Wajah Danica memucat panik. Ia bergegas mendekati Agasta dan kembali duduk di tempat semula. Sikapnya yang grasa-grusu membuat kursi bergeser dengan kasar, membuat derit yang cukup menggetarkan. Agasta sampai meringis mendengarnya. "Agas, Bude Yuni yang nelpon. Gimana ini? Aduh mampus, mana dia dah tiga kali telpon. Bilang apa ini? Aduh!" Danica menepuk keningnya sendiri saat dering ponsel untuk keempat kalinya mati. "Sepertinya akan ada telpon ke empat kalinya." Setelah Agasta berkata begitu, ponsel Danica kembali berdering dan lagi dari Yuni. "Sama seperti anaknya, seorang pejuang, ya." "Agas, gimana? Saya harus omong apa? Ini kalau gak diangkat, bisa seribu kali bakalan nelpon." "Terima aja. Semakin lama diterima semakin runyam kamu." "Tapi saya harus omong apa?" Agasta mengedik

