tak pernah sama sekali punya hubungna spesial dengan Dave bisa ikut merasakan perasaan nelangsa itu. “Sar, jangan ngelamun. Aku tau kok, kamu sedih ya? Kasian sama Dave ya? Tenang aja deh, besok kita jenguk lagi bareng-bareng.” Sarah menoleh. Dia langsung menggeleng keras. Sebenarnya dia sendiri masih bingung. Kalau mau dibilang diam dan melamunnya karena kasihan pada Dave, sebenarnya itu tidak seratus persen benar. Sarah sendiri malah bingung harus kasihan pada dirinya atau pada si masa lalu yang muncul tanpa pernah diharapkan itu. “Sok tau.” “Ih, kok sok tau? Terus kenapa dong bengong aja dari tadi?” “Laper.” “Hehe, iya juga sih ya. Tenang aja, mamaku pasti udah beli makanan enak kok,” “Ya semoga.” Si sopir taxi sendiri tak banyak bicara. Mengingat kota ini sedang dalam kondisi yang tak biasa, sepertinya dia juga menjadikan orderan mengantar dua gadis ini sebagai orderan terakhirnya malam ini. Seperti orang kebanyakan, dia juga ingin cepat sampai di rumahnya. Menutup rapat pintu sebelum bertemu bus penyebar terror yang sedang menjadi perbincangan hangat dimana-mana. “Kalian akhirnya sampai juga. Kemana aja sih? Mama nungguin dari tadi, di telpon juga gak diangkat.” Mama Syila berkacak pinggang di depan gerbang. Semula dia pikir anaknya pulang sendirian. Ternyata datang membawa kawan. Padahal kalau pulang sendirian omelannya bisa lebih panjang. “Hehe, mama. Ini Sarah mau nginap di sini ya Ma,” Syila langsung menyikut Sarah. Sarah mengangguk dengan senyum kaku. Sementara taxi yang baru saja mereka tumpangi sudah pergi setelah menerima bayaran. “Ayo cepat masuk deh, kita ngobrol di dalam aja.” Mama Syila tak mau berlama-lama di luar rumah. Mereka semua mauk ke kediaman Syila. sebuah rumah bergaya modern minimalis dengan dua lantai yang terletak di tengah kawasan cukup elite. “Dari mana? Kalau mau ke Mall, kenapa gak siang-siang aja? Sudah tau kondisi kota lagi kayak gini.” Mama Syila kali ini bertanya pada Sarah. Menurutnya tersangka utama yang menyebabkan anaknya pulang malam adalah gadis ini. Gadis yang sudah sejak ingusan dia kenal bersahabat dengan putrinya. “Maaf tante, bukan ke Mall. Tapi kebetulan tadi ada urusan mendadak.” Jawab Sarah. “Nengokin Dave Ma,” celetuk Syila. dia tahu Sarah tidak mungkin mau blak-blakan bilang soal itu. “Sssttt,” Sarah memberi kode kepada Syila. Tapi terlambat. Mama Syila sudah lebih dulu mendengar apa yang dikatakan putrinya tadi. “Dave? Jadi Sarah balikan lagi sama Dave?” Sarah bergeming. Sepertinya berurusan kembali dengan nama itu akan terus membuka satu demi satu luka lama yang ia simpan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN