Perlahan-lahan, dengan tangan yang gemetaran, Rahadyan menyendok bubur gandumnya. Terlihat kesusahan saat akan menyendok bagian pisang yang sudah diiris tipis. Wajah Rahadyan terlihat cerah. Sesekali ia banyak bertanya di mana Manika. Pertanyaan berulang-ulang tetapi Agasta yang duduk santai di depan Rahadyan, tak lelah memberikan jawaban yang sama. "Ibu Manika sedang tidur, Pak." "Apa dia tidak lapar? Kamu bangunkan saja, Gas." "Ibu Manika sudah makan. Sekarang Bapak yang makan." "Saya kenyang." Rahadyan menyorongkan mangkuk bubur gandumnya seperti seorang anak kecil yang tiba-tiba ngambek. Ia juga seperti berusaha menggeser meja buatan Agasta. "Kan belum habis, Pak. Kok, sudah kenyang," ujar Agasta kalem tanpa sedikit pun ingin membantu Rahadyan menggeser meja makannya. "Saya bosa

