"Mas Agasta, nanti saya bikinka parem, ya. Buat tangannya," ujar Mbok Minah begitu Danica melangkah masuk. Agasta tersadar dari diamnya, menatap Mbok Minah dengan ketulusannya. Wanita tua itu, bukan hanya sekedar asisten rumah tangga lagi, melainkan juga bagian keluarga. Mbok Minah memedulikan banyak hal yang berkaitan dengan orang-orang di rumah ini, termasuk pada Agasta. "Terima kasih, Mbok Min. Gak usah repot-repot. Saya tidak apa-apa. Nanti juga sudah hilang." Agasta mengelus lengan berisi Mbok Minah. "Pasti tadi sakit. Saya lihat Mas Agas dipukuli berkali-kali sama tongkat." "Saya tidak apa-apa. Itu beneran. Lagi pula, Bapak tidak mungkin bisa memukul keras-keras." "Masak sih, Mas. Tadi saya lihat Bapak marah besar begitu. Smapai melotot dan gemetaran. Mukulnya juga pasti keras."

