Cerita Tentang Pertemuan

1116 Kata
“Maaf Pak, tadi saya ….” “Halah, sudah lah, saya sedang tidak mau dengar alasan kamu. Besok kita ada meeting yang tidak kalah penting. Jangan sampai kamu mendadak kabur lagi. Atau ….” “Saya janji Pak,” Sarah nekat memotong kalimat bos nya. Daripada kalimat selanjutnya keburu terlontar. Bayangan kalimat sakti mematikan seperti ‘atau kamu saya pecat’. Mendorong mulut Sarah mengeluarkan semua jurus untuk menghentikannya. “Saya pegang janji kamu.” Pak Bos berlalu. Milioner blasteran Jerman-Indonesia yang sudah lama sukses mendirikan platform berita online itu untuk kali pertama nya dibuat naik pitam oleh Sarah. Sejak detik pertama membubuhkan tanda tangan pada surat kontrak kerja di perusahaan ini, Sarah bisa dibilang hampir tidak pernah membuat kesalahan. Kalaupun pernah, tidak sampai se-fatal tadi. “Heh, dari mana sih?” Syila menghampiri. Sekarang waktu memang sudah menunjukkan pukul 12.00 waktu setempat. Meeting besar itu sudah selesai. satu persatukaryawan keluar dari ruangan masing-masing. Beranjak dari kursi mereka dan mematikan komputer untuk sesaat. Office boy sibuk membereskan ruang meeting dan setelahnya ikut berhambur menuju ke luar gedung. Ikut meramaikan barisan kedai makanan atau hanya sekedar duduk di pokojan pantry membuka bekal makan siang. “Kacau pokoknya Syil,” “Kacau apanya?” “Aku gak mau makan siang lah,” “Kok gak mau makan siang? Apa hubungannya? Eh, kamu itu udah oleng, gaka makan siang bisa tambah oleng. Ayo kita keluar aja cari makan.” “Gak mau. Aku mau di sini aja.” “Mau ngapain? Makan angin?” “Syil, sumpah. Aku butuh tempat buat cerita. Tapi gak mau yang ramai orang.” “Tuh, di gudang dekat tangga darurat.” Syila bermaksud bergurau. “Gak lucu, serius nih,” “Ya kamu juga gak lucu Sar, masa jam makan siang begini mendadak bilang gak mau makan. Kalau gak mau makan sendiri aja. Gak usah ngajak-ngajak. Otakku gak bisa di ajak kerja kalau gak makan.” cerocos Syila. siapaun memang tidak mau kalau diajak kelaparan sama-sama tanpa alasan. “Tapi di luar di semua tempat makan pasti ramai Syil.” “Ya udah gak usah ribet. Aku pesna makanan lewat ojek online aja. Kamu mau pesan apa? Aku lagi pengen makan ikan-ikanan.” “Kok makan ikan-ikanan? Sekalian aja ayam-ayaman.” “Ya udah kalau gitu aku pesan ikan dan kamu aku pesankan ayam.” “Ya gitu dong, jangan ikan-ikanan.” Obrolan mereka memang kadang mendadak absurd dan garing. Tidak selalu selaras dengan tampilan luar dua gadis ini yang anggun dan berkelas khas wanita kantoran kota metropolitan. Siang yang terik ini mereka akhirnya memutuskan duduk anteng di dalam ruang kerja Syila. Padahal biasanya begitu jam makan siang tiba, mereka selalu jadi orang pertama yang lari keluar kantor. Ingin duluan tiba di kedai makan. Malas antri atau kadang malas kalau terpaksa berjalan cukup jauh demi mendapat tempat makan yang nyaman dan tak terlalu ramai. “Aduh semoga aja si abang ojek online nya gak kena antrian. Mana dadakan gini pesannya. Emang ada apa lagi sih Sar? Mau bahas soal mimpi lagi? Mana tadi main kabur gitu aja dari kantor. Habis ketemuan sama siapa? Dari tadi mau cerita aja ribet banget. Harus sepi lah, takut kedengaran orang lah,” “Aku habis ketemu sama Dave!” Syila langsung melongo. Antara percaya atau justru takut kalau sahabatnya ini sudah tidak mampu membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. “Di mimpi ‘kan?” “Serius Syil.” Sarah celingukan lalu berlalu sebentar menutup rapat pintu ruang kerja Syila yang masih sedikit terbuka. Sebenarnya ini bukan ruang kerja khusus untuk Syila seorang. Ada beberapa rekan yang lain yang juga menjadi pemilik dari ruangan ini. Tapi mereka semua sudah berhambur pergi memenuhi undangan perut yang lapar dan minta lekas diisi. Jadilah saat ini situasi aman. Tanpa ada penghuni lain yang kemungkinan akan mencuri dengar. “Jadi kamu nekat kabur dari kantor begitu dapat telpon undangan dari mantan buat ketemuan?” tanya Syila setelah Sarah kembali duduk di kursi sebelahnya. “Jangan cari masalah deh Sar, diterima di kantor ini tuh susah lho, jangan bikin ulah yang gak-gak yang bikin posisi kamu terancam. Kamutau ‘kan, pak Bos itu walaupun kelihatannya santai, tapi suka mengintai. Kalau ada yang dia gak sreg, langsung deh di belakang diam-diam nyuruh HRD buat bikin surat pemberhentian. Alias dipecat! Gak mau ‘kan?” “Ih, dengar dulu Syil, ini tuh gak kayak yang kamu bayangin. Enak aja bilang aku dapat telpon dari mantan langsung lupa diri terus kabur dari kantor. Emang aku anak alay yang labil apa? kejadiannya tuh gak gitu.” bantah Sarah. “Terus gimana?” Sarah menceritakan dengan detail kejadian yang baru saja ia alami. Dan sang sahabat mendengarkannya sambil mengangguk-angguk dengan ekpresi wajah bergaya sok sedang menganalisa. Sesekali garuk-garuk kepala kemudian memegang kening Sarah. Sekedar ingin memastikan kalau suhunya normal. Tidak sedang panas tinggi atau mungki habis terbentur keras sampai membuat fungsi kesadaran terganggu. “Heh, kamu dari tadi dengerin gak sih? Kok malah sibuk periksa kepala aku?” protes Sarah setelah selesai bercerita sambil menepis tangan Syila. “Abisnya cerita kamu aneh sih, sorry nih ya, asli aku masih antara percaya gak percaya. Takutnya kamu Cuma kebawa sama terror mimpi itu terus halu.” “Ya ampun Syila, kalau gak percaya kamu bisa cek di rumah sakit Health Medika. Ada Dave di sana. Di ruang ICU.” “Iya, iya, cuma agak gak masuk akal aja. Kok dia mendadak muncul gitu? Bukannya terakhir kamu pernah cerita, puluhan purnama yang lalu itu dia dan keluarganya udah pindah ke Amerika ya?” “Ish, apaan sih, puluhan purnama yang lalu. Tinggal bilang aja beberapa tahun yang lalu.” Syila hanya nyengir mendengar protes dari Sarah. Entah kenapa rasanya suka saja menggunakan istilah itu. Istilah yang ada di dalam salah satu lagu cinta paling dramatis dan populer yang dulu pernah ada. Rasanya terasa sama dramatisnya untuk menggambarkan kisah cinta rumit sahabatnya itu. “Ya pokoknya itu lah, kok bisa gitu lho? Apa mungkin Dave udah lama balik ke Indonesia tapi kamu gak tau?” Sarah hanya mengangkat bahu. “Terus di rumah sakit kamu smepat ketemu keluarganya?” tanya Syila lagi. “Gak,” dengan cepat Sarah menggeleng. “Kok gak? Emang dia sakit gak ada yang nungguin? Kamu juga gak nanya dia kenapa bisa sampai masuk rumah sakit? Kecelakaan atau gimana?” Syila mulai menginterogasi seperti pemburu berita. “Aku gak nanya apa-apa. Langsung aku tinggalin pulang.” “Hah?” jawaban Sarah membuat Syila melongo untuk kesekian kalinya. “Wah parah, tega kamu Sar.” “Parah gimana? Aku juga shock. Aku gak kepikiran apa-apa. Apalagi ketemu mendadak dalam keadaan begini. Kalau aku gak diteror sama mimpi itu, mungkin aku gak akan se kaget ini ketemu dia.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN