Manika tidur terbaring dengan posisi meringkuk. Selimut menutupi tubuhnya hanya sampai sebatas pinggang. Saat Minah masuk kamar, kembali Manika terbatuk-batuk. Di setiap batuknya, Manika harus meringkuk lebih dalam agar otot-ototnya tak terlalu sakit. "Bu..., air buat kakinya sudah siap." Minah mengatakannya dengan sangat lirih. Pelan-pelan ia meletakkan baskom berisi air hangat garam di lantai, dekat tempat tidur. Manika tersenyum mengangguk. Perlahan ia mencoba bangun dibantu Minah. Semakin hari, rasanya semakin payah bagi Manika menggerakkan tubuhnya, bahkan untuk sekedar bangun dari tidur. Manika hanya memiliki kekuatan tegar untuk bangun adalah hanya saat ada Danica. Manika tidak ingin putrinya tahu akan kesakitannya. Cukup Danica tahu kalau Manika tahu, tapi ia tak mau Danica tahu

