Agasta baru selesai urusannya dengan rumah sakit via email. Ia lelah dan merasa malas juga. Rumah Rahadyan terasa begitu sepi. Andai ada Danica, pasti ada yang bisa dibuat ribut. Menggodanya benar-benar menjadikan harinya di kota kecil ini tak terasa membosankan. Karena tidak ada siapa-siapa, Agasta memutuskan ke dapur. Menemui Mbok minah. Mungkin ada yang bisa dilakukan. Biar begitu, perihal dapur dan memasak, Agasta bisa diandalkan juga. Selama bertahun-tahun, sejak ia diizinkan menggunakan dapur, Rahadyan sering menyiapkan makanan. Ia membeli dan memasak makanannya sendiri. "Mbok Min, masak apa?" tanya rahadya sembari langsung duduk di dipan bambu, di mana serangkaian bahan masakan berjajar tidak jelas. "Masak lodeh. Mumpung lagi ada terong, wortel, sama kubis. Mas Agasta mau dimasa

