Yuni menatap tajam tanpa ampun ke arah Farah yang duduk mengkerut bagaikan tikus yang berhadapan dengan seekor ular yang terus mendesis dengan tatapan dingin menguasai. Farah menjadi tikus yang mecicit gelisah, tak bisa berlari meskipun ingin. Ia sudah mengambil keputusan. "Jangan hanya melempar aib ke rumah kami, lalu kamu memasang wajah sebagai korban yang paling menderita. Saya lelah berhadapan dengan seseorang yang bebal dan tidak pakai isi kepalanya dengan optimal." Pernyataan bodoh untuk Farah. Yuni sudah tak lagi menggunakan kata-kata manisnya yang logis. Kekesalannya sudah di ubun-ubun. Setelah Farah, kemudian Danica. Kedua wanita muda yang sudah merusak jalan mimpi yang sudah Yuni atur dengan baik. Yang sudah dirancang dengan benar. Di dalam dirinya, Farah kembali mempertanyaka

