Part 6

1309 Kata
“Selena kosongkan jadwal saya malam ini” ucap Xavier tiba-tiba di tengah keheningan yang melanda di dalam mobil. “tapi pak pesawat dan yang lainnya juga sudah siap, dan tidak sopan kalau tiba-tiba tidak datang tanpa alasan yang jelas. Ditambal lagi anda sudah melewatkan dua rapat hari ini” bantah Selena menatap Xavier yang mengemudi mobilnya dengan kecepatan normal. “saya sudah ada janji dengan anak-anak” jawab Xavier menatap Selena sekilas. “pak, saya sudah siapkan semuanya” bantah Selena yang tetap keukeh dengan pilihannya. Dia tahu bahwa sikapnya ini salah, bagaimanapun juga Xavier adalah atasannya tidak pantas baginya bersikap keras kepala seperti ini apalagi posisi Xavier bukan hanya seorang boss tapi juga seorang Ayah dari tiga anak. Tapi, dia juga tidak tau kenapa dia begini, sulit untuk di jelaskan kenapa dia tidak bisa mengontrol emosinya di depan Xavier, mungkinkah Xavier terlalu banyak dosa? “Selena, kamu orang pertama yang membantah perintah saya” sarkas Xavier sambil melirik Selena yang duduk di sebelahnya. “iya pak terimakasih, saya bangga mendengarnya” jawab Selena dengan tersenyum menatap Xavier “itu bukan sesuatu yang harus di banggakan Selena” sarkas Xavier lagi. “tetap saja pak saya bangga karena saya menjadi orang yang pertama” jawab Selena dengan wajah bangga nya meskipun di dalam hati dia sudah memberikan sumpah sarapah untuk atasan gantengnya ini. Selena tidak akan menyangkal dengan ketampanan boss nya ini karena dia memang tampan. Apakah aura duda memang semenggoda ini atau hanya Xavier saja yang seperti ini? “kita sampai. kamu pakirkan mobil, saya ke atas duluan” pamit Xavier yang terkesan memerintah. Selena yang di perlakukan seperti itu hanya mengangguk patuh karena memang ini tugasnya. Setelah memarkirkan mobilnya Selena langsung masuk kedalam gedung perusahaan dan pergi menuju lantai teratas menggunakan lift yang tersedia. Tentu saja dia menggunakan lift khusus yang memang di peruntukkan untuk Xavier dan para petinggi. “anjirr kenapa gue jadi ngerasa bersalah gini sihhh” teriak Selena membanting berkas di depannya. “nggak nggak, kalo gini terus bisa stress gue. Mikir Selena mikir” kesal Selena sambil menepuk kepalanya sendiri. “kalo dia nggak pergi sia-sia dong gue kemaren nyiapin semuanya, kalo dia pergi kasian anak-anak mana baru baikan lagi” oceh Selena yang masih memikirkan masalah apakah Xavier harus datang atau tidak di acara peresmian malam nanti. “bentar, ngapain gue bingung njirr tinggal bawa aja semuanya lagian pesawat juga punya dia sendiri. Hotel juga punya sendiri, tinggal nyiapin outfit buat anak-anak Selesai.” oceh Selena dengan senyuman bangganya. “aihhh…mandiri kali boss gue, orang kaya emang beda” ucap Selena setelah itu langsung pergi menuju ruangan Xavier untuk menyampaikan usulannya tersebut. Xavier menepati janjinya - Anak-anak senang dan usahanya tidak sia-sia. Patut dibanggakan bukan oataknya?!. Tok…tok…tok… “masuk” ucap Xavier dari dalam ruangannya. “permisi pak” “iya, ada apa Selena?” tanya Xavier yang menghentikan ketikannya dan menatap Selena penasaran. “pak saya ada usulan” “apa? Tentang apa?” tanya Xavier menatap Selena dengan alis terangkat keatas. “acara nanti malam di Singapore, bagaimana kalau anak-anak bapak di ajak saja?” Xavier yang mendengar usulan Selena hanya bisa mentapnya dengan alis sebelah yang naik keatas. “sebelumnya,di mobil bapak bilang tidak bisa pulang telat malam ini karena ingin menghabisakan waktu bersama anak-anak anda, di sisi lain bapak harus menghadiri acara penting dan saya pikir ini ide yang cukup praktis” jelas Selena. “saya tidak tau mereka akan senang atau tidak menghadiri acara seperti ini, tapi kita bisa coba.” jawab Xavier dengan tersenyum menatap Selena yang masih tersenyum canggung. “siap pak” jawab Selena senang karena Xavier menerima usulannya. “sebagai gantinya, siapkan perlengkapan mereka dan katakan hubungi nanny untuk membawa anak-anak ke kantor” perintah Xavier. “baik pak terimakasih, kalau begitu saya permisi.” pamit Selena dan langsung keluar menuju ruangannya. Sesampainya di ruangan hal pertama yang dia lakukan adalah memastikan bahwa tiga krucilnya ingin ikut atau tidak. “halo Kanzie” panggil Selena ketika terdengar suara krusak krusuk dari ujung sana. “yes mam, why?” tanya Kanzie di ujung sana yang menaruh layar hp di depan telinganya. “nanti sore ikut ke Singapore mau?” tanya Selena “what? Really? waitt…kita ngapain ke Singapore kan besok bukan weekend?” “nanti sore tante sama papa kamu ada acara di sana, jadi rencananya mau ajak kalian gimana? Nanti kita jalan-jalan sekalian di sana” tawar Selena “tante ikut nggak?” tanya Kanzie penasaran “iyadong, tanya ke adek-adek dulu mau ikut apa nggak” “waitt--- Deeek tante Selena tanya mau ikut ke acara papa nggak nanti sore” “where?” jawab seseorang di ujung sana Selena tidak yakin apakah itu suara Aslan atau Aydin tapi sepertinya lebih ke Aslan. “singapore” “i’ll go, Aydin you should go too” “kalo mama ikut Aydin ikut” “okay, mama mereka ikut katanya” “tante tunggu di kantor ya, bilang ke nanny suruh nganter kalian ke kantor papa kalian jam 3” “okay, see yaa mom” “see you kids” Setelah memutuskan panggilannya dengan Kanzie, Selena langsung menghubungi designer untuk memesan tambahan baju tiga krucilnya untuk di pakai nanti malam. “Selesai” ucap Selena merebahkan tubuhnya di kursi lalu membenarkan kuncirannya setelah itu melanjutkan menyiapkan berkas yang akan dibawa Xavier untuk rapat sebentar lagi.   Setelah menghabisakan satu jam setengah di dalam ruangan rapat, akhirnya Xavier dan Selena keluar menuju ruangan mereka masing-masing. “anak-anak saya datang kesini jam berapa?” tanya Xavier kepada Selena yang berjalan di sampingnya. “jam 3 pak” jawab Selena apa adanya. “okay, nanti kalau mereka datang langsung antar keruangan saya saja” perintah Xavier . “baik pak” jawab Selena. Setelah mengantar Xavier masuk kedalam ruangannya Selena langsung pergi menuju ruangan miliknya sendiri karena dia harus segera mengirimkan hasil rapat kepada Xavier sesegera mungkin. Drrttt…Drrttt…Drrtt… Suara getaran handphone membuatnya tersadar, segera dia mengangkatnya tanpa melihat siapa yang memanggil karena fokus matanya hanya berada di satu titik yaitu, layar komputernya. “iya halo?” “mama” suara anak kecil langsung memenuhi gendang telinganya, Selena yang tersadar langsung melihat kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 3.07 “Aydin?” panggil Selena “mama kita udah di depan, where are you?” tanya Aydin dari ujung sana “tunggu sebentar, tente turun sekarang.” “mama cepetan, i'm scared! we got everybody watching us” “iya sayang sebentar, ini mama udah di lift Aydin jangan kemana-mana tetep sama kakak-kakak okay” ucap Selena tanpa sadar menyebut dirinya “mama” padahal setelah dia mengetahui kalau tiga krucilnya adalah anak dari boss nya dia berjanji akan menjaga sikapnya dan tidak memainkan peran ibu dan anak lagi dengan tiga krucilnya. "mamaaa" panggil Aydin dengan keras ketika melihat sosok Selena yang berjalan ke arahnya. "ssttt---" peringat Selena menyuruh Aydin untuk diam dengan menaruh jari telunjuk di depan bibirnya.  mata Selena melirik kanan kiri dan benar saja Seluruh Karyawan yang berada di lobi sedang menatapnya penasaran, apalagi dengan Aydin yang notabenya adalah anak dari atasan mereka memanggil Selena sang sekertaris pengganti dengan sebutan "mama". bukankah itu cukup memenuhi standar untuk dijadikan gossip harian mereka?. "mama why did you take so long?" marah Aslan kepada Selena "i'm so sorry kids, tante tadi lupa nggak liat jam" jawab Selena berjongkok menyamakan tingginya dengan Aslan. "ayo mam kita pergi" ajak Kanzie menggandeng tangan Selena. "kalau gitu saya pulang dulu ya mbak, vitaminnya anak-anak udah tak masukkan tas nya Kanzie" pamit Nanny yang langsung dibalas anggukan oleh Selena. "makasih ya nan udah nganter anak-anak, maaf tadi lama" ucap Selena tidak enak. dia mengaku salah untuk yang satu ini. "iya mbak, santai aja. saya pergi dulu" pamit nanny setelah itu pergi keluar. "ayo kita langsung ke atas" ajak Selena menggandeng tangan Kanzie dan Aydin sedangkan Aslan dia berjalan di depan Selena Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN