FIRST TIME

3049 Kata
Pagi hari di kantor. Alva keluar dari lift dan berhenti melangkah saat melihat Kartika sudah datang dan sibuk di mejanya sendiri. Alva menghela napas panjang. Alva mencoba tetap bersikap biasa dan tetap menjaga wibawanya sebagai pemilik perusahaan ini dengan profesional   "Selamat pagi Mr. Salvastone." Sapa Kartika saat melihat Alva melangkah di depan mejanya. "Selamat pagi Kartika, tolong ke ruangan saya sekarang." Sahut Alva tetap berjalan tanpa menoleh pada Kartika. "Baik Mr. Salvastone." Ucap Kartika mengangguk hormat. Alva masuk terlebih dahulu ke ruangan nya dan tidak lama kemudian Kartika menyusulnya masuk ke ruangan. Kartika seperti biasa hanya berdiri di tengah ruangan, tidak pernah mendekat ke meja Alva ataupun duduk di kursi yang ada dihadapan meja Alva. Kartika sudah menyiapkan catatannya dan pena di tangannya, menunggu perintah Alva.   "Apa jadwalku hari ini?" Tanya Alva. Kartika membacakan catatannya. "Hari ini lumayan padat, jam 10 pagi ini anda harus menuju ke hotel Glorious untuk bertemu dengan Mr. Kyle, lalu setelah makan siang nanti, jam 2 anda akan menerima kunjungan  Mr. Alezo di kantor ini. Setelah itu saat jam 6 petang nanti ada undangan konser amal untuk korban bencana alam di palu." Sahut Kartika menjelaskan segala kegiatan Alva hari ini. "Apakah sudah ada yang memesan untuk mengajakku pergi bersama ke acara konser amal itu?" Tanya Alva. "Ada beberapa, tapi menurut catatan dari sekretaris sebelumnya, tertulis jangan pernah menerima siapapun yang mengajak anda untuk pergi bersama ke acara pesta apapun, jadi saya juga melakukan hal yang sama. Saya menolak dengan sopan mereka semua yang mengajak anda pergi bersama mereka." Sahut Kartika.  Alva terkejut dan spontan tertawa mendengar ucapan Kartika. HAHAHAHAHA... Kartika jadi bingung dengan tawa bos nya itu. "Kenapa anda tertawa?" Tanya Kartika. "Apa kamu lupa? semua sekretarisku yang terdahulu itu semuanya juga merangkap sebagai kekasihku dan teman tidurku, Jadi mereka pasti akan menolak semua ajakan itu, supaya aku mengajaknya. Jadi, apakah hari ini kamu juga ingin menjadi seseorang yang aku ajak ke acara konser amal itu?" Tanya Alva.   Kartika seketika berdecak kesal dan menepuk keningnya sendiri, sangat menyesali telah berbuat sangat bodoh. "Ck! iissshhh...bagaimana aku bisa lupa hal itu?!" Gerutu Kartika pelan dan menunduk menutup wajahnya dengan satu tangan, namun terdengar oleh Alva. Alva masih tersenyum lebar. "Baiklah, kalau begitu berarti kamu yang harus menemaniku ke acara konser amal itu. Kamu harus bertanggung jawab karena telah menolak semua ajakan untukku." Ucap Alva "Tapi...saya tidak mungkin...." "Ingat! kita tidak akan pernah  pergi berdua, segala di surat perjanjian kita tertulis tidak boleh dilakukan jika berdua, jadi aku tidak melanggar perjanjian apapun. Lagipula ini adalah resiko dirimu karena telah menolak mereka. Sekarang bersiaplah untuk pertemuan dengan Mr.Kyle." sela Alva pada sanggahan yang akan Kartika katakan. "Tapi..." Kartika menggantung ucapannya. "Tidak ada penolakan!" Ucap Alva menyela lagi "Bagaimana dengan anak-anak saya?" Tanya Kartika dengan cepat   Alva pun tersenyum menghela napas panjang. "Ternyata alasan keberatannya adalah anak-anak, bukan karena tidak mau pergi berdua denganku..."  Batin Alva membuatnya sedikit senang. "Kenzie. Ya, tentu saja Kenzie! Bukankah dia selalu menjadi jalan keluar atas hal itu?" Sahut Alva santai. "Tidak! Sekarang tidak bisa lagi! Saya tidak mungkin meminta Kenzie untuk menemani anak-anak di rumah. Terlalu beresiko! Saya tidak mau diusir lagi dari rumah kontrakan karena dianggap wanita simpanan, memasukkan pria ke dalam rumah apalagi Kenzie adalah pria yang sudah berkeluarga. Tidak! Saya tidak mau lagi seperti itu!" Ucap Kartika. "Hmm...tapi kita tidak mungkin mengajak anak-anak ke acara itu. Para pencari berita gosip itu pasti akan menyerbu kita." Sahut Alva. Kartika sedikit tersentak terkejut dengan ucapan Alva, ada sedikit kecewa di hati saat mendengarnya. "Dasar bodoh! Tentu saja dia tidak mau diketahui publik berjalan bersama dengan janda dan anak-anak janda itu! Siapa kalian?! Memalukan!"  Otak Kartika sekilas merutuk hati Kartika yang kecewa. "Bagaimana jika saya menghubungi nona Laura Kyle untuk menemani anda? Kebetulan dia juga ikut Mr.Kyle datang ke Jakarta." Usul Kartika "Laura??? Apa kamu yakin akan membiarkan aku berdua dengan wanita itu?"tanya Alva. "Heh?! Tentu saja saya yakin, dia wanita yang muda, cantik, dan kaya, jadi sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mempermalukan anda disana." Sahut Kartika sedikit tersirat kekecewaan di dalam kalimatnya. Alva menatap Kartika dengan serius, sampai mengernyitkan keningnya. Kartika menjadi tertunduk tidak berani melawan tatapan itu. Alva lalu berdiri dari kursinya dan menghampiri tempat Kartika berdiri, lalu berjalan pelan sambil mengelilingi Kartika, sangat membuat Kartika gugup. "Katakan padaku yang sejujurnya, apakah alasanmu tidak ingin pergi menemaniku itu adalah karena kamu takut membuat diriku malu??? Karena status jandamu dan juga usiamu???" Tanya Alva. "Eh! Tidak! Tidak! Bukan itu masalahnya, tapi memang karena saya tidak bisa meninggalkan anak-anak hanya di rumah tanpa pengawasan siapapun." Sahut Kartika dengan tegas.   Alva berhenti melangkah tepat di hadapan Kartika tepat hanya berjarak satu langkah saja. "Yakin kamu sudah jujur???" Selidik Alva, Kartika hanya bisa mengangguk tanpa berani menatap Alva. "Kamu sungguh yakin akan membiarkan aku hanya berdua pergi dengan Laura dan pulang larut malam hanya berdua???" Tanya Alva lagi. "Ehm..apakah ada alasan untuk saya tidak yakin? Tidak ada. Tentu saja saya sangat yakin Nona Laura itu sangat bisa dipastikan akan membuat anda percaya diri melangkah di red carpet. Lagipula seperti biasanya, anda tidak akan pernah pergi kemanapun hanya berdua dengan seseorang kan???" Sahut Kartika.   Alva akhirnya hanya menghela napas panjang, karena Kartika tetap menjaga dirinya dengan baik dari godaan Alva. "Baiklah, kalau begitu kamu hubungi Laura secepatnya. Aku akan pergi dengannya ke acara konser amal itu. Setelah itu bersiaplah untuk pergi bertemu dengan Mr.Kyle." ucap Alva pada akhirnya. Kartika keluar dari ruangan Alva dan segera melakukan perintah Alva, menghubungi Laura Kyle dan bersiap diri untuk pertemuan. Alva duduk kembali di kursi kerjanya sambil menghela napas panjang dan besar. Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan mengusap wajahnya. Frustasi. Itulah yang Alva rasakan saat ini.   "Astaga! Dia sungguh membuatku tidak mampu berbuat apapun untuk ditaklukan!"  Batin Alva dengan putus asa.  ****   Hotel Glorious. "Alva..., Terima kasih ya sudah mengajakku untuk pergi ke konser amal nanti malam. Aku pasti akan berdandan cantik malam ini." Sambut Laura saat mereka bertemu di lobby hotel. Kartika merasa tahu diri posisinya dan menjauh dari keduanya. "Sudahlah, bukan sesuatu yang harus dibuat senang seperti itu. Kamu harus berterima kasih pada Kartika, dialah yang mengusulkan padaku untuk mengajakmu." Sahut Alva dengan dingin. "Eh?! Sekretarismu yang mengusulkan hal ini?!" Tanya Laura tidak percaya. "Ya! Dia yang mengusulkannya, jadi berterima kasihlah padanya." Sahut Alva lagi menatap Kartika. "Sepertinya aku sangat menyukai sekretarismu yang sekarang. Jaga dia baik-baik ya, supaya dia betah bekerja denganmu." Ucap Laura sambil tersenyum senang dan bergelayut manja di lengan Alva. "Aku pasti akan selalu menjaganya baik-baik, tapi bukan demi dirimu Laura!"  Batin Alva sambil tersenyum menatap Kartika yang kini sedang melihat-lihat sekelilingnya sambil menunggu kedatangan Mr.Kyle turun dari kamarnya di hotel ini.   "Hai Alva, maaf lama menunggu." Sapa seorang pria yang tidak asing lagi, dan juga langsung membuat Alva seketika kehilangan mood nya. Siapa lagi kalau bukan Reynald Kyle. "Rey??? Dimana uncle Kyle?" Tanya Alva heran. "Tenang saja, papa ku akan segera turun. Aku hanya ingin menyapa Kartika, tidak akan berurusan denganmu hari ini." Sahut Rey dengan senyuman lebar lalu menghampiri Kartika tidak peduli dengan Alva. "Hai Kartika...apa kabar?" Sapa Rey dan sedikit menunduk  hendak meraih tangan Kartika untuk menciumnya namun Kartika dengan sengaja bergerak mundur dan menghindar.  Ada seulas senyuman di wajah Alva saat melihatnya. "Kamu pikir dia wanita seperti apa Rey???"  Batin Alva serasa menang.   "Maaf, saya baik. Bagaimana dengan kabar anda?" Sahut Kartika sopan. Rey hanya tersenyum menatap Kartika. "Syukurlah, aku juga baik. Ouw iya, apakah nanti malam kamu ada acara?" Tanya Rey. "Ehm..tidak ada." Sahut Kartika polos. "Bagaimana jika aku mengajakmu untuk datang ke sebuah konser amal? Aku harus mewakili perusahaanku kesana." Tanya Rey. "Ehm maaf saya tidak bisa ikut dengan anda." Sahut Kartika menolak dengan sopan. Alva terlihat menyembunyikan senyumnya saat mendengar penolakan Kartika.   "Kenapa?! Bukankah Alva tidak mengajakmu?!" Tanya Rey tidak menerima penolakan begitu saja. "Saya harus menemani anak-anak saya di rumah." Sahut Kartika. "Kalau begitu kita ajak saja mereka." Ucap Rey dengan semangat. Kartika tersentak kaget dengan sikap santai Rey yang tidak berpikir panjang tentang ide mengajak Kartika bersama anak-anaknya sekaligus. Tanpa disadari semuanya, Alva pun terkejut dengan ide gila Rey.   "Tidak.....tidak perlu, maaf saya tidak bisa." Sahut Kartika tetap menolak. "Apalagi alasanmu? Aku tidak masalah mengajak mereka, ini hanya konser musik biasa bukan tontonan orang dewasa. Kita juga bisa pulang lebih awal saat waktunya mereka tidur. Bagaimana? Ayolah, temani aku nanti malam, aku janji akan mengantar kalian pulang sebelum jam 9, bagaimana?" Tanya Rey memaksa Kartika. "Ehm..jangan...anda akan diserbu oleh para pencari berita gosip jika datang ke acara itu bersama saya dan anak-anak saya. Tidak! Saya tidak ingin mempermalukan anda dengan gosip-gosip yang bisa menjatuhkan citra diri anda." Sahut Kartika tetap menolak. "Ahh...biarkan saja mereka bergosip, dengan siapapun aku datang tetap saja akan menjadi gosip. Tenang saja, aku tidak akan malu. Kumohon...ikutlah nanti malam bersamaku..." Pinta Rey.  Kartika pun akhirnya tersenyum mengangguk. "Baiklah, tapi sebelum jam 9 malam, anda harus mengantarkan kami pulang ke rumah." Sahut Kartika. "Siap! Cinderella ku..., tepat sebelum sihir mengubahmu, aku sudah pastikan kamu sampai di rumah dengan seutuhnya." Ucap Rey dengan sangat senang bergaya seorang tentara yang memberi hormat pada atasannya.  Kartika tertawa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rey dan ucapannya barusan.   Alva mengepalkan tangannya dengan sangat kencang, karena menahan emosi dalam dirinya yang memanas bagai lahar gunung Merapi yang siap meledak. Mr.Kyle turun ke lobby dan pembicaraan dilanjutkan di ruang pertemuan yang ada di hotel ini. Pembicaraan ini menjadi sangat singkat karena Alva terlihat tidak berkonsentrasi dengan baik, dia terus memainkan penanya berputar-putar diatas meja, meski matanya menatap Mr.Kyle yang sedang berbicara namun terlihat jelas sekali bahwa pikirannya tidak berada pada topik pembicaraan ini.   "Alva, sebaiknya kita lanjutkan pembicaraan ini saat kamu sudah dalam keadaan siap." Tegur Mr.Kyle karena sikap Alva. "Maafkan saya, saya sedang kurang enak badan, saya kurang istirahat selama dua Minggu terakhir ini, terlalu banyak yang harus saya tangani sendiri." Sahut Alva menunjukkan rasa bersalahnya. Mereka pun akhirnya keluar dari ruangan itu dan melangkah ke arah masing-masing. Laura bersama Rey dan Mr.Kyle kembali naik ke atas, Alva dan Kartika keluar dari hotel itu.   "Kemana kita Tuan?" Tanya Kenzie. "Kembali ke kantor!" Sahut Alva. Kartika merasa bingung dengan sikap Alva yang mendadak badmood dan lebih memilih diam sepanjang perjalanan.  ****   "KAR.TI.KAAA!!!!" Teriak Alva dari dalam ruangannya, membuat sekretarisnya itu langsung berdiri dan berlari kecil menuju ruangan Alva. "Ada apa Mr. Salvastone?" Tanya Kartika dengan panik. "Jelaskan padaku! Mengapa kamu menyuruh semua wanita itu untuk pulang?!" Seru Alva kesal sangat kesal pada Kartika.   Sejak mereka kembali ke kantor ini hingga satu jam ini, sudah ada empat wanita berpakaian sexy yang datang bergantian untuk bertemu dengan Alva, dengan alasan Alva telah memesan mereka. Kartika berpikir bahwa bos nya sedang tidak enak badan karena kurang beristirahat selama dua Minggu ini, oleh karena itu Kartika meminta para wanita itu untuk pergi supaya tidak mengganggu istirahat Alva, karena Alva butuh fokus untuk pertemuan berikutnya dengan Mr. Alezo.   "Jelaskan padaku cepat!" Bentak Alva lagi karena Kartika tidak segera menjawab, dia sedang mengontrol dirinya supaya tidak panik. "Eh..ehm..itu karena anda tadi mengatakan bahwa anda kurang istirahat selama dua Minggu ini, jadi supaya anda bisa fokus lagi saat pertemuan dengan Mr.Alezo nanti, maka saya meminta mereka semua pergi, supaya anda memiliki waktu untuk beristirahat." Sahut Kartika memberikan penjelasan. "Apa kamu tahu bahwa aku sungguh sangat membutuhkan mereka untuk pelepasan segala ketegangan dalam diriku ini!" Ucap Alva. "Ah! Maafkan saya. Saya kira anda akan lebih kelelahan lagi jika diganggu mereka." Sahut Kartika menyesal. "CK! Sial! Dasar bodoh! Apa kamu tidak pernah merasakan nikmatnya mendapatkan pelepasan dalam s*x?! Hah?!" Seru Alva membentak Kartika sambil berdiri dari kursinya.   Kartika menjadi lebih panik dan gugup lagi saat ini melihat amarah Alva yang belum pernah dilihatnya selama dia bekerja di kantor ini. Alva berjalan keluar dari mejanya mendekati Kartika yang menundukkan kepalanya.   "Maafkan saya Mr. Salvastone..." Suara Kartika bergetar ketakutan. Kartika yang menunduk dapat melihat kaki Alva melangkah semakin mendekati dirinya dan itu membuat Kartika juga melangkah mundur. Selangkah demi selangkah Alva terus maju mendekat, dan selangkah demi selangkah juga Kartika terus mundur menjauh. Kartika berhenti melangkah karena punggungnya telah menempel pada dinding ruangan kerja Alva, namun tidak dengan langkah Alva yang masih saja maju dan akhirnya ujung sepatu mereka pun bertemu.   Crep! Kedua tangan Alva mengurung tubuh Kartika diantara dinding dengan tubuh kokohnya. "Mr. Sal..va..stone...a..pa yang anda lakukan?" Tanya Kartika bergetar dengan gugup sangat takut. "Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu Kartika! Kamu telah menyuruh para wanita itu pergi, maka kamu lah yang sekarang harus melakukan tugas mereka!" Sahut Alva dan seketika membuat Kartika mengangkat wajahnya menatap Alva tidak percaya. "Tidak! Kumohon jangan lakukan itu padaku! Tidak...jangan...kumohon padamu.." pinta Kartika dan air mata mulai mengalir di pipinya. "Kenapa?! Kenapa kamu selalu menolak ku Kartika?! Hah?! KENAPA?!" Bentak Alva dihadapan wajah Kartika sambil memukul tembok yang ada di samping kepala Kartika.    Kartika memejamkan matanya dan menciut ketakutan. "a.ku.tidak mengerti maksud anda." Kartika semakin menangis. "Apa kamu tahu Kartika?! Aku ini lebih kaya dari Rey! Mengapa kamu mau diajak pergi oleh Rey? sedangkan kamu justru menolak aku?! Hah?! KATAKAN MENGAPA KAMU MENOLAK PERGI DENGANKU TAPI JUSTRU SETUJU PERGI DENGAN REY?!!!" teriak Alva berseru dihadapan Kartika lagi. Kartika tidak mampu menjawab apapun, dia hanya menunduk dan terus menangis. "Katakan padaku, berapa tawaran yang Rey berikan padamu? Aku bisa membayarnya tiga kali lipat atau bahkan lebih! CEPAT KATAKAN PADAKU!!! BERAPA DIA MEMBAYARMU?!!!" teriak Alva lagi dan kali ini hati Kartika bagai disayat dengan pisau yang sangat tajam, menyakitkan, lebih dari rasa sakit sayatan pisau.   PLAK!!! Sebuah tamparan mengenai pipi Alva.   Mata keduanya kini bertemu dan saling menatap dengan tajam. Tatapan penuh luka ada dalam mata Kartika yang berkaca-kaca, sedangkan tatapan penuh amarah ada dalam mata Alva. "Jaga mulut anda Mr. Salvastone yang terhormat! Aku memang seorang janda, tapi aku bukan wanita yang bisa kamu rendahkan seperti ini! Aku setuju dengan Rey karena dia dengan tegas menyatakan dia tidak malu mengajakku bersama anak-anak, dia tidak pernah memikirkan citranya akan menjadi bahan gosip dan gunjingan orang banyak jika mengajakku sekaligus anak-anak! Dia tidak menyarankan untuk menitipkan anak-anakku pada orang lain! Paham?!" Ucap Kartika sambil menangis lalu mendorong tubuh Alva dan pergi keluar dari ruangan itu dengan berlari.   Alva merasa sangat frustasi, dia memukul tembok itu dengan tangannya hingga beberapa kali bahkan tembok itu terlihat retak bahkan ada bercak darah. Ya, tangan Alva mengepal dengan meneteskan darah. Entah apa yang terjadi dalam dirinya saat ini, dia begitu marah saat teringat Kartika yang tertawa bersama Rey, dia begitu sakit hati saat Kartika justru menerima ajakan Rey dan bukan dirinya. "Aku setuju dengan Rey karena dia dengan tegas menyatakan dia tidak malu mengajakku bersama anak-anak, dia tidak pernah memikirkan citranya akan menjadi bahan gosip dan gunjingan orang banyak jika mengajakku sekaligus anak-anak! Dia tidak menyarankan untuk menitipkan anak-anakku pada orang lain! Paham?!"  Ucapan Kartika kembali terlintas di otaknya.   Bugh! Sekali lagi Alva menghantam tembok itu.   "Sial! Aku juga tidak malu melakukan hal itu Kartika! Aku hanya belum siap dan tidak tahu akan menjawab apa pada pertanyaan para pencari gosip itu, karena aku sendiri masih belum pasti dengan dirimu, apakah kamu mau aku sebut kekasih? Apakah kamu bersedia jika aku mengatakan pada mereka bahwa kamu adalah calon istriku? Tidak! Kamu pasti akan marah padaku. Lalu apa yang harus aku jawab pada mereka saat melihat kita bersama anak-anak? Siapkah anak-anak dengan segala kamera dan beribu pertanyaan?" Ucap Alva pada dirinya sendiri sambil duduk di lantai.   Ini pertama kalinya Alva menjadi bodoh,  sangat bodoh berhadapan dengan seorang wanita. Pertama kalinya bagi Alva tidak mampu berbuat apapun pada seorang wanita. Bahkan saat dulu dirinya berjuang demi Michele dia tidak pengecut seperti saat ini.  ****   Dua jam berlalu dan waktunya pertemuan dengan Mr.Alezo. Alva masih terduduk diam di lantai pojok ruangannya sambil tertunduk. Tangannya yang berdarah masih dibiarkan begitu saja.   Ceklek. Seseorang masuk ke ruangan itu, dan terkejut melihat kondisi Alva yang sangat berantakan dan tangan yang berdarah. "Astaga!" Seru orang itu dan seketika membuat Alva terkejut sangat terkejut lalu menoleh. Alva melihat wanita itu berjalan cepat keluar dan masuk lagi dengan membawa kotak obat, lalu berjongkok di hadapannya dan meraih tangan Alva, membersihkan lalu mengobati luka itu juga membalutnya.  "Kartika..." Panggil Alva. Wanita itu menghela napas panjang saat selesai membalut luka Alva.   "Cepatlah bersiap, Mr. Alezo sudah menunggu di ruang pertemuan." Ucap Kartika dengan tenang. Alva tidak mengerti dengan wanita di hadapannya ini. Beberapa jam yang lalu wanita itu menangis dengan derasnya namun kini sudah menjadi tenang bagai tidak terjadi apapun diantara mereka. Kartika melangkah hendak pergi dari ruangan itu. Namun Alva segera meraih tangannya.   "Maafkan aku..." Ucap Alva sambil berdiri. Kartika menoleh dan tersenyum mengangguk. "Sudahlah, ini jam kantor. Kita harus profesional dan mengutamakan segala pekerjaan di atas segala masalah pribadi kita." Ucap Kartika. Alva pun tidak mampu lagi menahan dirinya, dia segera menarik tangan Kartika dan membawa Kartika dalam pelukannya. Kartika menahan tubuhnya dengan sebelah tangannya di d**a Alva. "Aku tidak peduli lagi dengan perjanjian sialan mu itu! Berapapun sangsi atas pelanggaranku maka aku siap membayarnya, asalkan aku bisa sebentar saja seperti ini. Aku sungguh butuh kekuatan yang kamu miliki Kartika. Entah wanita yang terbuat dari apa kamu ini, yang jelas aku sungguh tidak pernah melihat wanita yang memiliki kekuatan seperti dirimu." Bisik Alva lalu tenggelam di ceruk  leher Kartika. Kartika tersenyum dan akhirnya  membalas pelukan itu. Alva semakin erat memeluk tubuh Kartika. Mereka hanya diam dan memejamkan mata dalam pelukan itu. Entahlah apa makna dari pelukan itu, yang terlihat keduanya sama-sama merasa nyaman dalam pelukan itu. "Sepertinya Mr. Alezo sebentar lagi akan mendobrak ruangan ini dan mengakhiri kontrak kerja dengan perusahaan ini." Ucap Kartika mengingatkan bahwa mereka telah ditunggu oleh seseorang di ruangan lain. Alva pun segera melepaskan pelukannya pada tubuh Kartika. Dia menatap Kartika dan tersenyum. "Terima kasih, kamu tidak meninggalkanku begitu saja." Ucap Alva. "Bukankah kamu yang memaksaku berjanji seperti itu??? Ah! Sial! Ternyata kamu sudah lupa! Seharusnya kutinggalkan saja kamu sedari tadi!" Gerutu Kartika. Alva tersenyum semakin lebar lalu menangkup wajah Kartika dan mengecup puncak kepalanya. "Terima kasih." Ucap Alva lagi dan Kartika menganggukkan kepalanya tersenyum. Mereka lalu berjalan bersama meski tidak bergandengan tangan, karena  Kartika menolaknya dan Alva mampu menerima penolakan itu. Mereka menuju ke ruang pertemuan dimana Mr.Alezo telah menunggu. Keadaan Alva jauh lebih baik siang ini daripada pagi tadi. Pertemuan dengan Mr.Alezo berjalan dengan sangat baik dan memuaskan kedua pihak yang bekerjasama itu.   Dddrttt....ddrrrttt... Ponsel Alva berdering saat mereka baru keluar dari lift, menuju kembali ke ruangan mereka setelah mengantar kepergian Mr.Alezo. "Laura, ada apa?" ".....….." "Entahlah, mungkin aku akan memakai kemeja biru dan jas hitam saja." ".........." "Iya, terserah.." ".........." "Iya aku akan menjemputmu." ".........." "Iya, nanti aku sampaikan. Bye." Alva menatap Kartika yang ternyata sudah berjalan mendahuluinya dan sudah duduk di kursi kerjanya, kembali bekerja. Alva menghampiri meja kerja Kartika. Kartika menoleh dan tersenyum. "Laura titip salam untukmu. Ini pertama kalinya dia sangat menyukai sekretarisku." Ucap Alva tersenyum lebar. "Syukurlah, saya tidak tenang jika memiliki musuh. Sampaikan salam untuknya juga." Sahut Kartika dengan tersenyum. "Jadi.... nanti malam kamu akan tetap pergi bersama Rey???" Tanya Alva. Kartika hanya diam, menatap Alva lalu menghela napas panjang dan tersenyum. "Ini jam kerja Mr.Salvastone, jadi lebih baik anda kembali bekerja." Sahut Kartika dengan tersenyum tidak memberi jawaban atas pertanyaan Alva. "Hei! Disini aku yang menjadi bos nya!" Protes Alva dan Kartika hanya tertawa lebar sambil mengibas-kibaskan tangannya mengusir Alva supaya cepat masuk ke ruangannya sendiri. Alva pun masih menggerutu sambil berjalan ke ruangannya karena Kartika sudah mengacuhkannya dan kembali menghadap ke laptop.  ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN