“Ini berita besar! Sumpah ini berita besar, Sar! Aku bisa naik jabatan, naik gaji dan naik-naik yang lain,” Syila tiba-tiba masuk ke ruangan Sarah.
Kurang lebih lima belas menit setelah Sarah meninggalkannya tadi. Senyumnya mengembang seperti orang baru dapat undian. Tak usah berpura-pura Sarah sudah paham apa sebabnya. Syila melompat-lompat kegirangan seperti anak TK menang lomba. Sesaat sebelum Sarah memutuskan pamit dari sosok nyonya yang datang tak dijemput pulang tak diantar itu ia mendengar dengan jelas kalau si nyonya mau bercerita soal bus yang katanya sedang jadi misteri di kota ini. Dan Syila adalah pemburu berita yang semenjak desas-desus tentang bus itu viral, dia mati-matian siang malam mencari tahu.
Kedatangan si nyonya tadi rasanya seperti durian runtuh bagi Syila. Pasalnya belum ada satupun media yang berhasil mendapat keterangan mengenai misteri bus itu.
“Mimpi,” ledek Sarah dengan sengaja.
“Dengerin dulu, serius nih,” Syila memutar kursi Sarah dan menyingkirkan tangan Sarah dari atas keyboard komputer. “Nyonya yang tadi itu, nyonya Jasmine, dia baru saja kasih kesaksian kalau dia baru bebas dari bus misterius itu Sar!” ujar Syila dengan suara kencang. sedetik kemudian ia menutup mulutnya sendiri. “Aduh, ini gawat. Gak boleh ada orang lain tau dulu. Bisa-bisa saksi kunci aku ini bakal diserobot orang. Dan aku bisa kalah cepat memuat berita soal cerita dia barusan.”
“Memang si nyonya tadi cerita apaan sih? Baru kembali dari bus? Bus apaan?”
“Jangan pura-pura gak ngerti deh, satu kota ini juga tau soal bus misterius itu.” Syila kedengaran agak kesal. Walaupun dia sudah hafal. Sarah memang selalu tidak mau dengar kalau ada yang membicarakan soal bus itu. Alasannya sudah jelas. Malas membuat diri sendiri tambah takut.
“Halah, misterius apa? Orang-orang yang pada hilang itu juga beritanya masih simpang siur.” kata Sarah mencoba logis.
“Sini-sini aku bisikan,” Syila jongkok di samping kursi Sarah lalu meminta Sarah sedikit membungkuk agar bisa mendengarnya dengan jelas. “Soal orang-orang yang bisa kembali ke masa lalu, itu benar-benar kejadian Sar, jadi si nyonya tadi itu ….”
“Halah, udah deh, gak mau dengar.” Sarah langsung memutar kursinya lagi memalingkan diri dari Syila. Jelas Syila makin geregetan kesal rasanya.
Dua orang ini sibuk dengan isi pikirannya sendiri. Kalau benar ada bus yang bisa membawa orang ke masa lalu, seram juga. Pikir Sarah. Sementara isi otak Syila langsung sibuk atur strategi dan buru-buru mengupulan narasi di agar berita ini segera bisa dimuat.
“Pokoknya ini berita besar dan rahasia. Aku sudah buat janji sama nyonya itu buat ketemuan lagi di rumahnya besok. Ini pokoknya akan jadi berita besar. Dan aku bakal jadi orang pertama yang berhasil mengungkap misteri ini.” kata Syila.
“Jangan sembarangan buat janji ketemuan sama orang yang baru dikenal. Bisa aja dia cuma ngarang. cari sensasi.” Sarah memberi peringatan.
Syila kali ini acuh saja dengan peringatan Sarah. Ia memilih kabur ke ruang kerjanya sendiri. Suasana kantor sudah mulai ramai. Karyawan lain satu persatu berdatangan. Sarah sengaja menyibukkan dirinya dengan setumpuk dokumen agar tidak semakin kepikiran dengan desas-desus misteri yang tidak jelas itu.
***
Pagi di hari berikutnya Sarah memutuskan untuk berangkat ke kantor di jam normal saja. Ia bangun pagi seperti biasa. masih dengan perasaan kacau. Karena Dave masih muncul lagi dalam mimpinya. Artinya ini genap tiga puluh satu kali ia mengalami mimpi yang sama.
Sarah turun dari bus kota. Berjalan dari halte dan melangkah masuk ke gedung kantor bersama para karyawan lain. Saling sapa dan tersenyum. Setidaknya hari ini terasa lebih baik. Tidak seperti kemarin. Niat hati datang pagi untuk curhat pada Syila malah kacau gara-gara kedatangan nyonya yang tak diundang itu.
Aroma harum pembersih lantai asih segar terhirup. Artinya si abang office boy belum lama selesai mengepel lantai ruangan ini. Sarah membawa gelas ke dekat dispenser. Mengisi gelas miliknya yang sudah berisi serbuk minuman sereal dengan air panas. Dia lebih suka minuman sereal dibanding kopi di pagi hari.
Hari ini banyak yang harus ia kerjakan. Agenda meeting tim redaksi yang akan membahas konsep baru yang akan dibuat oleh majalah mereka sudah ia siapkan sejak hari sebelumnya. Meeting akan dilaksanakan pukul 10.00 waktu setempat. Ia harus memastikan kalau semua persiapan meeting nanti sudah beres semua agar semua bisa berjalan lancar.
“Sar,” suara panggilan setengah berbisik terdengar dari arah belakang. Mengganggu Sarah yang sedang fokus.
“Apa?”
“Nanti pulang kantor temani aku ya, ketemuan sama nyonya Jasmine.”
Sarah terpaksa menoleh. Jelas itu adalah Syila.
“Malas. Gak mau.” jawabnya pasti.
“Kok gitu sih, pliss, tolongin lah,”
“Gak. Aku gak mau ketemu orang yang gak jelas. Kalau dia bukan orang waras gimana?”
“Ih, gak mungkin lah,” bantah Syila.
Telepon di meja Sarah berdering. Sarah langsung menjawab telepon itu. Dari kejauhan Syila melihat atasan mereka sedang menuju ke ruangannya. Mau tidak mau Syila harus kembali.
“Nanti kita lanjut pas akan siang,” suaranya berbisik sebelum berlalu.
“Hallo,” jawab Sarah pada panggilan telepon yang kelihatan di layar kecil berasal dari meja resepsionis. Ia sengaja berlagak tidak mendengarkan Syila.
“Pagi Mbak Sarah, ini ada telepon dari rumah sakit.”
“Rumah sakit? Rumah sakit mana? Cari saya?” tanyanya bingung. Seingat Sarah tidak pernah membuat janji dengan dokter di rumah sakit manapun.
“Rumah sakit Health Medika. Katanya ingin bicara dengan Mbak Sarah.”
“Eng … ya sudah sambungkan.”
Beberapa detik kemudian.
“Selamat pagi, dengan Nona Sarah Jessica?” suara seorang petugas rumah sakit.
“Iya, saya. Maaf ada apa ya?”
“Nona Sarah, apakah Nona bisa datang ke rumah sakit sekarang?”
“Hah? Untuk apa? Saya tidak membuat janji dengan dokter.”
“Ada seseorang yang saat ini kondisinya kritis. Beliau sempat memberikan nomor telepon kantor ini dan meminta agar dihubungkan dengan Nona Sarah Jessica.”
“Hah?” Sarah diam sesaat. Jantungnya mendada menderu. Ia langsung terpikir orang tuanya di kampung halaman. Tapi rumah sakit Health Medika adalah rumah sakit di kota ini. Rasanya mustahil juga kalau mendadak orang tuanya ada di kota ini.
“Eng … ha-hallo?” Sambungan telepon terputus.
Sarah menekan tombol telepon di mejanya dengan panik. Tapi tidak terdengar apapun. Sesaat kemudian ia mendengar suara gaduh di luar ruangan kalau telepon di kantor mereka mengalami gangguan.
Mendadak terasa lemas seperti tak bertulang. Kata-kata sedang kritis yang disampaikan petugas rumah sakit tadi membuat otak Sarah seperti es batu yang dipukul dengan palu. Pecah tak karuan.
“Hallo, ma, pa? Mama sehat? Papa sehat?” tanyanya dengan suara gemetar menahan degupan jangtung yang semakin tak karuan.
“Sehat. Kamu gak ke kantor? Kok telepon jam segini?” suara mama Sarah.
Sarah sedikit bisa bernapas lega.
“Ke kantor kok ma, ya sudah ma, nanti Sarah telepon lagi ya.”
Belum cukup. Belum berhenti sampai di situ. Sarah menelpon semua nomor saudara yang ada di daftar kontak dalam ponselnya.
Tak terasa tiga puluh menit berlalu. Semua keluarga yang dihubungi baik-baik saja. Tapi degupan tak karuan dalam jantung Sarah belum juga bisa reda. Ia harus memastikan siapa sebenarnya yang sedang kritis dan meminta rumah sakit menghubunginya?
Tanpa pikir panjang Sarah langsung memakai tas miliknya. Memasukkan dompet dan ponsel lalu keluar dari ruangan begitu saja. Ia berjalan cepat tanpa menyapa siapapun. Semua orang sedang gaduh. Karena ternyata yang mengalami gangguan bukan hanya telepon saja. Melainkan jaringan internet juga. Mereka semua sibuk sendiri dengan keluhannya masing-masing hingga tidak ada yang menyadari saat Sarah pergi.
Duduk di taxi dengan telapak tangan dingin dan gemetar. Sarah sengaja memilih naik taxi agar lebih cepat sampai rumah sakit. Ia tidak sabar kalau harus menunggu bus lagi.
“Siang suster, saya ….” Diam sejenak mengatur napas setelah berlari dari halaman rumah sakit. “Saya Sarah Jessica. Tadi ada yang menelepon ke kantor saya dan mengaku dari rumah sakit ini. Katanya ada pasien yang sedang kritis dan meminta untuk menghubungi saya. Siapa pasien itu sus?”
Suster dia sesaat. Tentunya yang diurus di rumah sakit ini bukan hanya satu atau dua pasien. Dia tidak langsung paham dengan apa yang dikatakan Sarah.
“Tunggu sebentar ya,”
Wanita berseragam putih itu lalu sibuk dengan dokumen di mejanya dan telepon kesana-kemari. Beberapa menit kemudian mengecek data di komputernya dengan wajah serius.
“Nona Sarah, pasien tersebut saat ini koma. Ada di ruang ICU. Silahkan, akan diantar oleh suster yang ini.” ucapnya santun sambil menunjuk ke rakannya yang sudah siap mengantar Sarah.
Sambil berjalan Sarah berpikir keras. Mungkin saja pihak rumah sakit salah menghubungi orang. Nama Sarah Jessica bisa jadi ada ribuan di kota ini. Tapi kenapa orang itu bisa memberikan nomor kantor Sarah?
“Silahkan,” suster mempersilahkan Sarah masuk ke ruang ICU setelah mengenakan baju khusus untuk masuk ke ruang rawat tersebut.
Sarah mengangguk dengan perasaan bingung. Suster itu lantas meninggalkannya. Jantung Sarah seperti genderang ditabuh. Sepertinya degupannya bisa terdengar jelas dari luar. Belum dapat ia kenali siapa sosok yang tengah terbaring itu. ia maju selangkah dua langkah. Yang terbaring di sana seorang pria yang sepertinya seusia dirinya. Sarah maju satu langkah lagi hingga tiba di tepian ranjang.
Matanya mendadak melotot lebar. Jantung yang tadi seperti genderang sekarang terasa lepas dari tempatnya. Seperti lolos dari d**a turun ke lutut.
Sarah masih tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Sekarang ia berjalan lebih mendekat. Wajah yang sebagian terbalut kasa putih karena luka itu sekarang benar-benar jelas ia kenali.
“D-Dave,” sebutnya dengan bibir bergetar.