TANPAMU

2920 Kata
Alva sepanjang hari ini akhirnya pergi menemani Laura berkeliling kota Jakarta, karena sangat beresiko jika dia tidak menepati janjinya sendiri, Mr.Kyle akan tidak menghargainya lagi sebagai seorang lelaki dan kerjasama bisnisnya akan menjadi kacau. Alva sengaja meminta Kenzie berada di mobil lain untuk mengawal bersama lainnya. Alva memutuskan untuk menyetir sendiri, supaya Laura tidak bertingkah menggoda di dalam mobil. Kartika sibuk menyiapkan segala berkas dan keperluan untuk Alva selama dua minggu ke Malaysia dan Singapura. "Aaahhh...akhirnya selesai juga semua berkas ini, beruntung besok adalah libur akhir pekan, jadi aku bisa sedikit beristirahat." Ucap Kartika sendirian sambil menggeliatkan tubuhnya. Kartika menghela napas panjang. Dia melihat ke pintu ruangan Alva. "Dia pasti sedang bersenang-senang dengan nona Laura." Ucap Kartika lagi sendirian dengan tersenyum. Senyuman itu tidak lama, ada sedikit rasa kecewa menyerang hatinya dan membuat murung Kartika. Kartika menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan yang sikunya bersandar ke meja. "Aku tahu aku tidak boleh seperti ini. Kematian kak Edward belum genap satu tahun, tidak pantas untuk aku sangat dekat dengan seorang pria, apalagi sampai berciuman seperti malam tadi. Aku sungguh sudah bersikap seperti w************n! Lihat saja hari ini dia justru sedang bersenang-senang dengan nona Laura, dan melarangku untuk memikirkan ciuman kami semalam."  Pikiran Kartika sungguh kecewa, kecewa pada dirinya sendiri dan juga terhadap Alva, namun dia hanya bisa menghela napas panjang dan berat.  Kartika kembali memaksa otaknya untuk fokus kembali pada pekerjaan. Ya, menyibukkan diri itulah jalan keluar bagi segala rasa kecewa yang ada. Ddrrrttt...Ddrrrttt.... Sebuah pesan masuk ke ponsel Kartika. "Sepulang kantor, jemputlah anak-anak bersama Kenzie. Kenzie akan mengantar kalian ke resto Eropa yang ada di daerah Kemang. Aku menunggu kalian disana." (Alva) Kartika kembali menghela napas panjang dan berat. "Maaf, kami tidak bisa. Saya sedang tidak enak badan, dan harus beristirahat karena besok harus mulai mempersiapkan Kemal untuk ujian Senin nanti." (Kartika) "Kumohon....kita hanya makan malam, setelah itu kalian bisa langsung pulang." (Alva) "Maaf, sungguh tidak bisa." (Kartika) Beberapa saat tidak ada balasan lagi dari Alva. Ddrrrttt...Ddrrrttt... Alva memanggil. Kartika sungguh merasa kesal, karena dia tahu bahwa Alva pasti akan memaksanya. "Halo." "Kamu sakit apa?" "Tidak, ini hanya sakit biasa. Mungkin hanya kelelahan, jadi hanya perlu istirahat." "Aku sudah mengirim dokter pribadiku ke kantor untuk memeriksamu." "Eh! Tidak perlu memanggil dokter! Istirahat sebentar juga sudah membaik, jangan terlalu berlebihan!" "Baiklah kalau begitu biar dokter lebih memastikan lagi dan setelah itu beristirahatlah, supaya malam nanti kita tetap bisa makan malam bersama." Kartika menghela napas panjang dan berat, tidak mampu berbuat apapun lagi. "Baiklah, dasar suka memaksa!" "Bukan memaksa, aku hanya merindukanmu." "Hahahaha lucu sekali ucapan anda." "Baguslah, kalau kamu sudah bisa tertawa, aku jadi tenang. Sedari tadi kulihat wajahmu terus murung setelah memandangi pintu ruanganku." "Huh! Dasar sok tahu! Memangnya anda ini seorang peramal?!" "Ini jaman modern dan canggih, aku bisa melihatmu dari CCTV yang terhubung dengan gadget ku." "Jadi sedari tadi anda mengawasi saya?! Dasar curang! Anda bisa mengawasi saya dan saya tidak!" "Apa kamu sedang cemburu? Mengapa kamu ingin mengawasi aku?" "Sudahlah! Baik, saya akan menuruti segala perintah anda! Bukankah bos tidak ada yang suka dengan penolakan?!" Alva hanya terkekeh senang, lalu mengakhiri panggilan telepon itu, sedangkan Kartika kembali murung dan kesal. Seorang dokter wanita pun tiba beberapa saat kemudian, dengan membawa tas perlengkapannya dan tersenyum pada Kartika. "Astaga! Bahkan dokter pribadinya saja seorang wanita cantik dan sexy. kak Raja harus melihatnya, supaya tidak meragukan kejantanan sejati seorang Alva!"  Batin Kartika dan segera menerima pemeriksaan dokter itu. Kartika terus memperhatikan dokter cantik itu saat dia sedang menulis resep bagi Kartika. "Apakah Alva juga pernah mencium atau bahkan tidur dengan dokter cantik ini?" Pertanyaan itu muncul di otak Kartika. Dokter itu menoleh dan tersenyum menatap Kartika. "Apa pikiran anda sedang bertanya tentang sudahkah aku tidur dengan Alva?" Tanya dokter cantik itu. "Eh! Maaf, aku.....i.iya...apakah anda juga salah satu wanitanya?" Sahut Kartika bertanya dengan canggung. "Aku ini masih terhitung sepupunya, jadi dia tidak pernah menjadikanku sebagai wanitanya, lagipula aku juga sudah menikah dan memiliki anak, Alva tidak suka merebut milik pria lain." Sahutnya dan Kartika tersenyum malu, bercampur senang dan canggung. "Maafkan aku sampai bertanya seperti itu." Ucap Kartika sangat merasa tidak enak hati dan menyesal. "Tidak apa, aku suka dengan kejujuran, sekarang aku jadi tahu mengapa Alva sangat menyukaimu. Kamu berbeda dengan semua sekretarisnya  yang terdahulu." Sahut dokter cantik itu. "Eh! Maksud anda?" Tanya Kartika dan dokter itu hanya tersenyum. Kartika langsung menangkap makna tersirat dari senyuman dokter cantik itu. "Ouh....Tidak! Tidak! Tidak! Aku bukan seleranya, dan aku murni bekerja sebagai sekretarisnya, tidak lebih seperti yang lainnya. Aku juga bukan wanitanya, aku seorang janda dan juga memiliki anak.." Ucap Kartika dengan mengangkat dua jarinya, tidak ingin dokter itu juga salah menilainya. "Ehm...baiklah, ini hanya vitamin supaya daya tahan tubuhmu kuat. Kamu hanya butuh istirahat dan hindari stres." Ucap dokter itu tidak lagi membahas tentang Alva. "Ouh...iya, terima kasih." Sahut Kartika menerima resep itu. "Senang bertemu denganmu Kartika, aku pergi dulu." Ucap dokter itu berpamitan. "Ah iya! Siapa namamu?" Tanya Kartika. "Aku Florensia. Panggil saja Flo." Sahut dokter cantik itu tersenyum lalu melangkah pergi. Kartika kembali melanjutkan pekerjaannya memasukkan segala keperluan Alva ke dalam sebuah tas kerja Alva, lalu berkemas dan segera turun ke lobby menemui Kenzie. "Selamat sore Bu Kartika, menurut Tuan..." "Iya, aku sudah tahu. Maaf, jadi merepotkan dirimu." Sela Kartika pada sapaan Kenzie. "Tidak pernah merepotkan bagi saya Bu.." sahut Kenzie tersenyum sambil sedikit  membungkuk hormat. Kartika masuk naik ke dalam mobil itu dan Kenzie menutup pintunya. "Kenzie, semua keperluan Mr. Salvastone ada di dalam tas ini, tolong Senin nanti kamu pastikan bahwa dia membawanya." Ucap Kartika berpesan pada Kenzie. "Baik Bu Kartika." Sahut Kenzie dari kursi setir di depan. "Terima kasih Kenzie." Ucap Kartika tersenyum dan Kenzie tersenyum dari kaca tengah. Kartika menjemput anak-anaknya dari tempat daycare. "Kenzie, apa kamu tahu tempat butik yang tidak terlalu mahal tapi menyediakan  pakaian anak dan dewasa? Aku dan anak-anak harus berganti pakaian terlebih dahulu supaya tidak memalukan Mr. Salvastone." Tanya Kartika. "Iya Bu, ada sebuah butik langganan tuan yang searah dengan perjalanan kita." Sahut Kenzie. "Ouh tidak! Jangan kesana, karena pasti mahal." Tolak Kartika. "Saya bisa membantu anda disana, Tuan memang mengadakan sebuah kontrak kerjasama dengan mereka untuk segala keperluan sekretarisnya. Jadi anda tidak perlu khawatir dengan pembayarannya." Ucap Kenzie. "Ehm tidak, kita ke butik lainnya saja." Sahut Kartika dan Kenzie hanya bisa menghela napas untuk menuruti Kartika. **** Kartika dan anak-anak tiba di resto itu sedikit terlambat karena harus berganti pakaian terlebih dahulu, bagaimanapun mereka harus berpakaian yang pantas untuk makan malam bersama Alva di restoran mewah ini. "Selamat malam, apakah anda sudah memesan tempat?" Tanya seorang pelayan yang bertugas di depan pintu masuk. "Kami diundang oleh Mr. Salvastone Kendrick Ozdemir." Sahut Kartika "Ou..Beliau sudah datang, mari saya antarkan kalian." Ucap pelayan itu lalu berjalan lebih dahulu dan diikuti oleh Kartika dan anak-anaknya. Mereka pun tiba di meja dimana Alva telah menunggu. "Silahkan." Ucap pelayan tadi mempersilahkan Kartika dan anak-anaknya untuk duduk. Pelayan tadi menarik sebuah kursi bagi Kartika sedangkan Alva membantu Samira duduk di kursi, Kemal sudah duduk dengan sendirinya. "Terima kasih." Ucap Kartika pada pelayan tadi, lalu Alva pun duduk kembali di kursinya. "Maaf kami terlambat. Apa anda sudah menunggu lama?" Ucap Kartika pada Alva. "Kartika, ini bukan di kantor." Ucap Alva mengingatkan Kartika untuk tidak terlalu formal. "Maaf." Sahut Kartika. "Tidak masalah, Kenzie tadi sudah memberitahuku saat kalian sedang di butik. Terima kasih sudah mau menghargai ku seperti ini. Kamu cantik. Kalian juga sangat cantik dan tampan." Ucap Alva dengan senyum lebar dan mata berbinar menatap Kartika dan anak-anak. "Terima kasih." Sahut Kartika. "Uncle Alva juga terlihat keren." Ucap Kemal dan Samira mengangguk setuju. Alva dan Kartika tertawa bersama mendengar ucapan Kemal. "Baiklah, malam ini kalian boleh memesan apapun yang kalian suka." Ucap Alva tersenyum lebar. "Apa kita sedang dalam perayaan istimewa?" Tanya Kartika. "Hahahahahaha tidak ada perayaan apapun kecuali.... hanya bersyukur mendapat tambahan usia saja." Sahut Alva. "Ah! Astaga! Kamu ulang tahun hari ini?!" Tanya Kartika memastikan lagi dan Alva tersenyum mengangguk. "Aahhhh! Kemal, Samira, ternyata uncle Alva hari ini ulang tahun. Waaahhh...kita belum menyediakan kado apapun, gimana dong?" Ucap Kartika pada anak-anaknya. Kemal mengajak Samira segera turun dari kursi dan mendekati Alva. "Selamat ulang tahun uncle Alva." Ucap Kemal dan diikuti oleh Samira sambil memeluk Alva bersamaan. Alva sungguh bahagia memeluk kedua anak itu dan menatap Kartika, bahkan matanya sudah terlihat mulai berkaca-kaca. "Terima kasih sayang, bahagianya ditemani kalian di hari ini." Sahut Alva lalu mengecup kening kedua anak itu.  Mereka berempat terlihat seolah keluarga kecil yang sangat bahagia. Kemal dan Samira kembali duduk di kursinya. "Selamat ulang tahun Alva. Semoga segala yang kamu harapkan dan mimpikan dapat terwujud hingga membuatmu selalu hidup sukses dan bahagia." Ucap Kartika mengulurkan tangan hendak berjabat tangan. Alva tidak menerima uluran tangan itu, dia justru melebarkan kedua tangannya. "Tidak kah kamu mengikuti contoh anak-anak dengan memberiku pelukan?" Sahut Alva dan Kartika pun menyerah lalu berdiri diikuti oleh Alva. mereka pun berpelukan sesaat. "Terima kasih." Ucap Alva dan Kartika pun mengangguk tersenyum lalu duduk kembali. Mereka  berempat menyelesaikan makan malam dengan penuh kebahagiaan dan canda tawa, saling menggoda dan tertawa. "Sungguh keluarga kecil yang harmonis dan penuh kebahagiaan." "Sungguh membuat iri.." "Lihatlah bahagianya keluarga kecil itu." Bisik-bisik dari tamu resto yang ada disekitar mereka. Alva dan Kartika hanya saling menatap dengan tersenyum lebar mendengar bisik-bisik itu. **** Mereka tiba di rumah Kartika, saat hari telah larut malam. Acara makan malam itu berlanjut dengan Alva yang mengajak anak-anak bermain di sebuah tempat permainan di mall terdekat. Kartika sudah melangkah terlebih dahulu untuk membuka pintu rumahnya. "Jika 30 menit aku tidak keluar, tutuplah pintu rumah lalu kalian pulanglah" bisik Alva pada Kenzie saat turun keluar dari mobil. "Baik Tuan." Sahut Kenzie juga berbisik. Anak-anak sudah tertidur saat tiba di rumah. Alva menggendong Kemal, sedangkan Kartika menggendong Samira. Mereka meletakkan anak-anak di kamar dengan bersamaan, melepaskan sepatu anak-anak dan menyelimuti tubuh mereka. Alva duduk di tepi tempat tidur di sisi Kemal, sedangkan Kartika duduk di sisi lainnya di dekat Samira. Keduanya hanya diam, sama-sama menatap ke anak-anak yang sudah terlelap dengan nyenyak. "Alva, aku sudah menyiapkan segala keperluan untuk pertemuan di Malaysia dan Singapura dalam tas kerjamu, aku sudah menitipkannya pada Kenzie supaya dia bisa mengingatkanmu." Ucap Kartika membuka pembicaraan. "Terima kasih. Kalian berhati-hatilah selama aku tidak di Jakarta." Sahut Alva sambil berdiri dan melangkah ke arah pintu. "Kamu dan Kenzie juga berhati-hatilah selama perjalanan, jaga kesehatanmu." Pesan Kartika juga ikut berdiri dan melangkah mengikuti Alva. "Aku akan meminta Zaki dan Jojo untuk menjaga kalian dari jarak aman, jadi tidak mengganggu ruang gerak kalian." Ucap Alva berhenti melangkah dan berbalik menghadap Kartika saat sudah di depan kamar anak-anak. "Ah! Kurasa tidak perlu. Pria yang mengawasi rumah kami ini entah hilang kemana, aku sudah tidak pernah melihatnya lagi dari kemarin." Sahut Kartika ikut berhenti melangkah dan menatap Alva. "Aku tidak ingin berdebat tentang keselamatan kalian, jadi kamu mau atau tidak, aku tetap akan meminta Zaki dan Jojo mengawasi kalian setiap waktu." Ucap Alva. Kartika menghela napas panjang lalu tersenyum. "Baiklah, terima kasih." Sahut Kartika menyerah. Keduanya kini kembali diam dan hanya saling menatap. Kartika menunduk tidak mampu melawan tatapan Alva lebih lama lagi. Alva hanya tersenyum. "Eh, tunggu sebentar, ada sesuatu yang ingin aku berikan sebagai hadiah ulang tahunmu." Ucap Kartika lalu melangkah cepat menuju ke kamarnya sendiri. Alva melangkah menuju ruang tengah rumah itu dan duduk di karpet, dengan bersandar pada sebuah bantal yang sangat besar. Tidak banyak perabotan di rumah kontrakan Kartika ini. Kartika menghampiri Alva lalu ikut duduk di karpet. "Ini untukmu." Ucap Kartika menyerahkan pada Alva, sebuah kotak kayu kuno berukuran sedang. Alva menerimanya dengan mengernyitkan keningnya. "Apa ini?" Tanya Alva. "Kado untukmu, buka saja, semoga kamu menyukainya." Sahut Kartika dan Alva pun kembali mengernyitkan keningnya saat sudah membuka kotak itu. Alva tersenyum  lebar mengambil benda itu. "Gelang?" Tanya Alva tersenyum senang dan Kartika mengangguk tersenyum. Alva mengambil gelang itu keluar dari kotak. "Bantu aku memakainya." Pinta Alva dan Kartika membantu memakaikannya. "Batu apa ini? Kapan kamu membelinya? Bukankah kamu tidak menyiapkan kado apapun?" Tanya Alva sambil menatap tangannya yang sedang dipakaikan gelang oleh Kartika. "Aku tidak membelinya, ini moonstone kesayangan almarhum ayahku, saat kecil aku memecahkannya menjadi dua, lalu dibuat gelang oleh almarhum ibuku. Konon Batu ini bisa membawa keberuntungan dan menjaga pemiliknya dari segala yang jahat dan buruk." Sahut Kartika. "Jadi gelang ini ada dua? Dimana yang satunya?" Tanya Alva penasaran. Kartika selesai memakaikan gelang itu di tangan Alva. Kartika tersenyum pada Alva, namun senyum yang getir dan dipaksakan. "Gelang ini di awal pernikahanku, dipakai oleh aku dan almarhum suamiku. Yang satu lagi pecah bersamaan dengan saat dia jatuh pingsan, dan saat itulah dia mulai sekarat dan tidak pernah membuka mata lagi hingga saat ini. Ini adalah gelang milikku." Sahut Kartika bercerita dengan airmata mulai mengalir. "Mengapa kamu memberikannya padaku? Bukankah ini sudah sangat melindungimu selama ini?" Tanya Alva. "Kamu akan pergi jauh dalam waktu yang lama, semoga gelang ini benar sesuai kisahnya, dapat menjaga pemiliknya dan memberi keberuntungan." Sahut Kartika. "Apa kamu takut terjadi sesuatu yang buruk padaku?" Tanya Alva. Kartika tersenyum menunduk malu. "Hanya sebuah gelang tapi kamu terlalu banyak bertanya. Apa kamu tidak suka?" Tanya Kartika "Bukan tentang gelangnya, aku ingin tahu apa yang ada di pikiranmu saat akan memberikan benda berharga ini padaku." Sahut Alva. "Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, karena itu juga akan berakibat buruk dengan bisnismu lalu akan memperburuk keadaanku juga." Ucap Kartika masih menunduk memainkan jari-jarinya sendiri. Alva tersenyum geli mendengar kebohongan Kartika. "Kamu sungguh tidak bisa berbohong Kartika." Ucap Alva sambil bergerak mendekatkan wajahnya ke Kartika. "Aku tidak! ber.bo...hong!" Bantah Kartika mengangkat wajahnya dan gugup terkejut karena wajah Alva sudah sangat dekat dengan wajahnya. "Terima kasih sudah mencemaskan aku." Ucap Alva dengan berbisik di telinga Kartika, dan napas Alva yang hangat terasa di pipi Kartika, membuat gelenyar gairah merasuk dalam diri Kartika. Kartika menahan napasnya dan memejamkan matanya. Posisi mereka sungguh sangat dekat, membuat Kartika mampu menghirup aroma tubuh Alva dan sangat mendambakannya. Alva menyibakkan lembut rambut panjang Kartika ke belakang. Hormon wanita Kartika seolah naik dengan cepat dan butuh segera dilepaskan, hingga tanpa sadar dia sudah membiarkan bahkan menikmati kecupan-kecupan lembut di ceruk leher sampingnya. Kartika bernapas kembali dengan deru napas yang memburu, jantungnya berdegup cepat, intinya mulai basah. Dia tidak mampu menolak lagi saat bibir Alva menyentuh bibirnya, lembut menghisap, dan Kartika membalasnya, ikut menghisap dan bergerak melumat lembut dan semakin rakus saat tangan Alva mulai menyentuh tengkuk Kartika menahan kepala Kartika supaya tidak menjauh darinya. "Apa yang kamu lakukan Kartika?! Lepaskan dirimu! Sebelum warga menggerebek kalian!"  Otak Kartika mulai mengingatkan Kartika, membuatnya mendorong tubuh Alva untuk melepaskan diri. Mmmmppphhh... "Al...va..Ja.ngan!" Ucap Kartika berusaha melepaskan diri. Alva pun menghentikan ciumannya, napasnya memburu seolah mengejar napas Kartika, tangannya tetap pada tengkuk Kartika dan membelai pipinya lembut dengan ibu jarinya. Alva tersenyum menatap Kartika yang kini sudah menunduk. Alva lalu mengecup lembut puncak kepala Kartika. "Sungguh sangat mirip dengan Michele, selalu mampu menjaga dirinya dengan kuat, meski gairah juga ada dalam dirinya."  Batin pikiran Alva teringat almarhumah istrinya. "Maafkan aku Alva, tapi ini sudah larut malam, tidak enak dilihat tetangga jika rumahku masih ramai di luar sana." Ucap Kartika dengan memainkan jari-jarinya masih menunduk. Dia tidak ingin Alva pergi saat ini, namun dia juga tidak ingin menyusahkan hidup anak-anaknya jika sampai diusir lagi dari rumah kontrakan ini. "Mereka semua sudah pergi, hanya tinggal aku disini, pintu depan juga sudah ditutup, semuanya aman." Sahut Alva. Kartika mengangkat wajahnya terkejut menatap Alva dan mengernyitkan keningnya. "Apa kamu sudah merencanakan ini dari awal?" Tanya Kartika dengan tatapan curiga. Alva tersenyum menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku tidak merencanakannya. Mereka hanya mengerti kebiasaanku saja." Sahut Alva dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.  Kartika terus menatap Alva dengan curiga. "Apa?! Mengapa terus menatapku seperti itu?!" Tanya Alva menjadi gugup, tidak tahan dengan tatapan Kartika.  Kartika menghela napas panjang dan berat. "Sudahlah! Kamu tidur saja di kamarku, aku akan tidur di kamar anak-anak, sudah dini hari, tidak mungkin meminta Kenzie menjemputmu dan taxi online pasti juga sudah susah memesan saat ini." Ucap Kartika lalu berdiri melangkah ke kamarnya.  Kartika keluar lagi dengan membawa kaos oblong besar juga celana pendek untuk Alva. "Pakailah ini, ini milik almarhum suamiku, ukurannya mungkin terlalu besar untukmu, tapi nyaman untuk tidur." Ucap Kartika menyerahkan pakaian itu. Alva berdiri namun tidak menerima pakaian itu. "Aku terbiasa tidur hanya dengan  menggunakan boxer dan bertelanjang dada." Ucap Alva. Kartika seketika sulit menelan salivanya, tanpa sadar matanya menelusuri tubuh Alva dari bahu hingga ke bawah, otaknya langsung membayangkan Alva hanya dengan boxernya.  Alva tersenyum melihat Kartika sedang menelusuri tubuhnya keseluruhan. Ehem! Alva tersenyum lebar karena sudah berhasil membuyarkan lamunan Kartika pada tubuhnya dan membuatnya kaget juga gugup. "Eh! Itu...kamar mandi ada di sebelah sana." Ucap Kartika gugup. Alva tersenyum dan melangkah menuju ke kamar mandi, lalu dengan sengaja mengetok kening Kartika saat lewat di sampingnya. "Dasar otak m***m!" Rutuk Alva sambil tersenyum lebar. "Heh?! Kalau aku otak m***m, lalu kamu ini apa?! Hah?!" Protes Kartika menoleh pada Alva. "Aku pria mesum." Sahut Alva santai. Keduanya pun lalu tertawa bersama. **** "Pagi..." Sapa Alva saat bangun pagi hari dan menemukan Kartika sedang membersihkan rumah. "Hei, pagi..., Bisa tidur?" Sahut Kartika sambil mengepel lantai. "Lumayanlah...tapi pasti lebih nyenyak lagi kalau semalam kamu menemaniku." Ucap Alva. "Astaga! Dasar pria m***m! Masih pagi sudah berpikir m***m!" Rutuk Kartika. Alva menatap peluh Kartika yang membasahi kaos oblongnya yang membekas membentuk pakaian dalamnya. Alva melangkah mendekat lalu meraih pinggang Kartika. AAAAAAAA..!!!! cup! Alva mengecup ceruk leher wanita itu, tidak peduli dengan teriakannya. "Alva! Lepaskan! Aku ini berkeringat, lengket dan bau!" Protes Kartika. "Aku hanya ingin mengetahui aroma tubuhmu saat berkeringat seperti ini, jadi saat kita akhirnya bercinta nanti, aku sudah tahu bagaimana aroma tubuhmu." Ucap Alva dan kembali mengecup leher Alva berkali-kali. "Alva! Lepas! Aaahhh!!! Geli tau!" Protes Kartika meronta. Alva pun akhirnya melepaskan tubuh Kartika. "Dasar! Siapa juga yang mau bercinta denganmu?! Dasar pria m***m!" Oceh Kartika sambil mengangkat ember berisi air pel itu ke belakang. Alva bagai terikat dengan Kartika, dia mengikuti Kartika kemanapun wanita itu bergerak. Kartika sungguh kesal dengan tingkah Alva yang terus mengekor di sekitarnya. "Alva! Hentikan! Lebih baik kamu bermain bersama anak-anak di kamar mereka!" Perintah Kartika. "Apa?! Jadi sedari tadi anak-anak sudah bangun?! Kenapa kamu tidak mengatakan daritadi?!" Protes Alva lalu melangkah menuju kamar anak-anak. Kartika menghela napas lega dan tersenyum menatap punggung Alva yang menuju kamar anak-anak. "Bagaimana jika semua ini harus berubah saat kamu menikah dengan wanita lain nantinya? Bagaimana kami akan hidup tanpamu, saat telah terbiasa bersamamu seperti ini?"  Pikiran otak Kartika membuat nyeri hatinya sendiri. "Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku memaksa anak-anak untuk tidak dekat dengan Alva? tidak mungkin. Hhuuuufftt....Aku harus menjaga perasaan anak-anak, supaya mereka siap saat Alva sudah menikah dan tidak lagi bisa sedekat ini bersama kami."   Kartika menghela napas panjang dan kembali melanjutkan aktifitasnya membersihkan rumah dan memasak sarapan. ****  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN