Semesta Ke-tujuh

1749 Kata
Ruangan Kalani siang ini sepi. Tidak ada lagu-lagu yang biasa Kalani putar dari ponsel. Kalani sedang membutuhkan ketenangan untuk membuat maket. Ia tidak mau suara bising mengganggu konsentrasinya dan membuat maketnya jelek. "Kalani!" Sebuah suara mengagetkan Kalani. Kalani yang hendak menempelkan miniatur pohon langsung terkesiap. Hampir saja dia reflek merusak maketnya. Kalani berbalik dan hendak memarahi siapapun yang mengagetkannya. Awas saja jika itu Dio atau karyawan yang lain. Kalani kan sudah berpesan agar dia tidak diganggu. "Raka?" Mata Kalani yang tadinya memancarkan kemarahan kini berbinar. Dia menatap pria di depannya tak percaya. Sudah tiga bulan lebih mereka tidak bersua. "Ya ampun Raka." Kalani menghampiri Raka dan memeluk pria itu. Raka menepuk punggung Kalani yang berada dalam pelukannya. "Kaget, ya? Maaf, ya," ujar Raka sembari membawa anak rambut Kalani ke belakang telinga. "Iya kaget, tapi nggak apa-apa soalnya kamu yang ngagetin." "Nih buat kamu." Raka menyerahkan sebuket bunga mawar putih. Kalani menerimanya dan tersenyum senang. "Romantis banget, sih." Kalani berjalan ke mejanya. Dia membereskan beberapa bahan maket. Setelah itu, Kalani mempersilahkan Raka untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangannya. "Kenapa nggak bilang kalau mau pulang?" "Ngasih kejutan, dong. Kalau aku pulangnya bilang-bilang jadi nggak asyik." "Sebentar, ya." Kalani menekan tombol di telepon. Tidak lama kemudian, seorang pegawai masuk ke ruangannya. Kalani meminta pegawai itu agar menyiapkan minum untuknya dan Raka. "Ashley nggak ikut?" Raka menggeleng. "Dia pengin banget ikut, tapi lagi ujian." "Oh iya, kemarin kayaknya dia emang sempat cerita sih lagi ujian semester gitu. Kamu sendiri pulang dalam rangka apa?" "Pembangunan rumah kan udah mau dimulai, Kal. Ashley maunya aku yang ngawasin langsung. Nanti aku balik ke sana pas rumah udah jadi, pas Ashley wisuda sekalian." "Ashley nggak apa-apa ditinggal? Sampai rumah selesai berarti bisa berbulan-bulan, dong." Raka mengangguk. "Ashley sendiri yang minta. Lagian dia malah mau kita pisah dulu. Katanya biar saling kangen dan makin cinta. Tau tuh konsep pemikirannya gimana. Padahal gue aslinya ogah. Gue nggak bisa kangen-kangenan sama dia." Kalani tertawa. Sahabatnya ini memang bucin. Dia pasti mau melakukan apapun untuk Ashley meski itu berat. Obrolan Kalani dan Raka terpotong oleh seorang office girl yang masuk membawa minuman dan beberapa camilan. "Kal, gue mau tanya sesuatu, deh." Kalani yang baru meminum kopinya menaikkan alis. "Mau tanya apa?" "Tapi lo jangan marah, ya." Kalani mengernyit. "Tanya soal apa, sih?" "Emmm... Sebenarnya Ashley nyuruh gue ke Indo karena khawatir sama lo. Kata Tante Lina lo ketemu sama dia. Emang bener, ya?" Kalani mengerjap dan menaruh kembali cangkirnya. Kalani menarik nafas berat. "Iya. Gue nggak sengaja ketemu dia di resto." "Ngapain dia di sana?" Kalani mengedikkan bahu. "Gue juga nggak tahu. Gue juga marah banget waktu lihat dia di sana. Dia kan udah janji nggak bakal ngelihatin dirinya di depan gue." "Dia ngejar lo?" "Gue nggak tahu. Soalnya gue langsung pergi sama Bhumi." "Bhumi? Bhumi siapa?" Kalani berdehem pelan. "Umm... Mama nggak cerita apa-apa soal Bhumi?" Raka menggelengkan kepala. "Kok bisa Mama cerita soal dia tapi nggak cerita soal Bhumi?" Raka mengedikkan bahu. Dia kemudian menggeser tubuh agar mendekat "Emang Bhumi siapa, Kal?" Kalani tidak langsung menjawab. Ia mengusap tengkuk pelan. "Tapi lo jangan ngetawain gue." "Jangan bikin gue penasaran, dong. Siapa, sih?" "Bhuni itu anak temen SMA Mama. Dia duda anak dua." Rama mengangkat satu alis, belum mengerti arah pembicaraan Kalani. "Gue dijodohin sama dia." Sedetik, dua detik, Raka hanya diam. Laki-laki itu kemudian mengernyit. Setelahnya, dia tak mampu lagi menahan gelak tawa. "Kan udah gue bilang jangan ketawa!" kesal Kalani sembari menepuk paha Raka. "Aduh, aduh, sorry." Raka mengusap pahanya. Tepukan Kalani cukup keras hingga terasa panas. "Emang lo segitu nggak lakunya sampai dijodohin? Gue yakin masih banyak laki-laki di luar sana yang mau sama lo." Kalani berdecak. Ia juga tahu soal itu. "Pertama, Mama takut gue nggak serius cari calon suami. Kedua, Mama percaya sama Bhumi karena dia anak temennya. Ketiga, Mama takut gue dapet cowok kayak manusia itu lagi." Raka mengangguk pelan. Apa yang terjadi pada Kalani dan mantan kekasihnya dulu memang cukup untuk membuat Tante Lina khawatir. "Tapi orangnya baik, kan?" "Siapa?" "Itu, Bhumi yang dijodohin sama lo." "Baik, sih..." "Tapi?" sambung Raka kala melihat raut Kalani yang ragu. "Tapi dia nolak gue. Katanya dia nggak berminat menikah lagi." "Serius? Nolak lo? Bentar, dia duda, kan? Jangan-jangan masih ada cinta belum kelar sama mantan istrinya, tuh." Kalani menggeleng. "Istrinya meninggal waktu ngelahirin anak kedua kalau nggak salah." "Waduh, kayaknya susah." Raka memberi tatapan prihatin pada Kalani. Kalani yang melihat itu tentu saja heran. "Susah gimana?" "Kalau duda karena meninggal, bersrti dia nggak pernah benar-benar pisah sama istrinya. Gue yakin dia masih mikirin istrinya. Biasanya duda kayak gitu susah ngelupain masa lalu." Kalimat Raka membuat Kalani mengangguk paham. "Tapi gue juga nggak masalah, sih. Toh kalau dia nolak dan kita nggak jadi nikah, gue nggak rugi." "Nggak rugi atau nggak rugi?" tanya Raka menggoda. "Apaan, sih! Nggak rugi kali. Keluar cari makan, yuk. Lo pasti kangen sama ayam bumbu rujak deket SMA kita." Raka melebarkan matanya. "Eh, itu warung masih ada, ya?" "Masih, lah. Lo kelamaan di luar negeri, sih. Ayo!" Kalani berdiri dan menepuk pundak Raka. Raka buru-buru menenggak minumannya. "Tunggu gue, Kal!" *** "Tapi besok jadi kan pergi sama gue?" Safa menatap Alika penuh harap. Tadi dia meminta sahabatnya itu untuk mengantar pergi membeli sepatu besok. Sepatu itu rencananya akan Safa berikan pada pacarnya. Alika tak habis pikir dengan Safa. Sahabatnya sejak SD itu sepertinya telah mencapai fase bucin. Mau-maunya repot-repot membeli sepatu hanya untuk kado ulang tahun. "Mau, ya? Plis Lik. Gue nggak mau kalau nyari sepatu sendirian." Safa menggiyang-goyangkan lengan Alika. Alika memutar bola matanya malas sebelum mengangguk. "Yeay! Makasih Alika!" "Kalau gitu mending sekarang lo traktir gue makan." "Oke! Lo mau apa?" "Ayam bumbu rujak, hehe." Alika cengengesan sementara Safa menggeleng pelan. Alika suka sekali makan ayam bumbu rujak tak jauh dari sekolah mereka. Warung yang dihimpit dua sekolah itu memang menyediakan ayam bumbu rujak yang tak terkalahkan rasanya. "Ya udah, deh. Padahal gue mau nawarin yang mahal, tapi lo malah milih yang murah." "Gue kan sahabat yang pengertian." Alika melangkah mendahului Safa. Mereka sedari tadi telah berjalan keluar sekolah, jadi mereka tidak jauh lagi dari warung ayam bumbu rujak. Saat memasuki warung, Alika langsung mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk. Duh, kenapa sih warung ini tidak memperluas tempat? Toh warung ini selalu laris tiap harinya. "Di sana aja, Lik." Safa menunjuk bangku di ujung dekat jendela. "Ada orangnya, Saf." "Mereka cuma berdua doang. Lihat tuh tempatnya masih banyak. Kalau minta baik-baik pasti boleh duduk di sana." "Ya udah, deh. Tapi lo yang ngomong, ya?" "Oke." Safa menarik tangan Alika ke meja yang dia maksud. "Permisi," sapa Safa pelan. "Saya sama teman saya boleh duduk di sini?" Seorang laki-laki yang menghadap ke mereka tersenyum. Dia lalu menaikkan alis pada temannya. "Boleh nggak?" "Boleh, kok." Wanita yang duduk memunggungi mereka menoleh. Alika yang tadinya sumringah karena tak sabar untuk makan ayam bumbu rujak langsung menekuk wajah. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu. Wanita yang sekarang menatapnya sangat familiar. Itu Kalani, wanita jahat yang dijodohkan dengan ayahnya. "Alika?" Kalani mengerutkan dahi. Dia sedikit ragu menyebut nama Alika. "Lo kenal dia, Lik?" bisik Safa pelan, namun masih bisa didengar Kalani. "Eh sini duduk. Saya Kalani, teman ayahnya Alika." Alika menelan ludah. Entah kenapa dadanya terasa panas dan kesal. Kenapa sih harus bertemu Kalani di sini? "Ayo duduk, Lik," ajak Safa. Dia senang karena wanita itu adalah teman ayah Alika. Dengan begitu, dia tidak perlu terlalu canggung untuk menumpang duduk. "Kita pergi aja, deh." "Gimana, sih? Tadi katanya mau ditraktir ayam bumbu rujak." Safa menarik tangan Alika untuk duduk. Jika saja bukan di tempat ramai dan di dekat sekolah, Alika pasti telah berteriak kesal pada Safa. Mereka berempat kemudian saling memperkenalkan diri. "Kalian sekolah di SMP Mahardika, ya?" tanya Kalani untuk mencairkan suasana. Alika tidak menjawab, ia malah melirik ke Safa. "Iya, Tante. Tante sering ke sini?" Safa menjawab pertanyaan Kalani sekaligus bertanya lagi. "Dulu sering banget. Tante SMA di Mahardika, makanya sering ke sini bareng dia, tuh." Kalani melirik ke Raka. "Tapi waktu dia ke luar negeri Tante jadi jarang ke sini. Padahal udah kangen banget makan ayam bumbu rujak di sini?" "Kangen ayam bumbu rujak atau kangen gue?" Kalani memutar bola matanya malas. Kepercayaan diri Raka terkadang memang di luar batas. "Nggak ada untungnya buat gue kangen sama lo." Raka mengangkat alisnya tak percaya. Dia menoleh ke Safa. "Wajah Om pantes dikangenin nggak sih?" tanya Raka dengan tangan menopang bahu. Safa tampak menahan senyum. Pipinya memerah dan bibirnya terangkat sedikit. Safa mengangguk malu-malu. "Tuh kan!" seru Raka. "Ngangenin cowok ganteng kayak gue tuh pantes, kok." "Ya tapi untungnya buat gue apa?" "Ya buat hiburan gitu. Lumayan kan sebelum tidur bisa mengingat wajah tampan gue," ujar Raka membuat Safa dan Kalani tergelak. Berbeda dengan tiga orang di sekitarnya, Alika tampak tak tertarik dengan obrolan. Dia fokus memakan ayam bumbu rujak miliknya. Beberapa kali Alika menghela nafas kesal atau bahkan mengepalkan tangan saat Kalani tertawa. Entah kenapa tawa Kalani terdengar sangat menyebalkan di telinganya. "Lo kok diem aja, Lik?" tanya Safa. Tidak biasanya Alika diam seperti itu. "Nggak apa-apa, gue cuma lagi nikmatin ayamnya aja." Kalani menoleh ke Alika. Gadis itu tampak tidak nyaman berada di sebelahnya. "Faya gimana?" tanya Kalani. Alika hanya melirik dan mengedikkan bahu. "Nggak giman-gimana. Bukan urusan Tante juga." Jawaban Alika membuat suasana jadi canggung. Raka bahkan sampai berdehem untuk mencairkan suasana lagi. "Kal, lo udah selesai makan, kan?" tanya Raka beberapa menit setelahnya. Kalani mengangguk pelan. Jujur dia sedikit sedih karena sikap Alika. Sejak mereka bertemu, Alika memang terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka pada Kalani. "Safa, Alika, kita pamit, ya. Oh ya, makanan kalian berdua biar Om yang bayar." "Iya Om, Tante, makasih banyak." Mata Safa berbinar. Sudah dia bisa berkenalan dengan lelaki tampan seperti Raka, uangnya juga tidak akan berkurang karena makanannya dan Alika telah dibayarkan. "Om Raka umurnya berapa, ya? Kalau jarak umur sepuluh atau belasan tahun kejauhan nggak, sih?" Bibir Safa membentuk senyum karena membayangkan jika dirinya bersanding dengan Raka. "Alika!" Alika yang semula menatap piring langsung terkejut dan mendongak. "Kenapa teriak-teriak, sih?" "Ck! Lo diajak ngobrol diem aja. Kenapa, sih? Sikap lo dari tadi aneh banget." Alika menghela nafas. "Cewek tadi..." "Tante Kalani?" "Iya itulah." "Kenapa Tante Kalani?" "Dia yang dijodohin sama ayah gue. Yang gue ceritain kemarin." Safa mengerutkan dahi. "Yang kukunya ketinggalan di mobil?" "Iya." "Ya ampun! Lo beruntung banget bisa dapet mama tiri secantik itu." Alika sontak menatap Safa dengan tatapan tajam. "Maksud lo apa ngomong kayak gitu? Mama tiri? Sampai kapanpun dia nggak akan pernah nikah sama ayah gue!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN