ISTRI

3002 Kata
Alva menggendong Samira dan berjalan bersama Kemal menuju ke ruang makan, saat Kartika memanggil mereka setelah selesai menyiapkan sarapan. Mereka duduk dan Kartika menyiapkan makanan ke piring mereka masing-masing. Alva menatap semua ini dan teringat lagi akan masa lalunya. Betapa bahagia hidup keluarga kecilnya dulu, meski makanan mereka tidak semewah sarapan yang Kartika buat pagi ini. Dulu mereka sudah sangat bahagia jika sudah bisa menikmati satu telor mata sapi untuk masing-masing orang, mereka lebih sering hanya mampu makan nasi dengan tumis sayuran saja atau satu telur harus dibuat dadar untuk dibagi ke semuanya. "Alva... Alva?" Panggil Kartika saat melihat Alva termenung dengan senyum namun tersirat kepedihan. "Ah! Maafkan aku." Sahut Alva kembali ke dunia nyata. "Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Kartika. "Iya, tidak ada masalah apapun. Ayo kita sarapan." Sahut Alva. "Kita belum berdoa uncle." Sahut Kemal, dan Alva kembali teringat pada putranya, Keith. "Maafkan aku, baiklah! Sekarang siapa yang akan memimpin doa?" Tanya Alva dan Kemal mengangkat tangannya. "Baiklah, ayo kita berdoa, silahkan Kemal." Ucap Alva tersenyum lalu mereka pun berdoa bersama dan sarapan dengan canda tawa. **** Kartika mendampingi Kemal belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian Senin nanti di dalam kamar anak-anak, sedangkan Alva menemani Samira bermain di ruang tengah. "Mami, apakah uncle Alva akan menjadi papi baru kami?" Tanya Kemal pada Kartika. Kartika sedikit terkejut dengan pertanyaan Kemal. "Mengapa Kemal bisa bertanya seperti itu?" Tanya Kartika. "Kemal cerita dengan Oma di telepon tentang uncle Alva, lalu kata Oma kalau memang dia orang baik, dan sayang dengan Kemal juga Samira dan mami, tidak masalah jika dia jadi papi baru kami." Sahut Kemal. "Uncle Alva memang orang yang baik, tapi dia bukan papi baru kalian. Dia hanya bos dan teman mami, sama seperti om Raja." Ucap Kartika. "Mengapa tidak jadi papi baru kami? Apa dia tidak mau jadi papi kami?" Tanya Kemal. "Tentu saja aku mau." Sahut seorang dari arah pintu. Alva telah berdiri disana dengan menggendong Samira. "Alva..kumohon...kita sudah pernah bicara tentang ini." Ucap Kartika. "Iya, dan saat itu aku juga sudah mengatakan padamu bahwa aku tetap akan menjadi ayah mereka apapun yang terjadi pada kita." Sahut Alva melangkah masuk dan duduk di tepi tempat tidur bersama Samira. "Kemal, sebaiknya kamu lanjutkan belajar ya...mami harus bicara dengan uncle Alva, Samira temani kakak dulu ya." Ucap Kartika dan anak-anak itupun menuruti perkataan Kartika. Kartika memberi tanda pada Alva untuk keluar, dan mereka melangkah keluar kamar, menuju ke ruang tengah dan duduk di karpet. "Alva..." "Kartika, sudahlah! Aku tidak akan mengubah keputusanku! Aku akan menjadi ayah mereka selanjutnya!" Alva menyela ucapan Kartika "Sekarang kamu bisa tenang mengatakan hal itu! tapi tidak saat kamu sudah punya istri dan juga anak-anakmu sendiri! Alva, berpikir panjang lah! Mana ada seorang istri yang mau membagi perhatian suaminya dengan wanita lain bahkan dengan anak-anak yang bukan anaknya atau anak suaminya?! Aku hanya melindungi anak-anakku saja Alva! Kumohon, jangan beri mereka mimpi indah yang justru kenyataannya akan menghancurkan hidup mereka!" Sahut Kartika "Baiklah, aku tidak akan pernah menikah dengan siapapun jika itu yang kamu takutkan, karena aku sudah sangat menyayangi mereka!" Ucap Alva tetap pada pendiriannya. "Alva! Jangan berkata seperti itu! Suatu hari kamu akan sadar bahwa kamu tidaklah sungguh menyayangi mereka, kamu hanya terbawa perasaan hatimu saja! karena mereka membuatmu selalu teringat pada bayangan anak-anakmu di masa lalu! Kamu hanya terbawa sebuah perasaan bersalah yang membuatmu merindukan anak-anakmu hingga dirimu merasa ingin menebus segala kesalahanmu di masa lalu!sadarlah Alva!" Bantah Kartika "Oo..jadi itu yang ada di pikiranmu selama ini? Kamu berpikir bahwa aku menyayangi mereka karena mereka membuatku dapat merasakan kehadiran anak-anakku lagi?! Seperti itu?! Hah?! Sungguh picik pikiranmu Kartika! Aku tidak menyangka kamu bisa berpikir sependek itu! Aku akan buktikan jika aku memang benar menyayangi Kemal dan Samira!" Ucap Alva sangat kesal bahkan kecewa lalu masuk ke dalam kamar Kartika. Tidak lama kemudian Alva kembali keluar dari kamar sudah berganti pakaian dengan pakaiannya semalam. "Alva..." Panggil Kartika seraya berdiri tapi Alva hanya diam melangkah keluar rumah tanpa menoleh pada Kartika sedetikpun. Kartika tidak tahu harus berbuat apa, Alva sudah pergi ketika terdengar suara deru mobil yang datang dan pintu mobil yang tertutup lalu deru mobil yang pergi lagi. Kartika menghela napasnya panjang, dia sangat menahan tangisnya, mengunci pintu rumah lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tangis Kartika meledak saat duduk di tepi tempat tidur sambil meraih kaos yang tadi dipakai oleh Alva. Kartika menghirup aroma Alva pada kaos itu dan menangis. "Maafkan aku Alva, Aku harus bisa menjaga hati anak-anakku Alva, sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan siapapun melukai mereka. Mereka adalah hidupku saat ini. Mereka yang membuatku memutuskan untuk tetap hidup setelah kepergian kak Edward.."  Batin Kartika dalam tangisnya sambil menutup wajahnya dengan kaos itu. "Mami..." Panggil Kemal yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya bersama Samira. Kartika buru-buru menghapus airmatanya dan tersenyum pada anak-anaknya itu, menyembunyikan segala perasaan hatinya yang kalut. "Kemarilah sayang, apa belajarnya ada yang susah?" Tanya Kartika. "Mami, maafkan Kemal. Gara-gara Kemal, mami dan uncle Alva jadi bertengkar, dan mami jadi menangis." Sahut Kemal melangkah masuk lalu memeluk Kartika, begitu juga Samira. "Tidak sayang, ini bukan karena Kemal. Mami hanya menangis karena kalah berdebat dengan uncle Alva, sama seperti Samira yang menangis kalau kalah beradu mulut dengan Kemal." Ucap Kartika tersenyum lebar. "Iya benar! Sungguh menyebalkan jika kakak tidak mau mengalah denganku!" Sahut Samira setuju dengan ucapan Kartika. Kartika dan Kemal akhirnya tersenyum lebar mendengar celotehan Samira. "Kemal, sudah selesai belajar?" Tanya Kartika pada putranya, dan dijawab dengan anggukan. "kalau begitu ayo kita makan siang di resto ayam goreng kesukaan kalian, mau?" Tanya Kartika lagi dan anak-anaknya segera berseru hore dengan antusias kegirangan. **** Kartika sungguh sangat lelah pikirannya, semalaman dia tidak mampu tertidur dengan cepat dan lelap, tapi pagi ini dia sudah harus bangun karena dering getaran ponselnya yang tidak berhenti. Kenzie memanggil. "Halo" "Selamat pagi Bu Kartika, maaf mengganggu istirahat anda. Saya mohon anda  bisa datang ke rumah sakit di daerah kebon jeruk secepatnya." "Ada apa Kenzie? Apa yang terjadi pada Mr. Salvastone?" "Tuan akan melakukan operasi Vasektomi sekitar 2 jam lagi, dia ingin membuktikan bahwa dia sangat menyayangi Kemal dan Samira, hingga bertekad untuk tidak memiliki  Keturunan sendiri." "Astaga! Apa dia sudah gila?! Dasar bodoh! Aku segera kesana! Tahan dokternya sampai aku tiba disana!" "Baik Bu, cepatlah datang kumohon." Kartika segera mandi dan bersiap setelah panggilan itu dimatikan. Kartika keluar kamar dan bersyukur bahwa anak-anaknya sudah bangun dan sedang menonton televisi. "Aku akan terlambat jika harus menyiapkan anak-anak terlebih dahulu." Pikir Kartika. "Kemal, Samira, cepat ambil jaket kalian dan pakai sandal kalian. Kita harus segera ke rumah sakit, uncle Alva membutuhkan kita..cepatlah! Mami akan memesan taksi." Ucap Kartika memberi perintah pada anak-anaknya. Kemal pun segera mengajak adiknya bersiap sesuai perintah ibunya. **** Mereka telah tiba di rumah sakit saat Alva telah berada di dalam ruang operasi. "Kenzie, mengapa kamu tidak bisa menahan dokternya?!" Protes Kartika kesal bercampur panik. "Tapi mungkin belum terlambat Bu Kartika, mereka hanya barusaja masuk lima menit yang lalu." Sahut Kenzie juga panik. "Tapi kalau sudah di dalam mana bisa kita melakukan sesuatu untuk menghentikan prosesnya?!" Ucap Kartika lagi. "Kita terjang masuk saja Bu, bagaimana? Atau kita dobrak pintunya?" Usul Kenzie. "Jangan gila kamu Kenzie! Kita bisa terkena tuntutan hukum jika melakukan hal itu!" Sahut Kartika semakin kesal dan cemas.  Keduanya saling menatap dalam pikiran masing-masing. "Baiklah! Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, kamu dobrak pintunya biar aku yang masuk dan bicara dengan dokternya!" Ucap Kartika dan Kenzie segera melakukan usulnya itu setelah Kartika setuju. Kenzie segera memberi kode pada Zaki dan Jojo juga pengawal lainnya. BUGGHH!!! BUGGHH!!! BRUUUGHH!! BRAAAKK!!!! DOOOMMMM!!! Pintu kamar operasi itupun berhasil di dobrak oleh Kenzie dengan bantuan Zaki dan pengawal lainnya. Kartika segera menerobos masuk meski beberapa perawat telah mencoba menahannya namun emosi Kartika tidak ada yang mampu menahannya. Kartika berjalan cepat masuk ke dalam. "ALVAAAAA!!" teriak Kartika memanggil bos gilanya itu saat dia melihat pria yang tergeletak tidak sadarkan diri di atas bed operasi. "Bu, tolong anda tunggu di luar. Kita sedang ada proses operasi." Pinta seorang dokter yang bertugas di dalam sana. "Dok, tolong hentikan proses operasi ini. Saya mohon dok, dia tidak berpikir panjang saat meminta hal ini pada dokter." Ucap Kartika terus memaksa untuk mendekat ke pria yang sedang di operasi oleh beberapa dokter lainnya. "Tapi Bu, tidak ada jalan lain selain operasi ini, ibu ada hubungan apa dengan pasien ini? Karena seluruh keluarganya sudah setuju untuk dilakukan operasi ini." Sahut dokter itu lagi "Apa? Seluruh keluarganya sudah setuju?! Bagaimana mungkin?!" Tanya Kartika tidak menyangka bahwa keluarga Alva setuju dengan ide gila Alva. "Iya Bu, mungkin ibu bisa konfirmasi dengan keluarganya lagi, karena proses operasi ini sudah berjalan setengah proses jadi kami tidak bisa berhenti saat ini. Silahkan ibu tunggu diluar." Sahut dokter itu lagi tetap memaksa dokter itu. "Alva pasti telah berbohong pada pihak rumah sakit dan meminta para pengawalnya untuk mengaku sebagai keluarganya. Tidak! Aku harus tetap menghentikan proses operasi ini!"   Pikiran Kartika semakin memantapkan hatinya. "Tapi dokter saya ini istrinya! Mana mungkin saya membiarkan suami saya melakukan operasi vasektomi! Tidak peduli dengan keluarganya! Bukankah istri lebih utama dalam keputusan tentang hal ini?!" Ucap Kartika berbohong supaya bisa menghentikan niat gila Alva. "Vasektomi?! Tapi Bu...pasien yang sedang kami tangani ini adalah pasien dengan penyakit kelamin kronis.." sahut dokter itu sedikit bingung dan Kartika menjadi terkejut. "What?!! Alva terkena penyakit kelamin kronis?! Astaga! Mungkin ini hukuman Tuhan bagi kenakalan Alva selama ini."  Batin Kartika dengan asumsinya sendiri. "Maaf Bu, kami memang ada satu pasien lagi untuk operasi setelah ini. Pasien selanjutnya itu memang dijadwalkan akan menjalani operasi Vasektomi setelah ini. Mungkin pasien itu yang ibu maksud sebagai suami ibu." Ucap sang dokter sambil menunjuk ke sebuah ruangan lainnya di samping Kartika. Kartika menoleh ke ruangan lain itu dan melihat Alva yang sedang dalam fase persiapan menjelang operasi. "Astaga! Iya dia! Betul dia! Tolong dokter, jangan lakukan operasi vasektomi itu padanya ya, saya mohon." Pinta Kartika. "Baiklah Bu." Sahut dokter itu, lalu dia melepas sarung tangannya dan mencuci tangannya lalu masuk ke ruangan satunya dimana Alva berada. Kartika tetap berdiri disana, memandangi interaksi Alva dan dokter itu. Alva terlihat emosi dan tetap memaksa, namun seketika emosinya reda saat dokter mengatakan sesuatu sambil menunjuk ke arah Kartika. Entah apa yang dokter itu katakan, karena Alva segera tersenyum lebar dan setuju membatalkan operasi itu. Dokter itu kembali ke ruangan operasi dan menemui Kartika. "Bu, suami anda sudah mengerti dan setuju membatalkan proses operasinya. Sekarang saya mohon tinggalkan ruangan operasi ini." Ucap dokter itu dan seketika Kartika mengerti mengapa Alva tersenyum begitu lebar padanya dan langsung membatalkan operasi itu. "Astaga! Dokter ini pasti mengatakan bahwa aku ini istri yang melarang operasi vasektominya. Aaahhh!!! Mati aku! Gawat!"  Rutuk Kartika menyesali ucapannya sendiri. Kartika keluar dari ruang operasi dengan frustasi, lalu dia buru-buru mengajak kemal dan Samira segera pergi dari rumah sakit ini, bahkan tanpa berpamitan pada Kenzie dan pengawal lainnya. Kartika menghentikan taksi secepatnya di pinggir jalan dan segera naik masuk. "Mami, bagaimana keadaan uncle Alva? Kenapa kita cepat-cepat pulang?" Tanya Kemal. "Tidak apa, dia baik-baik saja sayang." Sahut Kartika dengan senyum yang sangat dipaksakan. Kartika sungguh cemas, dia mencemaskan respon Alva terhadap ucapannya yang mengatakan bahwa dia adalah istri Alva. "Ah! Semua ini gara-gara Kenzie! Aku jadi harus menanggung akibat dari kebohonganku tadi. Semoga Alva tidak berpikir aneh-aneh tentang kebohonganku mengaku sebagai istrinya."  Batin Kartika. Dddrrrtttt...Dddrrrtttt.....  Ponsel Kartika berbunyi. Mr.Salvastone memanggil. "Astaga! Kenapa dia harus menelepon sekarang sih?!!"  Batin Kartika cemas dan kesal. Ponselnya terus berbunyi dengan panggilan dari bos nya itu juga Kenzie terus secara bergantian. Kemal dan Samira bingung menatap ibunya yang gelisah namun tidak juga menerima panggilan itu. Kartika akhirnya mengaktifkan mode silent pada ponselnya, dan tersenyum pada anak-anaknya. **** "Kita langsung ke rumah kontrakannya saja!" Perintah Alva pada Kenzie saat masuk naik ke dalam mobilnya. Senyuman terus menghiasi wajah Alva, membuat Kenzie menatap bingung bosnya itu melalui kaca tengah. Flashback on. "Tuan, sebaiknya pikirkan perasaan istri anda yang mungkin masih ingin punya keturunan dari anda." Ucap dokter itu. "Aku tidak memiliki istri dokter! Istri mana?!" Tanya Alva membantah. "Tapi wanita yang berdiri disana itu mengatakan bahwa dia adalah istri anda. Dia juga telah memaksa mendobrak pintu ruang operasi untuk menghentikan proses vasektomi anda." Sahut sang dokter "Kartika...???" Senyuman langsung ada di wajah Alva saat melihat siapa wanita yang mengaku sebagai istrinya. "Baiklah dok, mungkin dokter benar, istri saya itu memang ingin memiliki keturunan dengan saya. Terima kasih dokter. Maaf istri saya sudah merepotkan semuanya, saya akan ganti segala kerusakan yang dibuat oleh istri saya itu." Ucap Alva lagi dan dokter itu segera kembali ke ruang operasi. Flashback off. "Dasar wanita yang sulit diselami jalan pikirannya. Istriku..??? Hehehehehehe." Ucap Alva lirih pada sendirinya dan terkekeh sendiri. "Tuan, kita sudah sampai." Ucap Kenzie menyadarkan Alva dari lamunannya. "Baiklah, begitu aku masuk ke dalam, kalian pergi saja." Sahut Alva lalu dengan hati yang penuh bahagia dia turun keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah kontrakan Kartika. Setelah tiga kali menekan bel, maka pintu rumah itu dibukakan oleh Kartika dengan menunduk tidak berani menatap wajah Alva. Kenzie dan pengawal lainnya segera pergi dari sana. "Suami pulang ke rumah kenapa disuruh berdiri di luar aja?" Sindir Alva karena Kartika hanya diam tidak mempersilahkan Alva masuk. "Alva....!!!!" Geram Kartika dengan sangat kesal. "Kenapa kamu jadi kesal begitu? Bukankah kamu yang mengatakan sendiri bahwa kamu itu istriku?" Sahut Alva dengan tersenyum sengaja terus menggoda Kartika. "Berhenti menggangguku! Atau kamu pulang saja! Jangan mengganggu hari Mingguku!" Ucap Kartika ketus "Kamu yang sudah mengganggu hari Mingguku! Apa kamu tahu bahwa aku sudah membayar mahal dokter dan rumah sakit itu untuk proses vasektomi di hari libur mereka?! Sekarang kamu harus bertanggung jawab! Kamu harus mengganti rugi biaya yang sudah aku bayarkan!" Sahut Alva dan Kartika mengangkat wajahnya dengan terkejut menatap Alva. "Apa?! Ganti rugi?! Kamu serius?! Astaga! Dasar bos gila!" Seru Kartika tidak percaya. "Ya begitulah kalau bos, tapi lain cerita kalau suami. Suami pasti tidak akan marah jika istrinya melarang melakukan vasektomi.., jadi pilih perlakukan aku sebagai bos dan ganti rugi seluruhnya, atau perlakukan aku sebagai suami dan membiarkan aku masuk bermain dengan anak-anak?" Ucap Alva dengan santai. Kartika tidak ada pilihan lain, mengganti rugi biaya rumah sakit dan dokter bisa langsung membuatnya pailit sebagai seorang single parent. "Ya sudah, masuklah! Dasar tukang memaksa! Licik!" Omel Kartika tapi seraya membuka pintunya lebih lebar. Alva masuk ke dalam rumah dengan senyuman yang sangat lebar. Cup. Sebuah kecupan mendadak mampir di pipi Kartika saat Alva melewati dirinya. "Alva!" Protes Kartika. "Suami yang baik selalu memberikan perhatian pada istrinya sebelum bertemu dengan anak-anak." Sahut Alva tanpa melihat Kartika dan melangkah masuk ke ruang makan lalu bergabung duduk dengan kemal dan Samira yang terlihat segar sehabis mandi dan masih menyantap sarapan mereka. "Istriku, aku juga lapar." Ucap Alva sedikit merajuk pada Kartika. "Alva!" Protes Kartika lagi. Alva hanya tersenyum tanpa melihat Kartika lagi. "Enak ya masakan mami, aku juga langsung lapar nih, tapi mami kalian pelit! aku tidak boleh makan disini." Ucap Alva pada kemal dan Samira. Kedua anak itu otomatis memberikan tatapan penuh tanya pada Kartika. Kartika menyerah dengan tatapan anak-anaknya yang seakan membujuknya. akhirnya dia mengambil sebuah piring bagi Alva dan menyiapkan makanan di piring Alva dengan kesal. Alva sangat betah berada di rumah itu, bermain bersama dengan kemal dan Samira, sesekali menggoda Kartika yang memilih sibuk bersih-bersih rumah dan juga di dapur membuat cemilan, makan siang bahkan hingga makan malam. Kecupan-kecupan kecil terus Alva berikan pada Kartika dengan diam-diam tanpa terlihat anak-anak. Pipi, leher, pundak, tangan, puncak kepala bahkan bibir Kartika juga tidak ada yang terlewat. Kartika terus merutuk dan protes terhadap tingkah Alva yang terus menggodanya dan menyindirnya dengan panggilan istriku. Kartika tidak mampu berbuat apapun karena setiap  moment  dimana Alva mengecupnya selalu disaat Kartika dalam keadaan tangan yang kotor atau sedang menggoreng atau kesibukan lainnya yang tidak bisa ditinggal. "Dasar pria m***m! Awas saja kamu! Aku akan hitung segala sangsi pelanggaranmu hari ini!" Rutuk Kartika kesal sambil mencuci piring kotor sisa makan malam mereka. Alva sedang di kamar anak-anak menemani Samira bermain sambil menemani kemal yang belajar juga membantu mereka mempersiapkan perlengkapan untuk sekolah besok. Kartika masuk ke dalam kamar anak-anak, tepat saat mereka telah bersiap tidur di tempat tidur mereka. Kartika mendekati mereka dan mencium kening juga pipi kedua anaknya. Anak-anak mengucapkan selamat tidur sambil mencium pipi Kartika dan juga Alva yang ikutan minta dicium oleh anak-anak. Kartika dan Alva perlahan keluar dari kamar itu setelah anak-anak mulai memejamkan matanya. Keduanya duduk di karpet di ruang tengah. Kartika terlihat merenggangkan otot lehernya yang pegal. Alva menggeser duduknya dan mulai memijat pundak Kartika supaya relaks. Kartika memejamkan matanya menikmati pijatan yang memang sangat dia butuhkan. "Eeuugghhh...tidak kusangka kamu ahli memijat.... Terima kasih." Ucap Kartika. "Kamu terlalu berpikir negatif tiap kali menilai diriku, jadi tidak pernah melihat sisi positif diriku." Sahut Alva. "Dasar gila! Memuji diri sendiri!" Protes Kartika. Keduanya lalu tertawa bersama. "Alva, kumohon jangan bertingkah bodoh lagi seperti tadi pagi." Ucap Kartika. "Aku hanya ingin membuktikan padamu bahwa aku sungguh menyayangi anak-anak. Apapun akan aku lakukan untuk tetap bersama mereka." Sahut Alva masih tetap memijat pundak Kartika. "Maafkan aku, aku pasti sudah melukai hatimu." Ucap Kartika menunduk, membuat tengkuknya lebih terbuka lagi dengan rambut yang dicepol naik keatas dan sangat menggoda Alva untuk mengecupnya. Cup. Alva mengecup tengkuk Kartika, tidak ada protes, Kartika justru diam merasakan gelenyar listrik mengalir di seluruh tubuhnya. "Jadilah istriku Kartika." Bisik Alva lembut di telinga Kartika, lalu mengecup ceruk samping leher Kartika. eeuugghhh... Kartika justru melenguh mendesah akibat kecupan Alva dan hembusan napas hangat Alva di sepanjang ceruk lehernya hingga ke telinganya. Kartika segera membuka matanya, mengendalikan gairah dalam dirinya. "Tidak mungkin Alva, kamu pasti sudah gila saat ini karena justru meminta seorang janda beranak dua untuk menjadi istrimu." Sahut Kartika berbalik badan menghadap Alva. "Aku memang sungguh dibuat gila olehmu Kartika. Aku sudah hampir gila saat beberapa kali tidak berhasil melanjutkan kegiatan kita. Aku sungguh sangat menginginkanmu Kartika." Ucap Alva dan langsung meraih tengkuk Kartika lalu menghisap bibir Kartika lembut. Kartika tak mampu lagi menuruti pikiran sehatnya, dia membalas ciuman itu, lembut berubah menjadi b*******h, semakin b*******h dan saling menginginkan tanpa henti hingga entah sadar atau tanpa sadar, keduanya telah berbaring di atas karpet dengan Alva berada di atas tubuh Kartika. Tangan Alva bergerak menyelusup ke kaos oblong Kartika, bergerak lembut di kulit perut hingga naik dan menemukan p******a Kartika, meremasnya lembut dari balik bra Kartika. Mmmmppphhh..... Al...va..... euuughhh... "Jangan, kumohon jangan memintaku untuk berhenti.." bisik Alva di tengah ciuman mereka, dan Alva melumat lagi bibir Kartika. Mmpppphhhh.....eeeuugghhhh... "A..aku..mmpphhh... akuuuhhh....belum mengunci pintu rumah." Ucap Kartika dan Alva akhirnya melepaskan bibir Kartika, namun tubuhnya masih belum beranjak dari atas tubuh Kartika. "Kumohon...jangan menghindar lagi...aku benar-benar bisa gila dan mungkin lima wanita jalang tidak akan sanggup memuaskanku." Bisik Alva di hadapan wajah Kartika. Kartika menelan salivanya dengan sangat susah, mendengar Alva sangat menginginkan dirinya, baru kali ini ada pria yang sungguh gila karena sangat menginginkan dirinya. Alva sungguh melebihi almarhum suaminya dalam hal gairah. "Apakah aku punya jalan keluar untuk bisa menghindar darimu?" Tanya Kartika dan Alva pun akhirnya tersenyum lebar dan merebahkan dirinya ke samping, memberi ruang bagi Kartika untuk bangun dan mengunci pintu rumah. "Semoga tidak ada tetangga yang menyadari bahwa Alva masih berada disini sejak pagi tadi."  Batin Kartika sambil menengok keluar melalui gorden jendela. "Ya Tuhan, maafkan aku yang berharap padaMu supaya tidak ada penggerebekan warga malam ini." Batin Kartika berdoa. AAAAA!!!! MMMMPPPHHH!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN