Napas Rahadyan semakin tidak beratiran. Terengah-engah seperti seorang yang baru saja selesai lari maraton. Wajahnya yang tirus dan berkeriput banyak, semakin memucat dengan mata yang bergetar juga sudut bibir yang ikut bergetar. Ada amarah yang sulit ia keluarkan dengan penuh. Itu membuatnya kesal pada diri sendiri yang begitu lemah karena dimakan usia dan penyakit. Sayangnya, sebagian kesadaran itu lenyap. Rahadyan tak sepenuhnya menyadari jika dirinya begitu lemah. "Pak ..., Bapak perlu tenang. Jangan marah-marah," pinta Agasta lembut. Ia berusaha mendekati Rahadyan, berharap pria itu sudah pada titik lemahnya, hingga tak perlu melempar-lempar sesuatu, atau bahkan memukulinya lagi. "Mana Manika? Kamu bilang sudah pulang. Mana?" Agasta menghela napas dengan sangat pelan. Tadi Rahad

