Longsor Gunung Es Di Hati Sarah

1341 Kata
Berjalan perlahan mengendap-endap seperti maling, membuat Syila kesal melihat Sarah. Sengaja dia berjalan duluan. Tak mau dicurigai satpam. “Permisi,” suara seorang satpam menghampiri Sarah. Langkah Sarah yang sedang mengendap-endap itu langsung terhenti. “Mau ke ruang mana?” tanya satpam itu. “E … ke ….” Ingin langsung mengatakan kalau dia menuju ruang ICU rasanya masih berat, kaku dan takut. Meski Sarah sendiri tidak tahu kenapa dia merasakan demikian. “Mau ke bagian farmasi untuk menebus obat Pak,” jawab Sarah begitu saja. “Oh, silahkan sebelah sana.” Dengan ramah satpam itu menunjukkan. “Terima kasih Pak,” Sarah berjalan bergegas menuju arah yang ditunjukkan satpam tanpa menoleh lagi. Syila yang memperhatikannya dari jauh geleng-geleng bingung. Dari kejauhan yang terlihat ekspresi Sarah seperti maling yang tertangkap basah oleh satpam. Tak mau ikut kelihatan emncurigakan, Syila langsung berlari menyusul saja tanpa banyak bicara. “Sar, bukannya dari papan petunjuk yang di atas itu ICU arahnya bukan kesini ya?” tany Syila setelah menyamai langkah Sarah. “Ssttt,” Sarah hanya meletakkan telunjuk di depan mulutnya sebagai simbol meminta sahabatnya ini untuk diam. Ia perhatikan sekilas satpam tadi sudah kembali ke pintu lobi. Tak memperhatikannya lagi. “Ayo cepetan kita balik lagi kesana.” Kali ini dia menggandeng tangan Syila dan mengajaknya melangkah cepat. Syila mengikuti saja. Sementara ketika melewati meja pendaftaran yang dihuni oleh beberapa suster, Sarah sempat menoleh sekilas. Sebenarnya dia juga sama sekali tidak ingat wajah suster yang bertugas siang tadi. Tapi setidaknya ingin sekilas saja memastikan. Wajah mereka sepertinya wajah baru yang terlihat asing. Artinya benar kata Syila. Jam keja suster sudah berganti. Setibanya di lorong yang memang sepi, Sarah baru memperlambat langkahnya. Sementara sepasang indera penglihatan Syila langsung jelalatan. Tertulis jelas kalau pintu yang beberapa meter ada di hadapan mereka adalah ruang ICU. Tak sabar ingin segera berlari dan mengintip ke dalam. Menunggu gerak-gerik sarah sejak tadi membuat Syila tak karuan. “Eh, tunggu Syil,” “Bodo amat ah, kamu kelamaan. Aku cuma mau memastikan bener gak mantanmu ada di dalam.” “Syila,” Belum sampai Syila mengintip ke ruangan itu, keburu datang seorang suster menghampiri mereka. Suster itu datang dengan setengah berlari. Sepertinya kedatangan dua orang gadis yang langsung meneyelonong tanpa permisi ini sudah terasa cukup mengganggu. “Maaf, nona berdua ini mau kemana? Ini ruang ICU, tidak boleh sembarangan menjenguk. Lagi pula ini sudah bukan jam besuk. Jam besuk sudah tutup.” Suster itu bicara dengan nada tegas. Syila dan Sarah langsung diam di tempat. Persis seperti penjahat yang mendengar suara pengumuman dari polisi kalau mereka telah terkepung. “Kalau tidak ada kepentingan, tolong tinggalkan area ini. Hanya orang yang mendapat izin yang boleh menjenguk pasien di dalam. Jadi mohon maaf, sebaiknya nona berdua segera pergi.” lanjut suster itu lagi. Sarah menarik nafas panjang. Ingin mengiyakan saja lalu kabur pulang sesuai instruksi suster, rasanya sayang juga. Lagi pula Syila pasti tidak rela. Dia bisa-bisa mengoceh dan menelpon sepanjang malam hanya untuk menanyakan segala rasa penasarannya ini. “Maaf Suster,” Sarah akhirnya balik badan dan menghadap suster tadi. Meski ketika bicara dia banyak menunduk seperti takut. “Saya … saya mau menjenguk tuan Dave.” Suster itu kelihatan kaget. Sepertinya Dave ini bukan pasien biasa. “Nona bisa ikut saya sebentar?” Sarah dan Syila saling lirik bingung. “Iya Sus, ayo. Ada yang mau suster tanya-tanya? Kita siap kok, kita juga banyak yang mau ditanyakan soal si Dave.” Syila malah yang lebih dulu nerocos menjawab. “Baik, kalau begitu mari ikut saya.” Tanpa banyak tanya Syila dan Sarah ikut saja ajakan suster itu. Hingga mereka tiba di sebuah ruangan. Bukan ruang dokter. Kelihatannya seperti ruang tunggu khusus di rumah sakit. “Sar, banyak gaya banget sih si Dave! Mau dijenguk aja susah.” Celetuk Syila ketika suster itu meninggalkan mereka sebentar. “Sstt, jangan berisik ah,” Tak sampai dua menit suster itu kembali. Tidak sendirian. Ada seorang suster lain yang terlihat lebih senior darinya. “Maaf, apa diantara nona berdua ini ada yang bernama Sarah Jessica?” tanya suster senior yang mendampingi suster tadi. “Iya, dia Sarah Jessica sus, ada apa ya? Kenapa suster langsung mencari Sarah?” lagi-lagi Syila yang menjawab lebih dulu. “Mohon maaf tapi untuk saat ini hanya Nona Sarah yang diperbolehkan menjenguk tuan Dave.” “Hah?!” Syila melongo kesal. Dia memang sudah tidak mengetahui kabar terbaru tentang keluarga Dave. Sejak jaman sekolah dulu, Dave memang anak orang berpangkat. Tapi tidak sampai segitunya. “Tungu suster, saya perlu bicara sebentar dengan Sarah.” Syila lantas menarik tangan Sarah menjauh dari kedua suster itu. “Kenapa lagi sih Syil,” “Ih Sar, gila ya? Apaan banget sih si Dave? Apa jangan-jangan bapaknya sudah jadi presiden di Negara tetangga sampai dapat pengamanan segitu ketatnya? Atau sudah jadi gubernur di salah satu provinsi? Kita ketinggalan berita kali ya?” “Syil, jangan aneh-aneh deh mikirnya. Aku juga gak tahu,” “Pokoknya gak peduli! Mereka kan kasih ijin khusus untuk ‘Nona Sarah Jessica’,” Syila menirukan gaya suster tadi ketika menyebutkan nama Sarah. “Jadi, nanti kamu ngomong apa aja sama mereka. Pokoknya sampai mereka kasih ijin aku juga untuk ikut masuk.” “Aku gak berani Syil, Dave itu bukan lagi sakit biasa. Dave itu lagi koma. Ini bukan kayak jenguk teman kantor yang sakit dan bisa diajak bercanda. Coba bayangin kalau kita lagi jenguk Dave terus bapak sama ibunya datang. Gak enak ‘kan? Mungkin aja mereka itu sudah pesan supaya Dave gak dijenguk banyak orang.” “Ah, dasar! Bilang aja kamu mau kesempatan ketemu sama mantan dan gak mau diganggu.” “Ya ampun Syila,” Dari kejauhan kedua suster tadi terlihat sudah gelisah menunggu. Sarah terpaksa menyingkir dari hadapan Syila. Soal urusan kalau nanti sahabatnya ini ngambek dipikirkan belakangan. Hati Sarah juga bergejolak dengan rasa penasaran. Meski tadi ragu dan ogah-ogahan kembali ke tempat ini. Tapi segala hal yang tidak tuntas dalam hatinya, serta sikap dua suster tadi yang sepertinya begitu menunjukkan kalau kehadiran Sarah begitu ditunggu, akhirnya membuat Sarah berani dan percaya diri untuk menemui Dave lagi. “Maaf suster menunggu lama.” Sarah menghampiri para suster. “Maaf juga kalau saya … saya tadi siang sudah datang kesini tapi pergi begitu saja.” Sarah tadinya tidak ingin mengaku. Lagi pula suster ini berbeda dengan yang tadi siang. Tapi entah kenapa kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. “Oh iya, tidak apa-apa Nona. Kami mengerti. Mungkin Nona masih terpukul.” Sarah mengangguk saja. Meski dalam hatinya bingung. Mungkin para Suster ini mengira kalau Dave adalah kekasih Sarah. Seperti kekasih normal yang masih sering berkomunikasi dan bertemu. “Mari, kami antar ke ruang ICU.” “Tunggu sebentar Sus,” Sarah menarik napas dalam. Dia menyadari Syila sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tapi yang mau dia tanyakan. Bukan soal boleh tidaknya sahabatnya ini ikut ke dalam. Ada pertanyaan lebih penting yang tidak sabar ingin Sarah tanyakan. “Suster, apa keluarga Dave ada di sini? Tadi siang, saya keburu pergi sebelum menemui mereka.” Kedua suster itu saling menatap dengan raut kaget dan bingung setelah mendengar pertanyaan Sarah. Beberapa detik sempat hening belum ada jawaban. Entah kenapa detik-detik yang kosong itu terasa membuat jantung Sarah makin menderu tak karuan. “Apa Nona Sarah belum mendengar tentang kabar keluarga tuan Dave?” Sarah menggeleng. Tangannya mulai terasa dingin. Tiba-tiba terbayang wajah galak ayah Dave yang sempat ia jumpai beberapa tahun silam. “Mereka semua ….” Kalimat Suster senior sempat terhenti. “Kenapa Sus?” lagi-lagi Syila yang menyerobot tak sabar bertanya. Dia langsung merapatkan jarak dengan Sarah. Ikut penasaran. “Mereka semua, yaitu kedua orang tua tuan Dave, beserta adik laki-lakinya, sudah menjadi korban p*********n di kediaman mereka sendiri. Kasusnya sedang dalam penyelidikan. Dan tuan Dave menjadi satu-satunya yang selamat. Makanya, kami tidak mengizinkan sembarangan orang menjenguk. Selain karena alasan kondisinya yang sedang koma, kami juga harus memastikan keamanan tuan Dave.” Sarah tergugu. Lidah mendadak kelu. Di dalam d**a seperti ada gunung es yang mendadak longsor. Hancur, bingung, kalut semua menjadi satu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN