Alva menatap Kartika dengan diam, tidak peduli dengan berkas yang Kartika letakkan di mejanya.
"Apa benar kamu sudah menjadi kekasih Rey?" Tanya Alva menjaga wibawanya, mengontrol emosinya.
"Astaga! Tidak! Semua itu hanya gosip! Lagipula Mr. Rey tidak akan selera dengan janda beranak dua seperti saya. Pertanyaan yang sungguh tidak masuk akal! Seharusnya anda sudah bisa mengerti bagaimana Mr. Rey dan seleranya bukan?!" Sahut Kartika sedikit kesal.
"Justru karena aku sangat mengenal Rey! Melihat perlakuannya padamu semalam, itu sangat menunjukkan bahwa Rey tertarik padamu." Ucap Alva.
"Ouh benarkah seperti itu?! Saya rasa tidak ada perhatian khusus yang diberikan pada saya, semuanya masih sangat wajar, sewajar-wajarnya! Bahkan saya cenderung berpikiran bahwa dia hanya sekedar kasihan saja pada nasib seorang janda dengan anak-anaknya, tidak lebih." Sahut Kartika membantah.
Hening ruangan itu, Kartika menunduk dan Alva terus menatapnya. Akhirnya Alva menghela napas panjang dan besar lalu meraih berkas dihadapannya dan memeriksanya juga menandatangani.
"Apa jadwalku hari ini?" Tanya Alva mengganti topik pembicaraan.
"Hari ini anda tidak ada jadwal pertemuan bisnis, hanya janji menemani nona Laura sepanjang hari berkeliling kota." Sahut Kartika dan Alva terkejut.
"Darimana kamu bisa membuat jadwal seperti itu?!" Tanya Alva bingung.
Kartika lalu mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman suara.
Sudahlah jangan merajuk terus, biarkan malam ini aku beristirahat, besok jika aku sudah membaik, aku akan menemanimu keliling kota Jakarta sehari penuh."
"Semalam nona Laura yang mengirimkannya padaku dengan catatan saya harus mengingatkan anda jika anda sudah sampai di kantor." Sahut Kartika.
Alva mengusap wajahnya kasar dan menghela napas panjang.
"Tolong katakan padanya bahwa aku tidak masuk kantor hari ini. Aku sungguh sedang tidak ingin diganggu. Aku butuh ruang untuk menyendiri." Pesan Alva
"Apakah anda akan memanggil seorang wanita untuk menghilangkan ketegangan anda hari ini?" Tanya Kartika
"Apa kamu sedang menyindirku?" Tanya Alva sedikit tersinggung dengan pertanyaan Kartika.
"Maaf, bukan seperti itu maksud saya. Saya hanya takut membuat kesalahan seperti waktu itu." Sahut Kartika sambil menoleh ke arah tembok ruangan Alva yang retak karena hantaman Alva waktu itu dan belum diperbaiki hingga sekarang. Alva mengikuti arah pandangan Kartika dan mengerti maksud Kartika.
"Tidak, hari ini aku sungguh butuh ruang sendiri." Ucap Alva
"Baiklah, saya akan selalu ada di meja saya jika anda membutuhkan sesuatu." Sahut Kartika lalu melangkah mendekat ke meja untuk mengambil kembali berkas yang sudah ditandatangani oleh Alva.
"Bagaimana jika aku membutuhkan wanita untuk melepaskan ketegangan diriku? Apa kamu juga akan membantuku melepaskannya?" Tanya Alva sengaja menggoda Kartika dengan seringai penuh kemesuman.
"Saya akan membantu anda." Sahut Kartika tenang dan Alva segera berbinar senang.
"Sungguh???" Tanya Alva tidak percaya.
"Iya, saya akan membantu anda, dengan memanggil nona Laura untuk datang kemari, atau mungkin nona Shasa sekaligus???" Sahut Kartika menahan tawanya dan Alva langsung menggeram kesal karena Kartika mengerjai dirinya.
"Sudahlah! Aku sungguh ingin sendiri!" Ucap Alva kesal dan Kartika tersenyum lebar.
Entah ada apa dengan senyuman itu, namun mampu memberi kehangatan di hati Alva, membuat rasa kesalnya seketika menguap hilang bagai uap yang bercampur udara. Alva pun ikut tersenyum.
"Kartika, kapan aku bisa mengajak anak-anak untuk pergi bersama lagi?" Tanya Alva.
"Maaf, saya belum bisa mengijinkannya, entah sampai kapan. Saya masih takut akan kejadian pengusiran waktu lalu, ditambah lagi beberapa hari ini ada seseorang yang sepertinya terus mengawasi rumah saya. Seorang pria dengan menggunakan motor selalu berhenti di dekat sekitar rumah saya dan mengawasi rumah saya sambil membawa kamera. Saya takut dia adalah penyebar foto yang sama dengan waktu lalu." Sahut Kartika.
"Seharusnya Niki tidak akan berani melakukan hal bodoh itu lagi setelah kutarik segala fasilitasnya." Batin Alva.
"Apa kamu yakin orang itu mengawasi rumahmu?" Tanya Alva langsung cemas, Kartika mengangguk.
"Dia selalu ada saat saya pulang dari kantor bersama anak-anak dan selalu pergi lalu akan datang lagi, hingga beberapa kali hingga larut malam seolah berkeliling mengawasi kegiatan di rumah saya." Sahut Kartika.
"Apa kamu sudah mencoba melapor pada ketua RT setempat? Atau bertanya pada penjaga di pos keamanan depan perumahan?" Tanya Alva lagi
"Tidak, saya belum melakukannya. Sebenarnya saya hanya mencemaskan anak-anak. Saya tidak berani meninggalkan mereka di rumah hanya berdua, meski hanya untuk keluar sebentar sekedar membeli sesuatu. Semoga Tuhan selalu melindungi kami." Sahut Kartika dengan tangan menghadap ke atas memanjatkan doanya.
"Kartika, apa kamu mau pindah ke salah satu apartemen milikku? Letaknya tidak jauh dari kantor dan daycare anak-anak, juga keamanannya sangat terjamin." Tanya Alva dengan halus takut menyinggung Kartika.
"Tidak, terima kasih. Saya tidak mau semua karyawan di kantor ini berpikiran bahwa saya sudah tidur dengan anda, sehingga saya mendapat hadiah sebuah apartment." Sahut Kartika juga menolak dengan sopan.
"Sial! Kebiasaan buruk ku ternyata membuatku susah sendiri sekarang!bahkan hanya menawarkan sedikit bantuan kecil saja tidak diterima!" Batin Alva merutuk dirinya sendiri.
"Kartika, duduklah. Apa kamu tidak pegal terus berdiri sedari tadi?" Tanya Alva, karena kebiasaan Kartika tidak mau duduk jika di dalam ruangan Alva.
"Tidak apa, terima kasih, sebaiknya saya kembali ke meja saya, tidak baik jika saya terlalu lama di dalam sini. Mereka akan bergosip lebih gila lagi. Permisi, selamat beristirahat Mr. Salvastone." Sahut Kartika lalu berbalik dan melangkah keluar.
Alva menghela napas berat, sungguh menyesali kebiasaan buruknya yang selalu bermain s*x dengan setiap sekretarisnya di masa lalu. Alva meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Kenzie, tolong kirimkan beberapa orang untuk memasang kamera CCTV di rumah kontrakan Kartika tanpa sepengetahuannya, dan hubungkan langsung ke ponselku."
"Baik Tuan."
"Satu lagi, kirimkan seseorang untuk selalu mengawasi dan menjaga Kartika juga anak-anak dari jarak yang tidak mengganggu aktivitas mereka, dan tangkap orang yang terus mengawasi Kartika beberapa hari ini."
"Apa?! Ada seseorang yang terus mengawasi ibu Kartika dan anak-anak?!"
"Iya, entah apa maksudnya dan siapa yang menyuruhnya, aku ingin orang itu cepat diamankan dan bawa padaku secepatnya!"
"Baik Tuan, saya segera lakukan."
"Terima kasih Kenzie, kamu selalu bisa kuandalkan."
Panggilan itupun selesai.
Alva mengusap kasar wajahnya dan memejamkan matanya. Bayangan tubuh polos Kartika kembali melintasi pikirannya, membuat Alva tersenyum dan menikmatinya, bagai rekaman video yang sengaja di review berkali-kali, membuat kedutan pada juniornya dan mengeraskannya. Alva sungguh tidak tahan lagi, dia mengunci ruangannya, lalu membuka laptopnya dan memutar video porn koleksinya, kali ini Alva memutar sebuah video yang hanya menampilkan seorang wanita yang meliuk-liuk sensual hanya menggunakan lingerie transparan sedang memainkan sebuah dildo di tangannya. Wanita itu menjilati dildo itu, mengulumnya dan menikmatinya seolah itu adalah junior inti seorang pria. Alva membuka celananya dan menurunkannya, mengeluarkan juniornya yang telah mengeras, dan mengusapnya lembut, membayangkan wanita itu seolah Kartika yang sedang menikmati juniornya saat ini. Alva memainkan juniornya sendiri.
Aaahhhhhh....
Sshhhhh....
Euuughhh...Kartika....
Ooouuuhhhh...
Yeeaahhh....ssshhhh......
Alva semakin cepat mengocok juniornya sendiri, tanpa menunggu lama dia segera meraih sebuah kondom dari laci kerjanya dan memakainya supaya cairannya tidak mengotori karpet lantai ruangan. Alva kembali mengocoknya dan semakin menambah tempo kecepatannya hingga akhirnya dia meraih puncaknya.
AAAAAAAHHHHHHHHH.......
Ssssshhhh....ooouuuhhhh...
Ssssshhhh...eeuugghhh...
"Gila! Sangat tidak nikmat! Tapi aku sungguh tidak tahan hanya dengan memikirkan bayangan tubuhnya, padahal yang terlihat hanya beberapa detik saja." Ucap Alva lemas sambil melepas kondom dan memakai kembali celananya. Alva segera membuang kondom itu ke tempat sampah.
****
Siang hari
Dddrttt....Ddrrrttt.....
Ponsel Kartika berbunyi. Yani memanggil.
Kartika sedikit ragu untuk menerima panggilan itu, sudah beberapa kali Yani mencoba menghubunginya namun Kartika memilih tidak menerimanya sejak pertemuan dengan kak Raja di Manado. Namun Kartika merasa sedikit gelisah dan merasa bersalah, kali ini Yani menghubunginya tanpa henti, sudah lebih dari 10 kali Yani mencoba menghubunginya.
"Halo"
"Astaga Tika! Kamu kemana saja?! Sekarang kamu tinggal dimana? Mengapa tidak memberitahuku jika kamu pindah kontrakan?!"
"Yani, maafkan aku. Ceritanya sangat panjang. Sebaiknya kita bertemu saat makan siang nanti. Apa kamu ada perlu mendesak dan harus membicarakannya sekarang?"
"Iya! Kita harus bertemu! Aku dan kak Raja sangat mengkhawatirkan kalian! Tidak masalah, makan siang nanti temui aku di resto biasa."
"Baiklah, sampai ketemu makan siang nanti."
"Oke! Jangan sampai tidak datang ya!"
"Iya, aku pasti datang. Bye"
"Bye.."
Panggilan telepon itu berakhir dengan Kartika menghela napas panjang.
Kartika terus menghindari Yani dan kak Raja dengan sengaja, karena dia tidak tahu bagaimana harus bersikap saat harus bertemu kak Raja tetapi dengan menyembunyikan kebenaran yang ada dari Yani. Kartika melihat ke pintu ruangan Alva yang tertutup dan terkunci itu. Kartika menghela napas panjang dan berat. Sengaja atau tidak, disadari atau tidak, Kartika sedikit mulai bergantung pada Alva untuk tempat bertukar pikiran. Secara langsung ataupun tidak langsung yang pasti Alva selalu mengetahui segala masalah yang dihadapi oleh Kartika. Diinginkan atau tidak, Alva sudah selalu hadir dalam masalah di hidup Kartika.
"Sebaiknya aku pergi saja, dia pasti sedang istirahat, lagipula hanya keluar makan siang bersama Yani, tidak akan lama." Pikir Kartika lalu berkemas dan melangkah pergi meninggalkan kantor untuk bertemu dengan Yani.
****
"Tika!" Seru Yani melambaikan tangan dari ujung resto ini.
Kartika tersenyum, sesaat ragu untuk melangkah karena dia melihat Yani sudah duduk bersama suaminya, kak Raja. Kartika menghela napas panjang, mencoba menguasai dirinya, dan tersenyum melangkah menghampiri meja Yani. Yani berdiri dan memeluk Kartika.
"Astaga, aku sungguh merindukan dirimu. Jahat sekali! Tidak memberiku kabar tentang kepindahan kalian!" Ucap Yani memprotes Kartika.
"Maafkan aku, sungguh semuanya berlangsung dengan sangat cepat dan harus seperti ini." Sahut Kartika.
Kak Raja berdiri membentangkan tangannya seperti biasa hendak memeluk Kartika setiap bertemu, seperti kakak adik, tepatnya seperti tidak terjadi apapun yang buruk. Kartika dengan canggung menerima pelukan persaudaraan itu. Yani tersenyum melihat keduanya sangat bersahabat.
"Ayo pesan makan dulu, setelah itu kamu harus bercerita." Ucap Yani dan semuanya setuju. Mereka pun memesan makanan masing-masing.
"Jadi, sekarang bercerita lah!" Pinta Yani.
"Yani, ceritanya begitu panjang, aku bingung harus mulai darimana?!" Sahut Kartika.
"Baiklah, sekarang ceritakan mengapa kamu bisa ada di Manado? Dan bertemu dengan kak Raja." Tanya Yani dan Kartika seketika wajahnya terkejut menatap Yani dan kak Raja bergantian.
"Hei! Ada apa?!" Tanya Yani bingung
"Eh! Tidak apa. Saat itu mendadak Mr.Salvastone harus didampingi untuk pertemuan klien di Manado. Dia sangat membutuhkan sekretarisnya untuk mengatur segala keperluan berkas pertemuan itu. Aku sebenarnya sudah menolak karena tidak ada yang bisa menjaga anak-anak jika aku pergi ke Manado. Lalu Mr.Salvastone memberikan ijin untuk membawa anak-anak juga. Ya seperti itulah." Sahut Kartika seperlunya.
"Sayang sekali ya saat itu aku ada di Surabaya, coba aku bisa ikut kak Raja ke Manado, pasti kita bisa pergi berlibur bersama saat waktu senggang." Ucap Yani.
Kak Raja terus menatap ke arah Kartika, membuat Kartika sangat canggung.
"Padahal disini dialah yang bersalah, mengapa dia jadi seperti mengintimidasi diriku?"
Batin Kartika kesal dan menghela napas besar.
"Tika, kamu baik-baik saja?" Tanya Yani sedikit bingung dengan sikap Kartika yang tidak seperti biasanya.
"Ah! Iya. Aku baik-baik saja." Sahut Kartika. Makanan dan minuman mereka telah disajikan dihadapan mereka.
"Lalu mengapa kalian bisa pindah rumah kontrakan?" Tanya Yani
"Itu..aku.."
Ddrrrttt...dddrrrttt...
Ponsel Kartika berbunyi. Salvastone memanggil.
"Maaf, Mr. Salvastone menghubungiku." Ucap Kartika lalu berdiri dan sedikit menjauh dari meja mereka.
"Halo"
"Dimana kamu?"
"Saya sedang keluar makan siang."
"Kenapa kamu meninggalkan aku tanpa pesan?!"
"Eh. Maaf. Saya pikir anda sedang ingin istirahat."
"Dimana kamu sekarang?! Makan siang bersama siapa?! Aku akan menyusul kesana!"
"Eh. Saya hanya makan siang bersama Yani dan kak Raja, sebentar lagi juga akan kembali ke kantor."
"Katakan dimana kamu?!"
"Di resto bebek yang dekat kantor."
"Tunggu disana! Jangan pergi sebelum aku datang! Aku juga lapar."
Panggilan itu diputuskan sepihak oleh Alva sebelum Kartika sempat membantah lagi. Kartika hanya menghela napas besar.
Kartika berbalik badan hendak melangkah kembali ke meja mereka. Kartika menghentikan kakinya, terkejut saat melihat kemesraan Yani dan kak Raja. Mereka sedang saling menyuapkan makanan dan kak Raja mengusap bibir Yani yang terkena bumbu lalu mereka tertawa bersama, kak Raja juga mencium tangan Yani dengan lembut. Kartika terkejut Bukan karena cemburu tapi lebih ke rasa muak.
"Siapa pribadi kak Raja ini yang sesungguhnya???" Batin Kartika tidak mampu mencerna pribadi kak Raja
"Tika! Kenapa?!" Seru Yani saat melihat Kartika hanya berdiri diam memandangi mereka. Kartika melangkahkan kakinya lagi kembali ke meja.
"Ada apa?" Tanya Yani.
"Ah! Tidak ada masalah, Mr.Salvastone akan menyusul kemari." Sahut Kartika kembali duduk di kursinya.
"Sepertinya bos mu itu menyukaimu." Ucap kak Raja.
"Tutup mulutmu kak Raja! Jangan bicara sembarangan!" Sahut Kartika langsung kesal dan sinis.
"Tika, aku ini lelaki! Aku bisa membaca gerak dan bahasa lelaki jika sedang menyukai seseorang." Ucap kak Raja, semakin membuat Kartika memanas.
"Lelaki sejati hanya bisa menyukai seorang wanita! Mungkin itu yang kurang kak Raja pahami!" Sahut Kartika sinis.
"Tika??? Ada apa???" Tanya Yani bingung karena tidak biasanya Kartika dan kak Raja berinteraksi bagai musuh.
"Ah, tidak! Maksudku Mr. Salvastone. Dia terlalu menyukai banyak wanita." Sahut Kartika berkelit.
"Jadi maksudmu diantara lelaki yang ada disini, aku lah yang bukan lelaki sejati?" Tanya Alva mengejutkan semua yang ada disana.
Yani dan kak Raja menoleh menatap Alva, sedangkan Kartika tidak berani menatap ke arah Alva.
"Mati aku!" Rutuk Kartika sambil menyembunyikan wajahnya menunduk ke meja.
Alva dengan santai mengulurkan tangannya pada Yani dan Raja.
"Hai, aku Salvastone." Sapa Alva dengan santai seolah bukan seorang triliuner yang adalah bos Kartika.
Yani sempat melongo melihat sikap Alva. Raja sedikit canggung terhadap Alva.
"Eh, saya Yani, ini suami saya Raja." Sahut Yani pada Alva dan mereka pun berjabat tangan berkenalan.
"Boleh aku bergabung?" Tanya Alva
"Eh, iya, silahkan." Sahut Yani mempersilahkan dan Alva pun duduk di samping Kartika yang belum berani menoleh pada Alva. Kartika memilih untuk sibuk dengan makanannya dan tidak peduli.
Alva dengan sengaja mengambil garpu dan mencuri sedikit potongan daging dari piring Kartika lalu menyantapnya. Kartika akhirnya menoleh menatap Alva dengan melebarkan matanya.
"Mr. Salvastone! Anda sungguh tidak sopan! Anda bisa memesan sendiri makanan untuk diri anda!" Omel Kartika kesal.
Yani dan Raja terkejut dengan interaksi kedua orang dihadapan mereka itu. Kartika terlalu bersikap berani terhadap bosnya itu.
"Makanan disini lumayan enak, tapi apa kalian tahu ada resto yang menyajikan bebek lebih enak dari tempat ini?! Bagaimana jika malam nanti aku mengundang kalian untuk makan malam? Kita makan malam bersama di resto bebek pinggir sungai." Usul Alva pada Yani dan Raja.
Yani dan Raja menatap pada Kartika yang sedang memberi kode dengan gelengan kepalanya supaya Yani menolak ajakan itu.
"Kartika, bukankah kamu sangat mengerti bahwa aku tidak suka penolakan? Apakah kamu ingin kehilangan pekerjaanmu saat ini?" Alva sengaja menyudutkan posisi Kartika.
"Eh, jangan!jangan! baiklah, kami akan datang petang nanti." Sahut Yani dengan cepat, takut jika Kartika sampai kehilangan pekerjaannya. Alva pun tersenyum lebar.
"Teman mu sungguh mengerti bagaimana harus bersikap terhadapku, dibandingkan dirimu sekretarisku." Sindir Alva tersenyum menang pada Kartika.
Kartika hanya bisa menunduk lemas dan menghela napas berat.
Acara makan siang pun selesai saat Yani harus kembali ke kantor karena waktu istirahatnya telah habis, begitu juga dengan Kartika. Mereka melangkah keluar resto itu bersamaan.
"Baiklah, sampai bertemu petang nanti." Pamit Yani.
"Ah iya! Raja, aku lupa memberitahumu, Robert selalu menghubungiku selama beberapa Minggu ini, mungkin kamu bisa mengingatkannya untuk berhenti karena itu sangat menggangguku." Ucap Alva dan wajah Raja seketika berubah menjadi tidak bisa ditebak, canggung marah kesal entah ekspresi apa itu.
"Robert??? Siapa dia???" Tanya Yani.
"Ehm baiklah nanti aku sampaikan, Kartika bisa kita bicara berdua?" Sahut Raja lalu bertanya pada Kartika. Ketiganya tidak ada yang menjawab pertanyaan Yani.
Raja melangkah menjauh dari semuanya, Yani memasang wajah bingung penuh pertanyaan, Kartika pun akhirnya hanya bisa mengikuti langkah Raja, hanya Alva yang tetap bersikap tenang disini.
"Tika, bagaimana bos mu itu bisa mengetahui nama kekasihku?" Tanya Raja.
"Kekasihmu? Rasanya sangat menjijikkan saat kak Raja menyebut pria itu kekasih! Bukankah kak Raja tadi mengatakan bahwa kak Raja seorang lelaki?! Mengapa bisa menyebut lelaki lain sebagai kekasih?!" Sahut Kartika sinis.
"Tika, kumohon. Kita sudah sepakat tidak menyinggung hal ini sedikitpun di hadapan Yani. Ingatkan itu juga pada bosmu!" Ucap Raja.
"Sebaiknya kak Raja yang mengingatkan Robert untuk tidak mengganggu bosku! Kak Raja bahkan bisa meninggalkan pria tidak setia itu dan seutuhnya hidup bersama Yani!" Sahut Kartika ketus.
"Tika, aku sudah jelaskan padamu segalanya. Aku tahu dia bukan kekasih setia, tapi aku tidak pernah bisa meninggalkannya. Aku membutuhkannya Tika." Ucap Raja.
"Gila! Kalau begitu ceraikan Yani! Ceraikan dia dengan alasan keturunan! Biarkan dia hancur dengan alasan yang wajar! Sebelum dia menjadi hancur karena mengetahui alasan gila yang tidak wajar ini!" Sahut Kartika emosi.
"Tidak! Aku juga tidak bisa melepaskan Yani!" Tolak Raja.
"APA?! Kak Raja sangat egois! Hati seperti apa yang ada dalam dirimu itu?!" Marah Kartika sambil menunjuk ke arah d**a Raja.
Raja mengusap kasar rambutnya, dia sungguh terlihat sangat frustasi.
Yani melihat dengan bingung interaksi suaminya itu dengan saudara sekaligus sahabatnya itu.
"Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?" Tanya Yani bingung.
"Sebaiknya kamu menjaga suami mu dengan lebih baik lagi, sesekali ada baiknya kamu selidiki perjalanan dinas suamimu." Sahut Alva yang berdiri disampingnya. Yani menoleh dan semakin bingung dengan semua yang terjadi siang ini.
"Apa maksud anda?" Tanya Yani.
"Intinya saat ini Kartika hanya ingin menjaga dan melindungimu dari kehancuran dunia, karena dia sangat menyayangimu. Begitupun denganku, hanya selalu berusaha menjaga dan melindungi saudaramu itu, karena alasan yang sama." Sahut Alva dan Yani hanya menatap Alva dengan semakin bingung hingga Kartika dan Raja kembali menghampiri mereka.
"Kami sudah selesai, sampai bertemu petang nanti." Pamit Raja dan segera merengkuh pundak istrinya, mengajaknya segera pergi dari sana.
Yani menatap bingung pada Kartika dan hanya bisa melambaikan tangannya pada Kartika.
"Ayo kembali kerja!" Ucap Alva melangkah meninggalkan Kartika.
Mereka berjalan kaki menuju ke kantor dengan Alva berjalan di depan dan Kartika menjaga jarak di belakang Alva. Keduanya bagai orang yang tidak saling mengenal, berjalan masing-masing tanpa saling peduli hingga tiba di kantor.
"Bukan seperti itu cara menghadapi Raja." Tegur Alva saat mereka sudah berada dalam lift kantor hanya berdua.
"Maksud anda?" Tanya Kartika bingung.
"Aku tahu kamu sangat ingin melindungi Yani, tapi caramu salah jika kamu menekan Raja." Sahut Alva.
"Huh! Jadi semua tadi kesalahan saya! Baiklah! Saya memang sudah jadi pengacau." Ucap Kartika.
"Dasar wanita! Bukan itu maksudku. Cobalah beri sebuah cerita contoh kasus pada Yani, berpuralah meminta Yani memberi masukan jika memiliki suami seperti itu. Setelah kamu tahu bagaimana Yani akan merespon jika mengetahuinya, barulah kamu bertindak pada Raja." Sahut Alva.
"Maaf, tapi saya sangatlah mengenal Yani, jadi saya bisa tahu bagaimana responnya jika dia mengetahui kondisi suaminya. Saya tidak akan mengambil resiko apapun terhadap Yani, jadi lebih baik saya memaksa kak Raja untuk memilih salah satu." Ucap Kartika keras kepala.
"Percaya atau tidak, sikapmu tadi akan membuat Raja menjauhkan Yani darimu, jika sudah seperti itu maka tidak ada yang bisa kamu lakukan." Sahut Alva.
"Lebih baik anda tidak ikut campur dalam masalah ini. Lagipula ini tidak ada hubungannya dengan kantor ini maupun dengan pribadi anda." Ucap Kartika kesal.
Ting.
Lift tiba di lantai ruang kerja mereka.
"Aku hanya berusaha menjaga dan melindungimu Kartika.." Sahut Alva dan langsung melangkah keluar lift tanpa menoleh dan tidak peduli dengan respon wajah Kartika saat ini.
Alva segera masuk ke ruangannya tanpa berkata apapun lagi. Kartika diam menatap punggung Alva hingga hilang di balik pintu ruangannya.
"Apa maksudnya dengan menjagaku dan melindungiku?! Memangnya apa yang akan kak Raja lakukan padaku dan Yani?" Pikiran Kartika tidak mengerti maksud ucapan Alva.
****