Waktu pulang kantor telah tiba. Seperti biasa, seperti suasana hari-hari sebelumnya. Dimana kota ini sedang tidak baik-baik saja. Alias sedang dihantui oleh teror bus yang tak jelas itu. Para karyawan berebut pulang. Tidak ada acara makan malam di luar, atau berburu diskonan midnight sale. Pokoknya sebelum senja berlalu, mereka ingin tiba di rumah dengan aman.
"Sar, kita ke rumah sakit sekarang ya," Syila menghampiri Sarah yang tengah merapikan meja kerjanya.
"Ngapain?"
Entah kenapa semenjak mendengar cerita dari Sarah tadi, Syila justru yang kelihatan paling menggebu. Mungkin memang dasar sudah punya naluri alamiah sebagai pemburu berita. Tak bisa dibuat penasaran sedikit pokoknya ingin diusut sampai tuntas.
"Buktikan sama aku kalo Dave beneran ada di rumah sakit itu."
Kalimat Syila yang barusan sebenarnya hanya pancingan. Dia tau Sarah paling tidak suka ditantang. Apalagi dengan embel-embel tidak percaya.
"Oh, jadi kamu masih mikir aku ini halu?" balas Sarah.
"Ya mungkin. Kalau aku belum lihat sendiri, kan belum ada bukti."
"Dasar, nyebelin banget sih,"
"Ya udah deh, jangan kelamaan. Nanti keburu malam nih,"
Sarah tidak punya pilihan. Lagi pula tidak ada salahnya menunjukkan mengajak Syila menjenguk Dave.
"Ok, aku beresin ini sebentar. Kamu tolong pesan taxi dulu deh,"
"Ok,"
Syila memesan taxi online. Agak susah. Kalaupun ada, tarifnya sedikit lebih mahal dari biasa. Maklum, jam padat. Dimana semua orang berebut pesan kendaraan untuk mengantar mereka pulang.
"Dapat gak?" tanya Sarah setelah mejanya rapi.
"Ini udah nih, tapi masih lumayan jauh. Sepuluh menit lagi baru sampai." jawab Syila.
"Ya udah gak apa-apa. Kita tunggu aja sambil turun."
"Ya udah yuk, yang lain udah turun dari tadi. Kayaknya tinggal kita doang yang ketinggalan."
Mereka berdua turun. Lift memang sudah tidak sepadat tadi. Namun masih banyak yang berbondong-bondong keluar dari ruangan. Karyawan dari perusahaan lain penghuni lantai di gedung ini masih banyak yang baru mulai berjalan keluar.
Tiba y lantai bawah, Sarah dan Suila menepi. Memilih menunggu di kursi lobi. Pada bagian pojok yang paling sepi. Lagi-lagi ini karena permintaan Sarah. Diam-diam sejak di lift tadi, bahkan sejak bermenit-menit sebelumnya, ia sudah tak tahan ingin membicarakan Dave lagi. Berbagai pertanyaan yang tak karuan berjejalan di otak. Kalau bisa ia ingin sepanjang hari mengobrol dengan Syila untuk membahasnya. Tapi keburu terpotong jam makan siang yang sudah habis. Sarah masih cukup bisa mengontrol kewarasannya untuk tidak berbuat bodoh yang bisa merugikan dan mengancam kelangsungan karirnya lagi.
"Masih lama 'kan taxi nya?" tanya Sarah setelah duduk. Biasanya kalau orang memesan taxi pasti ingin buru-buru. Tidak sabar menunggu taxi datang sambil terus memantau lewat layar ponsel. Tapi kali ini Sarah berbeda. Ia berharap taxi datang sedikit lebih lambat agar ada waktu sebentar untuk mengobrol sebelum pergi mengunjungi Dave lagi.
"Tujuh menitan lagi," jawab Syila setelah memeriksa ke layar ponsel.
"Semoga kena macet."
"Apa? Kok semoga kena macet? Dasar aneh nih orang. Semenjak ketemu mantan kayaknya jadi eror kamu Sar,"
"Terserah deh kamu mau ngomong apa," Sarah mulai kebal. Sejak obrolan pertama tadi setelah ia memberi kabar pada Syila tentang kemunculan Dave, memang sudah tidak terhitung berapa kali Syila mengatainya 'eror' sambil memeriksa kepala. Seolah Sarah ini korban tabrak lari yang baru sembuh dari hilang ingatan.
"Aku mau ngomong dulu sebentar sama kamu soal Dave." ucap Sarah sambil mengedarkan pandangan. Takut ada yang mendengarkan pembicaraan mereka.
Aneh memang Sarah ini. Padahal orang-orang di kantor ini juga tidak ada yang kenal siapa itu Dave. Pria itu bukan artis, bukan pengusaha ternama, bukan selebgram, YouTubers, Vlogger, dan atau apapun sejenisnya. Dia memang anak orang yang cukup punya jabatan. Tapi levelnya hanya pejabat provinsi. Bukan pejabat tingkat negara yang wajah maupun namanya dikenal oleh media luas. Jadi seharusnya tidak perlu ada kasak-kusuk rahasia kalau hanya sekedar ingin membicarakan Dave.
"Ya tinggal ngomong aja sih Sar, ribet banget." sahut Syila cuek. Sambil terus memantau layar ponselnya. Kalau-kalau taxi pesanan mereka sudah dekat.
"Syil, kalau aku udah ketemu Dave gini, kira-kira aku masih bakal mimpi lagi gak? Terus menurut kamu, apa mungkin ada hubungannya pertemuan ini dengan mimpi-mimpi yang terus-menerus itu?" tanya Sarah dengan setengah berbisik.
Syila menarik napas panjang. Ia lupakan sejenak taxi pesanan mereka. Tanpa dipelototi terus layar ponselnya, kalau sudah waktu tiba nanti juga taxi itu tiba sendiri.
"Mungkin," jawab Syila singkat. Benar-benar bukan jawaban yang diharapkan.
"Kok mungkin doang? Gak ada jawaban lain gitu? Ngeselin banget sih,"
Syila melirik wajah sahabatnya. Terlihat manyun kesal. Spontan dia terbahak.
"Pengen banget di komentari?" ledeknya.
"Ya terserah mau komen apa gak,"
"Hehehe, iya-iya Sar, hmm kalau menurut aku sih …."
Ponsel Syila berdering. Panggilan dari sopir taxi online. Rupanya sudah tiba di lobi dan menunggu mereka.
Mau tidak mau obrolan ini terputus.
"Dilanjut di mobil aja ya ngobrolnya." Kata Syila sambil mengajak Sarah bergegas.
Di dalam mobil sepanjang perjalanan Sarah diam. Masih sama seperti keputusannya tadi. Dia tidak mau obrolannya di dengar orang lain. Sekalipun hanya sopir taxi online yang sama sekali tidak mereka kenal.
Setibanya di rumah sakit Sarah agak canggung. Bukan gara-gara Dave. Tapi canggung pada para suster. Sudah kabur dan melempar gaun protektif begitu saja ke lantai. Sekarang malah datang lagi. Andai saja bisa datang dengan mengendap-endap tanpa permisi. Tapi sayangnya tidak bisa. Apalagi Dave sepertinya mendapat fasilitas penjagaan khusus lebih dari pasien lain.
"Syil, kamu aja ya yang masuk dan lihat Dave di ruang ICU. Aku tunggu di sini aja."
Sarah mendadak menghentikan langkahnya. Minggir dan bersembunyi ketika hampir tiba di pintu lobi rumah sakit.
"Hah? Kok aku sendiri? Kamu ikut dong,"
"Eng, a-aku …."
"Udah lah Sar, jangan kayak anak SMA deh, mau ketemu mantan aja pakai ngambek segala. Lagian yang mau ditemui itu lagi koma. Dia gak bakal tau kalau kamu datang."
"Bukan, bukan gitu Syil,"
"Ya terus kenapa?"
"Aku gak enak banget tadi pergi kabur gitu aja. Aku malu sama susternya."
Syila lagi-lagi melongo mendengar alasan Sarah. Kali ini Sarah memang tidak seperti yang Syila kenal selama ini. Yang biasanya tegas, ceria, penuh percaya diri. Sekarang jadi orang linglung, pemalu dan gampang takut merasa salah ditambah lagi ceroboh. Baru mulai hari ini Sarah berubah begitu. Semoga saja tidak seterusnya.
"Sar, kamu tahu gak jadwal kerja di rumah sakit?" tanya Syila tiba-tiba.
Sarah menggeleng. Dia tidak paham untuk apa Syila mendadak menanyakan itu.
"Suster kerja di rumah sakit itu juga sama kayak kita. Ada jam kerjanya. Gak mungkin orangnya itu-itu aja dan harus jaga dua puluh empat jam. Pasti ganti orang." cerocos Syila.
"Maksud kamu?"
"Ah, masa iya harus aku jelasin lagi sih Sar? Kamu mendadak lemot deh gara-gara ketemu Dave."
"Syila," Sarah melotot kesal. Memang hanya Syila yang berani bicara ngawur ke Sarah. Teman-teman di kantor cenderung segan karena pribadi Sarah sehari-hari terkenal agak tertutup.
"Ya udah, berani masuk gak? Sama bos aja berani habis kabur terus balik lagi. Masa sama suster aja gak berani?"
Kalimat tantangan ditambah rengekan dari Syila akhirnya terpaksa membuat Sarah mau tak mau ikut kembali masuk ke rumah sakit itu.