Sarah memilih mundur seketika. Sekali ia mengerjapkan mata butiran yang menggenang itu langsung membuat blush on di pipinya basah terkena titik air mata. Bibirnya bergetar. Beberapa kali ia meremas-remas tangannya sendiri tidak percaya. Dengan tarikan nafas panjang, ia maju sekali lagi. bisa saja yang barusan itu salah lihat. Karena satu bulan sudah wajah sang mantan hadir di mimpi. Bisa saja yang ia lihat barusan hanyalah fatamorgana. Seperti mata yang melihat danau di tengah gurun pasir padahal hanya ilusi belaka.
Dengan tangan yang mengepal kuat demi membunuh rasa gugup, Sarah kembali berdiri di samping ranjang ruang rawat itu. Yang terdengar hanya suara sejumlah alat-alat kesehatan yang terpasang langsung ke tubuh pasien. Sarah menatap wajah pria itu sekali lagi. Dengan tatapan dalam. Mengerjap beberapa kali untuk meyakinkan kalau dia sedang tidak berhalusinasi.
“Dave? Ini kamu Dave?” Sarah bertanya. Padahal dia tahu yang ditanya tidak mungkin menjawab. Jangankan menjawab. Membuka mata saja tidak bisa. “Kamu kenapa? Kenapa kayak gini? Kamu tahu dari mana nomor telepon kantorku?”
Sepertinya saking gugup kaget dan bingung Sarah malah nerocos sendiri. Padahal sudah jelas bukan waktu yang tepat untuk menanyakan semua itu sekarang.
“Dave! Dave!” Sarah menepuk lengan pria itu. Mendadak hatinya bergetar. Ia tatap wajah itu sekali lagi dengan lebih dekat. Deraian air mata Sarah berubah deras.
Seperti orang linglung dan ketakutan, langkah Sarah berayun membawanya keluar dari ruangan. Ia lepaskan lapisan pakaian khusus yang dipinjamkan suster tadi. meletakkannya sembarangan lalu kabur begitu saja dari rumah sakit.
“Permisi!”
“Nona tunggu ….” Suster memanggil. Sayangnya yang dipanggil sama sekali tak menghiraukan. Berlari menabrak beberapa petugas rumah sakit yang lewat berlawan arah. “Kenapa sih? Kok kabur? Padahal baru mau dimintai keterangan.” Gerutu suster berseragam putih. Lebih tercengang lagi ketika melihat gaun protektif tergeletak di lantai depan pintu ruang ICU.
Sarah keluar dari lobi. Suara segala macam peralatan di ruang ICU itu serasa terus berdengung di telinga. Ini sebuah situasi yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan.
“Pak stop! Stop!” sebuah taxi sarah hentikan. Padahal tanpa perlu berteriak bilang ‘stop’ cukup dengan lambaian tangan juga sopir taxi itu sudah paham. Ketika tangan hampir sampai meraih handle pintu taxi berwarna biru itu, seseorang datang dari arah belakang Sarah. Mendahului dan langsung masuk. Sarah ternganga kaget. “Eh, Mbak, gak bisa! Ini taxi saya.” Kali ini Sarah tak mau kalah.
Wanita yang kelihatan seusia dengannya itu melirik dengan aura jutek. “Apa?!”
“Saya duluan yang naik taxi ini. Mbak gak boleh main serobot gitu dong,”
“Hah? Kamu ngomong apa barusan? Tanya aja sama sopir ini, siapa yang telpon dan pesan taxi. saya atau kamu.”
“Hah? Gak bisa, pokoknya saya yang duluan!” Entah seperti kerasukan setan preman pasar. Sarah mendadak berperilaku barbar. Menarik paksa lengan wanita itu tanpa ampun sampai keluar dari taxi. “Bye! Silahkan cari taxi lain!”
Sopir taxi dalam situasi dilema. Ikut perintah penumpang barbar ini atau tetap mengikuti patuh hanya mengangkut penumpang sesuai order.
“Jalan Pak, cepat!”
Dari pada urusan kacau, batal dapat penumpang karena kedua wanita ini bertengkar. Pak Sopir cari aman. Yang barbar langsung diangkut dan wanita jutek yang berdiri di luar sana ditinggalkan begitu saja.
“Kemana Non?”
“Apartemen galaxy.”
Taxi membelah jalan kota. Di dalam mobil ini yang gundah bukan hanya si penumpang saja. Si sopir pun sebenarnya gundah. Takut dapat teguran dari kantor pusat karena meninggalkan penumpang yang jelas-jelas memesan dan malah mengangkut si nona yang datang di luar dugaan.
“Sudah sampai Non,” Pak Sopir memberi tahu.
Sarah terkesiap. Padahal suara sopir itu biasa saja tidak mengagetkan sama sekali. Menurunkan kaca jendela lalu celingukan. Benar, yang ada di depan mata sekarang adalah pintu lobi gedung apartemennya. Sepanjang jalan tadi pikirannya melayang entah kemana.
“Oh, iya Pak, berapa Pak?” Sarah turun. Menyerahkan uang sesuai tagihan argo taxi berwarna biru itu.
Taxi langsung pergi setelah menerima ongkos. Sesekali wanita ini memijat keningnya. Berjalan dengan gamang menuju lift. Baru kali ini Sarah merasakan dalam hidupnya berjalan dengan kaki yang terasa melayang. Bukan karena dia mendadak jadi hantu. Tapi kejutan luar biasa di luar dugaan tadi membuat jiwa sekaligus pikirannya oleng seketika. Sayangnya bukan kejutan manis. Sama sekali bukan.
Begitu pintu lift terbuka, Sarah langsung melangkah masuk. Di dalam lift sendirian dengan tatapan kosong. Hitungan detik ia sudah sampai di depan pintu kamarnya. Bolak-balik merogoh tas memeriksa isi kantong yang satu ke kantong yang lain sampai hampir dua menit kunci apartemen itu baru ketemu.
“Gak! Gak mungkin!”
Sarah bersandar lemas pada pintu kamarnya setelah berhasil masuk. Melepas sepatu ber hak runcing yang ia kenakan lalu menghempaskan nya begitu saja. otot sekujur tubuh terasa melemah dan hanya bisa bersandar pada daun pintu yang sudah terkunci. Dari posisi berdiri hingga jongkok di lantai.
Ia masih ingat jelas ketika Dave pertama kali datang ke rumahnya. Bukan kemarin atau bulan lalu. Tapi sewindu yang lalu. saat mereka masih berseragam putih abu-abu. Pria yang ia kenal dengan gaya sedikit songong ketika di sekolah itu mendadak bertamu. Si cowok yang masuk kalangan paling populer di sekolah. Berasal dari orang tua dengan ekonomi menengah ke atas. Sementara si gadis hanya gadis biasa yang tidak populer sama sekali. Kalangan kelas biasa. Hanya bermodal wajah lugu yang cantiknya tanpa editan. Prestasi yang terlalu menonjol juga tak ada untuk urusan nilai standar saja. Tapi rupanya ada magnet yang entah apa namanya bisa menarik hati si cowok populer yang agak tengil ini untuk nekat datang tanpa diundang.
“Hai Sarah,” sapa Dave ketika itu di depan pintu rumah Sarah.
Omong kosong! Sekarang bukan waktunya mengurai lamunan yang indah tentang cowok songong yang sudah menahun mati-matian Sarah lupakan itu.
Sarah segera bangkit menuju dapur mininya dan meneguk air dingin dari kulkas sebanyak mungkin. sampai mendadak kepalanya pusing. Bukan karena mabuk air mineral ya, tapi karena meneguk air dingin terus-terusan dalam jumlah banyak.
Berdiri di balkon menatap gedung-gedung lain. Tangannya berpegang pada tepian balkon. Bukan. Dia bukan ingin lompat terjun bebas mengakhiri hidupnya seperti di film drama. Rugi. Ia hanya sedang ingin memastikan kalau sekarang benar-benar sedang tidak berada di alam mimpi. Maklum, semenjak didatangi mimpi yang sama terus-terusan Sarah memang kadang linglung.
“Sumpah ini bukan mimpi! Bukan.” Ia tepuk pipinya beberapa kali.
Ia semakin yakin setelah terpaan angin yang lumayan kencang di pagi ini membuat mata sebelah kirinya kemasukan debu. Perih. Reflek ia menutup mata. Menguceknya berkali-kali sampai matanya berair.
“Aduh, siapa sih yang telpon?” sambil mengucek mata Sarah menggerutu.
“Sarah! Kamu ini dimana? Kita mau ada meeting penting. Kenapa kamu mendadak pergi dari kantor?”
Sarah bengong sesaat. Ia ingat-ingat lagi apa yang terakhir ia lakukan sampai bisa-bisanya pergi ke rumah sakit tadi.
“Ya ampun, jadi saya tadi pergi dari kantor Pak? Ma-maaf Pak, saya kembali ke kantor sekarang.”