TIDAK RELA

2909 Kata
Kartika menoleh ke arah pintu ruangan Alva yang barusaja tertutup, dia menghela napas panjang dan tersenyum. Namun Kartika terkejut saat akan kembali menoleh ke laptopnya. "Nona Shasa...selamat sore." Sapa Kartika mengangguk hormat. "sore. Kak Alva memintaku untuk datang kemari. Apakah dia sudah kembali?" Tanya Shasa. "Eh..i.iya... Mr. Salvastone ada di ruangannya." Sahut Kartika dan Shasa langsung melangkah meninggalkan meja Kartika tanpa berkata apapun. "Anak muda sekarang, apakah tidak mengenal kata terima kasih?!" Keluh Kartika lirih sendirian pada sikap Shasa barusan. Kartika melihat jam tangannya, dan segera membereskan segala pekerjaan dan mejanya untuk bersiap pulang. "Selamat sore Bu Kartika, ada kiriman paket untuk anda." Ucap seorang office boy dengan menyerahkan sebuah kotak berukuran besar dan berpita. "Untuk saya?" Tanya Kartika bingung. "Iya Bu." Sahut laki-laki muda itu. Kartika menerima kotak itu dan mengucapkan terima kasih padanya. Kartika menatap kotak itu dan membuka pitanya, sebuah gaun. Dia membaca kartu yang ada di dalamnya, meraih ponsel dan mengetikkan sebuah pesan lalu mengirimkannya pada nomor telepon  yang tertera di kartu itu. "Mr. Rey, anda tidak perlu repot-repot dengan gaun ini. Tapi bagaimanapun saya ucapkan terima kasih." (Kartika) "Akhirnya aku bisa mendapatkan nomor mu. Sampai nanti malam." (Rey) Kartika berdiri dan meraih tas nya juga kotak dari Mr. Rey, setelah selesai merapikan semuanya dia melangkah menuju lift. "Semoga dia tidak lupa waktu untuk ke konser amal petang nanti."  Batin Kartika menoleh ke arah pintu ruangan Alva sesaat sebelum masuk ke dalam lift. Lift mulai berjalan turun, begitu juga dengan pikiran Kartika.  "Apa sebenarnya yang ada di pikiran semua wanita itu??? Untuk yang hidup kekurangan ya mungkin itu jalan untuk meraih materi berlimpah, tapi untuk wanita seperti nona Shasa bukankah dia sudah berlimpah materi??? Jika untuk mengejar masa depan bersama Alva seharusnya dia sudah tahu bahwa dia tidak akan memiliki masa depan yang baik dengan Alva. Seorang player yang tidak puas dengan satu wanita. Bukankah hanya akan membuat hidupnya menderita???"  Pikiran Kartika tidak mampu mencerna mengapa para wanita itu selalu memberikan tubuhnya untuk dinikmati oleh Alva. **** Rey sedang mencoba membujuk Kartika di telepon, saat perjalanan Kartika pulang ke rumah setelah menjemput Kemal dan Samira dari tempat daycare. "Tidak! jangan! Jangan menjemput kami. Kami akan berangkat sendiri dengan taxi online. Kita akan bertemu di lokasi konser." "Ayolah, apa masalahnya jika aku menjemput kalian?" "Nanti akan saya jelaskan saat bertemu, yang jelas saya mohon anda tidak menjemput saya dan anak-anak di rumah. Jika anda memaksa, maka saya lebih baik membatalkan untuk pergi ke acara itu." "Ouh tidak! Tidak! Baiklah kita akan bertemu di lokasi konser. Aku akan menunggu kalian di pintu masuk, tapi kumohon.. datanglah." "Baik, terima kasih jika anda bisa mengerti. Kita bertemu disana." Panggilan itupun diakhiri. Kartika tidak berani mengambil resiko jika membuatnya diusir lagi dari rumah kontrakan yang baru. Dia sungguh harus lebih tegas menjaga dirinya dan anak-anaknya sekarang. **** Kartika sudah tiba di lokasi konser bersama anak-anak. Rey dan Laura sudah menunggu di pintu masuk dengan pengawalan ketat untuk menghindari para pencari berita itu. "Selamat malam Mr. Rey, nona Laura." Sapa Kartika saat bertemu mereka. "Hai, kamu cantik sekali malam ini. Terima kasih sudah mau memakai gaunnya.." Sahut Rey dan hendak mencium pipi Kartika namun Kartika memilih mundur menghindar, dan Rey hanya menerima dengan senyum. "Maaf, sebenarnya saya merasa sangat tidak nyaman dengan bagian punggungnya yang terbuka. Tapi...sungguh saya sangat berterima kasih." Ucap Kartika menghargai pemberian Rey. Rey sedikit terkejut dengan ucapan Kartika, karena menurutnya ini adalah gaun malam yang paling tertutup diantara semua pilihannya yang lain siang tadi. Namun Rey akhirnya tersenyum, memberi nilai tambah pada sosok Kartika yang mampu menghargai dirinya sendiri. Kartika lalu menoleh  pada Laura yang terlihat cemas dan terlihat sedang mencari seseorang yang pastinya Alva karena sepertinya pria itu belum tiba. "Kemal, Samira, ayo sapa Mr. Rey dan Nona Laura." Ucap Kartika teringat pada anak-anaknya. "Selamat malam Mr. Rey, selamat malam Nona Laura." Sapa Kemal dan Samira bersamaan sambil mengulurkan tangan mereka untuk bersalaman. Rey tersenyum menjabat tangan Kemal dan Samira, namun Laura tidak. "Dia tidak menyukai anak kecil." Bisik Rey pada Kartika. Kartika hanya tersenyum mengangguk. Kemal terlihat memeluk untuk menghibur adiknya yang sedikit sedih dengan sikap Laura yang acuh. "Apakah Mr. Salvastone belum tiba?" Tanya Kartika memastikan asumsinya benar. "Entah dimana dia, sejak tadi ponselnya tidak diangkat, padahal dia sudah berjanji untuk menjemput Laura, tapi hingga saat ini dia tidak bisa tersambung." Sahut Rey. "Ehm..tunggu sebentar.."ucap Kartika lalu berjalan sedikit menjauh seraya mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi nomor pribadi Alva yang hanya diketahui oleh sekretarisnya saja. "Ha..Lo...Kartika..." "Astaga Mr.Salvastone! Apa anda lupa dengan konser amal malam ini?!" "Aku sangat mengantuk, bisakah kamu bicara besok pagi saja?" "Kak Alva, ada apa?" Terdengar suara wanita bersama Alva di seberang sana dengan suara parau seolah baru bangun tidur. "Mr. Salvastone! jangan katakan anda sedang bersama nona Shasa dan melupakan Nona Laura Kyle yang menunggu kedatangan anda di konser amal saat ini! Sadarlah! Anda yang mengajak nona Laura ke acara ini! Apa anda ingin Mr. Kyle membatalkan kerjasama karena anda telah mengecewakan putrinya?!" "Astaga! Aku lupa! Aku segera kesana! Lakukanlah sesuatu selama aku dalam perjalanan kesana!" "Cepatlah datang! Karena saya tidak bisa berbuat banyak." "Iya, iya, aku mengerti!" "Kak Alva, ada apa?!" "Diamlah! Aku harus segera pergi!" "Tapi..kak Alva, aku belum makan malam..." "Kamu bukan bayi Shasa!" Kartika memilih memutuskan panggilan telepon itu saat mendengar mulai ada perdebatan di seberang telepon sana. Kartika kembali ke tempat Rey dan Laura berdiri bersama Kemal dan Samira. "Nona Laura, maafkan Mr.Salvastone sejak tadi harus menemani seorang kerabat jauhnya yang mendadak datang, tapi sekarang dia sudah dalam perjalanan kemari. Dia meminta kita untuk masuk terlebih dahulu karena tempat duduk kita bersebelahan." Ucap Kartika. Laura nampak tersenyum dan merasa lega. "Baiklah, ayo kita masuk dulu." Sahut Laura dan segera melangkah masuk. "Terima kasih, sudah menghibur adikku. Aku tahu pasti Alva sebenarnya sedang bersama jalangnya bukan?" Ucap Rey dengan lirih. Kartika hanya tersenyum canggung. "Sebaiknya kita segera masuk dan menemani nona Laura." Sahut Kartika dengan tersenyum sengaja mengalihkan pembicaraan. Merekapun masuk ke dalam, dan saat lagu kedua mulai dinyanyikan, Alva pun datang dan duduk di samping Laura. Laura segera tersenyum lebar dan bergelayut manja di lengan Alva. Alva sedikit melongok ke arah Kartika dan anak-anak yang ada di antara Laura dan Rey. Darahnya langsung mendidih karena Kartika berdandan cantik malam ini, dan duduk tepat di samping Rey, sedangkan anak-anak ada di sisi Kartika lainnya. "Sial! Kenapa dia harus berdandan secantik itu hanya untuk pergi bersama Rey?!" Batin Alva kesal. "Alva, ada apa?" Tegur Laura yang merasa Alva melongok ke sampingnya sedikit lama. "Ah! Tidak ada, hanya memperhatikan anak-anak di sebelahmu saja." Sahut Alva menutupi dari Laura. Alva beberapa kali mencuri lihat ke samping melalui belakang kepala Laura. Dia merasa perlu mengawasi kedekatan Kartika dengan Rey. Hal itu terus dilakukannya hingga acara penyerahan dana amal pun mulai dilakukan di sela-sela konser. "Baiklah, kini saatnya kita umumkan perolehan dana amal kita malam ini. Terima kasih kami ucapkan untuk perusahaan Giant Mountain yang telah menjadi donatur terbesar tahun ini. Kami juga ucapkan terima kasih pada perusahaan Alva Group yang telah berkenan menjadi sponsor utama untuk acara malam ini. Tentu saja kami juga ucapkan banyak  terima kasih pada para donatur lainnya atas segala kebaikan kalian. Saat ini kami mohon kesediaan Mr. Reynald Kyle untuk bisa naik ke atas panggung untuk penyerahan dana amal malam ini kepada ketua perwakilan dari korban bencana alam." Ucap seorang pembawa acara. Rey pun langsung berdiri dan berjalan menuju ke panggung, dan kembali duduk di samping Kartika saat telah selesai. "Dasar tukang pamer! Merasa lebih hebat dariku heh?!"  Batin Alva dengan sinis saat melihat wajah senang Rey ketika kembali duduk di samping Kartika. "Rey, maaf. Aku harus segera pulang. Anak-anak harus sekolah besok pagi." Bisik Kartika pada Rey di sampingnya. "Ouh kalau begitu biar aku mengantarkan kalian." Sahut Rey "Tidak! Jangan! Kami naik taxi online saja." Tolak Kartika. "Ada apa sebenarnya? Apakah kamu sebenarnya sudah memiliki seorang kekasih?" Tanya Rey. "Ouh tidak...jangan bercanda! Seorang janda dengan dua anak yang harus dibiayai, tidak akan ada pria yang mau menjadi kekasihku." Sahut Kartika terkekeh menertawakan statusnya sendiri. "Lalu mengapa kamu tidak mengijinkan aku menjemput bahkan mengantarkan kalian pulang?" Tanya Rey lagi. "Mr. Rey, kami baru saja pindah ke rumah kontrakan yang baru, sebelumnya kami diusir oleh warga di tempat lama karena mereka pikir saya adalah wanita simpanan Mr. Salvastone. Jadi saya mohon mengertilah, peristiwa pengusiran itu tidak mudah dihadapi oleh anak-anak saya." Sahut Kartika. "Baiklah, aku akan mengantarkan kalian hingga pintu keluar dan sampai taxi online kalian tiba. Berjanjilah untuk memberiku kabar saat sudah sampai di rumah." Ucap Rey lagi dan Kartika tersenyum mengangguk. Alva tidak mampu mendengar percakapan Kartika dan Rey, namun dia sangat tidak menyukai senyuman Kartika pada Rey itu, terlebih saat mereka mulai berdiri dan melangkah melewati depan tempat duduk Alva. Alva bisa melihat punggung Kartika yang ternyata sangat terbuka dengan gaun itu. "Sial! Setiap pergi denganku dia selalu menutup rapat seluruh tubuhnya! Tapi kenapa dia membuka sangat lebar punggungnya itu saat pergi bersama Rey?! Sial! Sial! Sial! Apakah dia menyukai Rey?!"  Geram Alva dengan kesal. "Laura, aku merasa sangat lelah dan tidak enak badan, bisakah kita juga pulang sekarang?" Usul Alva pada Laura. "Ehm..baiklah, kesehatanmu lebih penting dibanding acara ini. Aku akan menemanimu hingga tiba di rumahmu." Sahut Laura. Alva hanya mengangguk tersenyum, lalu keduanya berdiri dan mengikuti langkah Rey juga Kartika keluar dari ruangan itu. Saat di depan gedung, mereka telah dihadang oleh para pemburu berita. "Mr. Rey, siapakah wanita cantik disamping anda?" " Apakah dia kekasih anda?" " Siapa anak-anak itu?" "Apakah kekasih anda seorang janda beranak dua?" Berbagai pertanyaan terus memburu Rey. Kartika terlihat menunduk dan segera menggendong Samira juga menggandeng erat tangan Kemal. Anak-anak itu sangat ketakutan melihat kerumunan yang mengelilingi mereka. "Rey, taxi online ku ada di sebelah sana." Ucap Kartika menunjuk sebuah mobil. "Kita harus menerobos kerumunan paparazi ini, kemarilah biar kubantu menggendong Kemal. Kita harus berjalan cepat." Sahut Rey dan segera mengangkat Kemal, juga menggandeng tangan Kartika. Beberapa pengawal Rey  segera mengawal ketat mereka menerobos kerumunan itu hingga Kartika dan anak-anak masuk ke dalam mobil. Rey tersenyum menghadapi para paparazi itu. "Siapa dia Mr. Rey?" Semua bertanya hal yang sama. "Dia adalah wanita yang telah mengetuk pintu hatiku, namun untuk menjadi sepasang kekasih sepertinya aku butuh banyak bantuan, karena dia tidaklah mudah ditaklukkan. Bagaimana jika sekarang kalian bertanya pada pasangan yang baru keluar disana?" Sahut Rey dengan tenang dan menunjuk ke arah Alva yang barusaja keluar bersama Laura. Paparazi itu segera memburu Alva dalam sekejap. Rey tersenyum lebar, dirinya telah bebas dari serbuan paparazi. "Mr. Alva, apakah anda dan nona Laura kini menjadi sepasang kekasih?" "Mr. Alva, apakah nona Laura telah berhasil membuat anda mengakhiri petualangan anda?" "Apakah kalian akan meresmikan hubungan kalian ke jenjang berikutnya?" Banyak pertanyaan langsung menyerbu Alva dan Laura. "Kami selalu menjadi sahabat dekat sejak kecil, kami selalu cocok satu sama lain. Kami pasti akan menuju ke jenjang berikutnya, bisa juga bersama-sama namun dengan pasangan kami masing-masing tentunya." Sahut Alva terkekeh menjawab dengan santai. Laura tetap tersenyum demi menjaga citranya. "Nona Laura bagaimana dengan anda?" Tanya salah satu dari paparazi itu. "Dia selalu dalam pengejaran banyak wanita, aku tidak mau bersaing dengan mereka, karena sudah dapat dipastikan Alva pasti memilihku, jadi itulah mengapa kami selalu menjadi sahabat dekat, kasihan para wanita lainnya, pernikahan kami pasti akan membawa bencana bagi banyak wanita." Sahut Laura tersenyum lebar. Alva sedari tadi terus mencari keberadaan Kartika, namun sejak dia keluar dari pintu, dia sudah tidak melihat Kartika maupun anak-anaknya. "Dimana mereka? Kemana Rey membawa mereka pergi?! Sial!"  Pikiran Alva terus merutuk segalanya malam ini. "Alva, ayo kita segera pergi dari sini." Ajak Laura dan Alva setuju. Mereka segera menerobos kerumunan itu dengan pengawalan ketat juga. Laura masuk ke dalam mobil Alva diikuti oleh Alva. "Kenzie, apakah Rey sudah jauh?" Tanya Alva pada pengawal setia nya yang saat ini sedang menyetir. "Itu mobil Mr. Rey, dia barusaja masuk ke dalam mobilnya seorang diri." Sahut Kenzie menunjuk mobil yang tepat ada di depan mereka. "Apa maksudmu seorang diri? Bukankah dia keluar bersama Kartika dan anak-anaknya?" Tanya Alva bingung. "Saya tidak tahu Tuan, maaf, saya tidak melihat saat Bu Kartika dan anak-anaknya pergi meninggalkan gedung ini." Sahut Kenzie. "Ya sudahlah, tidak apa-apa. Kita antarkan Laura ke hotel saja, lalu kita kembali ke mansion saja." Ucap Alva. "Tapi Alva..aku ingin mengantarmu pulang. Jadi tidak perlu mengantarku ke hotel. Kamu sedang tidak enak badan, aku tidak mungkin membiarkanmu pulang sendirian." Protes Laura. "Laura, kamu seorang wanita, tidak baik mengantarkan seorang pria pulang. Lagipula aku tidak pulang sendirian, ada Kenzie yang menyetir juga dua mobil lainnya yang berisi para pengawalku. Kamu tenang saja, aku pasti baik-baik saja." Ucap Alva dan Laura mulai memasang wajah kecewa dan cemberut. "Jangan seperti gadis kecil, aku tidak akan peduli jika kamu merajuk seperti biasanya. Aku sungguh sedang tidak enak badan." Ucap Alva lagi, Laura hanya diam dan cemberut. Alva menghela napas panjang, bersabar. "Sudahlah jangan merajuk terus, biarkan malam ini aku beristirahat, besok jika aku sudah membaik, aku akan menemanimu keliling kota Jakarta sehari penuh." Bujuk Alva dan Laura akhirnya tersenyum lebar juga mengecup pipi Alva. **** "Kenzie, kita ke apartment saja!" Perintah Alva setelah pergi dari hotel tempat Laura menginap. "Baik Tuan." Sahut Kenzie. Alva mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik pesan. "Dimana kamu?" (Alva) Kling.  Sebuah pesan masuk ke ponsel Alva. "Di rumah, barusaja tiba." (Kartika) "Di rumah siapa?" (Alva) "Di rumah kontrakan saya Mr. Salvastone, apakah ada rumah lain yang saya punya?" (Kartika) "Saya kesana sekarang." (Alva) "Astaga! Jangan! Apa anda ingin kami diusir lagi dari daerah yang sekarang?" (Kartika) "Aku merindukan anak-anak." (Alva) "Mereka sedang bersiap untuk tidur, ini sudah mulai larut malam, besok mereka harus sekolah." (Kartika) "Aku hanya akan video call sebentar, kumohon." (Alva) Tidak ada jawaban lagi dari Kartika atas pesan Alva yang terakhir. Alva merasa semakin gelisah, dia harus menyakinkan dirinya bahwa Kartika tidaklah menginap dengan Rey malam ini. "Kenzie, kita ke rumah kontrakan Kartika sekarang." Perintah Alva. "Baik Tuan." Sahut Kenzie, menghela napas panjang, hanya bisa bersabar, tidak membantah ucapan Alva, padahal 1 km lagi mereka sudah tiba di apartment, namun sekarang harus berputar arah untuk menuju ke rumah kontrakan Kartika. Ddrrrttt......dddrrrtttt... Ponsel Alva berbunyi, sebuah panggilan video dari Kartika masuk. Alva tersenyum lebar. "Hai uncle Alva..." Seru Kemal dan Samira bersamaan, dengan posisi berbaring di tempat tidur. "Hai....uncle sangat merindukan kalian, mengapa lama sekali menghubungiku?"  Protes Alva "Kami barusaja selesai membersihkan diri, dan mempersiapkan buku untuk sekolah besok." Jawab Kemal. "Apa kalian merindukanku?"  Tanya Alva. "Tentu saja, tapi menurut mami beberapa hari ini uncle sangat sibuk dengan pekerjaan." Sahut Kemal. "Dimana mami kalian?" Tanya Alva karena sedari tadi dia tidak melihat Kartika ikut dalam video itu. "Mami sedang berganti pakaian, itu.." "Kemal! Apa yang kamu lakukan?! Matikan ponselnya!" Alva tertawa karena Kemal dengan polosnya menghadapkan kamera ponsel ke arah Kartika yang sedang berganti pakaian dalam posisi hanya mengenakan celana dalamnya saja. Spontan Kartika segera merunduk bersembunyi di balik tempat tidur dan menarik selimut yang ada diatasnya. Panggilan video itupun segera dimatikan oleh Kemal, Alva masih tertawa sendiri. "Kasihan dia....mami nya pasti akan memarahinya dengan galak." Ucap Alva sambil tertawa sendiri, membayangkan nasib Kemal. Bayangan itu lalu berubah menjadi ingatan akan tubuh polos Kartika yang sempat terlihat beberapa detik oleh Alva. Junior alva berkedut saat tubuh polos Kartika itu terlihat nyata di kamera ponsel tadi. "Tubuhnya terlihat sangat dirawat dengan baik. Putih, mulus dan bersih. Gila! Aku sungguh ingin menyentuhnya." Pikiran Alva kembali menggila, juniornya bahkan mulai mengeras di balik celananya. "Kenzie, sebaiknya kita kembali ke apartment saja, anak-anak sudah bersiap tidur, kasihan mereka jika kita datang mengganggu."  Perintah Alva. Kenzie kembali menghela napas panjang, bersabar kesekian kalinya, karena posisi mobil mereka kini sudah hampir masuk ke perumahan dimana rumah kontrakan Kartika berada. Kenzie kembali berputar arah, menuju kembali ke apartment Alva. Kenzie memang sedikit kesal, namun dia ikut bahagia melihat bos nya sudah dalam keadaan lebih baik saat ini. **** Pagi hari "Selamat pagi Kartika." Sapa Melani yang saat ini berkunjung ke meja kerja Kartika sambil menyerahkan beberapa laporan untuk Mr. Salvastone. "Hai, selamat pagi Melani." Sahut Kartika tersenyum. "Aku titip ini ya, untuk diperiksa oleh Mr.Salvastone." ucap Melani. "Baiklah, nanti aku sampaikan." Sahut Kartika. "Eh, bagaimana menurutmu rasanya junior Mr.Salvastone?" Tanya Melani secara vulgar. "Aduh! Mana aku tahu?!" Sahut Kartika "HAH?! APA?! KAMU TIDAK TAHU?!" tanya Melani terkejut hingga berseru. "Kenapa?! Memang aku tidak pernah melihatnya!" Sahut Kartika lagi dengan sewot. "Kamu tidak pernah melihatnya??? Pantas saja aku tidak melihatmu mendapatkan fasilitas mewah apapun darinya." Ucap Melani. "Aku sudah mendapat fasilitas fashion yang mewah Melani, apa kamu lupa itu?" Sahut Kartika. "Astaga! Itu sih fasilitas murah bagi seorang sekretaris! Setiap sekretaris Mr. Salvastone selalu mendapat mobil mewah terbaru dan apartment atau rumah, bahkan kartu kredit dengan limit yang sangat besar." Ucap Melani berceloteh. "Sudahlah, tidak perlu dibahas. Aku sudah bersyukur punya pekerjaan dengan gaji dan bonus yang cukup besar untuk membiayai kedua anakku dan aku." Sahut Kartika. "Jangan-jangan kamu memang bukan selera Mr.Salvastone ya??? Kasihan kamu Kartika, jadi tidak bisa menikmati fasilitas mewah deh.." ucap Melani dengan wajah memelas. "Astaga Melani! Aku justru bersyukur karena itu tandanya aku bisa bekerja dengan aman." Sahut Kartika. "iiisshhhhh...kamu ini dasar wanita jaman purbakala! Pikiranmu kuno sekali!" Ucap Melani mencibir pola pikir Kartika "Iya deh...terserah...yang penting aku kerja dengan aman." Sahut Kartika tidak peduli. "Eh! Apa jangan-jangan gosip di media itu benar ya?! Kamu itu kekasih dari Mr.Reynald Kyle?! Makanya kamu tidak tersentuh oleh Mr.Salvastone." ucap Melani lagi. "Astaga Melani! Pagi-pagi sudah bergosip! Cepat kembali ke ruanganmu sana!" Sahut Kartika mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan Melani. "Aaahhh...ternyata benar kamu adalah kekasih Mr. Rey...waaahhh....tidak kusangka kamu pintar juga memilih kekasih. Selamat ya...." Ucap Melani dengan senyuman lebar, tanpa sadar bahwa Alva telah berjalan keluar dari lift mendekati meja Kartika. "Selamat untuk apa?! Apakah Kartika menang undian?" Tegur Alva pada Melani dan berdiri di samping Melani. "Selamat pagi Mr.Salvastone." sapa Kartika sambil berdiri dari kursinya. "Eh, selamat pagi Mr.Salvastone. ehm.... Itu selamat karena Kartika telah menjadi kekasih Mr. Rey." Sahut Melani dengan canggung karena ketahuan bergosip. "Eh! Tidak! Tidak! Bukan seperti itu! Saya bukan kekasih Mr. Rey! Dasar tukang gosip! Sana kembali ke ruanganmu!" Bantah Kartika dan segera mengusir Melani dari tempatnya. Alva segera menatap tajam pada Kartika. Darahnya kembali mendidih dan otaknya langsung memanas mendengar ucapan Melani. "Melani! Kembali ke ruanganmu! Hentikan kebiasaan mu bergosip atau aku akan memecatmu! Kartika, segera ke ruanganku! Aku butuh jadwalku hari ini!" Ucap Alva lalu segera melangkah ke ruang kerjanya. Melani segera pergi dari sana, Kartika menghela napas berat sambil menyiapkan catatannya juga pena dan berkas yang tadi Melani titipkan. "KAR.TI.KAAA!!! CEPAT KEMARI!!!!" teriak Alva dari dalam ruangannya. "Astaga! Apa yang terjadi padanya pagi ini? Perasaan aku tidak mengusir wanita panggilannya lagi? Kenapa dia teriak marah-marah seperti itu?! Apa dia salah makan atau salah posisi tidur ya?!" Gerutu Kartika sambil buru-buru melangkah. "KAR.TI.KAAAAAAAAA!!!" teriakan itu lebih menggelegar lagi saat Kartika sudah mendorong buka pintu ruangan Alva. "Saya sudah disini Mr.Salvastone." sahut Kartika melangkah masuk dan berdiri di tengah ruangan setelah meletakkan berkas Melani di atas meja Alva. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN