Chapter 63

1032 Kata

Prasaja menela air liurnya dengan terpaksa. Pertanyaan ibunya menjadi semacam buah simalakama baginya. Berkata jujur, bisa berlanjut amarah sang bunda, dan bisa-bisanya darah tinggi Yuni melampaui batas ukur hipertensi. Tapi, tidak bicara jujur, Prasaja khawatir suatu hari ibunya akan mengkonfirmasi. "Danica gak ada di rumah, Ma." Akhirnya Prasaja memutuskan untuk bicara apa adanya saja. Lebih baik ibunya marah-marah saat tak berhadapan muka dengannya, karena kalau berhadapan muka, ibunya bukan hanya bicara yang bertimdak, tetapi juga tangan. Ibunya akan berulang kali menoyor kepalanya sembari diiringi kata-kata bodoh, yang menyakitkan hati. Kadang Prasaja berpikir apakah ibunya lupa kalau dirinya sudah menjadi lelaki dewasa. "Apa?! Kok, bisa? Lah, kamu ke rumahnya jam berapa, sih?" t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN