Salah satu kursi rotan di ruang tamu, digeser Danica dekat dengan jendela. Ia ingin menikmati angin yang bersilir lembut melalui jendela kaca yang terbuka. Ia juga bisa melihat keluar, untuk melepas penat saat membaca. Membaca sampai sore, menghabiskan waktu sebelum pergi ke taman, mengumpulkan bahan sebagai referensi dari bacaan lain. Begitulah rencananya. Dan gagal. Tak sepenuhnya rencana Danica gagal. Menggeser kursi masih terealisasi. Danica duduk, membuka novelnya, dan kosong. Tidak satu pun kata yang bisa dengan benar disusun menjadi kalimat. Benar-benar berantakan untuk membaca. Ini karena pikiran Danica masih berada di waktu yang baru saja berlalu. Waktu saat berada di kamar ayahnya, Rahadyan. Percakapan yang terjadi, hanya membuat dadanya berdebur aneh. Bagai air laut yang dat

