BERPIKIR

3496 Kata
Kartika menyusul Alva ke ruangannya. Alva sedang diam berdiri dengan kedua tangannya masuk ke saku celananya, di dekat kaca besar itu memandang keluar menatap kota Jakarta. Alva bahkan tidak menoleh sedikitpun saat Kartika masuk ke ruangannya.   "Maafkan saya...apapun itu maksudnya, saya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih sudah ikut memikirkan saya dan masalah saya. Terima kasih sudah mengingatkan saya." Ucap Kartika. Alva diam tidak merespon, namun sebuah senyum ada di wajahnya tanpa diketahui oleh Kartika. Kartika yang merasa Alva hanya diam saja, berpikir bahwa Alva pasti sedang sangat kesal padanya. Karena itu, Kartika memilih untuk keluar dari ruangan itu. Alva segera menghubungi Melani dan memintanya untuk mencarikan gaun bagi Kartika yang akan dipakai mal nanti.  ****   "Aduh Melani! Gaun model apa ini?! Tidak! Aku tidak mau memakainya!" Tolak Kartika saat hampir sore Melani datang ke meja kerja Kartika dan menyerahkan satu set lengkap fashion untuk Kartika makan malam bersama Alva dan Yani juga Raja. "Kartika, ini perintah Mr. Salvastone. Kumohon pakailah, jangan pertaruhkan pekerjaanku. Mr.Salvastone mengancam akan memecatku jika kamu tidak memakai gaun yang dia inginkan. Kumohon...pakailah...lagipula ini tidak terlalu terbuka." Sahut Melani. "Mengapa dia harus mengancam seperti itu?!" Tanya Kartika bingung. Kartika akhirnya menghela napas panjang dan berat, karena Melani memberinya raut wajah memohon. "Baiklah! Aku akan memakainya nanti malam! Aduuuh! Aku pasti akan terlihat seperti jalang jika memakainya...." Ucap Kartika lagi. "Terima kasih Kartika, kalau begitu tugasku selesai. Aku kembali ke ruanganku ya..." Sahut Melani tersenyum lebar lalu pergi dari hadapan Kartika yang masih memandangi gaunnya.  ****   Makan malam.   Kartika turun keluar dari taxi online bersama anak-anaknya. Alva sudah menunggu di pintu masuk. "Sial...! dia cantik sekali." Batin Alva melihat penampilan Kartika.        "Uncle Alva...!!" Seru Kemal dan berlari memeluk Alva. Alva pun menerima pelukan itu dengan senyum lebar. "Kemal, mami sudah katakan jangan berteriak seperti itu! Kamu membuat uncle Alva malu!" Tegur Kartika pada putranya. "Malu?! Kenapa aku harus malu?! Aku justru sangat merindukan hal ini." Ucap Alva. Kartika sedikit kesal karena Alva menjatuhkan wibawanya sebagai seorang ibu dihadapan anaknya sendiri. "Samira, ayo sapa uncle Alva." Ucap Kartika pada putrinya. Tanpa diduga Alva justru jongkok di hadapan Samira untuk menyapanya. "Bagaimana jika sebuah pelukan? Aku merindukanmu juga princess." Ucap Alva dan Samira tersenyum lebar lalu melepaskan tangannya dari tangan Kartika dan memeluk Alva dengan erat. Alva mengecup kening Samira lembut, lalu tersenyum menatapnya.   "Apakah Yani dan kak Raja belum datang?" Tanya Kartika. "Ah! Mereka sudah di dalam. Sebaiknya kita segera masuk." Sahut Alva kembali berdiri. Mereka pun berjalan masuk, anak-anak berjalan lebih dulu di depan Alva dan Kartika. "Kamu cantik sekali.." bisik Alva mendekat di telinga Kartika. Kartika menelan salivanya dengan susah, tubuhnya menggelenyar bereaksi atas bisikan Alva barusan.   "Terima kasih untuk gaunnya, tapi lain kali saya tidak akan memakainya! Ini sungguh terlalu terbuka!" Sahut Kartika dengan suara lirih. Alva tersenyum lebar mendengarnya. "Aku justru suka dengan gaun nya. Kamu jadi terlihat sexy. Ouh...sungguh menggoda." Bisik Alva lagi dan langsung mendapat tatapan amarah dari mata Kartika. Alva hanya tersenyum tenang. "Sungguh semakin menggairahkan jika kamu sedang kesal seperti ini." Bisik Alva lagi dan Kartika segera memukul Alva dengan handbag nya. Alva masih saja tersenyum meski sedikit meringis kesakitan. Kartika kembali diam karena mereka sudah di dalam resto. "Aahhhh....!!! akhirnya Tante bisa ketemu lagi dengan kalian. Apa kalian merindukan tante kalian yang cantik ini?" Sapa Yani saat bertemu dengan kemal dan Samira. "Tante Yani, om Raja, apa kabar?" Sapa Kemal sambil memeluk kedua orang itu. Yani dan Raja pun membalas pelukan Kemal itu dan juga Samira.   Mereka semua duduk di satu meja panjang. Yani bersampingan dengan Raja, di hadapan mereka duduk Alva, dan Kartika dengan Kemal berada di antara mereka, Samira duduk di ujung meja yang dekat dengan Yani dan juga Kartika. Alva mempersilahkan semuanya untuk memesan makanan kesukaan mereka masing-masing. Alva nampak memanjakan Kemal dan juga Samira, mereka diberi kebebasan memilih segala yang mereka mau tanpa berpikir bahwa mereka tidak akan sanggup menghabiskannya, dan itu sangat membuang uang sia-sia. Malam ini Alva sangat merusak didikan Kartika selama ini pada anak-anak.   Drrtttt....Drrtttt.... Ponsel Alva berbunyi. Robert memanggil. Wajah Raja seketika menahan emosinya, Alva menatapnya dan sangat paham bahwa Raja pasti membaca nama yang tertulis di layar ponsel Alva yang tergeletak di atas meja. Kartika juga melihat nama yang muncul di layar ponsel Alva. Seketika Kartika paham dengan wajah Kak Raja dan Alva yang saling menatap. Kartika seketika meraih ponsel Alva itu dan menerima panggilan itu dengan loud speaker.   "Halo." "Ach siapa kamu?!" "Maaf, anda ingin bicara dengan siapa?" "Bukankah ini ponsel Alva?! Tentu saja aku ingin bicara dengan Alva! Siapa kamu?! Mengapa ponsel Alva ada padamu?!" "Saya bukan siapa-siapa, maaf saat ini Alva sedang bersama Raja, apa ada pesan?!" "Sial! Apa yang sedang mereka berdua lakukan?!" Alva tetap tenang dengan ulah Kartika, tapi tidak dengan Raja yang sangat merasa gelisah dan bercampur takut cemas bahkan Raja berusaha merebut ponsel itu dari tangan Kartika. Kartika terus menghindar dari tangan Raja dan melanjutkan pembicaraannya. "Ehm..maaf, saya kurang paham apa yang mereka lakukan saat ini. Apa ada pesan?" "Sial! Dasar pengkhianat!" "Siapa pengkhianat yang berteriak pengkhianat disini hah?!" "Jangan ikut campur! katakan pada Alva, aku ada di Jakarta!" Panggilan itupun segera dimatikan sepihak oleh Robert. Kartika meletakkan kembali ponsel itu di dekat Alva.   Raja menatap penuh emosi pada Kartika, membuat Yani merasa bingung dengan semua ketegangan yang ada saat ini. Yani meraih tangan suaminya. "Ada apa?" Tanya Yani lembut karena suaminya sedang terlihat sangat marah. "Tidak ada apa-apa." Sahut Raja masih menatap tajam pada Kartika. Yani menatap Kartika yang kini juga sedang menatap Raja dengan emosi dan bahkan kebencian. "Tika, apa semua baik-baik saja? Siapa yang tadi menelepon?!" Tanya Yani pada Kartika saat suaminya tidak memberi jawaban yang dia butuhkan. "Tanyakan saja pada kak Raja!" Sahut Kartika. "Kak Raja, ada apa sebenarnya?!" Tanya Yani mulai semakin cemas. "Hei! Hentikan semua ini! Ingat ada anak-anak disini!" Ucap Alva mengingatkan semuanya. "Mr. Salvastone, siapa sebenarnya yang tadi menghubungi ponsel anda?" Tanya Yani   "Robert. Dia itu rekan bisnis Raja, kebetulan dia telah mengikatkan diri pada Bisnisku tanpa sepengetahuan Raja. Itulah mengapa Raja dan Kartika selalu emosi jika berhubungan dengan Robert. Karena Raja merasa Kartika menutupi segalanya dari Raja sedangkan sesungguhnya Kartika tidak mengetahui bahwa sebenarnya Robert telah berhubungan dengan Raja. Tenang saja, aku sudah membatalkan hubunganku dengan Robert. Jadi Robert pasti akan kembali pada Raja." Sahut Alva menutupi kebenaran. "Astaga! Kalian berdua jangan membuatku takut seperti ini! Sudahlah kak Raja, percayalah Robert pasti akan kembali padamu. Kartika, kumohon jangan marah dengan kak Raja lagi ya.." ucap Yani. "Sebaiknya jangan pernah kembali lagi berhubungan dengan pengkhianat itu! Kecuali jika kamu ingin sebuah kehancuran terjadi!" Sahut Kartika. "Cukup! lihat! kalian sudah menakuti anak-anak." Ucap Alva dan ketiganya itu menatap ke arah anak-anak yang menjadi diam dan memperhatikan mereka. Ketiganya menghela napas panjang mengatur emosi mereka masing-masing.   "Maafkan aku...." Ucap Kartika pada semuanya. "Aku juga minta maaf. Aku akan mencoba memperbaiki segalanya. Aku akan menemui Robert besok." Sahut Raja. "Tidak! Robert ke Jakarta bukan untuk menemui dirimu! Aku sangat yakin bahkan dia pasti tidak memberitahumu tentang kedatangannya ke Jakarta." Ucap Alva. Raja mengangguk membenarkan dugaan Alva. "Benar! Mulai sekarang lebih baik kak Raja jangan pernah menemui dia lagi. Dia sudah terbukti bukan orang yang setia, untuk apa lagi berhubungan dengan dia?! Biarkan Alva yang mengurusnya." Sahut Kartika. "Alva?! Apa kamu tidak takut jika Alva ternyata juga sama seperti diriku?" Tanya Raja. Kartika mengernyitkan keningnya. "Alva??? Seperti kak Raja???" Tanya Kartika sambil menatap Alva di sampingnya, lalu menatap Raja dan kembali menatap Alva. Alva dan Raja sama-sama diam menanti respon Kartika. Yani sedari tadi hanya menatap interaksi ketiganya, karena memang hanya dia yang tidak mengerti masalah ini selain Kemal dan Samira juga.   "Jika Alva juga sama seperti kak Raja, apa yang harus kutakutkan? Aku hanya sekretarisnya, apa kak Raja lupa?" Ucap Kartika lagi dengan senyum lebar. "Ouh...hanya sekretaris?! Benarkah?!" Tanya Raja dan kali ini ditujukan pada Alva.  "Kenapa?! Memang dia sekretarisku. Apa yang harus dipertanyakan?!" Sahut Alva bertanya balik. Ketiganya kembali saling menatap dengan diam dalam pikiran mereka masing-masing.  "Permisi, kami mengantarkan pesanan.." Suara pelayan resto itu membuyarkan lamunan ketiganya. Ketiganya kini justru tersenyum bersama dengan makna yang hanya mereka masing-masing ketahui. Yani merasa lega karena ketiga orang itu kembali bersikap biasa dan sudah tersenyum. Makan malam kembali berlanjut dengan tenang bahkan ada canda dan tawa saat mendengar celotehan Kemal dan Samira.   Ddrrrttt....Drrtttt.... Ponsel Alva kembali berdering. Zaki memanggil. "Maaf, aku harus menerima panggilan ini." Pamit Alva lalu sedikit menjauh. "Halo." "Tuan, kami telah berhasil menemukan dan mengamankan penguntit yang terus mengawasi Bu Kartika." "Bagus! Siapa dia? Siapa yang menyuruhnya? Apa tujuannya?" "Pria ini bernama Bobby, dia dibayar oleh Mr. Reynald Kyle untuk mengawasi kedekatan Bu Kartika dengan para pria." "Baiklah, terima kasih untuk informasinya. Kamu selalu bisa kuandalkan. Terima kasih." "Apakah pria ini saya bawa ke kantor polisi saja?" "Tidak, lepaskan saja dia, tapi beri dia peringatan keras untuk menjauh dari Kartika dan anak-anaknya." "Baik Tuan." Alva mematikan ponselnya dan kembali ke meja mereka.   "Ada hal penting?" Tanya Kartika. "Sudah bisa diselesaikan, tenang saja." Sahut Alva. "Sepertinya hari sudah hampir larut malam, anak-anak juga mulai mengantuk." Ucap Kartika. "Ah. Baiklah tunggu sebentar." Sahut Alva. Alva memanggil pelayan dan meminta bill atas makan malam ini. Alva memberikan kartunya pada pelayan itu. Setelah selesai dengan pembayaran, mereka pun keluar dari resto itu. "Kamu yakin tidak mau kuantar?" Tanya Yani. "Tidak, terima kasih. Aku sudah memesan taxi online. Kalian pulanglah dulu. Aku baik-baik saja." Sahut Kartika. "Baiklah nona keras kepala! Aku yakin akan percuma memaksamu, berhati-hatilah di jalan, hubungi aku jika sudah tiba di rumah." Ucap Yani memeluk Kartika. "Tentu saja." Sahut Kartika memeluk Yani. "Baiklah Tika, berhati-hatilah di jalan." Pamit kak Raja memeluk Kartika. "Terima kasih kak. Jaga Yani baik-baik." Sahut Kartika juga balas memeluknya. Yani dan Raja mulai masuk ke mobil mereka dan melaju pergi.   "Sepertinya aku juga harus pulang terlebih dahulu supaya bisa memeluk dirimu seperti mereka." Ucap Alva. "Jauhkan pikiran menyimpangmu Mr. Salvastone!" Sahut Kartika ketus. "Alva! Sudah kukatakan panggil aku Alva jika diluar jam kantor!" Protes Alva. Kartika tidak peduli dengan ucapan Alva. Dia hanya mulai cemas karena taxi online nya mendadak membatalkan pesanannya. "Tawaranku masih berlaku jika kamu berubah pikiran." Ucap Alva. "Tawaran Apa?!" Tanya Kartika bingung. "Tawaran untuk mengantar kalian pulang. Apa kamu lupa itu?" Sahut Alva. "Kapan ada tawaran itu?! Aku tidak mendengarnya!" Tanya Kartika sewot. "Sudahlah! Ikut saja! Biarkan aku mengantar kalian, lihatlah! Samira bahkan sudah mulai tertidur di gendonganku." Sahut Alva dan memang benar Samira sudah mulai terlelap dengan nyaman di pundak Alva "Baiklah, sepertinya tidak akan ada taxi onine di sekitar sini." Ucap Kartika menyerah. Alva tersenyum menang.  ****   Alva meminta Kenzie dan pengawal lainnya untuk berjaga di luar rumah dan mobil supaya tidak ada tetangga yang bergosip tentang kedatangan Alva ke rumah kontrakan Kartika, karena mereka jelas terlihat datang dengan beramai-ramai.  "Sepertinya pria yang biasa mengawasiku sedang pergi. Biasanya dia berdiri di sana, mungkin sebentar lagi dia akan muncul lagi." Ucap Kartika saat turun keluar dari mobil dan menunjuk ke seberang. Alva hanya tersenyum, tidak berkata apapun. Mereka melangkah masuk ke dalam rumah dan sengaja membiarkan pintu depan terbuka lebar. Alva meletakkan Samira ke atas tempat tidur dan melepaskan sepatunya, lalu menyelimuti tubuhnya. Kartika membantu Kemal membersihkan diri dan berganti pakaian tidur, lalu menidurkannya.  "Terima kasih." Ucap Kartika saat mereka berdua berada di belakang pintu hendak keluar dari kamar anak-anak. "Aku senang akhirnya bisa pergi dengan anak-anak." Sahut Alva tersenyum menatap kedua anak yang sepertinya sudah terlelap semua. "Mereka juga senang pergi bersamamu, karena dirimu selalu membantu mereka melawan segala aturan yang aku berikan." Ucap Kartika menyindir. "Aahhhh...sepertinya aku akan menjadi ayah yang buruk bagi mereka."keluh Alva tentang dirinya sendiri. Ucapan itu entah disadari atau tidak, entah disengaja atau tidak, kini justru membuat Kartika diam menatap Alva.   "Kumohon, jangan memberikan sebuah mimpi indah bagi mereka yang tidak akan mungkin pernah terwujud." Ucap Kartika menatap sendu pada anak-anaknya. "Mimpi indah? Apakah kehadiranku memang adalah sebuah mimpi indah?" Tanya Alva merasa senang mendengarnya. "Tentu saja, sejak kedekatan kalian di Manado, mereka seakan kembali terpenuhi kebutuhan batinnya akan kehadiran dan perhatian sosok ayah dengan kehadiranmu. Tapi aku juga takut mereka akan kembali terluka saat keadaan membuat mereka kehilangan  sosok ayah lagi.." Sahut Kartika dengan mata yang mulai berkaca-kaca menatap kedua anaknya yang sudah terlelap. "Lalu kenapa? Kenapa mimpi indah ini tidak mungkin terwujud? Apakah kamu sudah menyukai Rey atau pria lain?" Tanya Alva. Kartika menyembunyikan wajahnya dan mengusap air matanya dari Alva.   "Sudahlah Alva, aku dan Mr.Rey tidak ada hubungan apapun, apalagi pria lain! Pria lain yang mana? Aku masih sangat kehilangan suamiku. Aku tidak berpikiran untuk menikah lagi. Setidaknya selama aku masih dipekerjakan di perusahaanmu, aku akan membesarkan anak-anakku sendiri." Sahut Kartika lalu memutar knop pintu hendak keluar dari kamar itu.   Alva menarik lengan Kartika dan merengkuh pinggang Kartika mendekat, sangat dekat dengannya. Alva sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya menatap Kartika. "Biarkan aku menjadi ayah mereka, kita menikah atau tidak menikah, ijinkan aku menjadi ayah mereka selanjutnya." Ucap Alva berbisik sambil membelai lembut pipi Kartika dengan punggung tangannya dan mengusap airmata yang kini kembali mengalir di pipi Kartika.   Mata keduanya saling bertemu, napas mereka saling berhembus di wajah lainnya. "Untuk apa? Apa alasannya? Bagaimana jika istrimu nantinya atau keluargamu tidak suka akan hal itu?" Tanya Kartika. "Karena aku tidak bisa jauh dari mereka, aku sudah sangat menyayangi mereka. Mereka juga sudah mengobati lukaku selama ini karena kehilangan anak-anakku." Sahut Alva lembut. Kartika menatap dalam mata tajam itu. Alva mulai menempelkan bibirnya di bibir Kartika, tidak ada penolakan, juga tidak ada sambutan, hanya diam sama seperti sebelumnya. Tapi Alva tetap melanjutkan pergerakannya lembut. Bibirnya mulai menghisap bibir Kartika dengan lembut, tidak disangka mata Kartika mulai terpejam, dan diikuti oleh bibirnya yang juga mulai bergerak mengikuti ritme bibir Alva. Alva pun kini juga sudah memejamkan matanya, perlahan mendorong tubuh Kartika bersandar ke pintu, satu tangan Alva menekan tengkuk Kartika, sedang sebelah tangannya lagi membawa tangan Kartika naik ke atas kepala Kartika dan menahannya. Keduanya hanyut dalam ciuman itu. Entah apa alasan ciuman itu, entah apa pula yang menjadi arti dari ciuman itu. Keduanya hanya tahu bahwa saat ini mereka saling menginginkan bibir lawannya itu.   Euugh... Sebuah lenguhan terdengar dari bibir Kartika saat Alva mulai mencium rahangnya dan turun ke lehernya juga pundaknya yang terbuka, lembut namun terasa sangat penuh gairah. Alva sempat merasakan tangan Kartika yang bebas satunya itu mendorong tubuhnya untuk mengakhiri ini. Alva segera naik kembali ke bibir Kartika dan melumatnya lembut. Kartika kembali membalas bibir Alva itu. Mereka akhirnya terlepas saat harus mengambil oksigen. Kartika menundukkan kepala dan mendorong Alva, berusaha keluar dari kungkungan tubuh Alva. Kartika berdiri menjauh dari Alva dan membelakanginya. Alva melepaskannya, tidak ingin memaksa Kartika lebih jauh lagi saat wanita itu tidak siap atau tidak menginginkannya.   "Ini salah! Alva, Ini tidak boleh! Maafkan aku, tapi sebaiknya kamu segera pulang." Ucap Kartika tetap membelakangi Alva. Alva melangkah menghampiri Kartika dan melingkarkan kedua tangannya di pundak Kartika, memeluknya dari belakang, mengecup kepala belakang Kartika.   Cup. Kartika sungguh merasa nyaman dengan perlakuan Alva, namun dia harus terus menyadarkan dirinya sendiri supaya tidak jatuh pada Alva semakin jauh lagi. "Sampai besok. Istirahatlah, jangan terlalu berpikir berat tentang semua yang terjadi malam ini." Bisik Alva lalu mengecup telinga Kartika lembut, membuat Kartika memejamkan matanya dana menahan napasnya. Alva melepaskan pelukan itu dan melangkah membuka pintu kamar itu, Kartika membuka matanya seakan merasa kehilangan dengan rasa nyaman yang barusaja dia rasakan. "Alva..." Panggil Kartika berbalik menatap punggung Alva. "Hmm..." Sahut Alva berhenti melangkah namun tidak berbalik. "Maaf, kumohon kamu tidak tersinggung, aku hanya....." Kalimat Kartika menggantung. "Sudah kukatakan jangan berpikir terlalu berat. Istirahatlah, aku ingin melihat wajah segarmu besok." Sahut Alva dan kembali melanjutkan langkahnya pergi.   Kartika segera mengunci pintu rumahnya saat mobil Alva terdengar meninggalkan perumahan. "Dasar bodoh! Bagaimana bisa aku membiarkan maniak seks itu mencium bibirku!" Rutuk Kartika menyesal sendiri.  ****   Pagi hari. Alva sudah tiba di kantor sebelum Kartika tiba. Dia tidak mampu menunggu lebih lama lagi untuk melihat Kartika. Hatinya sungguh sedang berbunga-bunga. Namun bunga itu seluruhnya langsung layu bahkan mati dan berubah menjadi emosi amarah seketika saat melihat di layar kamera CCTV bahwa Kartika datang ke kantor bersama Rey dan tawa ada di wajah mereka berdua. Alva segera mengendalikan emosinya dan menyembunyikannya dari Rey. Dia tahu bahwa Rey hanya sekedar ingin merebut miliknya saja bukan karena mencintai Kartika.   "Dasar tukang iri!" Rutuk Alva kesal pada Rey. Rey dan Kartika tiba di atas, Kartika langsung menuju meja kerjanya sedangkan Rey segera masuk ke ruangan Alva. "Hei! Tidak kusangka dirimu akan datang ke kantor sepagi ini. Apa yang membuatmu sekarang selalu datang ke kantor pagi? Sepertinya ini bukan kebiasaanmu." Sapa Rey lalu duduk di sofa "Ada apa Rey? Pagi sekali kamu sudah menemuiku." Sahut Alva berusaha tenang dari balik meja kerjanya. "Ah tidak ada apa-apa! Sebenarnya aku ada rencana untuk mengajak Kartika sarapan bersama sebelum kamu datang, tapi berhubung Kartika sudah melihat Kenzie maka dia langsung menolak. Sungguh sekretaris disiplin, aku suka." Ucap Rey. "Kamu suka padanya karena dia disiplin??? Tapi sepertinya pria bernama Bobby tidak mengatakan seperti itu?" Sindir Alva. "Ah! Benar dugaan ku! Kamu yang telah menangkap pria bodoh itu! Darimana kamu tahu bahwa ada yang mengawasi di sekitar Kartika?" Ucap Rey menyelidik. "Kartika mengeluhkannya padaku, dia merasa ada yang mengawasinya setiap hari, lalu aku membantunya. Tepatnya Zaki yang membantunya. Tapi untuk apa kamu mengawasinya Rey?" Sahut Alva dan bertanya tenang. "Bisa kukatakan mungkin aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya, apa kamu bisa percaya?" Sahut Rey dengan tersenyum lebar.   Alva semakin mendidih dalam dirinya, namun dia harus tetap mengendalikan emosinya. "Jika kamu memang mencintainya, mengapa kamu harus mengawasinya? Apa yang ingin kamu awasi?" Tanya Alva lagi. "Ya...awalnya aku hanya ingin memastikan apakah dia sudah memiliki kekasih atau suami baru lagi? Ternyata tidak, lalu aku ingin memastikan lagi bahwa kamu juga tidak sedang mendekatinya. Kamu tahu Alva? Aku sangat tidak suka penolakan." Sahut Rey. "Ya..aku sangat mengenalmu. Itulah yang membuatmu tidak akan pernah menikah Rey! Ketakutan mu akan sebuah pengkhianatan dan penolakan terus membuatmu tidak mau membangun sebuah hubungan serius." Ucap Alva. "Ya, tapi kali ini sepertinya berbeda. Bagaimana menurutmu jika aku dengan Kartika? Bukankah seorang janda dengan anak dua akan membuatku lebih sedikit memiliki saingan?" Tanya Rey. "Entahlah! Yang aku tahu dia masih merasa sangat kehilangan suaminya, mungkin kali ini dirimu akan bersaing dengan pria yang sudah meninggal." Sahut Alva. "Bagaimana denganmu sendiri?" Tanya Rey "Aku?! Ada apa denganku?" Alva bertanya balik "Apa kamu tidak akan jadi sainganku? Kuperhatikan dirimu banyak berubah belakangan ini? Apa itu karena Kartika?" Tanya Rey lagi. "Aku dan Kartika? Bagaimana menurutmu? Apa kami cocok?" Alva sengaja memancing keluar yang ada di pikiran Rey. "Kurasa tidak. Beberapa hari yang lalu saja kamu masih tidur dengan salah satu jalangmu dengan sepengetahuan Kartika. Dasar gila! Sampai kapan kamu akan berhenti dari kebiasaan burukmu?" Sahut Rey. "Mungkin saat aku sudah berhasil tidur dengan Kartika." Ucap Alva sengaja. "Sial! Jangan kamu samakan Kartika dengan sekretarismu yang lainnya! Aku akan datang membuat perhitungan denganmu jika kamu Berani melecehkannya!" Sahut Rey dengan emosi sambil berdiri dari sofa, membenahi jasnya dan melangkah pergi. Alva menghela napas berat. "Aku juga tidak akan melakukan hal itu, dasar bodoh! Tukang iri!" Batin Alva kesal. Alva lalu memanggil Kartika untuk ke ruang kerjanya. "Selamat pagi Mr. Salvastone." Sapa Kartika yang sudah berdiri di tengah ruangan seperti biasa. "Bagaimana kamu bisa datang bersama Rey? Apa Rey menjemputmu?" Tanya Alva. "Tidak! Kami hanya bertemu di depan gedung daycare.. Taxi online saya untuk menuju kemari tidak datang juga, lalu kebetulan mobil Mr. Rey lewat dan sedang menuju kemari, berhubung waktunya sudah hampir terlambat, maka saya ikut dengan mobilnya." Sahut Kartika tenang.   "Sesungguhnya kamu ini memang wanita polos atau bodoh sih?! Jelas-jelas Rey pasti mengikutimu dari awal! Tidak mungkin ada kebetulan di hari yang masih sangat pagi seperti ini! Hotel Rey jelas berlawanan arah dengan daycare anak-anak!"  Pikir Alva kesal. Alva hanya bisa menghela napas panjang untuk mengendalikan emosi dirinya. "Hmm..apa jadwalku hari ini?" Tanya Alva kembali tenang "Hari ini anda hanya harus menemui nona Laura dan mengajaknya berkeliling kota Jakarta." Sahut Kartika. "Apakah tidak ada jadwal lain yang lebih penting dari itu?!" Tanya Alva kesal. "Untuk dua hari ini jadwal anda memang kosong, Senin yang akan datang hingga dua Minggu ke depan anda harus melakukan perjalanan bisnis ke Malaysia dan Singapura." Sahut Kartika. "Lebih baik aku bermain dengan anak-anak di daycare daripada bersama wanita itu seharian. Setiap pergi bersamanya aku merasa kasihan pada Kenzie karena harus mendengarkan suara mendesah dan menjerit Laura dari balik sekat." Ucap Alva. "Hah?! s*x di dalam mobil maksud anda?!" Tanya Kartika terkejut. "Ya! Kamu pikir dia sungguh ingin diajak jalan-jalan seperti yang ada di pikiranmu itu? Dia hanya ingin s*x dariku! Tapi Laura tidak pernah mau melakukannya di kantor seperti yang lainnya, dia lebih suka di mobil yang sedang berjalan." Sahut Alva. Kartika menelan salivanya dengan berat, ada sebuah sensasi gelenyar saat tanpa disadari dalam otaknya terlintas bayangan bermain s*x di dalam mobil. Dia belum pernah melakukan hal itu seumur hidupnya.   "Aaahhh!!! Kenapa aku jadi membayangkannya?! Mengapa aku jadi selalu m***m seperti dirinya?! Hormon wanita ku pasti sedang tinggi."  Batin Kartika merutuk dirinya sendiri. Alva menatap Kartika yang diam sambil mengerjap-ngerjapkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri sambil bergidik, terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Kartika, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tegur Alva. "Ah tidak! Tidak! Tidak ada. Saya permisi kalau sudah tidak ada yang Anda butuhkan lagi." Sahut Kartika gugup dan berbalik segera melangkah, namun langkahnya berhenti tepat sebelum membuka pintu karena mendengar suara Alva. "Aku sangat berharap kamu dan anak-anak bisa ikut dalam perjalanan bisnis kali ini." Ucap Alva. Kartika berbalik dan tersenyum. "Maaf, tapi sungguh kami tidak bisa ikut dalam perjalanan yang lama ini. Kemal sudah mulai minggu ujian." Sahut Kartika. "Aku tahu, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku pasti akan sangat kesepian dan merindukan anak-anak." Ucap Alva. Kartika tersenyum "Mereka juga pasti akan merindukan anda." Sahut Kartika lalu membuka pintu dan keluar dari ruangan Alva. "Aku juga pastinya akan merindukanmu Kartika."  Batin Alva menatap Kartika yang menghilang di balik pintu.   Sedangkan Kartika di balik pintu itu menghela napas panjang dan berat. "Tentu saja dia hanya merindukan anak-anak, dasar Kartika bodoh! Jelas sekali kamu tidak boleh berharap bahwa dia akan merindukanmu! Bukankah dia sudah berkata jangan berpikir terlalu berat akan ciuman semalam itu?! Itu berarti ciuman semalam tidak ada artinya apapun! Bodoh! Bodoh! Bodoh!"  Pikiran Kartika terus merutuk dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN